
dan sejak itu jalinan keduanya benar benar terputus
Gino selalu mengumbar jika putusnya karna ada orang ketiga yang berhasil memakan mangsa temannya..
sejak itu Gino pun terus mengejar Arin setidaknya supaya tak dekat dengan Sofyan melebihi batas pertemanan saja
dan ketika Gino melihat kedekatan antara Arin dan Sofyan pun membuatnya cemburu buta, Gino melemparkan kata kata pedasnya kepada Arin
"kau benar Sofyan, yang kau ucapkan waktu itu, jika tidak karna dompet tebal, pasti karna sosis yang tebal" ucap Gino
Arin tanpa basa basi menampar Gino namun Gino menahan tangannya tak berhenti disitu, Arin menginjak kaki Gino sekeras kerasnya..
Gino tak mengeluarkan ekspresi apapun, namun ketika Arin pergi, Gino berteriak keasakitan
dan ketika Arin makan dikantin, tak lama Gino datang dan duduk di satu meja dengan Arin..
Sofyan yang melihat Gino disana hanya berdiri terdiam, namun Arin melambaikan tangannya meminta Sofyan untuk duduk bersama nya juga
satu meja pun berisikan Arin, Gino, dan Sofyan..
dan tak lama Tara pun datang..
melihat Sofyan yang berada duduk bersama Gino dan Arin pun Tara memanggilnya
"Sofyan"
"emm iya pak"
"ikut saya"
"ya pak"
setelah diruangan pribadi Tara
"kamu ngapain duduk diantara mereka berpacaran? kau yang jadi gosip keretakan hubungan mereka seperti yang banyak diperbincangkan murid kampus?"
"ya bukan lah pak, kalo memang sudah bukan jodoh dipaksain pun tetep pisah"
"kamu sejak kapan suka sama Arin?"
"suka?"
"aku tau kamu suka pada Arin"
"bapak tau dari mana sok tau tuh"
"jawab saja"
"bentar deh pak, bukannya bapak paling anti ya omong masalah pribadi apalagi dikampus?"
"yasudah selesai, jangan dibahas, silahkan kembali ke aktifitas kamu"
"pak, bapak belum jawab"
"pertanyaan itu tidak pernah ada jawabannya"
"tapi..."
"silahkan" ucap Tara menunjuk arah pintu tanda meminta Sofyan keluar
dan ketika malam tiba, Sofyan mengundang Arin makan siang dirumah nya..
dan jelas saja Arin akan bertemu dengan sang dosen, siapa lagi jika bukan Tara
"kamu siapa?" tanya gadis kecil menyambutnya
Arin duduk berjongkok dan mengenalkan dirinya
"hai cantik, nama tante, Arin"
"tante Ayin?"
"heehehe iya"
"tante Ayin kelas berapa?"
dalam pikiran Arin heran, apa anak sekecil itu mengerti pembagian kelas belajar diperkuliahan?
"tante Ayin kelas 5a"
"oh udah besar ya? kayak kak Doni sudah sd" jawab gadis itu lugu
"ha.."
"kak Doni tetangga aku juga kelas 5a"
barulah ia paham yang dimaksud gadis kecil itu jika dirinya dikira masih kelas 5 sekolah dasar
"beda dong sayang.. tante 5a yang paling gede"
"maksudnya?"
"emmm... gini deh daripada kamu pusing kita main? gimana?"
"boleh"
"eh tapi tante belum tau nama kamu"
"Isti tante"
"oh Isti, yaudah sebentar ya tante mau ketemu sama om sofan"
"oh bang Sofyan?"
"iya.."
"sebentar tante aku panggilin dulu"
Isti berlari kearah kamar ayah nya, iya tau Sofyan sedang bersama ayahnya, ayahnya adalah Tara
"bang Sofyan, dicari sama tante cantik"
"tante cantik?" tanya Tara
"iya pah, cantik banget tantenya, baik sama Isti juga"
"siapa sooff?"
"liat aja sendiri om, bentar aku pinjem bajunya om"
"eh siapa sih"
ketika sampai di ruang tamu
"om masih ganti baju tante" jawab Isti
"oh yaudah"
"tante tante mainan ku yang ini bagus kan?"
"oh iya dong, boleh buat tante gak?"
"boleh tapi jangan yang ini"
"yang mana?"
"sebentar aku ambilin"
__ADS_1
"hai rin?"
"hai.. "
"sendirian? Sona kemana?"
"sama Sona kok, masih dimobil"
"panggil gih"
ketika memanggil Sona, Tara melirik dan mulai mengenali nya
"Arin?"
"eh pak Tara, oh astaga iya ya, kan bapak om nya Sofyan, lupa saya pak"
"tante tante, ini bonekanya, mau kan? tapi jelek"
"mau dong dikasih, makasih ya Isti, nanti tante simpan deh"
"iya tante ngapain sih tante diluar, ayo masuk tante"
Isti menarik tangan Arin
"emmm.. itu anakku, maaf ya" ucap Tara
"astaga jadi dia anak bapak, sumpah pak, saya kurang fokus, gak ngeh"
"iya gakpapa kok"
"eh eh om, dia tamu aku, kok om sih yang nemenin, enak aja"
"ya kam tamu sendirian gimana sih kamu, tamu ditinggal tinggal"
"yaudah, kan Sofyan dah balik, om sana deh"
"gak sopan ya kamu"
"hehe"
dan alhasil Tara membawa Isti masuk kekamar nya dan menyusun rencana dengan anaknya
"Isti jangan jauh jauh sama tante Arin ya, temenin tante Arin sama bang Sofyan"
"siap pah"
Isti pun mendekati arah Arin
"tante tante"
"yah si kucrut dateng" ucap Sofyan pelan
"hust" Arin menyenggol tangan Sofyan
"tante gak mau minum?"
"Isti mau?"
"enggak"
"Isti minum apa?"
"susu"
"mana susunya?"
"belum dibuatin sama papah, sama papah disuruh cepet cepet nemenin tante Ayin"
Tara yang sedari tadi menguping pun menepuk kepalanya , ia sadar diapain juga kalo namanya anak kacil bakalan jujur
"bocah" ucap Sofyan
"hem... " ucap Arin menyenggol tangan Sofyan
"om... gak usah sembunyi, kami sedang tak main petak umpet" teriak Sofyan
karna sudah ketahuan, tarra mencari pembenaran menutupi gengsinya
"aku mau bikinin isti susu kok, eh dia sama kalian"
"ah om bisa aja, bisa aja ngakalin anak sendiri"
"he, Sofyan" panggil Arin
"yaudah pak saya aja yang buatin bareng Isti, dapurnya sebelah mana ya?"
"oh disana" jawab Sofyan menunjukkan arah dapur
setelah Isti dan Arin pergi
"ah om... gangguin aja"
"hmmm.. liat deh, cocok ya kayak anak sama ibunya"
"ha... om ngomong apa?"
"emm.. enggak, apa?"
"oh om suka ya sama arin, om sadar om, dia umuranku loh, dia juga murid didik om, astaga om"
"apa sih udah ah"
Tara berjalan masuk kekamarnya, dan diikuti oleh Sofyan yang terus bertanya soal Arin
tak lama setelah masuk.. Arin pun masuk dan membuka pintu kamar Tara
"ha..." Arin membalikkan badannya
ternyata Sofyan sudah tak memakai pakaian, membuat diri Arin malu
"dasar orang utan" bisik Tara
"emm.. aku cari isti aku kira ini kamar Isti"
"yaudah mari saya anter ke kamar Isti" jawab Tara
"eh om aku aja"
"pakai dulu itu bajumu"
Arin pun keluar dari kamar bersama Tara
setelah makan siang selesai, Arin dan Sona pun berpamitan... terlihat Isti yang sudah nyaman tak mau ditinggal
seperti kecewa karna Arin berpamitan. ia masuk dan menutup pintu kamarnya
iapun tak menjawab siapapun yang memanggilnya
esoknya ketika Sofyan bersiap berangkat, dimeja makan sudah ada sarapan yang dibikin oleh asisten rumah tangga yang sudah ada Tara dan Isti disana
"om... om suka kan sama arin?" tanya Sofyan berbisik
"kamu memang boleh saja pintar di dalam jam kuliahmu dan materi materiku, tapi bukan berarti kamu pintar membaca pikiran saya"
"enggak, Sofyan gak baca kok, ngapain baca pikiran, prang bukan pesulap"
Tara melirik dengan sinis
__ADS_1
"kan Sofyan cuman liat dari capernya om"
"caper apa? udah sana berangkat, kamu kan ada jam"
"yaelah timbang jawab ini doang"
suatu ketika, Arin yang sedang berada didaerah sekitar toko buku.. melihat dari luar didalam toko buku ada Talita bersama Gino
ia pun mendekatinya
"kak.." sapa Arin
"Arin? loh kok kamu disini? mainnya jauh banget?"
"ehmm aku disini ada temen kampus kok kak. tapi kakak kok sama"
"oh itu, Gino"
"Gino" teriak Talita
"kakak sama Gino?" tanya Arin
Gino memberantakkan rambut Arin
"jangan berfikir jauh, dia ini tante ku" jawab Gino
"tante? maksudnya?"
"loh memang kalian kenal?"
"rollingan kelas di prodi te" jelas Gino tak mau memperpanjang
"kita selfi dulu" ucap Talita
mereka pun mencari tempat untuk mengobrol
disanalah Talita menjelaskan jika Gino benar benar keponakannya..
"terus kalian apa?" tanya Talita
"menurut tante apa?"
"emm apa ya, i dont know"
"kita pacaran tante"
"ah pernah pacaran sekarang enggak maksudnya kak" sambar Arin
"serius? kok tante gak tau?"
"ya kita emang sering nya dikampus, jarang kalo diluar"
"emm..."
telfon Talita pun berbunyi
"hallo bik?"
"nyonya, Asta sakit, demam tinggi"
"ha.. Asta sakit? saya kesana sekarang bik"
melihat wajah Talita berubah bingung, Arin bertanya
"kenapa kak?"
"emm kakak jelasin lain kali aja, yaudah kakak duluan ya, Gino tante pergi"
"nanti Gino nyusul te"
dan Talita pun berlalu
"memang Asta siapa?" tanya Arin
"Asta itu anak te Talitq"
"te Lita?"
"iya Talita"
"masak sih, kok kak Talita gak pernah cerita?"
"hemm.. kak Talita emang begitu, males kalo bahas masalalu"
"emm..."
setelah mereka sampai dirumah Talita
Arin yang melihat kondisi anak Talita pun merasa seperti tak asing..
namun ia benar benar lupa dan benar benar tidak tau jika sebenarnya asta itu adalah kembaran Isti dan anak dari pernikahan Talita dengan Tara
melihat kondisi Asta, Arin juga bingung harus berbuat apa selain melihat dan menemani Talita saja seperti patung
Arin pun turut bersama menemani Talita mengantarkan anaknya kontrol kerumah sakit
beberapa hari kemudian, ketika arin ingin menjenguk Asta, ternyata Talita sedang tidak dirumah, hanya tingga asisten rumah tangga
Arin mengabari melalui chat kepada Talita jika ia sudah dirumah Talita namun ia tak menemui siapa siapa
"non minumnya"
"makasih bik"
"iya.. neng ini teman kampusnya nyonya ya?"
"iya bik, adik junior"
"oh.."
"bik.. Asta dimana?"
"asta diatas non main dia, masih kurang fit aja badannya"
"boleh ketemu gak bik, soalnya saya bawain mainan"
"boleh boleh, masuk aja non"
melihat Asta yang sedang tidur tiduran didepan televisi dengan mainannya..
Arin duduk disamping Asta
Asta melirik dan hanya terdiam
Arin menyodorkan bingkisan
"enggak"
"tante bawa buat Asta, kata mama Talita, Asta seneng sama robot mobil?"
"bohong.. kata mama jangan percaya sama orang gak dikenal"
tak lama Talita vicall
"hallo rin, sampek dimana?"
"udah dirumah kakak nih, aku udah bilang hari ini datang eh kakak gak ada"
__ADS_1