
mendengar itu membuat ayah shuo tersebut lompat kegirangan
"bapak ini bertatto tapi lucu ya, jauh dari kesan tatto itu sendiri"
hari pun berlalu, saat kehamilan kedua berjarak satu setengah tahun, dan sekarang usia shuo menginjak tiga tahun..
kehamilannya sangat besar, diduga bayi yang dikandungnya kembar..
"ibu, saya beli sayur buncis berapa seikat?" tanya irly
"waduh neng sekarang mahal, beneran naik, tiba tiba aja maka nya ibu gak borong.. sekarang 12ribu seikat begini"
"ya gakpapa bu, suami saya suka"
"oh.. dimasak oseng?"
"krispi bu"
"oh krispi, neng hamil ya?"
"iya bu"
"berapa bulan?"
"5 bulan"
"5 bulan gak salah ngitung neng, ini mah mau lahiran neng"
"5 bulan bu, kata dokter besar emang karna hamil kembar"
"oh iya iya pantes"
saat sedang bercakap, ternyata salah satu teman dekat jainun melihat irly
"eh itu bukannya anak jainun yant cewek"
"iya... beda banget ya tampilannya, kaya orang kaya gitu, liat tubuhnya bagus, eh dia lagi hamil"
"hamil anak kedua mungkin, orang dia udah punya anak satu sih denger denger"
"oh...."
kedua ibu itu memberi tahu kepada jainun, namun saat dirumah jainun, jainun terpergok sedang bercumbu dengan seorang lelaki yang lebih mudah jauh darinya...
"jainun" sapa dua orang itu
"kalian, ngapain kesini?"
"tante, saya pamit ya" ucap lelaki berondong itu
"apasih bu?" tanya jainun
"baru aja saya ke pasar, liat si irly, ya kan irly kan anak kamu yang cewek"
"terus kenapa?"
"dia hamil anak kedua ya ?"
"gak tau, emang hamil"
"hamil, besar sih"
"biarin, sejak dia nikah sama anak jalanan itu, saya sudah menganggap dia bukan anak saya"
"kalo dia nikah sama anak jalanan, kok sekarang mentereng sih, cantik bu, putih, bersih, kulitnya mulus, perawatan mahal sih"
"paling hasil ngutang.. biarin, dia bukan anak saya lagi, udah? sana pergi, ganggu aja, berita gak penting sampek bikin tamu saya pulang"
"eh dikasih info anaknya, gitu amat, tamu tamu apanya begitu"
beberapa ibu itupun pergi..
saat menginjak hamil tua irly, kehamilan dibulan ke delapan.. perut besar irly semakin membuat kuatir banyak orang pasalnya benar benar besar...
sebulan ia tak sabar menanti kehadiran buah hatinya...
dan hari kelahiran tiba..
dimana ia melahirkan tiga anak laki laki secara bersamaan yaitu kembar
ditemani suami, irly benar benar harus kuat menahan sakitnya...
dan saat ketiganya lahir dan boleh untuk dibawa pulang..
irly dan julian pun mengasuh dengan baik
"aduh shuo udah punya adik aja, jadi kakak dong.. adiknya tiga lagi" ucap lian
"papa, adik kenapa tiga?" tanya shuo
"adik shuo kembar"
"kembar kan dua"
"kembar itu lebih dari satu, bisa dikatakan kembar"
"wah.. kembar tiga, shuo banyak adik" teriak shuo
baru saja merasakan kebahagiaan tak terduga.. ditempat lain justru ada yang berencana menghancurkan semua.. siapa lagi jika bukan siska..
"woy, lu jadi kaga deketin si irly?" tanya siska pada kembarannya
"jadi sih jadi, gue usaha kali, deg degan deketin cewek, lu kira gampang?"
"eh, apa lu bilang.. lu pake hati coy?"
saski hanya diam memainkan ponsel
"anjir gila lu, pake acara suka beneran lagi, lu mikir gak dia punya suami, gila lo"
"emang lu pikir lu bener gitu, lo suruh gue deketi dia lu mau ngincer suami dia juga"
"ya beda dong.."
__ADS_1
"beda pala lu, ah udah deh, harusnya lo seneng gue beneran suka sama irly, jadi lu punya peluang paling besar deketin laki nya"
"auk dah serah lu"
"yee dibilangin"
beberapa hari berlalu, batas keberanian saski sekedar menjadi pengagum rahasia..
mengirim surat cinta, memberikan coklat meminta beberapa anak kecil disekitar dengan embel embel upah
"astaga, sekarang jaman apa, bilang suka pake anter surat beginian" gerutunya
dan kesekian kalinya ia mendapatkan surat maupun coklat, ia tiba tiba dapat bunga
"dari siapa dek?" tanya irly
"gak tau tante.. tadi aku cuman disuruh, disana orangnya"
menunjuk kearah lelaki berbaju serba hitam namun lelaki itu pergi..
"oh makasih ya"
dan saat sampai dirumah..
irly menunggu lian pulang kerja..
sementara saski masih memperhatikan irly dari kejauhan
tak lama lian datang..
lian sadar, lelaki disamping tiang listrik dekat rumahnya sedang mengamati rumah nya..
"siapa dia, ada maksud apa?" tanyanya dalam hati sembari berfikir
saat turun dari mobil..
"eh papa dateng..."
"hallo sayang..." ucap lian kepada ketiga anaknya
"iya papa.." jawab irly
"eh sayang.. emm..."
"apa?" tanya irly
"si shuo kemana?"
"biasa tidur.. mana dia bangun gak cium baunya bapaknya"
"oh.. bentar.. ini apa?" tanya lian
saski kaget, bunga darinya ketahuan oleh lian
"nah ini sayang... aku mau bilang, kalo aku setiap jalan pagi sama shuo, ada sering bahkan anak anak kecil, kasih surat lah, coklat, bunga ini terakhir"
"oh ya?"
"baru tau"
"iya lah, orang kalo dapet surat ya habis baca sama shuo dilempar kesampah"
"wah bagus, anak papa itu, terus coklat..?"
"aku arahin aja shuo kasih dan berbagi sama anak kecil seumurannya disekitar sana"
"emm.. siapa dia, apa lelaki di samping gardu listrik tadi? yaaa.. aku yakin itu dia" tanya lian dalam hati
malamnya.. saat santai bersama..
"kamu gak marah yang.. ada yang kasih aku bunga begini, sering coklat juga surat" tanya irly
lian menatap mata irly
"yang kamu lakukan ketika kamu masih berdiri didepan ku saat mantanku menceritakan kejelekanku itu meyakinkan aku, bahwa aku percaya sama kamu.." jelas lian
hari hari berikut nya, ketika irly sedang sibuk memasak karna keluarga besar lian akan datang menjenguk bayi kembar lian, sofia bantu mengurus keempat anak irly
"ma.. jangan ikut bantu masak deh, gakpapa, irly handle sendiri, mama juga pasti repot ngurus empat anak.."
"beneran nih gakpapa ya, mama juga lagi males, main sama anak anak aja"
"hehe iyaaa maaa"
saat sedang masak...
shuo yang hanya duduk menunggu mamanya masak pun hanya natapi gerak irly
"mama.. kalo masak ribet ya" celetuk shuo
"ya kalo biasa ya gak sayang..."
"mama mama.. kalo nanti shuo ajari masak sama mama biar bisa masak seenak mama masak"
"oh jelas...."
"aduh, garam sama micin lupa.. pakai penyedap rasa juga habis" ucap irly pelan
mendengar ucapan irly, shuo yang baru bisa dan belajar menulis, menulis bahan yang habis..
dan berlari kedalam kamarnya mengambil uang yang baru dikasih neneknya, sofia
ia berlari keluar rumah, saat sampai didepan warung bahan masakan, shuo teriak pada bibi penjual
"bibi... bi" teriaknya
yaaa walaupun jalan didepan rumahnya bukan jalan yang terbilang ramai, shuo tetap menerapkan ajaran kedua orang tuanya untuk meminta bantuan jika ingin melintasi jalan
diwarung yang sudah ada saski pun, ia menoleh
"itu kan..." ucap saski
"buk, mau kemana?"
__ADS_1
"itu mas.. anaknya tetangga depan sana"
"biar saya aja"
"oh beneran mas? makasih ya"
dan ketika saski menyapa
"siapa om?" tanya shuo
"om bantu anter ke warung, kamu mau ke warung kan?" tanya saski
"iya"
setelah memberikan tulisan yang dibutuhkan mama nya
"kamu pasti gak bilang mama lagi keluar rumah ya" tanya bibi penjual
"iya bi, kalo bilang mama marah"
"kalo tau marah kok masih nakal?"
"kasian mama kan bi, garamnya habis"
mendengar percakapan bibi penjual dengan shuo, anak irly, saski pun bertanya
"emang sering ya buk panggil begitu?"
"sering emang mas, anak nya nakal, tetep aja kesini gak bilang bilang, ya sebenernya anak ini baik mas, niatnya kan bantu ibunya"
"em...."
setelah membeli dan membayarnya, shuo kembali ke saski meminta untuk membantu nya lagi
"om... ayo bantu aku lagi" ucap shuo
"iya ayo, buk saya ambil kembalian nya bentar lagi ya"
"ya mass.."
saski mengantarkan shuo sampai depan pintu rumah nya
"makasih ya om, anterin aku"
tak lama lian keluar
"shuo" ucap lian
"papa, tadi aku ke warungnya bibi, dianterin sama om ini"
"oh ya, aduh pak, maafin anak saya ya.. jadi ngerepotin, lagi makan tadi?"
"udah gakpapa pak, sering ya anaknya pergi sendiri"
"iya... emang dia bandel.. ya salah saya sih pak, saya sama istri ajarin dia mandiri dan membantu orangtua"
"mama... ini garam sama micin nya, sama kasih permen sama bibi" ucap shuo
"kakak, kamu keluar lagi"
"iya ma... beliin mama garam"
"uangnya?"
"tadi kan shuo dikasih sama neni sofia"
"terus kamu sama siapa?"
"dianterin sama om baik, didepan ngobrol sama papa"
irly menuju pintu depan
dan melihat yang membantu anaknya
"mas ya bantu anak saya?" tanya irly
"em... iya.. ya"
"makasih mas, emang anaknya lerlampau aktif"
"hehe lucu kok, tadi udah diceritain sama pak lian"
"oh, yaudah saya bikin kan kopi, atau teh mungkin"
"ah udah, saya pulang aja, saya rasa menggangu"
"loh gakpapa, biar istri saya buatkan minuman"
"udah gakpapa, saya permisi"
saski pun pergi, dan selama perjalanan pulangnya.. hanya rasa senang, terbayar semua penasaran nya ingin melihat irly secara dekat
"shuo" panggil lian
"yaa pa"
"shuo lain kali, bilang sama papa, sama mama, jangan berangkat sendiri"
"sering loh kakak begini ya" ucap irly
"iya ma.. pa... maafin shuo"
"udah, gakpapa, besok lagi, kalo shuo pengen beliin mama bilang, biar papa anterin, mama kalo gak sibuk juga bisa anterin"
setelah masakan selesai, sorenya datanglah semua keluarga besar lian
banyak dari keluarga lian, yang suka dengan keempat anak lian, namun tak suka pada istri lian...
"kalo cuman mengurus sih bisa semua ya.. enak kok tinggal duduk dirumah, diem, nunggu suami pulang, hasilnya dia yang kelola.." ledek tante lian
"enak kalo begitu sih" jawab tante lian satu mya lagi
"iya sih enak ya"
__ADS_1