
Adri pacar pertama dimana selama Naya hidup dan mengenal masa remajanya
Naya dirumahnya menunggu Vandra akan datang, karna kemarin Vandra mengatakan akan datang kerumah Naya, Naya menunggu diluar rumahnya
"Naya" sapa Vandra
"hai, ada apa kesini sih?" tanya Naya
"enggak, ini aku cuma mau ketemu, gakpapa dong?"
"emm. iya udah ayo masuk"
"ada siapa didalam"
"Kanra"
Naya membawa Vandra masuk dan duduk diruang tamu, Vandra cukup kenal dengan Kanra, adik Naya, tapi belum sama sekali ketemu dengan ayah ibu Naya, meskipun begitu kedua orang tua Naya itu mengenal jika anaknya dekat dengan pria bernama Vandra
setelah duduk, tak lama Kanra keluar menyapa Vandra
"eh bang Vandra, dari tadi bang?" sapa Kanra
"gak kok, kemana Kan?" tanya Vandra
"mau jalan bang, mbak Naya, aku pamit ya, nanti ibuk nanya bilang kerja kelompok" kata Kanra
"okeh"
"kerja kelompok atau apa nih hayo" ledek Vandra
"kerja kelompok beneran bang hehe" jawab Kanra
tinggallah Naya dan Vandra, Vandra cukup lama dirumah Naya, ia menyentuh perut Naya dari belakang dan membuka rambut belakang Naya lalu menciumi leher Naya
"mau apa?" tanya Naya kaget
"bentar, udah udah diem" kata Vandra
Vandra menciumi leher Naya bahkan mengigitnya hingga merah dan meninggalkan tanda kissmark di dileher bawah sebelah kiri
"jangan gigit ih sakit" kata Naya
"bentar, dikit kok itu"
Naya melihat di cermin yang ada di meja ruang tamunya dan bekas gigitan itu malah memerah
"kan merah" kata Naya sembari berkaca
"dikit, pakai plester saja, hansaplas gitu"
"ah kamu mah" kata Naya
Naya menutupi bekas merah itu dilehernya, seperti biasa selalu sedia plester atau hansaplas untuk menutupi bekas merah akibat gigitan dari Vandra di bagian bagian yang tidak kena tutup baju
keluar dari kamarnya dengan membawa plester untuk dipasang di lehernya tadi, sambil Naya menggerutu
"ini bekas merah kemarin saja belum hilang, kenapa kamu membuat bekas merah lagi?" tanya Naya
"hmm sini aku bantuin" kata Vandra
"jangan gigit kan kubilang, sakit iya, merah iya, kelihatan orang gimana?"
"kan ditutup"
"ya tapi ditutup juga orang curiga" jawab Naya
"gak kok Naya, udah lah, beres ini ku plester" kata Vandra
Naya melihat lehernya dan mengusap usapnya lagi, tapi itu malah membuat Vandra gemas, gerakan itu terlihat sangat seksi, jadi tidak kuat nahan, Vandra memeluk erat lagi badan Naya dan kembali menciumi leher kiri itu lagi tapi dibagian berbeda
"Vandraaa ih, udah Draaa" ucap Naya
"bentar Naya, nurut gak?" ucap Vandra
Naya seketika diam dan menurutinya saja, Vandra membuat tanda merah dileher Naya dan itu tidak mungkin di tutupi dengan plester, jadi Naya harus mengurai rambutnya agar menutupi bekas merah yang lainnya
"sudah lah, ini gak bisa kalo di tutupi plester, kanu jangan ngikat rambutmu, biar terurai" kata Vandra
"kenapa sih, kamu ini" kata Naya
"iya sorry deh" jawab Vandra dengan santainya
saat disekolah esoknya, Naya datang kekelas dan duduk disamping Nunu..
"hai Nu" sapa Naya
"hai Na, eh Na lihat dong catetan kemarin"
"oh bentar"
__ADS_1
saat Naya menoleh ke arah kanan untuk ambil buku di tasnya yang ada disebelah kanan, tapi Nunu tidak sengaja melihat sedikit bagian merah dileher Naya
tapi keburu Naya balik menoleh kearah Nunu lagi untuk memberikan bukunya, Nunu merasa sedikit heran, apa dia salah melihat, tapi itu jelas sedikit bekas merah
setelah selesai menyalin catatan, kelas pertama dimulai hingga kelas masuk jam istirahat, Naya pergi dengan Nunu kekantin untuk makan disana seperti biasanya
membeli makanan lalu makan bersama dengan anak anak murid dari kelas lainnya juga, Nunu merasa ada yang aneh dengan Naya
"gak loe tali tuh rambut?" tanya Nunu
"emm, enggak"
"tumbenan juga"
"hehe"
Naya tidak biasa saat makan mengurai rambut, Naya adalah tipe mau makan dimana pun kalo urusan mulut, ia selalu mengikat rambutnya keatas, tapi itu tidak dilakukan oleh Naya, ia membiarkan rambut itu terurai saat makan
waktu berlalu begitu cepat dimana sudah berjalan hampir dua bulanan sejak Naya putus dengan Adri, dan sekarang tiba diwaktu untuk gantian Vandra menyatakan perasaannya kepada Naya
saat di kelas, karna masih ada sisa jam istirahat, Naya membuka buku nya untuk membaca, tapi Nunu masih penasaran dengan bekas merah dan dengan kebiasaan kecil Naya yang tidak dilakukan seperti biasanya dilakukan
"loe kenapa sih Na, kok tumbenan loe urai rambut? biasanya setelah jam istirahat bunyi, loe ngiket rambut" kata Nunu
"ahh, lupa bawa ikatnya"
"ah biasanya lupaan juga loe pinjem ini sama anak anak"
"males ih, takutnya mereka gak bawa atau bawa buat sendiri kan"
"terus tadi gue lihat ada tanda merah deh Na, dileher loe? loe kenapa? kekerasan?" tanya Nunu
"apa sih Nu? salah lihat itu loe" jawab Naya
"enggak. gue yakin, orang gue punya mata, gak buta pula, serius, buka deh ada apa sama lehermu?" tanya Nunu
"gak ada Nu"
Nunu malah memaksa membuka rambutnya padahal Naya sudah memaksa agar tidak membukanya tapi Naya tau bagaimana jika Nunu sudah memaksa dia tidak akan berhenti mengganggu dengan memaksanya
sampai akhirnya rambutnya terbuka dan banyak bekas merah dileher
"kenapa loe? siapa lakuin ini ke lu?" tanya Nunu
"waah ini mah gigitan manusia sih Nu" sambar teman teman yang lain dikelas itu
"Na, serius deh, bekas apa itu? apa ciuman segitunya?" tanya Nunu
"iya. jangan berisik lah, mau aku" bisik Naya
"siapa? Vandra lagi?"
"iyaa"
"kapan itu?"
"kemarin sore, udah lah, itu guru masuk"
"Naya Naya.. sampek merah gitu, gila kalian?" tanya Nunu
Nunu cemburu? tentu tidak, Nunu sama dengan pria lain sering jalan dengan banyak cewek, tapi itu cukup berlebihan untuk Nunu kalo sampai memerah
"dasar bocah, kenapa sampai merah? gigit keenakan ya, berasa jadi nyamuk dia" gerutu Nunu
"apasih, udah ih, dengar guru nanti" kata Naya
"gue sumpahin aja tuh guru tau"
"Nunuuu" ucap Naya
dari segala yang dilakukan oleh Naya bersama Vandra, pada akhirnya apa yang ditakuti banyak orang melihat kedekatan Naya dengan Vandra akan jauh lebih serius, itupun terjadi
ketika Vandra berani mengatakan perasaannya kepada Naya, bahkan di sekolah Naya
ceritanya dimana Vandra mendapatkan undangan untuk bernyanyi di sekolah Naya, tapi karna basic Vandra bergitar, jadi Vandra memutuskan mengambil saja acara itu dengan bergitar
Naya dan Nunu juga beberapa teman sekolah mereka yang lain pun mempersiapkan untuk persiapan penyelenggaraan acara pentas kelulusan untuk kakak tingkat Naya, Naya sendiri sudah naik ke kelas 12 atau kelas tiga SMA
setelah pengurusan semua, Naya baru dapat kabar dari Nunu soal salah satu tamu undangan sekolah mengisi acara itu ada Vandra
"Na.. loe denger kabar Vandra dateng kesekolah buat isi pentas seni?" tanya Nunu
"memang iya? gak tau aku, gak ada Vandra bilang"
"lah gimana, iya ada nama Vandra, dia mengisi buat pentas seni nanti"
"ngapain? main gitar?"
"ya lah, tau tuh gimana bisa kenal sama ketua osis kita, si Vandra" jawab Nunu
__ADS_1
"ya kenal memang, tau aku mereka kenal"
"coba deh loe tanya Vandra"
"gampang lah" kata Naya
dan esoknya, dihari dimana pengumuman kelulusan, lalu lusa nya acara pentas pelepasan murid tertua, malam sebelum pentas seni itu dimulai, Vandra datang kerumah Naya
"Vandra, kamu kata Nunu diundang di sekolah buat pentas seni?" tanya Naya
"iya"
"sama siapa? sama bang Pandi, bang Zidan dan bang Mamat?" tanya Naya
"enggak, sendirian aja, gak sama mereka"
"memang mengisi acara apa? kan vocalistnya bang Pandi"
"ya kan aku gitaris, sedikit nyanyi bisa lah, tapi mau isi gitaran saja"
"kenapa gak ajak mereka buat pentas band?" tanya Naya
"gak lah, malas, mereka jarang kontak lagi, sibuk masing masing juga"
Naya tau kenapa Vandra enggan mengajak, jadi ada kesempatan buat isi acara sendiri ya datang sendiri gak ngajak ngajak, itu semenjak kejadian ribut adu mulut mereka beberapa hari lalu
"emmm, terus mau berangkat bareng aku apa sendiri?" tanya Naya
"kamu sama Nunu?" tanya balik Vandra
"iya, tapi pagi, kan masih kepengurusannya paginya"
"ya jalan sendiri aja lah aku" kata Vandra
"oh ya dah"
setelah mengobrol banyak hal, lalu pulang, lalu esoknya Naya jalan dan ketemuan dijalan akan ke sekolah bersama Nunu
"Nu" sapa Naya
"woi, ayo"
terlihat Nunu sudah duduk di pinggiran jalan seperti biasa menunggu kedatangan Naya, dan mereka pun jalan
"gimana loe tanya Vandra?" tanya Nunu
"iya katanya"
"oh, iya berarti? sama anak band nya kah?"
"gak, Vandra sendirian, mau isi sendiri, kan yang ketigaan itu sibuk, pas kebetulan yang bisa hanya Vandra" jawab Naya berbohong
"ohh begitu"
setelah sampai, Naya dan Nunu sibuk urusan masing masing, dan tiba dimana Vandra datang..
"hai Nu" sapa Vandra
"hei, Vandra"
"kemana Naya?"
"ada, sama anak panitia lain sepertinya"
"oh yaudah biarin deh, gue persiapan aja, loe gimana persiapan pentasan?"
"tadi sih selesai semua, tapi finishing jadi enak udah, ini tinggal acara berjalan saja, mc gue juga ready, murid doang masih dijalan, masih sepi ini"
"oh begini saja sepi ya? padahal sudah banyak menurut gue yang datang sudah"
"iya sih, lumayan lah ya tapi belum datang semua kok ini, nanti bakalan guru guru juga kan, lebih rame nanti, ini gak seberapa"
"oh haha"
"gue tinggal ya, gue ngurus lainnya, sekalian nanti gampang deh, gue kabari Naya loe datang"
"siap, makasih loh Nu" ucap Vandra
Nunu tengah sibuk kembali, melihat Naya. .
"Nunu Nunu.." sapa Naya
"eh Na, itu Vandra dateng deh"
"oh ya?"
"ya, di kelas persiapan deh, di kelas 3.E buat persiapan disana"
"oh okeh"
__ADS_1