
"berkas pembatalan kontrak, sama managemen argobisnis"
"em.. di.."
"di kamar mungkin ya, bentar aku ambil"
"emm iya iya"
melihat pras menuju kamarnya, putih mendekati arah dapur dari luar
"arya"
"put... kenapa?"
putih menarik tangan arya menjauh
"kamu ya, ngapain sih"
"aku cuman pengen liat kamu, lama gak ketemu"
"udah kubilang jangan kesini, kita selesai, please lah mengerti aku"
"udah kubilang pula kan, aku gak bisa putiiih, aku gak bisa mudah melupakan"
melihat pras yang sudah kembali, putih bergegas kembali
"loh sayang, dari mana?"
"em... dari luar tadi mules lagi, perutku gak enak.. sakit"
"oh, kirain ada apa, ya udsh bentar lagi aku berangkat kamu istirahat, jangan aktivitas"
"iya"
"oh iya mas, aku hari ini kerumah sivilia ya, aku mau kabari mama soal hamil" ucap putih
"oh iya, mama belum tau ya, yaudah aku anter sekalian"
"iya deh"
sesampai nya dirumah sivilia..
tak ada orang disana.. pras menelfon nomor mama tak diangkat, akhirnya menelfon sivilia
"halo, vi, dimana?"
"kak, mama bang, mama drop, masuk rumah sakit"
"mama masuk rumah sakit, kapan, kamu kok gak kabari"
"semalam bang, dirumah sakit berlian ya bang"
"mama masuk rumah sakit?" tanya putih
"iya"
sesampainya dirumah sakit..
"kenapa mama"
"drop bang"
"padahal baru aja aku mau kabari kalo aku hamil" ucap putih
"kamu hamil? pantesan udah mama drop"
"tunggu, hubungan mama drop sana hamilnya putih apa?" tanya pras
"mama pernah bilang kak, mama akan pergi dengan tenang saat ajal menjemputnya ketika nanti jika putih Hamil"
"mama bilang gitu?" tanya putih
"iya, dia bilang hidupnya tinggal menunggu kehamilan putih, dan lengkap sudah ia mendapatkan cucu dari semua anaknya"
putih memaksa masuk ke dalam ruangan, karna melihat memang mama ima membutuhkan putih, dokter memperbolehkan putih masuk
"ma..." sapa putih menyentuh kening ima
"putih, mama sakit, tubuh mama kayak ada yang tarik tarik"
"ma, bilang apa sih"
"kamu hamil?"
"belum ma"
"tapi sering mual?"
"putih datang bulan aja ma"
"putih, mama tau kamu berbohong, putih, mama akan tenang kalo kamu hamil anak pras, mama tenang perginya"
"ma... mama bertahan dong, mama gak mau liat cucu dari mas pras.."
mama ima hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala nya
tak lama ia menutup matanya
"ma... mama..." ucap putih
"ma... mama kenapa dok" tanya pras
setelah diperiksa
"mama cuman tidur, butuh istirahat.. mohon keluar biarkan beliau istirahat" ucap dokter
"tapi mama gak papa kan dok"
"gakpapa, beliau cuma tidur ini kok"
dan bak penyelamat nyawa ima, putih berhasil membuat mama bertahan
__ADS_1
hingga akhirnya putih melahirkan dengan normal, membuatnya pras bangga dengan putih karna melahirkan anak lelaki, seperti yang diketahui, jika ayi dan sivilia melahirkan anak mereka dengan kelamin perempuan..
"dokter.. saya boleh pinjam data kelahiran anak putih?" tanya arya
"boleh dok, silahkan, mungkin direvisi ada kesalahan"
yaaa berkas beralih ke tangan arya.. seperti yang tak banyak diketahui jika RS BERLIAN ternyata milik arya
semakin lega lah ima..
baru saja bisa memeluk sang cucu malamnya, esok paginya justru mama ima menghembuskan nafas terakhirnya..
"ma... sarapan ya.." sapa pras
pras kebetulan mengambil alih pekerjaan rumah karna putih masih belum begitu pulih
"maaa.. lah belum bangun dia, maa ini ma, pras bikinin bubur kacang ijo, kan mama sama papa sering sarapan ini dulu" sapa pras
tapi ima tak menjawab, tetap tertidur
yaa, mama menepati permintaan putih, bertahan hingga cucu dari nya lahir..
"ma... mama kok dingin sih ma"
"maaaaaa... bangun maaaa..." teriak pras..
hingga putih yang harus banyak diatas ranjang pun turun dan berjalan merangkak sedikit demi sedikit menahan sakit, sementara sivilia ayi dan istri ayi pun menyusul
"ma.. mama" ucap putih
putih ingat betul, ia meminta mama bertahan, supaya bisa menggendong cucu dan mama ima mengiyakan, dan kini mama ima pergi dengan tenang..
"ma... bangun ma..." ucap pras menangis
sivilia dan ayi pun turut bersedih karna mama ima telah pergi dengan tenang..
penyesalan lah yang menghantui ketiga anak ima..
yaaa, putih bukan anak yang dilahirkan dari rahim mama ima, putih juga satu-satu nya menantu yang sering ima omeli, marahi, tapi putih terus mengabulkan permintaan mama ima, apa yang diinginkan putih pun melakukan..
demi ibu mertua.. itupun putih menyesal belum membahagiakan mama ima
apalagi ketiga anaknya yang jelas jelas sempat membuang ima ke panti jompo, bahkan tak peduli dengan masa tua mama ima.. yaa hanya putih yang peduli itu
kini semua terlambat, kesempatan berapapun takkan pernah mereka dapat
"bang, aku nyesel bang, maaaa bangun, maaa sivilia kan mau nikah ma, bangun ma..." ucap sivilia
"maaa, anak anak ku masih butuh neneknya ma" ucap ayi
hanya pras yang terdiam, yaa ia yang paling terpukul dengan kondisi ini, karna ia yang paling jahat kepada ima
merekapun menyiapkan pemakaman dan saat akan pergi, arya datang..
"arya, kamu jangan kesini sekarang" ucap putih
"aku mau nawari bantuan, bagaimana kalo aku yang bawa biyan"
"tapi..."
"udah gakpapa ya"
"iya udah tapi jangan macem-macemin anakku"
"iya put, lagian mau ku apain cobak"
setelah pemakaman selesai, pras masih tetap duduk disamping makan ima
begitupun putih yang menemani pras disana
tak lama arya datang..
"kamu, he, biyan kenapa sama kamu, sini, dia anak aku, biar aku yang bawa" ucap pras
"aku cuman bantuin kamu aja, coba gak ada aku, kamu mau ninggalin anak kamu sendiri dirumah kamu nya kesini gitu? apa gak lebih berbahaya yang begitu"
pras menarik kerah baju arya..
"mas, udah udah, ini pemakaman mama, masih aja ribut, kamu juga, udah sana pulang aja, aku gppa, makasih udah jagain biyan, plis jangan pernah ganggu aku lagi" ucap putih
"iya put, maaf ya"
ayi menarik tangan arya menyuruhnya pergi
beberapa hari kemudian, saat niat arya menyimpan berkas kelahiran biyan, tak terlaksana, karna prosedur jika berkas hanya untuk instalasi..
arya pun memberikan berkasnya...
esoknya ketika pras kembali harus bekerja.. Putih pun mengasuh sekaligus membersihkan rumah
sorenya arya menuju rumah putih dan hanya melihat dari dalam mobilnya... saat putih sedang sibuk ditaman kecil dekat kolam ikan milik putih
tak lama seseorang masuk dengan paksa kedalam mobil arya
"hei, kau siapa?" tanya arya
"em.. udah jangan berisik, ada pras dibelakang"
"ha.. pras?" ucap arya kaget
mendengar pras yang sudah pulang, ia pun menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat
pras sekilas melihat memang seperti ia mengenali mobil itu
"arya bukan.. tapi masak iya" ucap pras dalam hati
pras pun masuk..
"dah pulang" tanya putih
"iya" ucap pras mencium kening putih
__ADS_1
putih membawakan tas dan jas yang dikenakan pras
"biyan tidur"
"iya dari siang tadi sih"
"emmm, eh sayang, ada tamu seharian ini?"
"tamu? enggak"
"em"
"kenapa yang?"
"aku tadi liat mobil didepan rumah, aku dateng eh dia pergi, ku kira tamu"
"masak yang, enggak ada tamu tadi, numpang parkir mungkin yang, kan depan itu adem"
"iya kali ya"
sementara arya yang pergi membawa orang yang tak dikenal nya pun heran
"kamu siapa sih" tanya arya
"lah, kamu siapa?"
"kan yang masuk mobil saya itu kamu, kenapa malah tanya balik?"
"ya maksud saya kenapa kamu pergi saya bilang pras datang, diem aja kali, toh saya cuman numpang sembunyi doang"
terdiam sejenak, lalu pelankan laju mobilnya, arya mengatakan tentang nya
"saya arya, saya terkesan sampai terjerumus menyukai putih berlebihan, tapi saya tak bisa apa apa, saya hanya bisa diam, dari kejauhan ketika saya menyukai yang bukan milik saya tapi milik orang" jelas arya
"kamu suka sama putih, putih istrinya pras kan?"
"iya, eh kamu sendiri kenal pras?"
"yaaa.. saya mantan tunangannya, saya ola"
"mantan? oh kamu ditinggal pras menikah sama putih?"
"bukan"
"lalu?"
ternyata dia adalah ola
"saya ditinggal karna kebodohan saya selingkuh dengan lelaki lain, dan saat saya menyadari kesalahan saya ingin kembali lagi justru pras dijodohkan, bukan sama putri, yaa pras dijodohkan dengan wanita lain, pilihan tante ima, tapi memang yang saya tau, pras menyukai putih sejak sebelum bersama saya"
"em, jadi maksud kamu putih menikah dengan pras yang berstatus duda"
"tepat"
"lalu tujuanmu?"
"aku masih mengharapkannya, yaa aku tau kepergiannya karna kebodohan ku, tapi aku tau itu, aku juga kenal baik dengan putih, itu alasanku kenapa aku tak mau langsung beraksi merebut pras. karna memang putih cukup baik"
saat tepat untuk arya merekam percakapan mereka
"em... lalu tujuan awalmu?"
"eh, saya minta kontakmu" ucap ola
"boleh"
setelah bertukan kontak
"nah, kamu suka kan sama putih, gimana kalo kamu sekutu dengan saya.."
"sekutu untuk kamu dapetin pras"
"kamu juga dapetin putih dong"
"oh, enggak, sorri, saya bukan lelaki seperti itu, saya ingin bersaing sehat"
"bersaing sehat bagaimana, jika sudah terlambat, ini bukan sebuah hubungan pacaran, tapi hubungan pernikahan, sulit lah dapetin"
"yaaa saya tau tapi saya tidak begitu, biarlah saya melihat dari arah kejauhan.. itu cukup"
"dasar" ucap ola kesal
"saya turun di halte depan" ucap ola
beberapa hari kemudian, ketika ola menyadari ia sedang hamil dengan kekasihnya namun kekasihnya tak mengakui kehamilan ola..
pras yang tak sengaja bertemu ola di sebuah cafe, merasa ola sedang ada masalah, ia pun mendekatinya
"ola" sapa pras
"pras... "
ola pun memeluk pras sembari menangis
"kamu kenapa?"
"aku hamil pras"
"hamil?"
"iya"
"sama kekasihmu"
"iya, tapi ia tak mau mengakui, aku harus gimana pras didepan keluarga ku pras, mereka pasti marah besar"
"gimana ya... susah sih kalo dianya gak mengakui"
"pras bantu aku cari jalan keluar"
"aduh, aku sendiri gak ngerti harus apa la...."
__ADS_1