Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
FNK #4


__ADS_3

"Ya utama paling utama sholat, ngaji, sedekah, semua sih"


"Oh, kalo agama lain pengen masuk agama kamu itu harus apa dulu, atau gimana gitu"


"Ha? Ya tinggal belajar lah, sholat, ngaji, baca tulis Alquran dll, entar deh, kamu tanya gini gak lagi.."


"Ehh gini gini maksudnya ku, aku sebenernya mau masuk Islam"


"Masuk Islam?"


Jelas Chusnul kaget, selama belasan tahun ia bersama dengan Fasa, hanya tidak bertemu sehari,


esoknya ia mengatakan akan masuk islam


Bagaimana tidak kagetnya dia


"Kamu gak lagi bercanda kan fas" tanya chusnul


"Enggak lah"


"Terus si alvan?"


"Alvan juga mau ikut masuk Islam, karna memang kata alvan dia pengen aku sama dia dalam agama yang sama namun tidak saling meninggalkan agama lain, kalo masuk Islam kan artinya sama sama kita tinggalkan agama masing-masing, jadi adil kan"


"Oh jadi cuman karna pengen satu agama aja kalian pindah?"


"Enggak lah, ya itu juga sih cuman memang karna aku pengen masuk Islam, kayaknya tenang gitu liat kamu melakukan gerakan pakai jubah panjang itu loh"


"Itu nama nya mukenah, dan gerakan itu sholat" ucap Chusnul menjelaskan dengan tertawa


"Chusnul, jangan diketawain"


"Ah, iya iya maaf"


"Jadi gimana terus ini"


"Yaudah kamu belajar sholat dulu, gerakan nya, terus apalin bacaannya"


"Di apalin? Bukannya di baca aja ya, gak boleh ya"


Chusnul kembali tertawa, dengan memegangi perut nya mungkin terlalu lucu


"Chusnuuuuul" ucap Arinda


"Iya iya, Hem, okeh gini, nanti, ini jam sebelas, kita cari mushola atau masjid dekat sini ya"


"Mushola itu apa? Masjid kan yang tempat orang sholat, kalo mushola?"


"Mushola itu sama dengan masjid cuman aja lebih kecil"


"Oh gitu"


"Iya, nanti deh ya, tapi alvan gimana?"


"Alvan si mau nemui sepupunya yang islam juga"


"Oh gitu"


"Iya, nanti deh aku telfonin dia, sapa tau bisa datang kan"


"Nah, iya itu"


Siangnya, ketika Fasa dan Chusnul sampai di mushola


"Ini apa?" Tanya Fasa


"Ini mushola namanya"


"Mirip masjid ya"


"Iya, sama kok tempat ibadah, nanti dijalan kamu gak Nemu masjid, tapi tempat kayak gini jadinya bisa kamu pakai sholat"


"Oh, iya iya"


Fasa kembali menghubungi alvan


"Halo"


"Ya"


"Sampek mana kamu?"


"Ini bentar lagi kok, kan ditempat yang pas didepan pasar pernak-pernik kan"


"Iya disana"


"Iya ini mau sampek kok"


"Gimana?" Tanya chusnul

__ADS_1


"Ini, bentar lagi katanya"


"Oh, yaudah, aku tinggal dulu deh, sholat, kamu disini bentar kok ya"


"Oh iya iya, tapi aku boleh kan liat kamu"


"Boleh lah"


"Iya deh"


Ketika Chusnul sedang mengambil air wudhu.. tak lama alvan datang dengan Sofi


"Halo, aku didepan yang" ucap alvan


"Ya ya"


Fasa pun keluar.....


"Mana temanmu?"


"Masih sholat"


"Oh, kita tunggu dimana?"


"Ya disini aja, soalnya kan kita belajar" ucap Sofi


"Oh, yauda"


Tak lama mereka ngobrol, keluarlah Chusnul


"Arinda.. aku kira kemana" ucap Chusnul


"Iya"


"Hai van" sapa Chusnul pada alvan


"Hai"


"Eh iya.. ini kenalin nul, Sofi, sepupu aku" ucap alvan


"Hai, Chusnul" ucap Chusnul


"Em, iya Sofi.. saya Sofi"


"Waduh ada nih yang salting salting gimanaaaa gituuuu ya" ledek alvan


"Van" bisik sofi


Chusnul dan Sofi pun mulai memberikan pemahaman, mengajarkan gerakan sholat, bacaan bacaan nya, begitupun dengan lain yang bersangkutan


Beberapa hari berlalu, alvan dan Fasa sudah sah dinyatakan mualaf, pengikut Islam yang baru


"Gimana Van, udah lancar..?" Tanya Sofi


"Udah, Alhamdulillah, sholat jam 4 pagi itu kan memang cuman dua kali kan?"


"Iya dua kali"


"Iya iya, bener berarti"


Perlahan dan bertahap namun pasti, Fasa maupun alvan sudah mulai bisa melakukan segala aktivitas keagamaan


Selama itu juga sofi, yang mulai berani mendekati wanita pun berhasil mendekati Chusnul


Kedua nya tak jarang, bahkan sering kali bertemu hanya untuk saling bertukar cerita yang ternyata keduanya sempat berada di pertengahan hubungan alvan maupun Fasa


Chusnul yang sempat menyukai alvan akhirnya memilih Sofi yang lebih bisa mengerti perasaan nya begitupun Sofi, karna memang kedua nya memiliki kisah sama mungkin, membuat keduanya cocok dan nyaman sekaligus saling melengkapi


Ketika kabar itu mulai tersebar ke telinga keluarga alvan dan Fasa.. mereka pun di cerca banyak pertanyaan entah harus apa dan mana terlebih dulu mereka jawab


"Mama.. kok disini?" Tanya alvan ketika baru saja kelar meeting bersama karyawan-karyawan nya


"Mama dengar mau masuk Islam? Kok bisa? Kenapa? Mama liat kamu nikahi wanita berbeda keyakinan aja udah gak suka kenapa harus kamu yang pindah keyakinan, islam pula, apa yang bisa kamu dapat?" Ucap Mama alvan


"Ma.. ini udah keputusan alvan. Tanpa paksaan apapun dan dari siapapun?"


"Istrimu?"


"Fasa juga masuk islam"


"Apa? Kalian aneh ya, kenapa gak ngalah aja salah satu gitu loh"


"Justru karna kita mengalah, kita memilih agama Islam ma, lagian banyak kok yang membuat aku tenang dengan sholat"


"Terserah lah.. Mama gak tau lagi ya mau ngomong apa dan gimana, intinya Mama gak suka, kamu bukan lagi masuk dalam keluarga kami, kamu Mama nyatakan keluar dari keluarga"


"Ya ma, terima kasih selama ini Mama sudah besarin alvan, juga melahirkan alvan, alvan sukses juga ikut andil Mama. Dan sekarang alvan bisa dapatkan jati diri alvan, jika itu keputusan mama, alvan terima, sekali lagi maaf ma"


Alvan keluar dari ruangan kerjanya menuju pulang, ia menitip pesan kepada sekertaris kantornya jika ia izin pulang lebih cepat

__ADS_1


Sesampainya dirumah, terlihat rumah sepi


Alvan mencoba menghubungi Fasa namun nomor diluar jangkauan


Alvan pun mencari camilan dan menyalakan televisi, sembari menunggu Fasa, karna ia tak tau harus cari kemana


Tak lama iapun datang..


Dengan santainya Fasa duduk di sofa ruang tamu, tanpa menyadari jika alvan sudah pulang terlebih dulu dibandingkan dirinya


"Sayang" sapa alvan mendekati Fasa


"Loh, kamu udah pulang?" Tanya Fasa


"Udah.. lumayan, 10 menitan"


"Oh, aku belum masak, belum beberes, belum apa-apa"


"Nah itu, emang dari mana kamu, sampek gak sempet gitu"


"Gini yang, tadi itu aku mau cari makan, males aja mau masak jadi aku beliin kamu aja ke resto langganan, aku Jalan kaki aja kebetulan Deket ini, nunggu pesanan di bikin, aku ketemu Mama"


"Mama.."


"Iya, Mama sama papa, papa di mobil, pas aku ketemu Mama, Mama bilang ada yang mau dibicarakan tapi harus Panggil papa dulu, udah panggil papa.. ya Mama tanya soal aku pindah agama?"


Fasa menceritakan jika Mama nya tak pernah habis pikir, bisa terlalu jauh untuk ambil langkah terbesar..


"Yaaa Mama ingetin aku juga sih, kalo apa yang aku ambil gak boleh aku lepasin, aku paham maksudnya"


Awalnya santai dengan tatapan biasa, alvan merubah tatapan itu menjadi tegang


"Oh ya?"


"Iya, ya aku bilang aja kalo aku tanpa paksaan"


"Tau kalo aku juga"


"Tau, baru tau sih, tadinya kan dikira aku yang aneh-aneh sendiri, pas tau kamu juga ikut masuk lama kelamaan Mama sama papa juga mulai bisa menerima kok"


"Oh ya? Jadi Mama kamu Nerima?"


"Iya, gitu deh, walaupun aku tau kalo Mama sebenernya masih belum ini, apa ya... Belum lega lepasin aku, yaa berkat papa juga sih, yakinin Mama"


"Papa? Papa bisa akhirnya setuju itu gimana?"


"Ya menurut papa karna aku gak sendirian mungkin, karna kamu juga ikut, jadi mungkin maksud papa biarin aja soalnya kan kamu aja ikut, jadi dia gak kepikiran"


"jadi maksud nya dari keluarga kamu udah setuju kan" tanya alvan


"Hem iya"


Alvan menyenderkan tubuhkan lemah


"Gimana sama Mama ku, sama papa, Oma, opa, tante-tante ku, semua nya" ucap alvan


Fasa mengarahkan kepala alvan ke dada nya dan memeluknya


"Kan ada aku yang masih akan terus bantu kamu, aku gak berhenti gitu aja kok, enggak, aku disini, kamu percaya kan aku akan bisa bantu kamu" ucap Fasa menenangkan


"Makasih sayang.."


"Iya" ucap Fasa memeluk alvan


Esoknya, saat Fasa dan alvan mulai dengan seribu cara apapun itu untuk keluarga alvan merestui mereka dan bahkan menerima keputusan soal pindah keyakinan


Saat alvan meminta bertemu Mama nya yang awalnya ditolak mati-matian namun akhirnya dipenuhi, terkumpullah keluarga alvan lengkap begitupun keluarga Fasa lengkap, pertemuan dua keluarga besar memang bukan hal yang gampang, butuh waktu 2bulan untuk menentukan hari yang pas sekiranya semua keluarga berkumpul


"Ma.. mungkin alvan salah, mungkin alvan memang bodoh, biarkan ma, biarkan alvan berkutat sama kesalahan dan kebodohan yang alvan ambil, ma... Makasih Mama udah besarin alvan hingga sekarang, maaf kalo alvan masih belum bisa membalas semuanya, alvan minta untuk yang terakhir kali, dalam hidup alvan, restui pilihan alvan entah itu istri maupun agama" ucap alvan


Alvan menggenggam tangan Mama nya, terlihat memang Mama nya menetes kan air mata pelan, namun ia terlihat menutupi


"Ma.. alvan mohon, terima keputusan alvan, berapa tahun alvan membangun rumah tangga, semua akan percuma pa kalo Mama sama papa tak ada Restu"


Fasa pun turun dan duduk dihadapan omah alvan, karna memang Fasa tau, omah alvan lah yang memegang kendali terbesar di sana


"Omah... Opah.. Mama juga papa, Fasa minta maaf, mungkin kedatangan Fasa dikehidupan alvan memang membuat segalanya rusak dan hancur, maaf ma, pa, kalo memang hubungan kami adalah sebuah masalah, kami siap menghentikannya" ucap Fasa


Mendengar ucapan Fasa yang membuat alvan benar tak habis pikir


"Maksud nya" bisik Fasa


Fasa hanya memberikan isyarat kedipan mata pelan


Sementara Mama alvan masih berkutat dengan ketidaksukaan nya kepada Fasa


Akhirnya Fasa mengambil keputusan, ia melepaskan cincin pernikahan nya dan ia kembali kan kepada alvan


"Makasih atas cintamu" ucap Fasa

__ADS_1


"Maksudnya apa?"


__ADS_2