Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
Fasyah Nur Kamil


__ADS_3


Fasyah Nur Kamil panggil saja Fasa


Ketika Fasa sedang hangout Sabtu sore bersama teman dari kecilnya, Chusnul..


Disore itu ketika mereka baru pulang dari nonton film dibioskop dan akan terbelanja kebutuhan sehari-hari di salah satu mall tak jauh dari lokasi bioskop,


"Nul, itu ada apa ya?" Tanya Fasa


"Tauk, rame ya, apa mungkin kecelakaan?"


"Ya mungkin, kamu tau disini rawan"


"Oh iya sih"


namun Fasa yang melihat kerumunan orang disana, pas di sebrang jalan mall, langsung mendekati nya


"Pak, Bu, ini ada apa ya" tanya Fasa


"Kecelakaan neng, jangan dibantu, nanti sidik jari neng loh yang teridentifikasi, nanti disangka neng pelakunya"


"Masalah nyawa bu, toh orangnya kan masih sadar, mungkin ada yang cedera makanya dia kesakitan"


"Yaudah fas bawa aja"


"Dia bawa mobil neng itu disana" ucap salah satu bapak disana


"Oh anter kita pak"


Hanya Fasa dan Chusnul yang membopong tubuh lelaki korban kecelakaan itu karna yang lain takut terseret ke masalah lebih jauh


Lelaki itu sadar betul siapa yang memiliki hati seluas dunia ini untuk membantu nya


Sesampainya dirumah sakit, dengan buru buru Fasa dan Chusnul membawa lelaki itu dibantu beberapa perawat hingga akhir nya tertolong lah lelaki itu


Sembari menunggu, Chusnul baru sadar jika temannya itu yang mengemudikan mobil lelaki itu dengan lihai dan lancar


"Eh fas, tadi kan kamu sih yang setir mobil kan?" Tanya Chusnul


"Iya emang"


"Kamu bisa?"


Awalnya memang bingung maksud pembicaraan Chusnul, namun dengan cepat ia mengerti


"Oh astaga iya ya, aku baru Lo sadar nya"


"Bah gimana kamu ini"


"Iya ya" ucap Fasa bingung sekaligus senang


Karna memang Fasa adalah seorang yang takut akan mengemudikan sepeda motor lalu bagaimana ia bisa mengendalikan setir mobil


Yaaa.. beberapa tahun silam memang Fasa sempat mengalami kecelakaan hebat, memang sepintas kalo tau cerita kejadian itu membuat semua orang heran pasalnya


Fasa kecelakaan bisa dikatakan kecelakaan hebat, tapi tak satupun dari dirinya yang terluka, patah, atau cedera dan lain-lain nya namun yang terjadi hanyalah ia takut akan mengemudikan motor, jantungnya akan terasa berdetak lebih cepat serasa ajal didepan wajahnya


Tapi bagaimana bisa ia mengemudikan mobil tanpa rasa ragu dan takut sekalipun


"Permisi" suara dokter mengagetkan Fasa dan Chusnul


"Eh dok, iya, gimana dok"


"Begini, kami harus sesegera mungkin untuk mengoperasi kaki kiri pasien, karna pasien mengalami patah tulang kaki sebelah kiri bawah lutut" jelas dokter


"Oh gitu dok, ya atur aja gimana baiknya dok"


"Tapi kami harus minta persetujuan dari pihak keluarga pasien terlebih dulu"


"Maksud nya?"


Tak lama Salah satu perawat datang dengan beberapa lembar kertas


"Begini Bu, ini saya minta persetujuan dari pihak keluarga jadi apabila ada yang salah, atau ada yang perlu lagi di operasi dan sebagainya kami hanya perlu mengabari tanpa meminta tanda tangan persetujuan lagi"


"Waduh, dok, ini masalah nya kami gak tau ya, kebetulan tadi papasan dijalan lihat ada yang rame ya kami bawa kesini, kami hanya membantu saja" jelas Chusnul


"Oh begitu, bagaimana dengan persetujuan ini, karna kami tidak bisa melakukan bedah operasi jika tak ada persetujuan, dan jika tidak segera ditangani, yang saya takutkan ada infeksi, membuat tangan itu senduri harus di amputasi"


"Amputasi dok?" Tanya chusnul


Dengan yakin, Fasa menarik bulpoin dimeja lalu menandatangani beberapa lembar kertas itu


"Jadi bisa kan dok untuk cepat Ditangani?" Tanya Fasa


Chusnul menarik tangan Fasa menuju balik pintu ruang dokter


"Kamu yakin? Eh ini masalah besar loh fas, ini operasi tulang, bukan seperti benang yang tinggal jahit seenaknya" jelas Chusnul

__ADS_1


"Justru ini masalah besar ya kita harus cepat ambil keputusan dong, kita sampek kapan nunggu kabar dari keluarga nya, kita aja gak tau loh siapa keluarganya, gak mungkin juga kan suruh dia telfon keluarganya minta datang dia dalam kondisi begitu, gak mungkin"


"wah bener nih kata ibu-ibu tadi, daripada masuk ke masalah lebih besar, tau gini biarin aja deh" gerutu Chusnul


"Kamu ini, menolong kok milih"


"Tau dah fas, terserah lu aja"


Fasa kembali ke meja dokter


"Itu saya yang bertanggung jawab dok, dokter saya beri kontak saya jika ada keperluan lagi, saya harus kembali dok, ada urusan lain yang sudah menunggu, saya serahkan kepada dokter ya"


"Baik Bu, terimakasih"


"Ya dok sama sama"


Fasa dan Chusnul pun menuju ke mall lagi dan mereka kembali berbelanja


Setelah keduanya pulang, Fasa yang diantar oleh Chusnul sampai didepan rumah baru sadar jika kunci mobil lelaki itu ada padanya


Ketika ia melihat kearah Chusnul, Chusnul sudah terlalu jauh untuk ia panggil


Esoknya, panggilan masuk dari nomor baru di ponsel Fasa


"Ya halo"


"Selamat pagi bu, maaf mengganggu, apa ini dengan Bu Arinda?"


"Iya, saya sendiri"


"Saya dokter yang menangani pasien yang ibu bawa kemaren, bisa saya minta tolong ibu datang ke rumah sakit"


"Oh baik dok, saya kesana"


Karna tak ingin menyusahkan Chusnul mengantarkan nya ke rumah sakit, Fasa memesan ojek online melalui ponselnya


Sesampainya dirumah sakit..


"Permisi dok"


"Ya masuk"


"Bagaimana perkembangan kondisi pasien dok"


"Oh ini saya serahkan beberapa barang karna saat operasi kemaren semua harus disimpan sendiri, jadi saya berikan kepada Bu Fasa"


Dokter memberikan dompet tipis, tebal karna kartu ATM, dan beberapa uang chas, sekaligus beberapa ponselnya


"Nah, saya meminta Bu Fasa kesini hanya sekedar informasi saja, kami mengoperasi kemaren dini hari dengan lancar, pagi tadi pasien sempat sadar dan mencari beberapa keluarganya mungkin, sampai akhirnya kami berikan obat penenang dan kembali tertidur" jelas dokter


"Oh ya bagus dok kalo memang lancar"


"Untuk penjagaan intens, apa Bu Fasa tidak bisa?"


"Masalahnya saya ada urusan lain ini dok, pekerjaan saya juga gak bisa ditinggal"


"Oh begitu, baik tapi kalo semisal saya butuh apa bisa langsung datang?"


"Bisa dok, sangat bisa"


"Baiklah, terimakasih"


"Saya dok yang berterima kasih, dokter sudah membantu pasien itu"


"Haha okeh lah, kita sama sama berterima kasih rupanya"


"Iya dok"


Setelah keluar dari ruang dokter, dompet lelaki itu terjatuh, dengan tanpa sadar, Fasa membuka dompet itu


"Bermobil keren, gaya necis, isi dompet kosong? Gila, banyakin ATM" ucap Fasa pelan


Melihat sebuah ktp, identitas asli dari pemilik nya, tercantum sebuah nama "alvan Sanjaya" kelahiran hokaido Jepang


"Oh dia alvan" ucap Fasa lagi pelan


Setelah seminggu berlalu, dengan kondisi yang memang belum terlalu bisa banyak aktifitas membuat alvan memang harus intens dirumah sakit dibawah pengawasan dokter, dan ketika kondisi membaik, membuat alvan tak betah berlama-lama lagi disana, ia meminta izin untuk pulang kepada dokter, dokter mengizinkan karna memang kondisi alvan membaik


"Ya sudah saya kabari Fasa dulu" ucap dokter


"Fasa siapa?"


"Fasa yang sudah membantu mu"


Dokter pun memberikan kabar kepada Fasa, kemudian kembali lagi ke arah alvan


"Nah, saya kasih tau, Fasa ambil keputusan terbesar dalam kondisi kamu hari ini, dia ambil keputusan mengambil semua resiko, untuk kamu operasi dan menerima semua yang akan jadi tanggung jawabnya"


Alvan tersender, dan mengingat jika Fasa adalah orang yang membantunya pas dihari kecelakaan nya, alvan sadar betul hal itu

__ADS_1


Sementara Fasa pun langsung datang ke rumah sakit diantarkan Chusnul, karna Chusnul malas untuk masuk, Fasa pun meminta Chusnul pulang terlebih dulu


"Yaudah kamu pulang aja" ucap Fasa


"Bener nih, gakpapa"


"Gak papa lah, kenapa emang, udah sana"


"Yaudah, nanti kalo udah mau pulang kabari, biar aku yang jemput ya"


"Iya iya"


"Yaudah bye"


"Daaah"


Untuk pertama kalinya, Fasa bertatap muka dengan alvan..


Alvan hanya memandangi wajah Fasa dengan lekat seolah ia banyak berhutang nyawa kepada wanita itu


"Nah, ini dia, orangnya baru datang" ucap dokter


"Ini bu, pasien sudah minta pulang, saya minta ibu untuk antarkan karna kondisi nya belum sehat betul" ucap dokter


"Baik dok, terima kasih atas bantuannya"


"Sama sama Bu"


Dengan sabar, Fasa menuntun kursi roda alvan, sesampainya di lobi, Fasa kembali membopong tangan alvan dengan sabar, membuat alvan semakin tak bisa melepaskan tatapannya kepada Fasa dan benar-benar menumpuk rasa berbalas Budi kepada wanita itu


Tapi ia tak bisa berkata sepatah kata pun, ia terlalu bingung harus mengatakan apa


Sesampainya dirumah yang ditunjukkan oleh alvan, kembali Fasa membopong tangan alvan sampai di depan ruang tamu


"Em disini aja, gakpapa" ucap alvan


"Oh okeh"


Fasa menurunkan badan alvan


"Dapur sebelah mana?"


"Oh itu, belakang kamar tengah, masuk aja, kenapa?" Tanya alvan


"Enggak"


Fasa menuju dapur dan kembali dengan segelas teh hangat dan segelas air putih sekaligus makan untuk alvan


"Kamu masak ini?"


"Iya, maaf ya, jadi lancang"


"Enggak gak gak papa"


"Yaudah kalo gitu makan"


Karna bengong, alvan tak menyentuh makanan nya


"Oh mau aku suapi?" Tanya Fasa


"Oh, enggak, bisa kok, kan cuman kaki doang yang sakit"


Betapa malunya alvan sampai Fasa menawari nya untuk disuapi


Setelah makan selesai dan meminum obat, Fasa berpamitan pulang


"Ehm" ucap alvan


"Kenapa?" Tanya Fasa


"Enggak kok, makasih udah mau repot"


"Iya"


Fasa pun berlalu, tapi ia kembali karna ia lupa memberi tau jika ia memasak nasi dan beberapa lauk untuk alvan


"Em" ucap Fasa


"Eh, ada yang ketinggalan?"


"Enggak kok, ini cuman mau bilang, tadi aku masak nasi sama lauk lauk persediaan kamu makan malam bisa kok, obatnya udah aku siapin dimeja makan juga"


"Oh iya makasih, em kamu gak kesini lagi besok?" Tanya alvan malu-malu


"Besok? Em entahlah, apa kata besok"


"Oh okeh"


Esoknya, Fasa kembali kerumah alvan

__ADS_1


"Kamu Dateng, aku kira gak Dateng" ucap alvan


"Dateng kok, jadi tenang aja"


__ADS_2