
ketika jam berakhir..
Chu Zuhn mengirimkan pesan wechat padaku untukku datang kemobil hitam yang berada di luar depan sekolah..
ku kira itu Chu Zuhn..
tapi ternyata itu Xieng Yuang...
"Xieng Yuang?" Ucapku kaget..
dan lebih mengagetkan ku juga Xieng Yuang, ternyata Ming Du berada didalam mobil yang sama...
sementara kami sudah perjalanan menuju tempat yang dituju oleh Xieng Yuang
"kamu ngapain dimobilku?" tanya Xieng Yuang
"kamu harus tau, pacarku sedang berada dimobilmu, jadi aku wajar bukan jika pacarku masuk aku juga masuk?" tanya Ming Du
"pa..pacar?" tanya Xieng Yuang ke arahku
aku menunduk sejenak lalu kembali melirik ke arah wajah Ming Du dan mengangguk kepada Xieng Yuang
Xieng Yuang benar benar terlihat marah besar...
ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh lalu Ming Du mebanting setir ke kiri namun hanya menabrak pohon dipinggiran jalan, untuk diantara kami bertiga tak ada yang terluka
"kalian apa sudah gila?" bentakku..
akuoun keluar tak pedulikan keduanya..
aku menuju rumah Sung Ma
dan beberapa hari berlalu..
aku mulai kembali aktifitas..
hasil baik mulai diraih..
kelas kami mulai dilirik bahkan oleh kepala sekolah dan direktur utama..
aku ingin tunjukkan, ketika aku mendapatkan sebuah jalinan kisah, tak membuat semangatku turun..
pacar.. bukan alasan kita lemah, justru harus jadi penyemangat...
dan ketika aku memutuskan untuk mendedikasihkan untuk sekolah, aku tau, sempat dengar, sekolah terbilang kualitas rendah bagi sebagian muridnya..
namun jangan salah, QyinMa banyak menelurkan orang orang berprestasi dan berpengaruh..
aku ingin seperti beberapa nama yang keluar dari sekolah dengan sukses..
"Chu Zuhn.. aku rasa.. disekolah butuh beberapa inovasi, perubahan" ucapku
"perubahan? haha Nada.. kau itu murid bukan kepala sekolah" ledeknya
"apa salahnya mencoba, dan kamu coba dulu dengarkan aku"
"hemm.. katakan"
aku menjelaskan jika aku ingin menjadikan beberapa ruang tak terpakai di sekolah ini..
seperti bekas toilet..
diperbaiki saja menjadi aula ganti murid perempuan dan sampingnya adalah gudang cukup besar, boleh lah jadi ruang ganti lelaki, jadi tak perlu ke toilet untuk ganti, tak perlu tersentuh air tanpa sengaja lagi
"emm boleh, coba ditulis dulu biar gak hilang terus kamu berikan sama guru Noo Xue" ucap Chu Zuhn
kedua, aku ingin di sekolah itu ada FM dan publisher..
fungsi masing masing..
FM adalah radio, untuk beberapa anak yang mencari berita di seluruh jalanan kota seoul itu bisa dengarkan menggunakan siaran itu, ada alat ****** hidup dan matikan suara..
"wah cerdas.. boleh deh, tulis lagi" ucap Chu Zuhn
dan pemikiran terakhirku adalah adanya situs atau aplikasi khusus murid QyinMa untuk mendapat informasi sekitar lingkungan QyinMa pribadi, dan membayar orang jika bisa alumni untuk jadi profesi ini
"ha.. paparazi atau reporter?"
"terserah, keahlian yang berutung" ucapku
dan ketika bersiap menemui guru Noo Xue
"Aaaah Chu Zuhn.. bagaimana jika buka aula kesehatan bekerja sama dengan orang yang memiliki standart tinggi untuk kesehatan" ucapku
"dokter? bidan? emmm?"
"no bidan.. dokter.. haa.. dokter umum" ucapku
dan ketika sampai..
"ah Chu Zuhn, Nada.. silahkan, mari duduk" sapa guru Noo Xue
ketika akan menjelaskan..
"oh soal sekolah, emm begini saja, kalian berdua ikut saya bertemu kepala sekolah juga direksi, kebetulan kami kedatangan pemilik gedung sekolah ini" ucap Noo Xue
dan ketika aku dan Chu Zuhn selesai menjelaskan..
"bisa bisa.. karna saya suka dengan motivasi anda, okeh lah, biaya saya keluarkan" ucap pemilik gedung
dengan syarat" ucap nya lagi
"cari sponsor" ucap pemilik gedung..
"spon.. spon.. sor?" tanya guru Noo Xue
"iya.. supaya pembiayayaan ada penanggungan, dan saya gak masalah apapun produk mereka, di tempel dimana mana seluruh sekolah ini, tak masalah" ucap pemilik gedung itu lagi
dan setelah berdiskusi, aku dan Chu Zuhn menyepakati itu..
"ya sekarang dimana kita nyari perusahaan yang mau sponsor buat pembiayaan pembelian semua kebutuhan tertulis disini?" tanya Chu Zuhn
"yang tenang.. sabar.. pikir pakai kepala dingin" ucap guru Noo Xue
sesampainya dikelas...
"kamu dari kepala sekolah?" tanya Ming Du
__ADS_1
"iya..."
"gimana hasilnya?"
"emm yang kemaren aku bilang kekamu, itu perlu beberapa kebutuhan, ya pasti harus nyari sponsor"
"kan sudah aku bilang pakai uangku, cuman 500 rmb ada" ucapnya
"bukan masalah itu Ming Du"
"terus?"
"masalah nya ini bukan urusanku, berurusan nya sama sekolah, pihak pihak tertentu"
"emm... ketemu sama papa ku aja gimana?"
"papa?"
"iya.."
"papa kamu?"
"papa ku itu pengusaha baju jadi.. ya masuk kok kalau sponsori sekolah, kalau ada butuh butuh acara mungkin midnight, birthday sekolah, hallowen, dan lainnya bisa ke papa"
"emm.. yaudah kita ketemuan aja sama papa kamu, tapi diterima gak ya?"
"diterima kok... tenang aja, aku yang urus"
dan ketika Ming Du mendapatkan kabar positif dari ayahnya...
aku, Chu Zuhn, pastinya Ming Du juga datang ke kantor ayah Ming Du
ketika masuk..
waaaah kantor ini mewah benar benar luas..
aku tak pernah lihat kantor seperti ini..
tangga jalan.. emmm pasti pembuatan mahal
ketika masuk ruangan...
"pak asisten.." sapa Ming Du
"eh tuan muda, direktur sedang ke toilet luar, toilet dalam rusak"
"oh okeh"
dan ketika seseorang masuk..
menyapa asisten direktur yang tadi juga menyapa kami datang..
"Ming Du" sapa bos utama pemilik perusahaan bernama pak Mao Do Za..
pertama kulihat.. entah ada apa..
seperti aku kenal dia..
seperti dia sudah lama ku kenal.. seperti bagian prang sekitar ku.. ah entahlah..
"siang.. Ming Du.. mereka teman yang kamu ceritakan?"
"iya pa..."
"okeh silahkan duduk.."
aku merasa Mao Do Za pun melirik ke arahku tak henti, aku merasa dia sama sepertiku..
seperti mengenal sebelumnya..
"Nada..." sapa Ming Du
"eh maaf, iya.."
"ah coba kamu jelaskan dulu" ucap Ming Du
dan setelah penjelasan dan kesepakatan..
kami pun pulang...
beberapa hari kemudian..
"Nada.. kita pacaran serius kan?" tanya nya
"emm.. iya.."
"kamu mau gak ketemu sama mama, papa ku juga, makan malam gitu dirumah, atau diluar asalkan ketemu"
"ha.. waduh, kan proyek belum selesai"
"ya udah nunggu selesainya, tapi mau kan?"
"mau kok"
dan ketika aku sukses membuat sekolah lebih maju beberapa langkah kedepan
"wah sukses, saya salut dengan anak didik kamu" ucap kepala sekolah pada guru Noo Xue
dan beberapa image melekat baik di sekolah kami terutama kelas ku..
yaa.. perubahan ini yang ku mau..
tugas belum selesai..
kuliah belum rampung..
lebih semangat.. ini bukan akhir.. juga bukan awal, ini tengah, jangan sampai berhenti ditengah
"sayang" sapa Ming Du
"uussst.." ucapku
"kenapa? oh iya aku mau tagih janji"
"iya... aku inget.. ketemu mama kamu kan, yaudah kapan"
"emm bulan depat.. tiga hari lagi kan bulan baru.."
__ADS_1
"yaudah deh..."
ketika hari itu tiba...
aku berjalan menuju depan rumahku disana sudah ada Ming Du..
sesampainya dirumah..
aku dan Ming Du tak sengaja mendengar Mao Do Za menelfon seseorang ditemani istrinya
"ya ini kan sudah waktunya, kalian berdua sudah janji kembalikan ketika masuk kuliah, bukannya kalian sudah saya kasih kartu nama saya?" bentak Mao Do Za
"yaaa.. yaa.. ini jatuh tempo jauh banget kamu tau.. dua tahun loh saya tunggu" ucap nya lagi
"okeh okeh, saya gak mau tau kamu cari, dimana keberadaannya, bisa bisanya kamu hilang tanggung jawab" bentaknya lagi
dan ketika menyadari kami datang
Mao Do Za langsung menutup telefon nya..
"eh duduk" sapa Moa Do Za
dan Ming Du mengenal kan aku kepada keduanya
"ini kan yang beberapa waktu lalu..."
"iya.. pak saya"
"oh jadi dia.. jadi kamu ya.. paa ini anak yang mama ceritakan, pernah antar pulang Ming Du mabuk berat" ucap ibu Ming Du
"oh tuhan.. kamu, dunia terdengar sempit jadinya" ucap Mao Do Za
dan ketika kami mulai mengobrol..
entah ada apa.. bukannya ini kali pertama aku mengobrol cukup dekat dengan Mao Do Za..
seperti memang cocok..
"oh jadi kamu suka kerang... iya itu disini kan makanan sea food" ucap Mao Do Za
"ya pak, saya suka, di rumah sering masakin itu dulu ayah saya"
"nah cocok dah, tante nih sering, ya gak setiap hari sih.." ucap ibu Ming Du
"loh, tapi kamu asli indonesia?" tanya Mao Do Za
"iya pak"
"tapi wajah kamu kok, agak agak sedikit korea jepang, ya semacamnya lah"
"paaa..." bisik ibu Ming Du
"ehmm gak papa kok bi, pak, mama saya bilang waktu hamil ngidam nonton korea"
"ngidam"
"bawaan bayi dalam perut" jelasku
"oh.. iya saya tau"
dan ketika hari berikutnya...
kami kembali dipertemukan..
di kantor perusahaan Mao Do Za akan melanjutkan meeting pemesanan baju untuk seluruh guru disekolah dan juga staff lainnya..
setelah aku mengobrol dengan Mao Do Za
"oh... saya lupa.. kemaren saya mau tanya nama ayah kamu siapa?" tanya Mao Do Za sambil membaca salah satu buku di belakang meja kerjanya
"nama ayah saya jodi dan ibu saya mini"
"mini?" tanya nya kaget
"i-iya"
mendengar nama kedua orang tuaku, ia menjatuhkan buku yang sedang dibacanya menatap arah kosong..
"pa.." panggil Ming Du
lalu Mao Do Za menoleh arahku..
"pa.. kenapa?" tanya Ming Du
"papa tidak apa apa" ucapnya tapi masih menatap arah ku
"terus kenapa papa liatin pacarku seperti ini pa?"
"emm.. oh maaf.. maaf Na... siapa tadi?"
"Nada pak"
"ah Nada.."
dan ketika kami berpamitan..
"ehmm Ming Du.." panggil Mao Do
"ya pa?"
"hati hati dijalan bawa Nada.."
"pastilah pa, bay pa"
dan ketika aku pergi, aku melihat Mao Do menelfon seseorang.. entah siapa..
tapi ekspresinya aneh, janggal..
dan ketika beberapa hari kemudian..
seseorang dengan nomor tak dikenal menelfon ku
"halo" sapaku
"halo, ini Nada?"
"saya Nada, ini siapa?"
__ADS_1