
alvan pun mengajak Fasa masuk
"Eh sayang, masuk yuk ada yang aku bilangin sini"
Setelah masuk, alvan menjelaskan jika dirinya mendapatkan job baru dengan klien dari Belanda, jadi alvan mengajak istrinya terbang ke Belanda
"Kamu kan soal kerjaan, masak ngajak aku? memang gakpapa?"
"Gakpapa plis ya, habis ke belanda kita langsung ke Jepang, ke keluarga besar ku"
"Kamu serius? Pekerjaan kamu?"
"Sudah aku berikan cuti untuk dua hari dan dihari ketiga dihandle sama sekertaris ku yang"
"Tapi kan...."
"Udah jangan nolak, aku udah pesen beberapa tiket masak iya batal, hangus dong"
"Hem yaudah"
"Nanti malem kita mulai beberes"
"Iya"
Empat hari kemudian, mereka terbang menuju Belanda, karna tak ingin membiarkan Fasa sendiri didalam apartemen, alvan membawanya ke tempat pertemuan dengan klien
"Kamu yakin ajak aku masuk, gak ganggu kah?" Tanya Fasa
"Justru kamu ganggu aku kalo diluar, masih kepikiran kamu disini, kan jadi repot nanti kalo misal jelasin gak konsen takut gak masuk ke klien"
"Oh yaudah"
Setelah memasuki ruangan...
"Selamat siang" ucap alvan menyapa
"Siang" jawab semua orang disana
Alvan menyuruh Fasa duduk tepat disamping kanannya
"Terimakasih untuk beberapa klien lain maaf saya tidak sebut persatunya, seperti yang diminta oleh klien saya untuk memenuhi undangan, saya akan menjelaskan beberapa cara kerja diperusahaan saya, sebelum nya saya minta maaf terlebih dulu, karna saya harus mengajak istri saya dalam meeting ini" jelas alvan
"Maaf pak, tapi untuk klien yang tidak berkepentingan untuk tidak ikut masuk karna ini private pak" ucap salah satu klien yang datang dari Indonesia juga
"Iya pak, sebelum pak hendli henburck datang pasti tidak akan diberikan izin"
"Udah gakpapa aku diluar aja, aku cari makan aja deh sambil nungguin kamu" bisik Fasa
Alvan membereskan beberapa barangnya yang tadi ia persiapkan untuk presentasi
"Saya akan temui pak hendli henburck untuk pengunduran diri saya bekerja sama dengan nya termasuk kalian, selamat siang" ucap alvan menarik tangan istrinya keluar
"Yang, kok batal, aku gakpapa loh diluar" jelas Fasa
"Mana bisa kamu diluar saya didalam, tidak bisa"
"Tapi ini kan proyek besar mu"
"Masih ada proyek besar lain yang lebih bisa menerima keputusan ku seperti tadi"
Mereka pun menuju apartemen dan langsung terbang ke Jepang, menuju rumah keluarga besar alvan yang berdomisili di Hokkaido
Sesampainya di Hokkaido Jepang..
Dan mereka tiba lah dirumah besar nan luas yang rumah itu adalah rumah utama seluruh anggota alvan jika berkumpul
"Omaaaa" ucap alvan
Alvan memeluk neneknya dengan rindu
"Alvan, kamu kesini, sama siapa ini"
"Ini istri alvan omah"
"Istrimu? Kenapa tidak menikah dirumah ini, bukannya sudah sepakat acara keluarga semua disini?"
Alvan terdiam karna tak mungkin menceritakan jika hubungan nya tak mendapatkan restu dari Mama nya
"Mama kamu masih dijalan bentar lagi sampek" ucap omah
"Ya omah"
Alvan mengajak Fasa beristirahat didalam kamar yang pernah ia huni
"Dua jam lagi aja kita ikut gabung, kamu istirahat biar gak capek" ucap alvan
"Yang"
"Iya"
__ADS_1
"Kamu sama keluargamu pakai bahasa Indonesia sehari-hari?"
"Semuanya, pakai Indonesia"
"Kenapa gitu?"
"Ya emang gitu dari dulu, memang penggunaan bahasa Indonesia lebih lugas mungkin ya"
"Seluruhnya?"
"Iya semua anggota keluarga ku"
"Ada gak yang masih harus belajar"
"Ya belajar dari kebiasaan sehari-hari aja sih, lama lama juga bisa, walaupun kadang ada yang ngaco"
"Kamu kenapa lancar?"
"Justru aku orang Jepang yang tak bisa bahasa Jepang karna dari awal belajar bicara pun pakai Indonesia"
"Oh, lucu ya"
"Ya dong"
"Bukan kamu, keluarga kamu maksudnya"
"Masak bukan aku? Malu ya ngakuin" ledek alvan
Fasa pun tertidur...
Terdengar suara ketukan pintu kamar alvan, alvan pun membukakan
"Ma.."
"Turun kamu, Mama mau bicara"
Melirik kearah Fasa yang masih tertidur kelelahan, ia pun menuju lantai utama di rumah itu
"Mama bilang berapa kali, bisa ya kamu ajak dia masuk kedalam rumah ini, dia disini orang asing"
"Tapi dia istri alvan ma"
"Istri kamu tapi orang asing"
"Lalu apa bedanya sama Om Gunawan. Sama papa, sama suami Tante nila? Orang kan?"
"Kalian ini kenapa sih" tanya omah
"Coba liat kan omah, gimana coba, wanita asing dia bela didepan wanita yang sudah melahirkan dirinya"
sekitar satu jam, ketika terbangun, ia tak mendapati suaminya didalam ruang kamar
Membuatnya turun dan keluar dari kamar
Terlihat bahkan terdengar percekcokan antara alvan dan Mama nya termasuk dengan omah dan keluarga lainnya, meskipun tak mendengar mulai awal, namun Fasa melihat jika terjadi suatu yang dipermasalahkan
Melihat alvan mulai berjalan kearah nya, Fasa dengan cepat menuju kamarnya dan berpura-pura baru bangun
"Sayang.." sapa Fasa
"Udah bangun?"
"Udah, baru aja, kamu dari mana? Udah kumpul ya, aku ketiduran kok gak dibangunin?"
"Gak papa, kita beresin aja lagi kita cari apartemen aja"
"Loh kok gitu, kenapa?"
"Enggak kok, aku mau cari tempat yang dekat aja sama jajanan Jepang atau mall, disini jauh"
"Oh, tapi udah bilang sama keluarga kamu?"
"Udah kok, udah, ayok"
Mereka pun turun dari lantai dua, Mama dan semua keluarga disana hanya memandang sinis kearah Fasa kecuali omah dan opah
"Oh iya omah, opah, satu hal lagi, tadi Mama bilang apa? Lebih pilih wanita asing daripada wanita yang melahirkan saya? Mungkin omah belum tau jika Fasa ini adalah orang yang berpengaruh besar dalam hembusan nafas alvan disini, dia berpengaruh besar akan nyawa alvan di hari ini, jadi wajar alvan membela nya"
Alvan menceritakan semua yang pernah dilakukan Fasa untuk membantu kehidupan bahkan nyawa alvan
"Saya kecelakaan, tak ada seorang pun yang berani membantu tapi dia, membantu saya sendirian, lalu dia yang menanggung resiko untuk dokter mengoperasi kaki alvan, sampai alvan berdiri disini, alvan coba flashback.. tak ada Fasa.. apa masih alvan disini, berdiri ditengah kalian? Mungkin sudah tertimbun gundukan tanah" jelas alvan
Alvan pun berlalu bersama istrinya, Mencari tempat yang bisa menenangkan hati maupun pikirannya
Disebuah hutan, tanpa adanya signal untuk ponsel, tanpa ada penjual beberapa makanan, dengan suasana tenang
Ia memesan dengan harga cukup mahal, namun sebanding dengan harga mahalnya, pemandangan langit malam memanjakan dua pasang mata itu
Ketika keduanya duduk santai di balkon atas sembari tiduran menatap arah langit, Fasa bertanya mengapa alvan harus melakukan semua itu
__ADS_1
"Yang" panggil Fasa
"Iya"
"Kamu ngapain?"
"Ini baru bikin susu hanget. Kan lumayan"
"Sini deh, aku pengen tanya kenapa sih kamu harus melakukan semuanya. Bukannya aku baru mengenalmu dari pada keluargamu yang sudah mengenalmu jauh sebelum aku bahkan mengenalmu dari kecil"
Alvan menatap tajam arah Fasa
"Sayang.. asal kamu tau, aku gak pernah seserius ini sama wanita, sebesar cintaku padamu sebelumnya aku gak pernah, tau karna apa? Karna kamu seorang Dewi Fortuna untuk setiap hembusan nafas ku dihari hari ini hingga hari kedepan, kamu tau kan aku berubah menjadi lebih baik dari kamu, aku belajar menghargai wanita dari kamu, dan sekarang aku menebus semua dosa ku dimasa lalu, aku memilihmu untuk menebusnya, aku sayang sama kamu bahkan melebihi apapun"
"Ya tapi kan gak harus melakukan hal tadi?"
"Hal tadi?"
"Iya, aku tadi gak sengaja denger kok pembicaraan mu, waktu itu aku tulus bahkan membantumu"
"Aku lebih tulus sayang sama kamu, aku berhenti nakal dapetin kamu, aku berhenti bermain mendapatkan kamu, atau bahkan aku juga berhenti hidup kalo sampek kamu gak ada dihidupku"
Fasa memeluk mesra alvan dan sangat berterima kasih mendapatkan lelaki sepertinya
Selama dua Minggu mereka honeymoon mereka pun kembali ke Indonesia dan melakukan aktifitas seperti sebelumnya
Saat seminggu sepulang mereka dari Jepang, Fasa menyatakan pada alvan jika ia ingin masuk islam menjadi mualaf sama dengan sahabatnya, Chusnul
"Yang" ucap Fasa ketika sedang santai sebelum tidur malam hari
"Ya, kenapa?" Ucap alvan duduk disamping Fasa
"Aku pengen masuk Islam deh"
Alvan yang sedang membaca berita di situs online langsung menutup ponselnya, dan terdiam..
"Aku lihat Chusnul sering sholat, rajin, pinter baca kitab, tenang gitu liatnya" ucap Fasa
"Kamu sejak kapan pengen masuk Islam?"
"Sejak... Kapan ya... Sejak malam terakhir kita di villa itu, kenapa? Kamu gak setuju ya.." tanya Fasa
"Enggak kok, cuman sebenernya... emmm sebenernya aku juga pengen sih masuk Islam, liat Sofi itu juga tenang, dia bilang kita belajar sabar dalam melakukan apapun disetiap masalah kita"
Mendengar penjelasan yang membuatnya tak percaya, arinda pun mulai menunjukkan wajah leganya
"Jadi kamu juga mau mau Islam?"
"Iya, karna dari aku kecil memang aku gak mau masuk agama lain demi orang lain itu alasan kenapa aku gak mau pindah ke agama kamu, juga aku gak mau kamu pindah karna aku"
"Terus awal yang harus kita lakukan hari ini?"
"Entahlah"
"Oh iya aku ada janjian sama Chusnul, aku sekalian pamit deh ya"
"Oh yaudah"
"Kita sepakat masuk Islam kan ya" tanya Fasa
"Iya sayang, ni aku udah mau janjian juga sama si Sofi"
"Yaudah"
Tak lama Chusnul datang..
"Hai" sapa Fasa
"Udah?" Tanya chusnul
"Yuk"
Setelah mereka membeli buku di toko buku
"Em, nul, Islam itu gimana sih?"
"Islam? Em.. gimana apanya"
"Ya maksudnya orang Islam itu apa kegiatannya?"
"Oh, ya sholat, ngaji, sedekah, berbagi, menghargai, juga kalo yang berkecukupan dalam materi kalo bisa ya naik haji"
"Naik haji? Gimana itu"
"Ya ada deh, kamu kenapa tanya begitu?"
"pengen tau aja"
"Baru ini aku liat kamu tanya yang intim begini"
__ADS_1
"Kalo utama yang harus kita lakukan itu apa dalam agama kamu"