Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
AK #1


__ADS_3

"em gini, gimana sebagai tanda maaf, aku ajak kamu makan siang" ucapnya


kan, belum-belum sudah ajak makan siang aja, hem pasti nih, modus ampuh


"malah bengong, ayo" ucapnya lagi


karna saja sedang lapar, jika tidak aku tidak akan mau


sesampainya di rumah makan, dengan nama menu cukup unik seperti


nasi goreng santri


sambal pedas soleha


usus krispi murah rezeki


mie hidayah


dan masih banyak lainnya membuatnya teringat jika ia akan membuka usaha baru melalui menjual apa yang ia suka


masakan berbahan dasar sosis, tapi ia membuka itu dari nol, tanpa sepengetahuan siapapun


"malah bengong, masuk yuk" ajak Deni


"em iya, iya"


setelah masuk dan memilih meja lalu memesan makan


"kamu mau pesan apa?" tanya Deni


"em, apa aja deh"


"yaudah terserah aku ya"


"hem"


tak lama pesanan datang..


saat aku sibuk dengan makannya, sementara Deni sibuk dengan menatap wajah cantik didepan nya ini... Hehe


"Deni? itu kenapa cuman diaduk aduk?" tanya ku


"ha? aah maaf, astaga, heeh"


"kamu liatin apa?"


"enggak"


"yaudah makan"


"kamu cantik" ucap nya pelan


"kenapa?" tanya ku lagi


"em, ehem.. hem.. enggak"


setelah sampai dirumah, aku yang diantar oleh Deni pun turun dari mobil Deni


"hem, kenapa?" tanyaku


"enggak, rumah kamu besar ya"


"hem, peninggalan kedua orang tua ku"


"oh, em sori"


"gak papa, btw makasih loh"


"iya sama sama"


setelah aku masuk dalam kamar dan merebahkan tubuhku, melihat langit-langit rumah, aku sempat berpikir, bagaimana jika aku jual saja rumah, untuk ku mulai bisnis baru, kuliner sosis


jadi aku bisa sekalian tinggal disana, tapi aku tanya sama siapa? aku sama sekali belum tau soal beli membeli tempat untuk dijadikan restoran


esok nya, aku berangkat kuliah


Steffi menyambut ku


"Kamiiiiil"


"Steffi?"


"bareng..."


"em Nugro kemana?"


"Nugro tauk, kebiasaan, telat kali"


"hem"


aku dan Steffi pun menuju ruang kelas prodi


"Kamil, dari tadi ku lihat kamu murung?"


"emmmm"


"udah mil, kan udah aku bilang, harta akan bisa dicari"


"hem iya"


"sabar ya"


"iya, makasih ya"


"iya"


hari-hari pun kembali semula, tapi tidak dengan kondisi keuangan ku


"kamu masih aja royal ya udah tau sedang krisis" ucap Nugro


"bukan royal, tapi kewajiban, sedekah itu penting"


"ya iya iya deh"


"hm" ucap Steffi menyenggol lengan Nugro


setelah pulang kuliah, badan ku entah seperti ada yang eror, sakit pun tak terelokan


esok paginya, saat sedang malas untuk bangun dari ranjang, telfonku berbunyi


"halo" ucapku


"Kamil, kamu kemana? aku dari tadi sama Nugra, lima menit lagi dosen masuk loh"


"em, aku gaenak badan, aku libur dulu"

__ADS_1


"loh, kamu sakit? oh yaudah, yaudah deh, sana istirahat"


"iya"


aku pun lanjutkan tidur, karna waktu masih menunjukkan 7 pagi, masih terlalu pagi, dan saat aku terbangun melihat ke arah jam masih menunjukkan waktu 9.30 aku diam di atas ranjang dengan memainkan ponsel


tiba-tiba panggilan masuk dengan nomor yang tidak ku kenal, sekali menelfon, aku tak angkat, aku takut orang jail, kedua aku masih tak angkat, ketiga karna sangat mengganggu akupun angkat


"halo"


"hai, kamu kuliah?"


"em, ini siapa?" tanyaku


"oh iya, aku Deni"


betapa kagetnya aku, yang tadinya mata setengah melek, mendengar dia siapa, menjadi sangat lebar, malah yang ada aku tersedak dan batuk


"kamu batuk? kesedak ya?"


"eh enggak, enggak, kamu kok...."


"tau lah, aku tau apapun yang aku ingin tau"


"jelas lah mudah, kau saja seorang playboy, untuk mendapatkan sekedar nomor pun bukan hal yang sulit kau dapatkan" ucapku dalam hati


"halo, kasih disitu nggak?"


"em masih masih"


"kamu belum jawab lo"


"jawab?"


"kamu sedang kuliah?"


"em aku"


"kamu? kenapa?"


"enggak kuliah, lagi gak enak badan"


"oh, yaudah, aku boleh mampir rumah kamu?"


"ehm mampir"


"aku baru aja sampai, nih didepan gerbang"


"ha?"


aku melihat dari jendela kamar ku, benar, ada mobil yang terparkir tepat didepan gerbang rumahku


"em.. iya aku turun" ucapku


"yaudah sana, aku matiin telfonnya ya"


"iyaaa iya"


karna tak mau terlihat sangat kusam karna belum mandi, aku pun hanya mencuci muka dan mengganti baju


lalu aku membuka pintu depan menuju gerbang dan mobil Deni pun masuk


setelah turun dari mobilnya, ia melihatku sedikit aneh, aduh apa ya yang salah


"okeh"


setelah didalam rumah, aku meninggal kan Deni untuk membuatkan minum


"ini" aku menyodorkan kopi susu


"makasih"


"kamu gak ada jam ya?" tanyaku


"enggak, kosong"


"oh, rencana mau kemana kok keluar?"


"kerumah yang lain, jefri kek, apa kek"


"em"


"kamu sakit?" tanya nya


"em? cuman gak enak badan doang"


"hem, itu pucet loh"


"em, gakpapa tapi"


harus kah malu? memang aku akui, Deni playboy terhandal membuat hati wanita luluh


"gakpapa kok" jawabku


"bener? yakin nih"


"iya"


"em kemaren aku ngobrol sama Yopi"


"Yopi?"


"dia bilang udah tidak lagi ada urusan sama kamu"


"oh"


"kamu bisa kan lupain Yopi?"


"kok tanya nya gitu?"


"em ya enggak, cuman tanya doang"


"oh"


"bentar deh, kamu sakit ini bukan karna banyak mikirin Yopi?"


"ya mungkin, karna kecerobohan ku memang terlalu menyukai Yopi sampai sampai jalan yang kuambil itu salah aku tidak tau"


"hem"


sejenak saling diam, Deni membuka lagi pembicaraan


"em, yang kemaren gimana restoran nya, enak gak makanan nya?" tanya Deni


"em? Enak, ya serba pedas ya, aku suka"

__ADS_1


"em"


aku terdiam lagi,


"hei, bengong lagi, kamu mikirin apa sih?"


apa aku cerita saja rencana ku pada Deni?


tapi apa dia bisa ku percaya?


"masih bengong" ucapnya


"em sori ya"


"kamu kenapa?"


"aku.... gini, aku kan tinggal punya rumah ini, aku mau jual, untuk aku buka bisnis baru tapi aku gak tau bagaimana cara jual, dan bagaimana cara memilih tempat untuk ku buka bisnis kuliner nantik"


"em jadi itu permasalahan nya? aku ada nih orang cari rumah, besok deh aku bawa dia, nantik kamu pasang harga berapa? kan bisa aku bilang dulu"


"berapa ya? aku gak tau"


"1 miliyar?"


"ha? 1m? gak mahal?"


"nah justru itu, itu murah untuk rumah semegah ini, bagaimana"


"terserah kamu deh, aku percaya aja, nantik kamu juga cariin buat tempat bisnis ku"


"siap buk boss"


hanya perlu waktu cukup seminggu, aku sudah bisa memulai bisnis baru kuliner dan memulai untuk merintis usaha lagi dari nol, tak lepas bantuan Deni


karna seringnya bersama hingga ke kampus pun, membuat Nugro dan Steffi bertanya akan kedekatan ku dengan Deni


"kamu ngapain deket sama Yopi sekarang sama Deni, mereka tuh sama" ucap Nugro


"Deni beda"


"nah kan, ini nih yang membuat kamu terlihat lemah akhirnya dimanfaatkan" ucap Steffi


"enggak, beneran, nanti ya aku kenalin"


akupun mengenalkan Deni kepada mereka dan kami sering bersama


Yopi melihat kedekatan ku dengan sahabatnya terlihat cuek, biasa saja, mungkin memang dia tak lagi sudah menganggap ku ada


"Kamil, satu lagi, kamu jual rumah mu? terus kamu tinggal dimana" tanya Steffi


harus bicara apa aku pada Steffi


"em, Kamil tinggal di kontrakan dekat rumahku, makanya aku akhir-akhir ini dekat sama Kamil" ucap Deni


dan ucapan nya sangat membantu ku, karna Steffi tak sama sekali curiga


saat bisnis yang dibangun olehku lumayan dikenal masyarakat dengan kuliner berbahan dasar sosis, masakan kesukaanku waktu ibuku sering memasakkan ku selalu berbahan dasar sosis padahal ibu tidak suka makanan itu tapi ia memaksakan memakannya demi aku, itu mengapa aku sangat menyukai sosis


hari demi hari pendapatan bertambah, seiring berjalannya waktu, aku memperkerjakan orang sebagai waiter, chef, gudang, pembukuan masih banyak lainnya, belum lagi aku membangun sedemikian rupa agar lebih banyak peminat


saat sedang mengerjakan tugas yang menumpuk, aku meminta pada pengawas restoran ku untuk menyiapkan meja khusus


"halo, pak Widi, pak tolong ya saya ingin pesan satu meja yang dekat dengan air terjun mini, itu untuk tiga orang sore ini bisa ya" ucapku


"bisa buk"


"Eh pak, tapi tolong nanti beri tau yang lain untuk tutup mulut jika nanti saya datang dengan teman saya, jangan bilang kalo saya pemilik tempat itu, bilang saja pemiliknya bapak"


"baik buk kamil"


"okeh makasih pak Widi"


"iya sama sama"


saat setelah kuliah kelar, dan keluar ruang, Deni menyapaku


"Deni" ucapku


"ehm Kamil, aku gak bisa nih nemenin, besok dah, aku ada urusan kerumah Jefri gak papa kan?"


"oh iya deh"


setelah Deni berlalu, aku mengajak kedua sahabatku ke restoran ku


"em kita banyak nih, tugas numpuk kan, gimana kalo aku ajak kalian ke suatu tempat" ucapku


"kemana?" tanya Steffi


"udah ayok, aku udah pesan meja, ayok, dijamin kalian suka"


"restoran kan mil" tanya Nugro


"iya, lihat nanti deh"


setelah sampai


"ini kan tempat yang lagi viral" ucap Nugro


"iya viral ini tempat, pasti mahal" ucap Steffi


"emang viral ya? kok aku gak pernah tau"


"ah lu, makan buku mulu" ledek Nugro


"Nugro" ucap Steffi kesal


setelah masuk, mereka sangat bahagia ku bawa ketempat ini, aku saja tidak tau tempat ini viral, aku tau cuman masyarakat tau jika itu tempat makan khusus bahan dasar sosis


"selamat datang ada yang mau dipesan?"


"em ini, saya pesan sosis bakar keju parut, sosis gulung mie, sosis sambal balado, sama sosis bumbu lada hitam, nasi goreng sosis baso tiga, minumnya jus kiwi semua"


"baik silahkan ditunggu"


"Kamil, lu yakin pesen segitu" ucap Nugro


"why not"


"banyak amat sih mil" tanya Steffi


"aku ada rejeki, jadi aku pengen nraktir kalian makan, kan udah lama aku gak bayarin kalian"


"ah mil, jangan, patungan aja ya, biar sama sama kita gitu"


"enggak ah, apa sih, udah"

__ADS_1


__ADS_2