Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
Margaretha Stevanna


__ADS_3


Awal yang indah setelah beberapa hari author menghilang karna ada masalah, hehe, maap ya..


yuk story barunya..


gadis bernama Margaretha Stevanna


Ketika itu hujan masih terlihat menghujani rumah tempat stevanna terdiam dikamarnya. Ia memandang jendela kamar tempatnya terdiam, melamun. Berharap pelangi muncul setelah hujan besar itu menghiasi rumahnya dari balik kaca. Hatinya suntuk dan mulai berjalan menujuh arah jendela kamar miliknya yang berada di lantai dua rumah sederhana tersebut.


stevanna terlihat asyik memainkan jari manisnya diatas kaca yang beruap sambil melukis sesuka hatinya. Kemudian jarinya terhenti melihat seorang pria turun dari motornya dengan keadaan basah kuyup, pria itu tampak sibuk menepikan motornya tepat di pintu gerbang mungil rumah stevanna. stevanna melihat pria itu seperti berteduh di depan rumahnya dengan kedinginan dengan memeluk sebuah tas gital besar yang begitu ia jaga.


Hujan tampak tidak menjadi semakin kecil namun semakin membesar. Hati stevanna iba melihat apa yang terjadi pada pria itu. Ia pun berjalan cepat menuruin tangga kecil rumahnya ke pintu halaman rumahnya sambil mengambil sebuah payung disisi pintu.


Entah sebuah perasaan kecil membuatnya untuk memberanikan diri mendekati pria tersebut.. stevanna menggeser pintu gerbangnya dan pria itu tampak berusaha meminggir menghindari dan mengira sang pemilik rumah hendak keluar dari rumahnya. Namun ia sedikit terkejut melihat stevanna dengan sebuah payung malah mendekatinya.. sembali tersenyum stevanna berkata dibawah derasnya suara hujan


"Masuk yuk.. hujan besar..!" ajak stevanna


"hm..!" pria itu sedikit ragu dan hanya tersenyum


"Gapapa kok, masuk aja.. !"


"Yakin gapapa?"


"Iya.. aku sendiri . ga usah khawatir..!" ujar stevanna


"Yauda, makasih ya!!" ujar pria itu singkat


Dengan sedikit ragu akhirnya pria itu mengikuti stevanna memasuki rumahnya, stevanna membuka pintu gerbang secara utuh agar motor pria itu dapat masuk dan terjaga. Kemudian ia mempersilakan pria itu berdiri di teras mungil miliknya. Ia sendiri kembali menuju ruang rumahnya mengambil sebuah handuk kecil. Pria itu tampak dengan senang mengambil handuk tersebut.


Hal pertama yang pria itu lakukan bukan mengeringkan tubuhnya dari air hujan. Namun ia lebih memilih mengeringkan air hujan yang tersisa pada jaket gitarnya. stevanna sedikit bingung dengan apa yang pria itu lakukan.


"Kok bukan kamu dulu yang dikeringin.. malah tasnya?" tanya Stevanna


"Ah.. gapapa kok, tas jaket ini penting buat aku. Ini nyawa pertamaku?"


"hehehe.. ngerti deh.?" Ujar stevanna kebingungan


"Isi tas ini gitar. Dan gitar ini penting buat aku. Kalau basah bisa merusak kualitas kulitnya. Aku pemusik. Namaku guntur! Boleh tau nama kamu?"


"Oh ya.. sampe lupa ngenalin diri.. Aku stevanna.!"


"Maaf ya ngerepotin kamu... jadi ga enak!" kata Guntur


"Gapapa kok. Salam kenal juga ya. Oh ya! Mau minum apa, sekalian aku juga mau bikin minum nih?" tawar stevanna


"Aduh ga usah deh, bener bener ngerepotin banget.. uda bisa numpang uda senang kok!"


"Wah.. jangan gitu dong. Senang loh bisa punya kenalan pemusik. Itu seperti takdir saja!" kata stevanna memuji


"Bisa saja.. kalau gitu aku minta air hangat saja!"


"tunggu bentar ya..!"


pria itu bernama Guntur Adyatma, seorang pria menyukai musik dan gitar


stevanna terlihat kembali ke dalam ruangan rumahnya. Guntur menatapi seluruh isi halaman rumah tersebut yang sederhana namun memiliki taman kecil yang diisi oleh tanaman bunga matahari dan beberapa daun hias.


Beberapa saat kemudian stevanna keluar dari rumahnya dengan dua cangkir teh panas. Ia meletakkan di meja dan mempersilakan guntur mengambil bagian yang ia berikan.

__ADS_1


"ini" kata Stavanna


"boleh?"


"boleh lah, aku menawarimu ini kan"


"oh iya"


Guntur menikmati segelas teh hangat tersebut. stevanna memperhatikan pria itu dengan sedikit malu malu. Guntur berkulit putih dan beralis tebal. Rambutnya pendek dan terkesan rapi. Yang ia pikir seorang pemusik itu ugal ugalan dan jarang sekali bergaya dengan kemeja seperti yang dikenakan Guntur saat ini. Tapi pria disampingnya itu, berlainan dengan yang ia pikirkan.


Guntur sedikit risih mulai merasa sedang diperhatikan sedangkan hujan tak jua berhenti.


"Kamu bisa main alat musik?" Tanya guntur


"Aku. Hehehe. Kayaknya dulu sempat latian suling waktu Sekolah dasar. Tapi kayaknya ga bakat banget deh?"


"Oh ya, semua orang itu berbakat kok.. kalau kamu mau, pasti juga bisa?"


"Mau sih, tapi kalau mesti sekolah musik gitu mana ada waktu. Jadwal kuliah aku padat sekali!!"


"Kamu masih kuliah ya.. pantesan. !"


"Iya aku masih kuliah, kalau kamu sendiri bagaimana?"


"Sudah lulus sejak setahun lalu, sekarang lagi fokus sama band aku. Mungkin kapan kapan kalau aku ada show, kamu datang ya!"


"Wah.. benar ya.. mau liat kamu main jadinya!"


"Iya pasti. Kalau kamu mau aku bisa juga ajarin kamu main gital ataupun piano, gimana?"


"Wah.. bener neh. Aku pengen banget bisa main gital. Janji ya!"


"Sip. Rumahku tetap disini kok..!"


Hujan menipis dan menjadi merintik hingga tak tersisa. Tak terasa mereka begitu cepat menjadi akrab. stevanna pun tak pernah berpikir mendapatkan sahabat baru secepat yang ia kira. Ia memang baru saja pindah dari kotanya asal malang


dan mengambil kuliah informasi di salah satu perguruan tinggi di Bali


Awalnya Guntur sempat heran mengapa stevanna tinggal seorang diri dan ia mendapatkan jawaban cukup dimengerti kini. Sahabat yang yang serumah dengannya memutuskan untuk berhenti kuliah dan kembali ke Malang untuk menikah.


"oh karna itu jadi kamu sendirian?" tanya Guntur


"iya, tapi gak papa lah kan, buat kebahagiaan temanku, temanku disana juga sudah berkeluarga"


"iya bener"


Guntur berpamitan dengan stevanna , ia begitu senang mendapatkan kebaikan dari stevanna. Bahkan ia tak lupa akan janjinya untuk kembali mengajarkan bermain gitar serta memberikan tiket shownya bila ia sedang manggung.


Namun ia harus segera kembali ke café tempatnya bekerja sebagai menejer. Dua pekerjaan yang ia lakukan ditempat yang sama, sebagai ketua band dan juga sebagai menejer cafe.


Perkenalan singkat itu membawa kenangan tersendiri untuk stevanna. Ia menatap kepergian Guntur dengan senyuman berharap pria itu kembali pada janjinya. stevanna pun harus segera menuju kampusnya. Banyak hal yang ia harus lakukan karena hujan yang membuatnya tertunda. Perpisahan kedua orang itu hanya sesaat namun disambut dengan sebuah pelangi yang telah dinantikan stevanna. stevanna menatap pelangi itu dengan tersenyum lebar. Keajaiban yang indah.


"maaf pak, saya terlambat hari ini" kata Guntur


"iya masuklah saja Guntur" jawab bos nya


"maaf ya pak"


"iya iya sana mulai persiapannya"

__ADS_1


Guntur kembali ke café tempatnya bekerja dengan terlambat. Sang pemilik café memaklumi keterlambatan tersebut, karena hujan sebagai alasan guntur memang terjadi. Sang pemilik café itu adalah warga Australia


cafenya di beri nama toffee caffee. Dan nama café itu adalah juga nama band yang dibentuk oleh guntur. Band itu terdiri dari guntur sebagai gitaris.


Soni sebagai bas yang juga sekaligus sahabat terbaik guntur.


Dua kakak adik rista dan rasti yang berposisi sebagai keyboard dan drummer.


Sang vokalis juga bagian terpenting dari group mereka adalah caroline.


"mau kemana hari ini?" tanya Rasti kepada Caroline


"oh ya besok libur saya ya, ada urusan"


"urusan apa? sama pacarmu?" tanya Rista


"ssst Rista, jangan berisik, ini aku udah mau pergi, besok libur ya Guntur" kata Caroline


"iyaa" jawab Guntur


caroline akhir akhir ini sering absen dalam jadwal show mereka karena kesibukan yang kadang terlalu tidak penting.


Memang sang vokalis cantik tersebut sedang jatuh cinta pada seorang wisatawan asal Jerman yang selalu melihatnya saat melakukan show. Sahabat sahabatnya menyadari hal tersebut, terkadang disaat caroline tak dapat bernyanyi mereka sudah terbiasa , rasti selalu mengantikan tempatnya. Namun kekuatan vocal Rasti tidak sebaik yang dimiliki caroline tapi masih lebih baik


Sering terjadi keributan kecil yang nyaris merusak formasi kelompok tersebut. Walaupun konflik itu berakhir dengan damai namun tetap saja menyimpan rasa ketidakpuasan antara mereka.


"lihatlah masalah, kalian selalu memiliki itu" kata Soni


"Soni, kita juga sudah menyingkirkan ego kita kok" kata Guntur


"untuk itu kita meredam, sudah lah yang penting kita sudah selesai" kata Caroline


"begini saja terus sampai kapan?"


Soni salah satu bagian dari kelompok tersebut terkenal dengan emosinya yang meletup jadi ketika ada masalah, yang emosi ya Soni


Soni dan Guntur berteman sejak kecil mereka adalah bagian terpenting dari otak group tersebut,


sedangkan rasti dan rista adalah dua orang yang mereka temukan secara tak sengaja ketika sama sama ikut dalam sebuah audisi dikota mereka. Walau akhirnya mereka gagal.


Sedangkan caroline adalah mahasiswa yang awal mulanya mencari uang tambahan namun akhirnya benar benar dinobatkan sebagai vokalis kelompok tersebut.


Mungkin diantara semuanya, gadis asal solo-usa ini paling banyak bermasalah, ia terkadang sibuk dengan dunianya di kampus. Tapi itu bukan lah sebuah perkara, mereka tetap bersatu padu untuk menjadi sebuah band besar , walau pada akhirnya mimpi itu kini nyaris menjadi sirna. Namun selalu terdapat harapan untuk menjadi terkenal kelak.


Malam ini pun seperti biasa mereka berkumpul untuk berdiskusi tentang apa yang akan mereka perdengarkan. Soni tampak terlihat suntuk dan cemburut. Guntur tampak menghitung satu persatu anggotanya dan melihat ada yang kurang


“Si Caroline ga masuk lagi ya?” Tanya guntur


“Tadi dia telepon katanya malam ini agak ga enak badan!” ucap rista


“Alah alasan aja. Mau cabut bilang aja. Ngapain pake gantung gitu. !”


“Ok ok seperti biasa., ras kamu yang gantiin. Kita bawa lagu lagu yang slow aja, ga usah terlalu maksa ya ingat!” jelas guntur


“Sip..!” pungkas rasti


Kemudian mereka membubarkan diri. Rasti dan rista tampak berbisik kecil keluar dari kumpulan. Soni mendekati guntur dengan wajah masih cemburut


“Kalau kayak gini, aku ga yakin kita bisa tetap ada.. !” keluh soni

__ADS_1


“Udalah, biar aku nanti yang coba ngomong sama Caroline"


__ADS_2