Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
ML #2


__ADS_3

"Mungkin lagi gaenak badan" ucapku


Aku pun sebenernya merasakan yang sama hanya saja aku menutupi, karna Dissa tidak sedekat misya denganku, aku takut ini sampai kemana-mana


"Oh mungkin ya.. makanya pucet juga, ternyata sakit" ucap Dissa


Dissa pamit pulang karna ada klien lain, tepat bersamaan dengan kevin yang baru dari toilet


"Yaudah makasih ya dis" ucapku


"Iya.. yaudah pulang ya mit, mari kak Kevin" sapanya


Kevin menjawab dengan mengangguk saja


"Kok lama ditoilet?" Tanyaku


"Iya sakit perut tadi"


"Oh, yaudah, kita pesen makan dulu ya"


"Em terserah kamu, aku temenin kok"


"Yaudah, gue pesen dulu"


Akhirnya aku bisa pesan makanan kesukaanku -nasi goreng-


Tak lama pesanan datang


"Ini kamu" ucapku


Terpaksa keikut aku kamu ngomongnya


"Loh aku enggak mit.."


"Loh kenapa?"


"Tadi udah makan mau jemput kamu"


"Iya udah gakpapa makan aja sedikit"


"Enggak deh, kenyang gue"


"Yah udah aku pesenin ini kan mubazir"


Terpaksa aku meminta kertas bungkusan untuk nasi goreng satunya


Aku bungkus untuk ayah


"Mbak, ini bungkusin satu ya" ucapku


"Baik mbak" ucap pelayan


Tak terasa sebulan berlalu, selama itu tanpa Imron justru sering dengan kevin


Waktunya aku memberikan pengertian pada Kevin soal Imron


"Kamu paham kan, jadi jangan dulu temuin aku" ucapku pada kevin


"aku akan jadi apa aja yang kamu mau asal aku bisa dekat dengan mu selalu" ucap Kevin


"Ya gak mungkin Vin, pacarku pemarah, egois, bisa-bisa antara kamu sama aku bisa mati atau dua-dua nya" ucapku


"Aku akan jamin, Imron tidak akan tau setiap kita keluar dan aku akan selalu di sampingmu" ucapnya menegaskan


"Ya caranya gimana.. ya tau lah kalau kamu deket-deket terus ke aku"


"Itu urusanku"


Iya pergi


Aku perlu Anwar menjelaskan semuanya agar Kevin paham


"Anwar.." panggilku saat dikantin sekolah


"Eh mita"


"Bisa ngobrol"


"Bisa bisa, ada apa"


"Jelasin ke Kevin soal gue sama Imron ya, dia enggak mau tau tuh sama kondisi gue, dia maksa deket gue, kan Lu tau gimana Imron"


"Ouh gitu, yaudah nantik gue ngomong ke dia deh"


"Bener ya.. thanks loh"


Sorenya saat santai didepan rumah


"Beby" sapa Imron


"Beb, udah Dateng?" Sapa ku


"Ini aku bawain kamu makan. Makan sana"


"Iya.."


Hari-hari berikutnya, kembali mengencangkan nafas lega ku


Imron datang, aku tak sebebas kemaren


Kadang terpikir, putus, gimana reaksinya ya.. tapi udahlah jalanin aja


Esoknya


"Anwar.." sapaku


"Eh mita.."


"Gimana kamu udah bilang sama Kevin?"


"Udah"


"Apa katanya?"


"Iya dia bilangnya"


"Syukurlah, soalnya Imron tadi sore udah kerumah"


"Uh yang sabar ya"


Benar, Kevin tidak mendekat padaku saat ada Imron, dan mata-mata Imron kenapa tidak ada laporan lagi soal aku dengan beberapa temen disekolah


"Bagus deh, sedikit bebas kan jadinya" ucapku dalam hati


Karna memang Imron sering sibuk urusannya dikampus membuat nya sering tidak ingat padaku


Tiba-tiba Kevin datang...


"Kamu, ngapain kesini, tar Imron tau"


"Dia gak akan tau"


"Kamu nih, bukan saatnya bercanda Kevin"


"Iya kamu tenang aja, aku cuman mau bilang, kalo salah satu temen kamu jadi mata-mata Imron itu tino"


"Tino?"


Tino teman satu kelas, pantes aja Imron tau aktifitas ku, Imron membayar jasa Tino untuk hal ini


Esoknya aku menemui Tino


"Tino" panggilku

__ADS_1


Dia sempat menghindar tapi Nando dan Geri membantuku mencegah nya


"Kenapa mita" tanya geri


"Ini ada perlu, eh elu ya yang jadi mata-mata nya si Imron"


"Enggak mit, bukan bukan"


"Ngaku aja udah" ucapku kesal


"Ngaku enggak, kalo enggak liat aja" ancam Geri


"Eh iya iya gue iya"


"Kenapa lu mau"


"Dipaksa"


"Terus sekarang lu masih kasih informasi"


"Enggak mit"


"Kenapa?"


"Aku... Aaa.. ak... Akku.."


"Kenapa"


"Didatengin manusia aneh di mimpiku, semacam drakula"


"Maksutnya"


"Aku didatengin drakula suruh berhenti dan bilang ke Imron, tapi aku gak boleh ngomong sama kamu sama Imron biar nyangkanya aku masih mata-mata kamu"


"Drakula siapa"


"Gak jelas, dia ancam aku akan mati"


Geri dan Nando melepaskan nya karna takut dengan pernyataan nya


"Mit, aneh enggak sih?" Tanya Nando


"Ya kan mimpi nan" ucap geri


Aku hanya diam, drakula?vampir? Siapa tapi, kenapa serang Tino


Aku menceritakan pada misya


"Ya ambil hikmahnya kali, lu bebas disini mita" ucap misya memelukku


"Ya bebas sih"


"Tinggal putusin dia, deketin Kevin"


"Apa sih tiba-tiba Kevin"


"Gue liat Kevin suka sama elu deh"


"Ya gue juga, gue cowok mita, gue tau kok mana suka mana enggak"


Aku hanya diam..


Masih teringat pertemuan pertama dengan kevin waktu itu


Ada yang bilang dia tak nampak di cermin


Ingin sekali mengetes tapi takut, takut fakta yang kudapat membuatku takut pada lelaki itu


"Sore mita" sapa misya


Sorenya misya datang kerumahku


"Eh mis.. sama siapa?"


"Tumben, kenapa?"


"Aku ada ide bagus"


"Apa.."


"Minta bantuan si Kevin aja kenapa"


"Bantuan apa?"


"Putus dari Imron"


"Gila lu"


"Lah gue tau lu kan udah hambar ke Imron, udahlah nurut gitu aja repot"


Aku hanya diam


Esoknya disekolah


"Anwar" sapaku


"Eh mita"


"Akhir-akhir ini Kevin jarang keliatan sibuk ya"


"Biasa banyak tugas di kampusnya"


"Ou"


"Kenapa mit?"


"Enggak, salamin ke dia ya, lusa aku mau ngomong sama dia"


"Oh okeh deh"


Lusa pun Kevin datangi aku disekolah


"Hai mita" sapanya


"Eh hai, ehm kita bisa ngobrol?"


"Bisa.."


"Kamu bisa bantu aku putus sama Imron"


"Pacar kamu?"


"Iya, bisa?"


"Tentu"


"Caranya?"


"Urusan ku"


Aku serahkan semuanya pada Kevin, karna memang aku tidak tau lagi caranya bebas dari Imron


Sebulan berlalu, dengan bebasnya Imron tidak sering menghubungi ku


Ku tanya kabarnya dari temen-temen ditongkrongannya, banyak yang bilang Imron selingkuh, sering jalan sama cewek lain di kampusnya


"Imron" ucapku saat melihat dia dengan wanita lain


"Mita" ucapnya kaget


"Iya.. siapa dia"


"Dii di dia dia.." ucapnya gugup

__ADS_1


"Siapa Imron"


"Dia.."


"Siapa"


"Okeh, dia pacar aku, maaf aku ga bisa sama kamu dengan lelaki jadi-jadi an mu"


Lelaki jadian? Siapa?


Yasudah lah terpenting aku bebas, gak masuk akal sih tapi bagaimana. Aku sendiri bingung kenapa dengan Imron


Dan hari hari ku kembali berwarna


Aku berikan kabar ke misya dan yang lain, turut berbahagia


Aku menemui Kevin ucapkan terima kasih mungkin salah satu usaha nya tapi justru ia tidak mengetahui soal Imron


"Bukan, bukan aku Mita.. aku gak tau juga, tau-tau jalan sama cewek lain"


Gak tau kenapa, apapun membuat Imron meninggalkan ku membuat aku tak peduli asal tidak lagi dengannya


Mungkin karna hatiku mulai terbuka untuk Kevin


Hari-hari selanjutnya, sering dengan kevin, berbeda jauh dengan beberapa mantan pacarku, Kevin cenderung diam, tidak banyak larangan ini itu


"Kamu kan mau lulus, nantik kemana setelah lulus?" Tanya kevin


"Kuliah, aku mau nyoba di UI, semoga aja kena"


"Yaudah bisa.. nantik sering ketemu aku, Imron juga"


"Beda jurusan, aku pengen ke jurusan komunikasi"


"Ou, yaudah semoga kena deh, kan bisa deket aku"


"Iya sih"


Sebulan lagi, hari kelulusan, setelah hasil lulus keluar aku mendaftar ke UI


Tak terasa, UI menjadi milikku, sayang milka, salah satu teman dekat ku juga tetangga ku meskipun rumahnya sedikit jauh tapi dia teman yang rumahnya paling dekat denganku, ia menikah keluar sekolah, misya melanjutkan kerja usaha milik ibunya dan aku tinggal dengan Nando dan Geri, dan juga Dissa


"Dissa?"


"Mita.. kamu disini juga"


"Iya dis, aku disini"


"Ambil apa?"


"Bahasa dan sastra Indonesia"


"Yah gak sama"


"Yang penting kita satu kampus lagi mita"


Karna Nando teman dari lama ku dengan Dissa, jadi tak perlulah kenalan, justru Geri, Geri teman di SMA jadi perlu kenalan


"Dis, kenalin ini geri, teman sekolah SMA ku"


"Hay Geri" sapa Geri


"Dissa"


Mungkin sejak kenalan ini mereka dekat, ya anggaplah aku Mak comblang nya


Hari-hari berikutnya, aku sering bertemu dengan kevin begitupun Imron, hanya saja Imron sering dengan banyak wanita..


Aku sudah tak perduli itu


"Mita.. itu bukannya Kevin ya" tanya Dissa


"Oh itu, iya kan dia kuliah sini"


"Loh di Disini"


Penjadwalan untuk ospek dimulai Senin depan, masih ada waktu seminggu bersantai


Setelah hari pertama ospek dimulai


"Hay.." sapa seorang wanita


"Iya.."


"Kenalin, aku ratu"


"Oh iya aku Mita"


Dapat teman baru, namanya Dwi Ratulangi


Banyak yang panggil dia ratu


Dia teman yang baik, ya sejak perkenalan di ospek aku dekat dengannya


"Mita, temenan sama aku mau kan"


"Ya mau lah, nantik aku kenalin ke temen-temen ku yang lain deh"


"Bener?"


"Iya"


Tak lama kakak senior datang, memberi beberapa jadwal kegiatan


Terlihat diantara pengurus ospek disana salah satunya Kevin dan dua temannya


Tak beda jauh dengan kevin, wajah pucat, tanpa ekspresi, kaku, dingin


"Hay mita, kenalin temen-temen ku, juga masih sepupu jauh kok, ini Rino yang ini Bimo"


"Hai, aku Mita, eh iya ini teman ku, ratu"


Kevin memperkenalkan aku pada mereka


Bimo dan Rino, masih sepupu dengan kevin katanya


Tapi ada hal yang membuatku heran. Kenapa kedua nya mengembus embus mirip kucing mencari ikan dan itu sering terlihat setiap kali aku melihat mereka


"Kak Kevin" sapaku


"Kok kakak?"


"Iya kan kamu kakak senior"


"Iya deh, kamu udah makan?"


"Belum"


"Kenapa?"


"Keburu kesini nya tadi"


"Ou ntar istirahat ke kantin, makan"


"Iya temenin ya"


Aku berjalan menuju kantin, di kiri pintu masuk kantin, ada sebuah kaca cukup panjang tidak begitu lebar


Aku masih penasaran soal Kevin, siapa dia sebenarnya, mengapa membuatku penasaran terus


"Emm disana aja kak, deket sama toilet"


Ucapku beralasan agar Kevin melintasi kaca didepannya dan aku membuktikan

__ADS_1


__ADS_2