Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
WPD #5


__ADS_3

"hati bisa berpaling na, soal pelarian, kakakmu tidak kujadikan pelarianku, capek lari ternyata hanya untuk singgah"


"wangi.. aku tuh gak mau persahabatan kita akan hancur ketika kakakku menyakiti kamu, plis aku mohon ya, jangan sama kakakku"


enggar pun berteriak


"ayna" teriak enggar


"kak.." jawab ayna


"maksud kamu apa? bukannya kamu yang membuat aku sama wangi saling kenal, maksudnya baru ini kamu bilang suruh wangi pergi dari aku itu apa?" tanya enggar


"kak makanya dengerin penjelasan aku, aku minta kakak buat temenin wangi untuk menghibur untuk membuat dia lupa sama restu, aku gak terima wangi sahabat aku disakiti sama restu, bukan buat kakak macarin dia kak"


"loh salah ya kakak pacaran sama wangi? apa kurangnya kakak? kamu tau kakak orang yang setia kan? mantan juga gak banyak tanda kakak gakpernah mainin cewek"


"iya aku tau kakak itu baik... setia, kak dengerin aku, aku bukan minta kakak macari dia... tapi jadi sahabat dia, sama seperti aku"


"terus kamu gak suka sama hubungan aku dengan kak enggar na?  kenapa kamu pertemukan kami kalo kamu pisahkan kami na? yaudah aku ngalah, aku hanya orang asing ditengah kalian, terima kasih na sudah kenalkan sosok enggar padaku" jelas wangi


wangipun beranjak dan menarik tasnya yang ada di pundak enggar


ia pun berlalu...


"wangi.. bukan gitu..." teriak ayna


wangi tak menggubrisnya sementara enggar melirik ayna dengan kecewa kemudian juga pergi


"satuhal, kakak punya pilihan, kakak tau resiko atau keuntungan, jadi jangan samakan dengan pemikiran anak kecil yang labil seperti pikiranmu" ucap enggar ia pun berlalu


dan ketika wangi sedang gabut dikantornya, ia menuju ke usaha nya bersama irza dan restu


disana terlihat sibuk dengan pekrrjaan masing masing antara irza dan restu..


"hai" sapa wangi pada irza


"wangi?"


"sibuk amat"


"hehe enggak kok"


"lagi rame ya? alhamdulillah semakin hari semakin rame"


"iya..."


restu turut menyapa wangi


"hai wangi. lama?"


"baru res, eh kalian keliatan diem diem, kalian ada masalah?"


"emmm eenggak kok"


"ha.. enggak kok"


"oh karna ada aku?"


"ha? ya enggak lah"


"yaelah, masak sama aku kalian begitu, ah kita bersahabat berapa lama?"


"bagaimana dengan pacar kamu?" tanya restu


"oh dia sibuk aja sih"


"emm..."


beberapa hari kemudian, wangi tidak merespon apapun entah chat telfon atau lainnya dari enggar.. bahkan wangi membisukan supaya tak ada pemberitahuan jika ada pesan atau telfon masuk..


sementara ayna juga tak ia hiraukan, ia menyibukkan diri kembali fokus dengan pekerjaan dan usaha nya itu


selang beberapa hari.. ayna memaksa kakaknya untuk bertemu dengan wangi dan menjelaskan maksud nya apa..


"ayo kak, ikut" ajak ayna


"males ih, kemana sih?"


"ikut aja kak"

__ADS_1


setelah sampai, enggar melepas tangannya yang dipegang ayna..


"ih kesini lagi, mau apa lagi ha?" tanya enggar


"kakk... ayo deh"


"gak, malu"


"atasi malu bisa balik deket sama wangi apa enggak?"


"mo ngapain kamu?"


"udah masuk"


"gak, aku terlanjur malu" bentak enggar


"kak, aku bakalan jelasin sama wangi kak"


"jelasin apa? ha?"


"yaudah sih makanya masuk"


"percuma.. didalam ada restu"


"ya kenapa?"


"ya percuma udah"


"masuk gak?"


ketika mereka masuk..


terlihat wangi yang sedang mengobrol dengan restu disana berdua, kebetulan irza sedang didapur melihat ovenan kue buatannya


"wangi" sapa ayna


"ayna... enggar?"


"sudah kubilang apa tadi" jawab enggar


"udah diem aja, jangan kek anak kecil"


dan ayna pun menjelaskan maksud dan tujuannya bicara seperti itu jika ayna tidak mau jika persahabatannya nanti dengan wangi juga ikut dampak jika wangi ada masalah dengan enggar, disisi lain ayna juga merasa enggar jadi pelarian antara wangi jika bermasalah dengan restu..


bahkan ayna menjelaskan didepan restu juga irza..


"maafin aku wangi... bukannya aku mau merusak kalian, tapi aku hanya takut itu terjadi" jawab ayna


"gakpapa na.. aku ngerti kok, udah udah"


"kamu ngerti ngerti terus sama perasaan orang, kadang orang lain yang gak ngerti lagi sama kamu" ucap irza


"iya,  kamu bilang ngerti samaa posisi kak restu juga kak irza waktu itu, sekarang ngerti tentang aku dan enggar.." jawab ayna


"lah yaaa karna aku ngerti.." jawab wangi


"enggak enggak, sekarang gini aja, perasaan kamu gimana sekarang, mumpung ada dua orang bersangkutan ini" jawab irza


"iya wangi, jujur kakak aku butuh kepastian juga jelas sama halnya dengan kak restu" jawab ayna


"okeh okeh, gini ya... aku perjelas... restu.. seperti yang kalian tau, pacar pertama.. dia memang ada untukku.. selalu ada... tapi sekarang berbeda.. berbeda suasana juga posisi kita, dan enggar.. jujur aja.. enggar orang pertama mengenalkan aku jika hidup lebih berwarna ketika bersama teman.. karna sejak dulu hidupku menetap membuatku susah berteman, tapi untuk saat ini aku pilih... enggar" jelas wangi


dan ucapan itulah membuat enggar mengangkat kepala nya dan berani menatap wangi...


irza tidak terima dengan keputusan yang jelas memberatkan restu karna dirinya


"wangi, jangan hukum restu dengan keputusan itu" ucap irza


"hukum? maksudnya gimana nih, aku gak bermaksud apa apa kok, aku ada alasan dengan pilihan itu, karna kamu sama restu sahabat aku, pastilah kalian akan jadi yang tersayang dari seorang enggar.. tapi aku pilih enggar karna aku sudah cocok sama dia, kami banyak kesamaan membuat aku mungkin untuk saat ini cocok" jelas wangi


enggar dan ayna saling bertatapan..


"kalau kedatangan kami disini membuat rusak persahabatan kalian, kami rela mundur" ucap ayna


"ha.. enggak kok na"


irza pun menarik tangan restu dan keluar dari toko itu..


"kejar aja wangi, kalau kamu harus pilih dia, aku ngalah, jadi sahabat kamu aja udah cukup" jelas enggar

__ADS_1


"udahlah, biarin, kalo mereka sahabat aku mereka harusnya tau apa yang aku rasain.."


"tapi dia lebih lama dengan mu dari pada aku dan ayna.. aku mohon padamu, mohon jangan pilih aku.. pilih dia.. dia lelaki baik... aku tau itu" ucap enggar


"enggak... enggak mau"


"ya sudah kami juga pamit" ucap enggar menarik tangan ayna


wangi pun akhirnya mengiyakan permintaan enggar


dari situ iya yakin pilihannya adalah enggar


"okeh aku terima dia asal dengan syarat kita semua berteman, gausah lagi pacaran.. pacaran harus diluar dari persahabatan kita, gimana?" tanya wangi


"deal" jawab enggar


wangi pun berlari memeluk restu


"wangi"


"maafin aku"


"iya iya...."


"masih mau kan berteman denganku?"


"iyaaa.. terus enggar?"


"enggak papa bro.. santay aja... sudah kesepakatan saya sama wangi tidak ada pacar pacaran antara kita, lalu boleh saya jadi teman kalian?" ucap enggar pada irza dan restu


restu pun menjabatkan tangannya tanda menerima


setelah beberapa hari.. ketika kedekatan mereka semakin erat, karna malamnya enggar sedang aktifitas balap motornya dan restu sedang pulang kerumah orang tuanya, irza menuju ke kantor wangi yang ternyata sudah ada ayna disana


mereka mengobrol cukup lama, hingga kemudian irza membuka pembicaraan nya mengajak wangi kembali dengan usahanya bersama restu juga


"kamu kenapa gak mau balik sama kita, jualan kita.. rame loh usaha kita yang kamu tinggalin" jelas irza


"irza, sudah kubilang aku dari dulu gak suka bercabang, entah usaha sendiri atau usaha bareng yang berbeda jauh sekalipun dengan usahaku, pasti akan hancur.."


"ah itu kan hanya pikiran mu saja"


"ya justru karna pikiranku seperti itu selalu akan terjadi itu pasti, ayna mungkin" ucap wangi


"ha.. aku? haduh wangi.. aku tuh gak suka namanya usaha itu bareng orang walaupun teman sendiri, aku tuh orangnya suka nethink kan kamu tau" jelas ayna


"iya sih" jawab wangi


"ya gakpapa, nethink kan wajar.. kalo kamu mau bisa kok join" ajak irza


"kak... aku itu ya mendingan buka usaha pakai uang ku, dibawa kekuasaanku tapi gakpapa deh kalo mau dikelolah bersama teman, yang penting itu punya saya.. jujur kak irza, aku tuh gak percayaan sama orang" jelas ayna


"nah sama tuh, kalo aku bukan gak percayaan, cuman emang nethink ku kalau buka usaha lain atau cabang emang pasti akan sial aja ke cabangnya" tambah wangi


irza seketika diam, ia merasa wangi telah dipangaruhi oleh ayna karna jawaban mereka terdengar sama


setelah beberapa hari kemudian, irza yang duduk berdua bersama restu pun menceritakan perasaan nya tentang wangi yang semakin berubah


"wangi berubah res... dia bukan lagi teman kita yang dulu" ucap irza


"oh, kamu juga ngerasa ya, kirain aku aja, enggak soal nya gini loh, si enggar enggar itu kaya yang sombuong, besar kepala sejak wangi bilang wangi lebih condong pada dia" jelas restu


"dan lagi ya res, aku tuh beberapa hari kemaren ajak tuh si wangi balik ke usaha kita, dia bener bener nolak mentah mentah eh ditambah tambah sama ayna yang bilang dia gak suka lah usaha bersama, ini lah itu lah, yang intinya wangi juga udah kepengaruh kalau usaha itu memang harus sendiri"


"ah kalo aku jawab aja semua kelakuan sombong begitu dengan cara mengerjain mereka"


"emang kamu pernah"


"aku gak suka sejak awal adanya enggar, untuk apa aku baik, dan kesialannya itu karna aku.."


"serius kamu?"


memang sejak mereka berlima berteman, yang sering mendapat kesialan adalah enggar, mulai dari ban mobil tiba tiba hilang, juga pernah ponselnya hilang, juga sering sepedanya kempes...


enggar selalu terbuka dan menceritakan pada wangi, wangi yang hanya bisa bantu memberikan semangat untuk tidak terlalu dipikirkan, jika itu sudah takdir untuk enggar.. syukuri aja yang masih ada


"syukuri aja yang masih ada nggar, jangan mengeluh" jelas wangi


"kamu tau gak, yang aku syukuri yang masih ada dan gak hilang ya kamu" ucap enggar

__ADS_1


"nah kan,gak bisa romantis itu keceplosan atau apa?"


__ADS_2