
arrgh mengapa mencintai sesulit ini.. apalagi mencintai yang tak ia ketahui, harus sampai kapan aku bersembunyi tapi jika aku bilang ke Dira pasti akan diketawain arrrgh pikiran ini kacau..
hanya karna seorang perempuan yang sebelumnya aku tak pernah ambil pusing untuk percintaan maupun hubungan
belum lagi ketika harus bertemu dengannya di jalan dengan seorang lelaki entah itu siapa karna menurut teman terdekat Dira.. Dira hanya akan mau jalan dengan lelaki jika itu kekasihnya.. dan aku mengikutinya sementara aku menghubungi sahabat baikku yang sebelumnya takku kenalkan pada dira.. yaa karna Dira terlalu cuek untuk tidak mau tau tentangku
setelah sahabatku datang aku memintanya untuk berpura-pura menjadi kekasihku
"hei"
"hei.. eh kau jadi kekasih ku?"
"hah?"
"ehm sorri maksutnya kau berpura-pura jadi kekasihku"
"didepan siapa?"
"itu, gadis berpakaian hem kotak-kotak hijau tua dengan lelaki yang sedang berkaos hijau tua"
"ouh.. kau suka sama dia"
aku hanya menatap sahabatku.. hemz dia seakan tau tapi kenapa istriku pun tak tau
"hai.." ucapku
"loh.. Yovie?" ucap Dira kaget
"lagi ngapain?" tanyaku
"ehm jalan aja ni, eh iya nih kenalin.. pacar ku" jawab Dira
"Habibi" ucap nya mengenalkan diri
"Yovie.."
"eh ini siapa?" tanya Dira
"eh iya kenalin.. ini pacarku, Tissa"
"Tissa" ucapnya mengulurkan tangan
"Dira" jawab Dira
"gimana kalo double date?"
"boleh, nambah seru malah" ucap Habibi
Tissa sahabat baikku dan diapun tak tau soal pernikahan ku karna sedang diluar negri dan sekarang diindonesia karna sedang berlibur
Habibi kekasih Dira.. entahlah mereka berkedok seperti ku dan Tissa atau real, kuharap sepertiku, jadi aku masih bisa bernafas lega..
tapi jika mereka sepertiku dan Tissa tak mungkin Habibi seperhatian itu membelikan barang ini itu kepada Dira sedangkan aku terpaksa membelikan Tissa karna takut kalah saingan dengan Habibi
"ehm.. Yovie.. aku sama Habibi misah dulu ya.. kita mau jalan ke tempat lain"
"ehm oke"
mereka pun berlalu, cukup sakit ternyata ya..
"hei.. yang sabar yaa.." ucap Tissa
"ehm gkpapa.. makasih ya.. jadi ngerepotin kamu"
"gakpapa lagi, ini barang-barang nya buat aku beneran?"
"iya.. ambil sudah, yaudah aku anter kamu?"
"eh gausah yov, nantik ketahuan calon suami ku"
"ehm oke makasih ya.. lain kali bisa kan aku kontak lagi kalo ada perlu"
"bisa bisa asal dua bulan lagi ya"
"kenapa?"
"ya karna memang aku akan pindah ke Indonesia lagi"
"serius?"
"hemhem"
di samping pintu keluar mall itu aku melihat ada toko perhiasan..
"Tissa.. mampir kesitu dulu ya, aku mau belikan Dira kalung"
"boleh.."
"menurutmu cocok yang mana buat Dira?"
"ehm.. ini" menunjuk kalung dengan liontin berbentuk kucing..
"bagus.. mbak ambil ini ya"
"berapa harganya mbak?" tanya Tissa
"murah.. 250juta doank"
"apa yov? segitu bilang doank? buat aku lunas dah mobil ku"
"haha bisa aja kau"
"eh udah datang tuh yang jemput aku"
"eh oke makasih ya"
Tissa berlalu akupun menuju rumah..
sesampainya ternyata dira juga belum sampai.. aku menunggu hingga larut malam
waktu menunjukkan pukul 17 ia baru datang
__ADS_1
"kenapa baru datang" ucapku kesal
"kan tau sendiri aku jalan sama Habibi"
"ya ya.. tapi..."
"tapi kan udah ada diperjanjian dilarang kepo"
"yaudah lah" ucapku kesal
tak beberapa lama Dira keluar dengan baju baby doll nya.. yang kelihatan lebih cantik dari saat ia memakai baju biasa
"nonton sinetron Anak Langit, yov"
*masih rame rame sinetron itu sih
dan aku menggantikan channel-nya
"nih kau mau" menyodorkan camilan
"tidak.."
"yaudah.."
"kamu masih sayang sama Yofan gak dir?"
"Yofan? udah terkubur lama yov, jadi tenang aja kamu"
"iya soal Yofan tenang tapi soal Habibi" ucapku pelan
"kenapa yov?"
"hem enggak, kalo Habibi tadi kamu sayang sama dia?"
dia hanya menatapku tanpa menjawab ku
"kamu sayang gak sama Habibi"
"Ya kalo udah pacaran ya sayang lah"
"Hemz, sedikit aja buat aku gak ada ya rasa itu dir?" ucap ku dalam hati
"kenapa?" tanya Dira
"gkpapa, kamu gak mau tanya soal aku sama Tissa"
"ehm itu udah main sinetron nya"
hem lagi lagi cuek..
"aku tidur duluan"
"tumben"
"capek"
"okeh"
"Kenapa kau tak pernah tau perasaanku" ucapku dengan sedikit teriak kecil
-POV DIRA-
yaaaa dimana ada pernikahan yang tak dilandasi cinta? kurasa ini hanya kisahku dengan Yovie karna dengan jalan ini saja aku tak lagi merepotkan kedua orang tuaku, dan cara berterima kasih ku pada Yovie atas donor darahnya
perjanjian pun kulayangkan.. tak mau kalah dengan Yovie..
dan saat mama Yovie nginep dirumah barulah aku mau sekamar dan seranjang dengannya
sejak perhatian nya malam itu entah aku lebih bisa sedikit menyukainya.. salah kah ini? semoga tidak..
dan suatu hari aku berkenalan dengan Habibi.. Habibi mantan dari teman ku yang pernah menyatakan cintanya saat dia masih berpacaran dengan sahabatku sedangkan ku masih berpacaran dengan adiknya
yaa Habibi datang di waktu yang benar benar tepat saat aku perlu lelaki lain sebagai pelarian, yaa hanya pelarian jika bosan dan kesal dengan Dira tapi tak mungkin melampiaskan ke Yovie
hingga suatu hari saat jalan dengan Habibi, di mall bertemu dengan Yovie dan kekasihnya..harus bagaimana ini? harus profesional jangan tunjukkin salting mu dir
dan semua berlalu.. aku dan Habibi pun berpisah sama halnya dengan Yovie dan Tissa
sesampainya dirumah ternyata sudah didapati Yovie datang terlebih dulu, aku berlalu menuju kamarmu lalu mandi, setelah mandi aku menuju dapur mengambil tatanan untuk camilan yang sudah dibeli, dan sesampainya diruang tv sudah menunggu sosok Yovie disana
tak beberapa lama kami berbincang
"nih kau mau" menyodorkan camilan
"tidak.."
"yaudah.."
"kamu masih sayang sama Yofan gak dir?"
"Yofan? udah terkubur lama yov, jadi tenang aja kamu"
"Iya soal Yofan tenang tapi soal Habibi" ucapnya pelan
"kenapa yov?"
"hem enggak, kalo Habibi tadi kamu syang sama dia?"
"aku sayang sama kamu bukan Yofan atau Habibi dan lelaki lain" ucapku dalam hati sembari menatap tajam mata Yovie
"kamu sayang gak sama habibi"
"sayang nya sama kamu ngerti gak sih" ucapku lagi dalam hati
"ya kalo udah pacaran ya sayang lah, kenapa?" ucapku
"gkpapa, kamu gak mau tanya soal aku sama Tissa"
"ehm itu udah main sinetron nya" ucapku menghindari pembicaraan
"aku tidur duluan" ucapnya
__ADS_1
"tumben"
"capek"
"okeh"
saat Yovie sudah menutup pintu kamar nya aku mendengar nya dari luar yang teriak kecil bahwa ia sayang sama aku..
"maafin aku yov.. hanya saja gengsiku terlalu besar dari rasa sayangku untuk mu, tapi jika kamu menyatakan cintamu aku akan menerima mu sebagai suamiku" ucapku sembari menyentuh pintu kamar Yovie
keesokan harinya tak seperti biasa kenapa Yovie tak berangkat kerja?
aku mengetok pintu nya tapi tak juga ia buka, aku buka ternyata tak terkunci kubuka perlahan ia masih tidur
aku terus memanggilnya tak juga bangun dan biasanya saat kubuka jendela nya dan biarkan sinar matahari masuk, ia pasti akan terganggu dan bangun tapi ini tidak ia malah menggigil
Kuraih keningnya ia panas tinggi..
arrrgh membuatku gelagapan.. aku segera mengambil air dingin untuk kompres menurunkan panas badannya
dan aku kompreskan beberapa menit panas nya mulai menurun dan ia tak lagi menggigil dan saat ku kembali ia meraih tangan ku
"Aku mencintaimu"
"maksutnya Tissa" ucapku dalam hati
aku memaksa melepas tanganku
sorenya Yovie sudah mulai bangun
"udah bangun yov" tanyaku
"hem.. udah.. maaf ya ngerepotin"
"gakpapa.. nih makan"
"makan? kamu masak? buat aku"
"ya itu ayam bakar pedas kesukaan siapa lagi kalo bukan kamu"
"makasih ya"
"heem.."
sejak saat itu aku dan dan dira mulai dekat..
jalan, sharing dan mulai berani saling cerita, aku dan Yovie mirip seperti dua manusia yang sedang baru mengenal cinta dan ia sudah mengaku jika Tissa hanya sahabatnya dan akupun mengaku memang benar berpacaran dengan Habibi tapi aku akan memutuskannya ditemani Yovie cuman Yovie berada ditempat lain untuk jaga-jaga sewaktu Habibi berbuat nekad
aku memutuskan Habibi
saat itu.. aku mengajaknya bertemu..
"kenapa nih, ada apa ngajak ketemu cepet"
"aku mau ngomong"
"heem ngomong aja"
"aku mau kita selesai"
"selesai?"
"yaa kita akhiri hubungan ini"
"kenapa?"
"sebenarnya aku sudah bersuami"
"apa kamu istri orang, lalu suamimu yang mana?"
"kurasa tak perlulah kuberi tahu siapa suami ku pasti akan kacau" dalam hati
"kenapa diam?" tanya nya
"intinya aku mau kita selesai, sampai disini"
"enggak.. aku gak mau, aku udah sayang sama kamu, aku rela jadi yang kedua selamanya pun"
"maaf gak bisa, aku mencintai suamiku" ucapku sembari berjalan meninggalkan nya
"denger dir, aku tak kan diam begini saja setelah apa yang kita jalani, aku akan menghancurkan rumah tanggamu dan membuatmu kembali padaku" ucapnya sedikit teriak
aky tau Habibi tak menerima hal itu ia mencoba mengancam ku untuk menghancurkan rumah tanggaku
aku berlalu bersama Yovie, karna aku memang sengaja mengakhiri hubunganku dengan Habibi waktu itu didepan Yovie
saat jalan bersama
"kamu gak nyesel kan dir?" tanya nya
"enggak sama sekali"
"kamu tenang ya.. aku selalu ada untukmu dan takkan membuat mu disentuh siapapun"
Yovie memelukku
dan tak terasa dihari spesial ku dan Yovie..
tak terasa kini universary pernikahan ke-II
Yovie memberikanku kado
saat kubuka isinya ternyata kalung.. ya kalung ini pasti mahal.. kotaknya saja pasti bisa kujual untuk beberapa kebutuhan apalagi kalungnya karna aku tau ini kalung pernah ditaksir sahabatku saat aku dan dia shopping
"ini buat aku yovie?" tanyaku
"iya untukmu"
"ini kan mahal"
"lebih mahal dan berharga pernikahan kita"
__ADS_1
aku menunjukkan senyum semringah