
"Tapi besok gausah Dateng lagi gakpapa kok"
"Lo, aku gakpapa kok, ada waktu luang ya aku kesini"
"Em, enggak gausah, besok temen ku kesini, udah ada temen ku kok"
"Oh gitu, bener nih gakpapa?"
"Iya gakpapa"
"Em, kamu sebenernya orang sini? Tapi kemana keluarga mu lainnya" tanya Arinda
"Oh aku baru disini, mungkin sebulan, keluarga ku di Jakarta"
"Jakarta? Jauh ya, memang ngapain disini"
"Cari suasana baru saja"
"Oh, kerja apa disini"
"Belum dapat"
"Oh"
Setelah sore nya, Fasa berpamitan pulang
"Kamu pulang naik apa?" Tanya alvan
"Minta jemput temenku bisa kok, tapi mungkin masih sibuk, belum ada balasan"
"Oh yaudah ini baru aja aku pesenin grab"
"Kamu pesen grab?"
"Iya, biar kamu gak kecapekan kan, itung-itung bales Budi dari kebaikan kamu"
"Oh biasa aja sebenernya gakpapa aku kok"
"Udah gakpapa"
Ditengah jalan, supir grab lalai, ia menyenggol motor milik seorang lelaki hingga terjatuh
Supir pun turun dari mobilnya dan mencoba membantu lelaki itu, tak lama Fasa pun ikut turun
"Em gimana pak?" Ucap Fasa
"Enggak tau mbak" jawab Supit
Tadinya lelaki itu akan memarahi supir itu dan berencana mengadukan kepada atasannya, namun melihat sikap Fasa yang lembut membuatnya ikut luluh
"Mas gakpapa kan? Maaf ya mas, mungkin bapaknya sedang ada masalah atau kurang fokus" ucap Fasa
"Oh hem"
"Kalo gitu bareng saya aja, saya anter?"
"Enggak usah, saya bawa motor kok"
"Oh yasudah, maaf ya mas"
"Iya"
"Ini mas mungkin mas nya ada yang luka, atau kenapa-kenapa hubungi saya saja, ini kartu mana saya"
"Okeh"
Fasa dan supir kembali kedalam mobil
"Mbak, maaf ya sudah ngerepotin tadi harus kasih kartu nama" ucap supir
"Gakpapa pak"
"Makasih neng"
"Iya sama sama pak"
Sofi, lelaki yang tadi terjatuh karna mobil grab yang ditumpangi Fasa membaca sekilas kartu nama
"Oh namanya Fasa, punya usaha kedai minuman" ucap Sofi dalam hati nya
Sofi kembali menuju rumah alvan, temannya, sebenernya ibu alvan dan ayah Sofi yang berteman, namun karna memang saling kenal, alvan pun lumayan dekat juga dengan Sofi
"Hai van" sapa Sofi
"Hei, lu bilang dari tadi udah berangkat baru nyampek sini dari mana aja"
"Biasa tadi gue kesenggol mobil grab"
"Oh iya, dimana"
"Itu diujung jalan Sono, gakpapa tapi kok"
"Em, temen gue dari tadi disini, mau pulang nungguin lu dateng, malah gak datang-datang ya gue pesenin grab dah"
"Oh pesenin grab"
"Plat 2110 PG"
Mendengar nomor platnya, Sofi merasa ada kemiripan dengan plat yang ditumpangi Fasa
Namun iya mencoba berpositif tingking mungkin kebetulan atau nomor hampir sama saja
Esoknya dan hari hari selanjutnya, Fasa tak lagi datang kerumah alvan
Namun ketika ia sedang tak enak badan dan harus menutup kedai nya, tak lama suara ketukan pintu terdengar
Dengan berjalan pelan, Fasa mendekati arah pintu dan membuka nya
"Ya, cari siapa" ucap Fasa
Sofi membalikkan badan
"Cari siapa?" Tanya Fasa
"Lupa ya? Aku yang beberapa hari lalu kamu kasih kartu nama"
"Oh mas yang ketabrak?"
"Haha iya, tapi bukan soal itu kok saya kesini, cuman pengen tau aja usaha kamu yang ada di kartu nama"
"Em, yaudah masuk"
Setelah masuk... Sofi bingung kenapa rumahnya berantakan
__ADS_1
"Waduh, maaf ya, jadi belum sempat ngurus rumah" jawab Fasa
"Iya gakpapa, kamu sendirian?"
"Iya, tapi Tante ku ada kok gak jauh dari sini"
"Eh kamu pucet ya, kamu sakit?"
"Iya, lagi flu aja"
"Oh, pantes, gak sempet bersiin rumah karna sakit"
"Hem iya hehe"
Mereka pun saling ngobrol, sejak hari itu mereka pun saling kenal dan lebih dekat
Beberapa hari berlalu, ketika Fasa sibuk dengan usaha cafe kecil-kecilan yang dibangunnya sedang ramai pengunjung, sebuah mobil terdiam cukup lama hingga kedai Fasa sepi, turun lah seorang lelaki dari dalam mobil tersebut
"Cari apa mas" tanya Fasa
"Hai" sapa nya
Melihat kearah pengunjungnya, yang datang ternyata Alvan
"Alvan" sapa Fasa
"Kayaknya sibuk ya"
"Enggak kok, lagi sepi, cuman ini beresin duit biar gak kececer"
"Apa itu kececer?"
"Berantakan maksudnya"
"Oh hehehe, oh iya aku bantuin?"
"Bantuin apa?"
"Apa aja"
"Emang bisa?"
"Bisa"
Hari-hari berikutnya, alvan sering jalan dengan Fasa
Berjalan setahun lebih dekat tanpa ikatan membuat alvan cukup yakin untuk meminang wanita yang sudah berperan penting dalam kehidupan nya
"Kamu serius?" Tanya Fasa
"Iya, kenapa memang"
"Enggak"
"Terlihat bercanda kah?"
"Enggak, gini, kamu kan tau, kita itu beda, kamu Katolik, aku? Aku Kristen, kita beda loh"
"Ya kan kita bisa jalani agama masing-masing, aku tak minta kamu mengalah toh, apalagi kamu, takkan memintaku mengalahkan?"
"Iya sih, yaudah menurut kamu enaknya gimana?"
"Ya kan aku tinggal terserah kamu"
Akhirnya Fasa menerima lamaran alvan, dan mereka pun saling mempersiapkan pernikahan dengan sembunyi-sembunyi
Bahkan ketika 50% persiapan, Mama alvan datang dan mengatakan tak menyetujui hubungan keduanya karna beda keyakinan, itu tak membuat alvan menyerah
"Alvan, bener yang dikatakan papa, kamu menikah sama gadis yang berbeda keyakinan dengan keluarga kita?" Ucap Mama alvan
"Mama"
"Jawab"
"Iya ma, alvan serius sama dia ma"
"Buat dia masuk keyakinan kita"
"Enggak akan ma, kami sepakat untuk tidak memaksa ataupun memohon untuk ada yang mengalah"
"Ya artinya mama gak restuin kalian"
Dengan tegas dan yakin, alvan menyatakan dirinya tetap dengan keputusannya menikahi Fasa
"Dengan atau tanpa restu Mama, alvan tetap berdiri pada keputusan alvan" jelas alvan
Alvan berlalu meninggalkan tempat itu, menuju rumah Fasa
Fasa yang sedang tak ada dirumah, karna janji bertemu dengan Sofi di salah satu restoran
"Em mungkin udah saatnya sekarang" ucap Sofi
"Saat nya apa?"
Sofi menyentuh tangan Fasa dan menyatakan ingin meminang Fasa
Fasa dengan sontak melepaskan tangan Sofi
"emmmm..."
"Kenapa?"
"Aku ada urusan lain, maaf aku duluan"
"Oh gitu, yaudah aku anter"
"Ha, gak usah, gakpapa"
Esoknya, Fasa menceritakan kepada alvan begitu pun alvan menceritakan tentang Mama nya yang tidak merestui
"Yaudah, kamu aja cerita dulu" ucap alvan
"Sebenernya, aku Deket sama cowok, ya temanku, jelas dekat kan, tapi kamren dia bilang mau melamarku"
"Apa? Terus?"
"Ya aku langsung pamitan pulang"
"Kenapa gak kasih undangan kita"
"Kan udah pas untuk beberapa tamu undangan"
"Iya sih"
__ADS_1
"Ya jadi aku tinggal"
"Oh yaudah"
"Kamu kenapa? Mau cerita apa?" Tanya Fasa
"Oh, ini aku mau bilang, kemaren Mama ku datang"
"Mama datang? Terus" jawab Fasa senang
"Mama bilang gak restuin karna kita beda keyakinan"
Dengan cepat Fasa menundukkan kepalanya dan menyenderkan punggungnya ke tembok dibelakangnya
"Tapi kamu tenang aja ya, aku tetap pilih kamu, aku pilih kamu dari siapapun"
Fasa menunjukkan senang meskipun ia terlihat masih lemas karna Mama alvan tak merestui
"Oh iya, nanti malem aku mau kasih ke temen ku, tinggal satu belum ketemu ketemu sama orang nya, kamu mau ikut?"
"Nanti malem, jangan deh, aku ada urusan sama Chusnul"
"Oh gitu yaudah gakpapa"
"Beneran kan gak papa aku gak temenin?"
"Iya, kamu hati-hati loh keluar malem"
"Iya"
Malamnya, alvan menuju rumah Sofi
"Sof" sapa alvan
Melihat Sofi sendiri dan menatap kearah langit, ia yakin Sofi sedang ada masalah
"Woi, Lo kenapa"
"Eh Van, enggak kok, liat tuh bintang bagus banget"
"Oh, eh gue kasih undangan"
"Lu ulang tahun" tanya Sofi yang masih menatap arah langit
"Nikah, bukan ultah"
Dengan cepat Sofi menatap alvan
"Serius?"
"Iya, ini, tuh gue kan, Dateng ya, udah malem, gue musti jemput calon bini"
Setelah alvan pergi, barulah Sadar jika alvan akan menikah dengan wanita yang baru saja menolak lamarannya
Esoknya Sofi menuju rumah alvan
"Hai sof" sapa alvan
"Ini bener, calon bini Lo si Fasa"
"Iya, kenapa?"
"Enggak, lo kenal nya kapan coba sama dia tau-tau nikah aja"
"Lama lah, ada dua tahunan kali"
"Gue juga Deket kok sama dia mungkin setahun setengah lebih, ya gak sampek dua tahun sih"
"Serius lo?" Tanya alvan kaget
"Iya"
"Fasa kok gak pernah cerita ya?"
"Tauk"
"Kalian pacaran?"
"Enggak sih, deket aja, ya karna gue memang gak kepikiran pacaran, tau-tau ada duit lebih ya nikah aja" jelas Sofi
"Oh ya sama dong, gue juga, jadi free dong siapa cepat dia dapat, em tapi itu cuman undangan pesta doang"
"Janji pernikahan udah?"
"Udah"
Teringat jika keyakinan alvan dan Fasa berbeda, Sofi berharap menyadarkan alvan jika mereka berbeda agama itu salah jika menikah
"Loh, bukannya kalian itu beda keyakinan ya?" Tanya Sofi
"Ya emang, gue tau kok, dia Kristen, gue Katolik tapi why not, namanya juga cinta"
"Nyokab Lo?"
"Udah tau kok"
"Setuju"
"Mau setuju atau enggak ya gue tetep sama pendirian gue"
Serasa tak mungkin, ia merasakan hancurkan menerima fakta nya jika arinda pergi bersama orang yang ia kenal
Fasa pun datang ketika Sofi akan pulang
"Sofi" sapa Fasa
"fas"
"Loh, kalian kenal"
"Oh jadi ini yang kamu cerita kan soal anak yang kemaren ngelamar kamu" ucap alvan
"Kamu tau dari mana" tanya Sofi
"Ya jelas lah, Fasa cerita semua nya sama gue, oh jadi elo"
Alvan terlihat sedikit emosi, namun Fasa menenangkan nya
"Lo yakinin gue biar gue batal nikah sama Fasa karna keyakinan kita beda? Nah kalo Lo suka, apa bedanya sama gue? Bukannya Lo nasrani? Emang ada ya Nasrani nikah sama Muslim?"
"Untuk itu kan gue masih ada keuntungan Muslim, bokap gue Muslim, cuman gue aja yang ikut Nyokab gue jadi Nasrani karna memang gue pengen lebih berbakti kepada ibu"
Sofi terus meyakinkan alvan jika dirinya lebih pantas mendapatkan Fasa
__ADS_1
Alvan meninggalkan rumahnya bersama Fasa