Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
ETS #9


__ADS_3

"dia udah nikah tinggal sama suami daerah gang ujung sana, ya kebetulan ketemu tadi, dia sempet bilang ketemu irfan, tapi aduh lupa dimana dah tadi katanya irfan sering nongkrong" ucap irly


lian tak menggubris karna memang lian tak mau berurusan dengan keluarga irly bukan karna tak suka. karna lian memang malas berurusan dengan mereka terutama ibu irly


beberapa hari belakangan, karna irly memang seorang istri yang tak mau melanggar larangan suami, ia hanya bisa pasrah, diam, menerima, dan selalu berdoa untuk keluarga ibu dan kakak adiknya


beberapa hari kemudian, ketika irly akan ke pasar belanja bulanan.. seperti biasa, shuo pasti mengekor.. lainnya bersama neni sofia di rumah nya


irly menuju pasar rekomendasi dari arneta yang katanya pasar tradisional tapi terlengkap dan besar


"shuo.. pengen beli jajan apa?" tanya irly


"jajan yang asin, gak mau yang manis"


"serabi mau?"


"serabi itu apa ma?"


"serabi makanan jawa.. ini gurih asin, tapi enak, coba beli ya" ucap irly


"iya deh, untuk adek bisa makan itu gak ma?"


"bisa, beli buat adek adek sama papa sama neni ya"


"iyaaa...."


saat sedang membeli dan memilih jajan, irly melihat irfan yang sedang dengan teman teman nya mengamen di pasar itu...


"irfan" ucap irly pelan


irly mendekati untuk memastikan itu benar irfan..


"irfan" panggil irly


melihat sekilas kearah yang memanggilnya, irfan langsung lari..


"cabut, cepetan, lari" teriak irfan pada temannya


"irfaaaan" panggil irly lari  bersama shuo mengejar irfan


"aduh maaaa siapa sih om itu" tanya shuo


"dia.. adik mama irly sayang, kamu panggil om ke dia, namanya om irfan"


irfan yang berlari merasa aman pun berhenti


"anjir gila lu, ngajak jogging siang bolong" ucap teman irfan


"siapa sih fan?"


"bukan siapa siapa" jawab irfan santai


"kok lu punya kenalan secantik itu, wah gila udah punya anak tapi tetep cantik, wih mama kece itu mau sih gue" ucap teman irfan


"apasih lu" ucap irfan


irfan pun hanya terdiam, ia menyalakan korek mengarahkan pada rokoknya


"kak irly, maafin aku kak, aku sadar aku jahat banget dulu, ngikuti ibuk yang bisanya ngurusin diri sendiri, sejak kakak gak dirumah, gak ada kak yang ngurusin manja nya aku, mama gak mau ngurusin aku, sibuk sama mantan pacar kakak sendiri, terpaksa aku ngindar, aku gak mau bikin susah kakak lagi..." ucap irfan dalam hati


"sayaaang" sapa daniar pacar irfan


"hmmm"


"aku hamil..."


sontak irfan menatap arah daniar


"hamil?" tanya irfan


"iya..."


"kamu bohong kan?"


"coba fikir berapa kali kita begitu, tanpa pengaman jelas kalo aku hamil"


"arrrrghhh anjiiiiiiir" teriak irfan


irfan dan daniar memang terlalu bebas berpacaran, melakukan **** juga hal yang wajar ditambah anak jaman sekarang yang memang menganut paham bebas sebebas bebasnya..


"terus gimana yang" tanya daniar


"kasih aku waktu berfikir"


"aku takut mama papa ku tau"


"iyaaa..."


beberapa hari kemudian, ketika irly kembali ke pasar itu berharap menemukan irfan...


ia tak menemukan...


"nyari siapa neng?" tanya satpol penjaga disana


"emm... enggak pak"


"om.. tau sama om irfan enggak" celetuk shuo


"shuo" ucap irly


"om irfan, yang mana ya?"


"oh ini pak, saya ada fotonya, bapak penjaga kan disini, siapa tau kenal"


melihat foto itu pak penjaga ternyata kenal


"oh dia, kenal mbak, kenal banget, sering ngopi bareng saya..." ucap nya


"oh iya, tau alamat rumahnya?"


"yeeeh mbak, anak begitu mana punya rumah, mereka mah gelandangan, dijalanan tidur juga bisa.. wong anak punk kok"


"em.. biasa dia nongkrong nya?"


"nah, ini mbak, nanti dari sini mbak ke arah jalan manggajeruk.. dekat bukit tuli... ada danau mati dibelakang bukit nah disitu nanti ada rumah yaaa bekas kebakaran, sering liat disana saya"


"oh makasih pak"


sesampainya...


"mbak, cari siapa nih, waah adiknya cantik, hai adik kecil" ucap salah satu orang menggoda irly

__ADS_1


"maa pulang ma, disini om nya jelek jelek itu bajunya" bisik irly


"bentar ya sayang..."


berjalan menuju kearah pintu


"eh itu kan yang kemaren manggil sih irfan ya gak sih?"


"eh iya, si mama hot"


"mbak, nyari siapa?" tanya salah satu teman irfan


"cari irfan.. kenal?"


"oh ada.. ada... ayo mbak masuk"


menunjukkan arah irfan yang sedang duduk dipeluk seorang wanita cukup mesra...


"irfan" sapa irly


melihat kearah sumber suara...


"kak irly" ucapnya kaget melepaskan pelukan daniar


"kakak kok bisa disini, kakak tau dari mana?"


"kakak mau ngomong, bisa"


irfan meminta temannya mengajak daniar keluar


"kakak banyak dengar kamu gak lagi dirumah kamu tinggal dimana?" tanya irly


"ya bisanya dimana disitu"


"kenapa kamu keluar dari rumah?"


"ibuk gak pernah ngurusin aku kak, mikir dirinya aja, kak maafin aku, aku udah pernah jahat dukung ibu jahat sama kakak, ngerepotin kakak, makanya irfan gak berani kalo ketemu kakak"


"pulang ya"


"enggak kak"


"kasian ibu"


"udah biarin, dia aja udah tinggal sama si eka eka itu, mantan pacar kakak, eh... maksudnya... itu"


"kakak udah tau kok, tapi kakak gak sempat pernah pacaran sama eka, kakak tau eka gimana"


"aku juga tau kak, itu alasan aku keluar dari rumah..."


"kakak minta maaf ya, kakak gak bisa bantuin kamu apapun, tapi sedikit sedikit bisa kok, soalnya keuangan berdasarkan lian, suami kakak"


"gkpapa kak, gausah juga gakpapa, aku gak pantes nerimanya..."


"kamu ngomong apa sih, udah gakpapa, kalo sekarang kakak gak bawa uang lebih"


irfan memeluk irly menyadari kesalahannya


shuo pun turut memeluk keduanya..


"ini siapa kak?" tanya irfan


"ini anak kakak, oh iya ayo kenalan sama adiknya kakak, shuo" ucap irly


"om namanya irfan, om adiknya mama" ucap irfan


"kakak punya anak satu kak?"


"tujuh"


"haaa..  tujuh?"


"iya.. kembar tiga, lahir lagi hampir setahunan kembar lagi tiga, ayo main kerumah kakak"


"enggak deh kak"


"loh kenapa"


"pasti mas lian gak nerima aku"


"belum dicoba, nanti aku bantu ngomong deh"


"em.. yaudah kapan kapan aja kak"


setelah selesai urusan, irly pun pulang..


"makasih ya udah kasih waktu saya ngobrol sama adik saya" ucap irly


"emm... iya.."


"iya.. "


"fan.. kenapa gak bilang dari kemaren kalo doi kakak lu"


"iya fan, anak kaya lu punya kakak secantik itu, uuuch bidadari banget tuh fan, udah mulus. lembut. baik"


"emang beneran kakak kandung yang?" tanya daniar


"iya lah, kakak beneran, gue kasih tau KK nih?"


"lebay lu bro"


beberapa hari kemudian...


saat berharap bertemu irfan pasar yang sama


"mama cari om irfan ya?" tanya shuo


"iya sayang"


melihat segerombolan teman irfan namun tak nampak irfan..


"mass." panggil irly


"ya mbak?"


"eh kakaknya irfan kan?"


"iya..."


"emang kakak irfan?"

__ADS_1


"iya, saya kakak irfan? irfan kok gak ada..."


"irfan sama yang lain dipasar lain kak ngamennya"


"oh, boleh nitip ini buat irfan?"


"oh boleh"


melihat sedikit kepo isinya, ternyata setelan baju dengan celana jeans begitupun dengan jaket lengkap dengan gesper


"wih tuh beneran kakaknya si irfan?"


"iya bener, lu si kaga da di basecame"


"udah cantik, tajir mlintir deh kayaknya"


"kok bisa?"


"liat aja.. searching"


mangopolo street brand terkenal..


jaket 5jt


celana jeans pendek 6jt


kaos snipers kreas 3jt


gesper 5jt


topi 1.5jt


kacamata 4jt


"coba berapa dah yang keluar...?"


"anjir gile, mahal cuy, 20juta lebih cuy"


sesampainya di tempat tongkrongan, tak ada seorangpun termasuk irfan


tak lama irfan datang dengan beberapa teman lainnya dan dengan daniar


"fan.. woy, gue tadi ke pasar bilik gede ketemu kakak cantik"


"kakak cantik?"


"kakak lo"


"dimana? terus terus"


"nih buat lo katanya"


irfan cukup tau soal mode tapi ia tak tau harga total nya setelah diberi tahu oleh salah satu temannya yang mengerti mode..


irfan kaget dengan total semua baju itu


"mau kemana cuy?"


"ada urusan"


"yanggg kemana, ikut"


"diem sini, manja amat"


irfan mencari alamat rumah irly yang ia dapat karna tak mengenal daerah sana, irfan bertanya kebeberapa orang disana


"maaf buk, kenal sama kak irly ga?"


"waduh irly siapa, gak kenal?"


dilain orang...


"bu, kenal sama irly?"


"irly, gak ada tuh mas"


terus bertanya sampai akhirnya irfan menunjukkan foto keluarga kakaknya bersama anak dan suaminya yang ia ambil dari sosial media pribadi milik kakaknya....


"lah mas, yang ditanya mbak irly ini tah, ini disini dikenalnya bu lian, bukan irly, yaa karna banyak yang gak ngerti nama aslinya jadi panggil bu lian, itu mas rumahnya yang paling ujung yang paling megah"


"oh okeh makasih bu"


"mas ini mau melamar supir ya? atau tukang kebun?"


"em.. oh i... i.. ya.. iya bu" jawab irfan gagap


sesampainya dirumah irly


kaget benar irfan, melihat rumah kakaknya yang sangat mewah dan besar..


"kak irly, benar benar hidup enak sekarang, ternyata memang allah adil, sama sekali kak irly tak terlihat bahagia selama remaja, masa tuanya terjamin nikah sama bang lian, siapa sangka bang lian bisa sekaya ini, hemm.. kalo ibuk tau pasti dia bakalan sok deketin kak irly, baik baikin kak irly, biarin dah semoga aja dia gak tau"


irfan pun mendekati arah rumah irly


"permisi pak" ucap irfan pada satpam


"ya... ada yang bisa saya bantu?"


"bisa bertemu dengan kak irly, emm maksudnya bu lian?"


"bu lian, bentar saya hubungi, atas nama siapa ya?"


"irfan"


setelah menelfon dan meminta satpam mengantarnya kedalam rumah nya


"irfan, hei sini masuk" sapa irly


"emm kenalin, ini saski, temen kakak juga temen deket mas lian"


"saski"


"irfan"


"saski, ini adik aku, irfan.. seneng deh kamu bisa kesini"


"aku...."


"irfan" ucap lian


saat akan menyalami lian, lian tak menerima

__ADS_1


"mau apa kamu?" tanya lian


"saya?"


__ADS_2