Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
KCMSR #2


__ADS_3

"oh ya dulu lo deket banget sih sama Varza itu ya?"


"emm, yakin gue, inget betul ini rumahnya"


"Terus dia siapa Varza?"


"Tauk dah, masih saudara kayaknya, tipe wajahnya mereka masih mirip kan"


"emm iya juga, berarti yang anak anak palakin itu masih ada saudara dong sama si Varza" kata Linggar


"wooh ini rumah cewek yang kata anak anak lain gak kasih duit?"


"iya"


"wooh lo datengin sini?"


"iya, gue todong"


"duh, Varza tau, gimana?"


"ah gue kaga takut dia"


"elu bos kan, gue? anak anak lainnya?"


"ahh udah apa kata gue mah"


akhirnya keduanya pergi, mencari keberadaan Varza, tapi ditongkrongan Varza yang Risno tau, Varza gak pernah main beberapa hari kemarin, ada yang bilang ngamen keluar kota juga


jadilah gak ketemu sama Varza


beberapa hari berlalu, sepulang Varza dari Jogja, iya bertemu dengan beberapa temannya...


"Watap bro" sapa salah satu temannya


"Wey, Halo" sapa Varza


"Darimana aja lu kaga pernah nongol"


"Baru aja nyampek dari jogja"


"Langsung kesini?"


"Hem iya lah"


Temannya mengambilkan segelas bir


"Nih bro, eh iya kemaren, ada dua hari mungkin ada yang nyari lu"


"Nyari gue? Siapa? Kakak gue?"


"Bukan bukan, laki bro, entahlah sapa"


"Sapa yak, ciri-ciri nya?"


"Tinggi, yang tanya elu pendek sih, pernah sekali ke sini, waktu itu yang anterin elu pas lu bilang kaga ada angkot lewat jadi dia numpangin Lo"


"Oh dia, Risno, anak trek motor kan?"


"Ya kali, pokok itu dah"


"Ngapain"


"Tau, nanya elu, gue bilang aja lu kaga ada, gue bilang lu gak kesini berapa hari kok"


"iya udah"


Varza baru inget jika ia pernah meminta nomor Risno waktu itu, ia pun menghubungi Risno


"Halo" sapa Varza


"Ya, sapa ke"


"Gue, Varza, gue kan pernah minta nomor lu"


"Eh zaa"


"Iya, kata temen gue, lu ke basecame temen gue, nyari gue?"


"Iya zaa, pengen ketemu aja, sekalian ada yang mau gue tanya"


"Tanya apa?"


"Gimana kalo ketemuan aja"


"Oh yaudah Lo ke basecame aja, gue mager, baru Dateng dari Jogja"


"Okeh zaa, nanti gue kesana"


setelah mendapat telfon, Risno langsung mengabari Linggar dan menyanggupi nya


mereka pun pergi bersama hari itu juga ketongkrongan nya Varza


"Hai zaa" sapa Risno


"Hai, sini, masuk" ajak Varzaa


"Ya zaa, ini temen gue"


"Hey, Varza" sapa Varza


"Linggar" ucap Linggar


"Oh oh iya lu ngapain nyari gue?" tanya Varza kepasa Risno


Risno menjelaskan tentang Riana dan Linggar


"Nah zaa, temen gue ini pernah lihat cewek mirip banget sama Riana pacarnya dia itu, di rumah lu waktu tu, gue juga liat kok" jelas Risno


"Ah masak iya, lucu ya, ada aja"


"Serius lah zaaa, ini foto Riana"


Risno menunjukkan foto Riana membuar Varza kaget, karna itu adalah foto kakak pertamanya, sangat mirip, tapi ia tau betul, kakaknya tidak akan memakai baju itu


"Ini Riana kata lo? Masak sih" ucap Varza

__ADS_1


"Iya, ini Riana"


"Ouh, yaaaa sama ya sama kakak gue, nah dirumah gue punya dua orang kakak, satu Vika satu lagi Varda, kak Varda paling tua dirumah, ya mirip sih ini, besok atau kapan ya gue kenalin sama mereka" jelas Varza


"Serius ini lo zaa?" tanya Risno


"iyahh gampang lah nanti, besok ya"


malamnya, Varza datang kerumahnya, tidur beristirahat, lalu paginya makan bersama


tiga hari kemudian, Varza sengaja mengajak Risno dan Linggar kerumahnya


"Kak, bentar lagi temen Varza datang, suruh masuk aja ya, aku mandi"


"Ya dek" ucap Vika


tak lama Risno dateng bersama Linggar..


"Cari siapa lagi lo?" tanya Vika


Risno terdiam tapi Linggar menjawab


"Cari Varza" ucap Linggar


Vika kaget yang datang Linggar dan temannya malah tanyakan Varza, ternyata adiknya berteman dengan preman satu ino


"Kamu"


"Varzaa ada?" tanya Linggar


"Ngapain lu cari adik gue?"


"Gue diundang kok kesini"


"Suruh masuk aja kak, aku udah selesai kok" teriak Varza dari kamarnya


Vika terpaksa mengizinkan keduanya masuk


"Woi, lu jangan bikin gue tengsing" ucap Linggar kepada temannya


"Cantik dia bro, sumpah"


"Sapa?"


"Ini didepan kita"


"Hustt"


tak lama Varza keluar menyapa mereka berdua disana, dan juga duduk bersama mereka


"Watap bro" sapa Varza


"Hei" sapa Linggar dan Risno


"Naik apa kalian?"


"Metro mini, sekalian ngamen" ucap Linggar


"wey, Ris" sapa Varza


"Gue cantik maksud Lo, anjir gile Lo" ucap Varza


"Eh, bukan zaa, bukan, salah, maaf"


"Lu mikir pacar Lo?"


"Kaga zaa"


"kak, bikinin kopi tiga ya" teriak Varza


"Yaaaa bentar dek"


tak lama Vika kembali dengan tiga gelas teh


"Dek, kopi abis, ini ada teh"


"Enggak papa kok, gak papa" jawab Risno


"Risno" ucap Linggar


malah Risno memerhatikan Vika disana, Vika pun masuk lagi kekamarnya


Risno kembali fokus, dan menjelaskan maksud dari kedatangan nya untuk bertemu dengan Varda


"Bentar lagi Dateng, lagi kirim ke belakang rumah"


"Usaha telor ya zaa"


"Gitu lah, buat nyambung nyambung hidup aja"


Varda pun datang, seolah bagaikan penyakit menular, Linggar kini yang bengong dan terpaku


"Nah, ini kakak gue, yang jualan didepan itu, ini kenalin" ucap Varza


"Varda..." Ucap Varda


"Risno kak"


"Oh Risno sama oh ini kan yang..."


"Em iya, Linggar kak" jawab Linggar


"Linggar.. oh nama kamu Linggar?" tanya Varda


"Iya, sekalian aku mau minta maaf waktu itu bikin kesel"


"Santai aja, gak masalah"


"Loh kalian kenal" tanya Varda


Linggar menceritakan jika ia pernah bertemu dengan Vika, dan didepan rumah ini juga


ia menjelaskan jika ia pernah punya pacae yang meninggal dunia, dan itu penyebab nya menjadi brutal seperti sekarang, Linggar menceritakan semuanya didepan Varda


Ketika Linggar memberikan unjuk foto Riana, Vika kembali keluar karna penasaran juga

__ADS_1


"Wih iya, sama" ucap Varza kaget


"Em, gini bang Linggar ya, saya jelaskan, dibumi, wajah sama biasa, namanya juga berjuta-juta manusia yang hidup, kadang cerita dan kisah hampir sama juga kadang sama segalanya namun berbeda orangnya, itu biasa, jadi jangan berkutat sama masa lalu" jelas Varda


"Iya kak, maaf, tapi saya hanya tau wajahmu mirip sama pacar saya yang meninggal" kata Linggar


dan sejak itu, Linggar berusaha mengambil hati Varda dengan cara membantu menjualkan telor nya, yaaa kata lain menjadi sales barunya lah


setiap hari datang kerumah Varda, membawa masing masing sekilo telur dan menawarkan ke beberapa pelanggan di beberapa tempat baru


saat Linggar sampai dirumah Varda


"Kak, aku boleh gak bantu jualin" ucap Linggar


"waduh, minta bayaran berapa kamu" tanya Varda


"Gratis deh, buat Nebus Nebus salah, nanti biar aku ambil keuntungan sendiri aja, dapat dari kakak harga nya berapa nanti aku jualnya berapa kan terserah aku"


"oh gitu""


"Ayolah, bantu aja, sedikit gakpapa"


"Yaudah iya deh, boleh deh"


Akhirnya aku diperbolehkan membantu nya, Linggar menjualkan beberapa telur itu, tapi ia masih belum berubah total karna masih saja judi trek motor


"Linggar, kamu kirim kemana?" tanya Varda


"Tetangga aku, baru kan buka toko sembako, pesen dua Kerat telor ayam, sama satu Kerat telor bebek katanya kak" kata Linggar


"Oh, yaudah ambil digudang belakang aja"


"Yaudah kak"


"Eh, Linggar panggil Varda aja, terkesan tua saya"


"Haha baik Varda"


suatu hari, Linggar melihat ada seorang lelaki yang datang cukup lama mengobrol dengan Varda


Linggar tanya pada Varza ternyata itu adalah Ali Syah, ia lelaki yang resmi menjadi tunangan tapi belum kepikiran untuk melanjutkan pernikahan, tapi sudah tidak ada rahasia akan hubungan Ali dengan Varda


Ali sendiri adalah lelaki pekerja keras, sama dengan Varda, tapi Ali adalah pengusaha rumah makan, yang menjual makanan makanan daerah dengan wajib toping telur semua telur sesuai permintaan


"Sih, Varda kemaren diapelin" ledek Linggar


"Linggar, kamu tau?" tanya Varda


"tau Var, yeh, kecuali kamu apel didalam kamar ya kaga pernah tau gue"


"Ya haha bisa aja"


"siapa dia? pacarmu ya?"


"tunanganku"


"oh sudah tunangan?"


"iya sudah, masih 6 bulan, tapi rencana tunggu setahun, masih sibuk nyari uang buat pernikahan juga"


"oh gitu"


"dih kepo" ledek Vika


"kamu" ucap Linggar


"Lu ngapain tanya begitu kakak gue?"


"ya kan tanya, ada salahnya?"


beberapa hari kemudian Linggar mengatakan jika ia sebenernya suka sama kakak dari Varza itu kepada Varza


"Sebenernya zaa, gue sih suka sama Varda" ucap Linggar


"What, lu suka sama kakak gue"


"Iya"


"Mau lu kasih makan apa kakak gue? Telor tiap hari?" Ucap Varza


"Ya enggak lah, gue berusaha biar dia bahagia zaa, gue juga gak suram suram amat masa depan kan"


"This you bulshit"


"Enggak, janji gue zaa


"


"Percuma sih, kakak gue udah punya calon"


"Ali syah?"


"Iya, kan udah...."


"Gue langsung nikahin zaa, gue tau hubungan mereka lama karna gak ada keyakinan dari Ali syah itu, gue perhatiin semua tingkah dia belum siap nikah deh"


"Yakin Lo?" Ucap Virza menyepelekan


"Yakin, gue kerja bang kumpulin duit nikahin dia" jawab Linggar


"Eh apaan sih, entar lu, entar emang lu mau bahagiain kakak gue gimana lu aja masih brutal"


"Gue brutal, tapi gue berusaha keras benar-benar bahagiain Varda, zaa"


"Yaudah okeh, tapi kalo sampek kakak gue gak bahagia?"


"Lu apain gue pun gue terima"


"Gue tebas pala lu pek kakak gue kaga bahagia"


"Iya, siap gue"


"Bagus, inget, yang bikin Kakak gue bahagia gue restuin So far masih Ali syah yang bisa bahagiakan, sekarang waktu elu buktikan lu pantes kaga buat kakak gue"


"Siap zaa, gue buktiin kok"

__ADS_1


dan cukup dalam waktu setahun Linggar benar-benar bisa mengumpulkan uangnya untuk melamar Varda, terbilang sangat hebat hanya kerja serabutan, dalam setahun bisa menggelar resepsi mewah


__ADS_2