
Evita Milla, itulah nama panjangnya, tapi banyak temannya suka menyingkap namanya dengan panggilan Emil
Emil terkenal dengan gadis yang cuek, disebagian tetangga nya, ia dikenal memang tak banyak bicara, bahkan sikapnya yang blak-blakan, dengan nada suara dingin membuat image nya terlampau jelek
"Emil..." panggil Zaki
"Zaki? kenapa?"
"tunggu, aku mau bicara"
Zaki adalah teman dekat Emil, memang tak terlalu lama, hanya saja Zaki adalah orang yang baru pindah diujung jalan berjarak 7 rumah dari rumah Emil
"ya kenapa?" tanya Emil
"lu ke sekolah naik apa?" tanya balik Zaki
"masih besok ini, ngapain nanya sekarang"
"yaelah kan bisa barengan"
"barengan emang lu bawa sepeda?"
"ya kagak"
"maksud lo jalan?"
"hehe"
"gampang lah, lu kerumah gue aja deh"
"yaudah, besok pagi pagi ya"
"iya"
esoknya, Zaki sepagi mungkin sudah mengetuk pagar rumah Emil
"Emil" panggilnya
Emil yang sedang menyantab sarapannya bersama ibu dan kedua kakaknya pun menuju jendela samping pintu
Emil mengintip dari balik jendela yang ternyata sudah ada Zaki disana
"ya elah ni anak kerajinan amat" gerutu Emil
Emil kembali ke ruang makan menyelesaikan makannya dan berpamitan
"ma, Emil berangkat" kata Emil
"jam berapa udah berangkat aja" tanya Dino, kakak pertamanya
"ada piket" jawab Emil datar
"yaudah kakak anter" ucap Dino
"gak perlu"
"loh kenapa gak perlu orang biasanya kamu yang minta cepet anter ke Dino" tanya Kia, mama Emil
"jalan?" tanya Dino
"pasti sama si anak begajulan itu lagi ya kamu" ucap Kia
"mama apaan sih, udah Emil telat nanti"
"mana ada telat masih jam segini ini" sindir Dino pelan
Dino, adalah kakak pertama dari Emil, sifatnya memang keras, ia selalu membenarkan mama Kia, sekalipun mama Kia salah
berbeda dengan Dion, yang memang percaya dengan mama Kia namun lebih memilih diam ketika tau kesalahan mama Kia melewati batas karna Dion tak mau dianggap durhaka
nah, Dino dan Dion adalah kedua kakak laki laki Emil, tapi kalian salah kalau menebak mereka kembar, karna mereka beda satu tahun
"jalan" teriak Emil
Emil menuju ke arah gerbang depan rumahnya, dan berjalan menuju Zaki berdiri
"ayo" sapa Emil
"yok"
Zaki yang sibuk dengan ponselnya pun berjalan tanpa memperhatikan jalanan, membuatnya terjatuh karna tersandung batu yang cukup besar, sebesar buah jeruk bali kira-kira, untung saja jalanan masih sepi karna masih pagi
melihat temannya jatuh, bukannya menolong justru Emil tertawa terpingkal-pingkal
"puas lo?" ucap Zaki
"haha iya sori sori, lucu sih, udah bangun"
"bantuin kek, apa kek, malah ketawa, Dimana nya yang lucu coba"
"haha"
sesampainya disekolah
"yaudah gue masuk dulu ya" ucap Zaki
"ya udah bye"
setelah masuk ke dalam kelas mereka masing masing karna tidak dalam satu kelas meskipun sama tingkat nya
"hai, gimana tugas pak Sodik?" tanya Rashel, teman satu meja Emil
"udah kok, beres, selama ada google"
"kok google, awas pak Sodik tau, kayak kamu gak tau bagaimana pak Sodik, dia kan bakal tau dari mana kita dapat noh jawaban"
__ADS_1
"penting ngerjain"
"iya sih"
setelah pak Sodik masuk, ia pun meminta ketua kelas mengumpulkan semua tugas dan akan ia beri nilai, tepat saat di buku milik Emil, ia memanggil nama Evita Milla
"Evita Milla" panggil pak Sodik
"saya" ucap Emil mengangkat tangannya
"maju"
Emil pun jalan mendekati arah meja guru
"ini kamu cari dimana" tanya pak Sodik
"cari... di...."
"internet?"
"iya" jawabnya santai
"kamu kan tau internet banyak versi, kalo yang kamu ambil itu versi salah gimana"
"kan yang penting saya kerjakan kan pak"
"ya gak bisa gitu dong, kamu harus cari jawaban yang benar"
"memang semua anak yang ambil dari buku dapat nilai 10? enggak lah, gak semua kan dapat nilai 10 walau ambil dari buku padahal buku itu akurat"
"kamu ini dijelasin selalu jawab, merasa paling benar"
"bukan merasa pak tapi memang saya benar, udah akui saja pak"
ternyata banyak siswa lelaki yang mendukung Emil, membuat pak Sodik akhirnya mengalah
"ngalah aja pak, daripada malu" jawab Emil
"ya sudah kamu duduk"
setelah Emil duduk
"kamu kok bersikap gitu, nanti kamu dibikin nyesel loh" bisik Rashel
"seberani apa dia?" jawab Emil
"kamu ya, dasar batu"
"biarin aja sih"
sepulang sekolah, terlihat sudah ada Zaki yang sibuk bermain dengan games di ponsel nya
"lu udah disini aja" jawab Emil
"males gue ya gue cabut jam terakhir"
"biasa, karna tugas gue salah semua. bener cuman satu doang"
"lu mikir sih"
"ya kaga mikir gimana ngerjainnya begok?"
"ya cari di google"
"kalo ketahuan ya mati gua"
"hem, ya kan yang penting ngerjain, pas nilai kita bagus"
"bener juga lo"
"nah ikuti aja gue"
"tumben pinter"
"ya dong, Evita Millaa" jawab Emil bangga
sesampainya di rumah
"Emil, langsung masuk aja, gak sopan" tanya Kia
"maap ma, Emil capek"
"sekolah doang capek, tinggal berangkat, dapat saku, bisa jajan, paling yang dipikirin ya tugas, udah capek, gimana mama yang harus cari uang buat sekolah, buat biaya hidup" jawab Kia
"kok mama bahas sejauh itu sih"
"ya bener kan?"
"gak iklas ya biayain anak sekolah?"
"bukan gak iklas, buat pembelajaran kamu supaya ngerti posisi mama"
"terserah mama deh"
Emil menutupi wajahnya dengan bantal lalu tertidur
saat waktu menunjukkan pukul 6 sore, Dion membangunkan Emil
"bangun dek, gak sholat?" tanya Dion
"ya bentar lagi" jawab Emil
"bentar lagi ya isyak"
"iya ini bangun"
"kakak mau ngomong"
__ADS_1
"hem"
"kenapa sikap kamu cuek sama mama?"
"mama ngaduh ke kakak?"
"enggak, kakak cuman tanya"
"males kak, disuruh solat kan? ntar telat lagi"
"yaudah iya"
Dion kakak kedua Emil, memang lebih islami dibandingkan Dino, mengingatkan sholat kepada semua keluarganya
seiring berjalannya waktu, Emil terlihat lebih sibuk diluar ketimbang dirumahnya karna memang ia bosan dengan situasi rumah dengan kondisi ibunya yang selalu ngomel-ngomel tak jelas
"Emil" panggil Dino
"kak Dino? kapan datang?" tanya Emil kaget
"duduk, jangan tanya kapan kakak datang, kenapa kamu pulang semalam ini? sama siapa?"
"ya sama teman ku kak"
"siapa?"
"ya sapa lagi kalau bukan si begajulan itu, Dino" sambar Kia
"namanya Zaki ma"
"iya itu dah si Zaki Zaki itu"
"iya kamu main sama dia?" tanya Dino
"ya kan temen aku kak"
"ya harusnya cari dong temen lain, yang lebih baik" jawab Dino
"ya kenapa sih kak, Zaki baik kok sama aku"
"mo baik, mo pinter, mo anak siapa pun kakak gak suka, sampek kakak liat kamu jalan lagi sama dia, kakak habisin kamu"
Emil terdiam, dan saat dino mulai berlalu, Emil pun masuk kamarnya dan tidur
ibu dan kakak pertama nya memang melarang untuk Emil berteman dengan Zaki, karna dianggapnya Zaki tidak memiliki pergaulan baik, itu benar sih
tapi Zaki tidak pernah memengaruhi siapapun terutama Emil untuk ikut menjadi sepertinya dengan pergaulan buruknya
setelah seminggu berlalu, tepat di malam mereka kembali berkumpul, cukup lama mengobrol dengan yang lain
Dino, kakak Emil datang
tanpa basa-basi, Dino menampar Emil didepan semua temannya
"kakak sudah bilang, jangan pernah bergaul, berteman dengan mereka ini, mau jadi apa kamu? mau jadi seperti mereka, anak gak punya moral, hei kamu Zaki, saya peringatkan jangan pernah dekati lagi adik saya kalo tidak liat apa yang akan kamu terima" bentak Dino
Dino menarik paksa membawa pulang Emil
disana semua teman Zaki dan Emil bingung, tapi Zaki sudah mengerti, ia hanya diam meminta yang lain juga melupakan saja
bukannya membela, Kia justru menambah panas situasi
"Dino, kenapa lagi?" tanya Kia
"ini ma, Ku liat dia masih aja main sama Zaki, sama teman-teman yang gak punya masa depan itu" jawab Dino
"baguslah kamu tau din, udah marahi aja dia" jawab Kia
"inget ya, terakhir kamu masih sama mereka, apa yang bisa kakak lakukan biar kamu menderita"
Dino pun berlalu, Emil kembali masuk ke kamarnya, tiba-tiba Kia pun masuk
"kan sudah mama bilang... jangan main sama mereka, rasain kamu sekarang ya" kata Kia
"mama tega ya, bukannya belain anaknya" jawab Emil
"ngapain belain kamu main sama mereka yang begajulan, urakan begitu sih"
"ma, yang urakan itu siapa? mama keluar malam, pulang subuh, bawa masuk lelaki orang ke kamar, apa itu yang dinamakan baik baik?"
"he mama gini cari makan buat kamu"
"cari makan bisa dengan cara lain ma"
"cara lain bagaimana, memang kamu berteman dengan mereka bisa merubah hidup kita, pikir dong, mama gk sedikit keluarin biaya buat kamu, kalo mama hitung ya mama bisa beli rumah, bisa beli mobil 5, kamu malah gini sama mama, mama gak masalah Emil, tapi tolong hargai mama" jawab Kia
"Emil hargai mama kalo mama gak lagi sering bawa pria masuk kekamar"
"yaudah okeh, asal mama minta kamu berubah, gak usah berteman sama Zaki Zaki itu"
sebulan berlalu, memang Kia membuktikan dirinya tidak lagi membawa beberapa lelaki lagi ke dalam kamarnya, tapi justru Dino dan Dion melihat heran dengan perubahan Emil yang lebih rajin, sering dirumah
"dek, tumben jam segini ada dirumah" tanya Dion
"iya tumben, gak main sama begajulan itu?" sambar Dino
"kan kakak yang minta aku begini, kalo aku begini malah kakak yang bingung, harus gimana jadi aku coba"
"ya bagus gini dek" jawab Dion
"yaudah sana bikinin kopi, sama masakin nasi goreng, bikinan kamu kan enak" kata Dino
karna memang ingin menjadi lebih baik, Emil memberikan semua permintaan Dino
"ma, dia bener berubah?" tanya Dino
"iya begitu lah, coba lihat aja itu"
__ADS_1
"kesamber gledek apa dah jadi berubah tuh anak"