
"oh iya, aku udah kasih sih nomor sama sosmed ku ke temenmu, ini buat kamu" ucap Dindri
"serius Dindri?"
"ya... yaudah gue cabut ya, ada urusan"
"thanks Dindri"
saat akan mendekati arah mobil
"anjir dia naik mobil c*k" jawab salah satu teman raden
"lah dia balik?" tanya salah satunya lagi
"kenapa Dindri?" sapa raden
"oh, ini, besok kalo jam segini aku main kesini bareng temen temen aku bisa?" tanya Dindri
"temen cewek?"
"iya cewek"
"waaah siap, dengan senang hati, besok ya, gue tunggu lo"
"ya. yaudah bye"
setelah Dindri pergi dan berlalu
"cuy, pasti temen temennya pada cantik"
"jelas cuy, dia nya aja anjir gila coy"
esoknya saat sepulang sekolah Dindri, Dindri mengajak empat temannya lagi
"Dindri, kemana?"
"ngikut kaga? ke warung, ngecengin anak sekolah lain"
"target lu"
"nah itu tau, ayo lah"
"yaudah"
sesampainya diwarung
Dindri turun terlebih dulu. tak lama beberapa teman Dindri pun ikut keluar
"anjir gue bilang apa ***, cantik cantik men" ucap salah satu teman raden
"hai, kita dapet tempat duduk dimana?" tanya Dindri
dan raden membawa Dindri ke kursi lain, sementara empat teman Dindri duduk tersebar bersama banyak lelaki disana
"sumpah ya, temen temen kamu cantik cantik" ucap raden
"iya lah, siapa dulu temennya"
"emm... aku telfon semalam gak kamu angkat.."
"oh itu, aku sibuk nugas sama mereka, selesainya langsung tidur, paginya keburu sekolah, baru siang deh siang ini bukanya"
"oh, kirain gak mau angkat telfon aku"
"enggak lah, eh anter aku cari novel mau?"
"mau naik sepeda motor kalo sama aku"
"kamu bisa setir mobil?"
"bisa"
"naik mobilku, sama sekalian kita anter temen temenku"
"cabs guys" ajak Dindri
"okeh"
"yaaah mau kemana kalian?" ucap teman teman raden yang berkenalan dengan teman Dindri
"pulang lah" jawab serli
"aku mah gak biasa aja ditempat begini, cuman ajakan si Dindri aja gue mau" jawab cindy
"kalo kalian mau main aja ke tongkrongan kita" ucap bela
"serius boleh"
"boleh, nanti aku kirimi alamatnya" jawab bela
diperjalanan, setelah mengantarkan teman teman Dindri, tinggallah Dindri bersama raden..
"makasih ya mau anter temen temen aku, nemenin aku"
"iya, sama sama"
"pacar kamu gak marah kalo jalan sama aku?"
"pacar mana? aku aja udah lama putus terakhir kelas tiga SMP"
"masak sih, terus lagi deket nungkin"
"ah kalo deket mah relatif sih, ada deket banget satu, tapi masih sekedar ttm biasa"
"ya dia tau nanti cemburu"
"udah lah gakpapa, gak akan tau juga"
"em..."
"kalo kamu"
"pacar? aku gak punya" jawab Dindri
"masak sih ga punya"
"ya sama ma kamu sih. relatif"
"kalo kamu bukan relatif, cowok mana yang gak deketin cewek secantik kamu, rugi" jawab raden
"waduh thanks loh pujiannya"
"haha iya.."
seringnya mereka jalan, keduanya memutuskan berpacaran, namun raden memilih backstreet dari ketiga kakaknya dan ayah nya.. karna ia masih tak diperbolehkan untuk berpacaran sebelum tuntas SMA
"tapi aku gak bisa pacaran ngajak kamu kerumah" ucap raden
"kenapa?"
"aku belum boleh pacaran"
"masak jaman sekarang masih mau dikekang gak boleh pacaran menurut usia"
"iya gimana lagi, aku anak paling kecil dirumah jadi harus nurut"
"bagus deh kalo begitu"
tapi bukan suatu masalah besar... karna dengan ini membuat rencana Dindri akan lebih cemerlang..
Dindri hanya akan mempengaruhi pikiran raden tentang hevi
"sayang.. nonton ya" ajak Dindri
"kapan?"
__ADS_1
"besok, kan sabtu sore"
"iya udah, tapi aku pulang dulu nanti kamu nunggunya diwarung lagi ya"
esok sorenya
"nonton apa yang" tanya raden
"emm.. PROMISE, ada dimas anggara.. aku ngefans sama dia"
"yaudah.."
sembari menunggu waktu giliran pemutaran film
"duduk disana sayang" ajak Dindri
setelah duduk
"kamu bilang anak paling kecil?"
"iya, saudaraku ada tiga, dua lelaki, satu perempuan"
"terus menikah semua?"
"belum sih yang.. masih sibuk pacaran semua sih"
"oh, yang cewek berarti anak satu satunya cewek"
"iya"
"pacaran?"
"iya.."
"sama?"
"kak gandi"
Dindri terdiam, betapa awetnya gandi bersama hevi..
"terus yang pertama, cowok?"
"iya, cowok, pacaran, kedua juga, cuman yang pertama sama kedua sih pernah pacaran sama satu orang yaaa bukan waktu bersamaan sih, tapi sama sama putus karna suatu hal"
"apa?"
"karna kakak ku yang kedua"
"loh, kenapa?"
"biasa, bikin gara gara aja sih, maklum, namanya anak cewek satu satunya.. jadi ya gitu deh.."
"oh... iya..."
sesampainya dirumah, raden pulang cukup malam
"dari mana kamu pulang malam den" tanya dondi
"jalan sama temen kak, kan udah pamit tadi dirumah cuman ada kak ivan sama kak hevi, jadi aku pamit kak hevi"
"emang keluar kemana?"
"dirumah temen"
"kata temen kakak dibioskop"
"ya kan sebelum kerumah temen"
"sama siapa ke bioskop?"
"temen kak"
"kok cewek"
"ya kan banyak, gak cuman satu"
"tiga anak, empat sama aku"
"yakin gak pacaran kan"
"idih kak dondi ini, kan aku udah gede"
"kata ayah apa, sebelum lulus gak ada cinta cintaan"
"iya iya kak"
hevi pun keluar
"kamu baru pulang dek" tanya hevi
"iya kak, capek, aku tidur ya kak"
"belajar bukan nya tidur" teriak dondi
"iyaaaa kaaaak" teriak raden
baru saja raden merebahkan tubuhnya diranjang.. suara telfon berbunyi..
"iya syaang" sapa raden
"tidur ya sayang?"
"belum, baru nyampek aku, capek sekali aku"
"iya.. udah sana tidur, love you"
"love to sayang... muah"
ia kembali menikmati suasana nyaman di ranjangnya
tak lama suara telfon kembali berbunyi
melihat yang menelfon ialah rima.. membuatnya hilang semangat..
"halo iya" jawab raden
"kamu baru pulang kemana aja?"
"main"
"main mulu, besok jadi gak keluar"
ia lupa jika minggu esok harinya ia janji menemani rima jalan..
"waduh gak jadi ya, aku anter ayah nih"
"iya gakpapa"
rima adalah wanita yang sempat dikejar kejar oleh raden namun rima tak menghiraukan, ia hanya menganggap raden teman, terbilang ttm..
esoknya dan hari hari berikutnya, rima merasa ada yang aneh dan berubah dari raden
"kamu kok aneh, berubah loh, kenapa?" tanya rima
"gak kok, aku masih yang dulu"
"kamu kenapa, aku ada salah dimata kamu?"
"enggak"
"eh rima, dia punya cewek cantik, lu sia siain dia yaudah deh dia dapet cewek lain" sambar teman raden
"iya den?" tanya rima
"kamu dengerin dia kok lucu, kamu tau dia gimana orangnya"
__ADS_1
"emmmm..."
saat bertemu dengan Dindri..
"sayang.. sumpah ya aku tuh gak pernah kepikiran apa apa kalo kamu mau jadi cewek aku" ucap raden
"hem, terus kenapa sayang"
"ya gakpapa, masih gak percaya aja"
"eh iya sayang, terus kapan mau nikah nih abang abang kamu?"
"tau mereka tuh, eh yang kemaren ketahuan yang sama bang dondi, kita jalan"
"oh ya"
"dia dikabari temen dia, liat aku sama cewek, untung bisa ngales"
"haha ngales apa sayang"
"ya ngales gak cuman berdua.."
"tapi kamu bilang pacaran"
"gak mungkin lah yang.."
"terus kakak mu yang cewek, kan katanya sering usil"
"dia mah, males aku ngomong tentangnya.."
"kenapa?"
"keinget sama dua abang aku aja"
saat keduanya sama sama memutuskan untuk membolos sekolah bersamaan, mereka menuju salah satu cafe
namun raden dikenali oleh hevi yang kebetulan ada didaerah sana
saat hevi sedang melamun, merasakan kehilangan orang sekitarnya satu persatu
ia melihat raden bersama cewek, karna cewek itu membelakanginya hevi pun tak mengenalinya
"raden" teriak hevi
raden tak mendengar, saat akan menghampiri raden, justru raden sudah tak ada
"wah, kemana dah, gara gara orang itu dah, kemana pula perginya raden" ucapnya pelan
raden yang bersama Dindri memang telah pergi
malamnya saat semua berkumpul dirumah, ivan, dondi, dan raden menonton televisi dan hevi menghampiri ketiganya, namun terlihat ivan dan dondi bubar
"dek, pacaran"
"enggak, kenapa sih kak"
"jangan pacaran dulu dek, belum lulus sekolahmu"
"kenapa sih kak"
"gak boleh lah sama ayah.."
"emmm.... atau kakak ini nanya mau ngancurin hubungan ku ya kalo sama pacarku mau cari gara gara sama ke pacar pacarnya kak ivan sama kak dondi"
"apa sih dek, gak gitu"
raden meninggalkan hevi tanpa mematikan tv nya
esoknya saat hevi benar benar curiga dengan siapa adiknya berpacaran..
ia menunggu disebuah warung dekat sekolahnya..
"cari apa neng?" tanya ibu warungnya
"em, es teh aja buk"
"iya"
"neng nunggu orang ya, liat kesekolah sebelah mulu, emang siapa sekolah neng?"
"adik buk, ibuk kenal gak sama raden?"
"raden, kenal lah neng, sering kok, kalo nongkrong disini pulang sekolah"
"emmm raden punya pacar?"
"pacar, ada sih, tapi emang karna bukan anak sekolah situ, tapi sama sama sekolah"
"siapa buk?"
"duh lupa namanya sih, tapi anaknya cantik neng, baik lagi, gak pelit gitu sama raden"
"emmm tapi pacaran apa cuman deket buk?"
"pacaran neng, orang pas habis pacaran itu raden nraktir temen temennya dia bilang udah jadian"
"pacaran ya buk"
"iya.. siapa lupa namanya, bentar lagi dateng sih biasanya"
melihat sekolahnya yang sudah bubar, hevi bersembunyi di dalam rumah pemilik warung
"buk, saya numpang ya, sembunyi dari raden"
"oh iya neng silahkan"
tak lama raden duduk disana, Dindri datang..
"itu kan mobilnya neli" ucap hevi pelan
"sayang..." teriak neli dari dalam mobil, dan raden mendekatinya
"buk, itu pacarnya raden"
"nah iya itu dia"
hevi tak ingin gegabah, ia tetap diam disana
setelah semua bubar, barulah ia mengikuti raden
sepulangnya raden dirumah
"raden" teriak hevi
"dari mana?"
"kamu pacaran?"
"enggak"
"warung deket sekolah kamu bilang kamu pacaran, sama Dindri"
"kok kakak tau?"
"Dindri itu siapa kamu tau?"
"dia cewek cantik dan kini jadi pacarku"
"kamu sama dia pacaran"
"iya emang, kita pacaran"
"dek dia itu mantan bang ivan sama bang dondi"
"masak"
__ADS_1
"coba tanya"