
hari terus terus berlalu, dimana semakin sering juga bertemu nya Arin dan Tara semakin pula membuat kecemburuan seorang Gino
suatu ketika, Tara yang ketika itu sedang melihat Arin berdiri tepat disamping beberapa orang suruhan ayahnya untuk memaksanya cepat menikah, menarik Arin, karna akan bahaya jika Arin mengatakan dimana dirinya
namun ketika ia akan mendekati Arin, iaa didului oleh beberapa orang itu..
"nona, apa kau orang sini?" tanya pesuruh ayah nya
"iya. ada apa ya pak?"
"apa kau melihat orang ini?"
"oh pak Tara" Arin pun menoleh kanan kiri, dan melihat seseorang bersembunyi dibalik tembok tak jauh dari nya berdiri
"oh itu pak, dibalik tembok, tadi saya lihat seperti jaket pak Tara"
kedua pesuruh ayah nya itupun mendekati arah tembok, namun Tara berputar dan menarik Arin dengan menutup mulut Arin menjauh dari tempat itu..
dan ketika Arin bersembunyi dengan Tara, wajahnya begitu dekat dengan Tara, Tara yang terus menatapnya
namun karna terlalu dekat, seperti hampir berciuman
"astaga" ucap salah satu mahasiswa disana yang kaget
"oh.. kamu salah paham" ucap Arin
"iya.. gak seperti yang dilihat kok faktanya" jawab Tara
Gino yang bingung mencari keberadaan Arin pun melihat murid kampus itu yang sedikit teriak kaget
"ada apa?" tanya Gino
Arin pun kaget Gino ada disana
"Gino"
"Arin.. kamu.. dia?"
"aku.."
"apa yang kau lihat tadi?" tanya Gino pada murid disana
"emm.. gak kok, tau cuman liat mereka seperti berciuman tapi bukan bukan, saya salah lihat" jelas murid itu
murid itu pun pergi
"kamu" ucap Gino melirik tajam arah Arin
"udah jangan bikin gara gara, ayo pergi"
Arin pun menarik tangan Gino dan meninggalkan Tara disana
"lu tau dari mana gua disini?"
"aku sudah pasang setel pengaturan untuk tau kemana pun kamu pergi"
"ah mana ada, cuman gps kan, ya cuman lokasi"
"ya bukan hanya gps saya pake dihape mu, udahlah jangan coba menghilang dari saya, saya akan tetap tau dimana kamu berada"
"hmm.."
mereka pun menuju arah kantin..
saat mereka dikantin..
seseorang tepat dimeja makan nya pun menjadikannya topik perbincangan
"bilang tak suka, tau tau ditembak cara alay sok sok nolak, sekarang mau juga, atau jangan jangan dia sudah makan sosis nya"
"ah memang seperti itu kan wanita sekarang"
"yaa kalo gak dompetnya tebel, paling juga sosisnya tebel"
mendengarkan itu telinga semua orang siapapun akan risih, termasuk Arin
Arin pun menggenggam garpu ditangan kanan nya dan mendekati meja didepannya itu
"apa kau bilang" teriak Arin
Arin hampir saja menusukkan garpu ke mata lelaki itu namun lelaki itu menahan tangan kanan Arin
namun bukan Arin jika tak berani kasar, akhirnya Arin menampar wajah lelaki itu dengan tangan kirinya
"woo"
"assssssalam"
"astaga"
beberapa orang kaget bahkan mendengar tamparan cukup keras...
"ini bukan seberapa dengan ucapan mu baru saja yang aku dengar.. semoga kita bisa bertemu dan ulangi kesalahan itu didepanku, mungkin aku sudah mengirimmu ke alam baka" bentak Arin
disanalah banyak orang yang memandang Arin hebat dan segan lagi untuk membully nya, termasuk Gino
Arin kembali ke meja makannya dan kembali makan dengan santai seperti tak terjadi apapun
sejak itu pula, beberapa orang di fakul itu mulai memperhitungkan Arin...
__ADS_1
termasuk Sofyan.. lelaki yang ketika itu ditampar oleh Arin yang ternyata dia adalah mantan teman satu kelas study dengan Gino
beberapa hari berlalu, ketika ia sudah tidak ada jam, sementara Gino sibuk dengan basket yang digeluti nya sejak awal masuk perkuliahan...
Arin melambaikan tangan kearah Gino
Gino pun berlari mendekatinya
"ada apa?"
"aku ke kantin?"
"oh yaudah, 3 menit lagi dimulai loh"
"iyaa"
Arin menuju ke kantin..
dan bertemu dengan Tara
"pak Tara"
"hai rin.."
"em.. saya duluan pak"
dan ketika Arin mulai memakan nya
"saya boleh duduk sini?"
"pak Tara.. "
"emm... apa benar kau dengan gino sudah"
"iya pak"
"ohm.. bagus deh"
"bapak gimana sama urusan dua orang itu?"
Tara menceritakan jika dirinya dipaksa cepat menikah dan banyak sekali ayah nya menawarkan perempuan perempuan kepada Tara
"dan soal kemaren, saya mendengar banyak orang (murid kampus) membicarakan mu, karna lelaki yang menghinamu"
"oh yang dikantin ini? saya sudah biasa pak"
"saya sebagai om nya meminta maaf"
"ha.. dia keponakan bapak?"
"iya.. dia anak dari kakak saya"
"iya.. Sofyan itu adalah keponakan saya"
"waah... okeh saya gak masalah pak, tapi kok gak keliatan kalo bapak sama dia saudara?"
"memang seperti itu, saya tidak mau ada yang mengaitkan hubungan persaudaraan dengan nilai bagus yang didapat Sofyan"
"oh... bapak pernah menikah?"
"iya"
"terus kenapa ayah bapak meminta untuk cepat menikah?"
"karna ayah saya bilang, kasian anak saya selalu kesepian, apalagi ayah sudah tua, tak bisa seutuhnya menemani anak saya bermain"
"oh bapak pernah menikah dan punya anak ternyata?"
"uuust.. sebelum kamu yang tau hanya sofan, saya minta jaga rahasia"
"loh kenapa pak?"
"gak papa biarkan masalah pribadi disendirikan..."
"oh iya pak, terus anak bapak jadi hak asuh bapak dong?"
"anak saya kembar.. saya sama istri saya sepakat untuk membawa anak perempuan untuk saya dan membawa anak laki untuk istri saya"
"oh.. yaampun pak, sudah telat, maaf pak saya tinggal ,saya lupa gino tanding hari ini"
"sebentar, kamu sama Gino sudah berapa lama?"
"emm kurang lebih belum dua bulan sih pak"
"oh..."
"permisi pak"
"yaa.. iya..."
namun betapa kaget nya Arin, ketika tau Gino berdiri dipintu kantin
"Gino? kamu kan harusnya sudah tanding"
"iya, karna fokus saya terbagi sama kamu yang gak dateng dateng jadi saya diganti pemain cadangan"
"emm.. soal itu"
Gino menarik tangan Arin dan menuju lapangan basket lagi, ketika sorenya pulang, Gino yang masih marah karna arin duduk semeja dengan Tara pun meninggalkan Arin dikampus..
__ADS_1
sementara Arin masih mengerjakan tugasnya..
seminggu berlalu, ketika sudah berganti rollingan teman satu kelas, Arin kini satu ruang kelas dengan Sofyan namun masih tetap satu kelas dengan Gino..
belakangan diketahui Sofyan menyukai segala macam tentang wanita pemberani
ketika sering nya mereka bersama....
Sofyan harus menahan rasa cemburunya karna melihat Arin sering berduaan dengan Gino
namun ketika itu ia yang baru selesai mengerjakan tugas dilaboratorium pun masuk ke ruang kelas dan melihat ada Arin disana
"Arin.." sapa Sofyan
"eh Sofyan"
"kenapa kau belum pulang? Gino kemana?"
"Gino sudah pulang, aku masih mengerjakan tugas ini"
"oh.. yasudah saya juga baru selesai, sekalian bareng aja pulangnya, ini sudah malam, gak baik kamu disini sendirian"
"oh yaudah makasih, tapi kalau kamu sudah lelah tinggalkan saja gak masalah"
menatap sepuasnya tanpa ada Gino, Sofyan meminta maaf atas ucapannya beberapa waktu lalu
"oh gak masalah kok" jawab Arin
ketika Arin sudah selesai, mereka pun berjalan pulang bersama
namun ditengah perjalanan Arin mendengar suara gebrakan pintu awalnya pelan, lama lama terdengar jelas, seketika Arin memeluk Sofyan ketakutan
Sofyan hanya melamun tak percaya malam itu menjadi malam bersejarah untuknya..
mereka pun melanjutkan jalan dengan wajah sama sama takut karna disalah satu ruangan disana memang terbilang angker, setelah keduanya sama sama pulang...
esoknya mereka melanjutkan harinya kembali dan ketika selesai jam kuliah dari Tara berakhir, Sofyan yang ingin mengembalikan dompet kecil yang berisikan banyak surat surat penting menahan nya karna tau akan jadi masalah jika Gino tau..
karna terbilang sebelum arin kenal dengan Gino, ia sudah mengenal Gino
"semalam kau pulang dengan siapa?" tanya Gino
"ha. apa dia tau.." ucap Arin dalam hati
"aku pulang sendirian"
"yakin?"
"yakin, kalau aku berbohong kan pasti sulit bicara"
"yaudah, aku mau kekantin apa kau mau membeli minuman?"
"terserah kau saja"
"kau suka kopi botolan?"
"boleh deh"
setelah Gino pergi barulah Sofyan mendekatinya
"arin, ini milikmu semalam tertinggal di dalam taksi"
"oh iya makasih Sofyan"
namun karna dompet Gino ketinggalan, akhirnya Gino tau jika kekasihnya ternyata semalam bersama temannya
"oh.. kamu bilang pulang sendirian" jawab Gino
"Gino" ucap arin kaget melihat Gino sudah datang lagi
"dompet saya ketinggalan, dan ternyata saya dapat kebenaran, ngapain kalian berdua semalam"
"ini alasan kenapa aku sering bohong kamu sering marah" ucap Arin
"ya karna kamu milik aku. aku jaga kamu wajar lah. kamu cuman untuk aku"
"kalo kamu merasa milikmu, dan gak mau ada orang lain merasa memilikinya. jangan ditinggal seperti semalam, harus nya kamu ada dari dia bangun sampai dia tidur lagi" jelas Sofyan
"hei hei hei, kau sudah pernah menghina Arin, lalu kau mendekatinya, sejak kapan kau suka sama dia? sejak kau tau aku berpacaran dengannya? apa manusia sekarang tidak suka makan nasi tapi makan teman?" bentak Gino
"ya aku cuman bilang harusnya kalo kamu tak mau dia dekat dengan orang lain kamu harus jadi orang yang siaga, karna makanan saja ditinggal sejenak sudah banyak lalat mengahampiri"
"ini bukan urusan mu"
Gino menarik tangan Arin
"Gino, sakit lepasin"
Gino terus memaksa Arin untuk pergi dari ruang itu dan menuju taman dibelakang kampus..
"Gino.. lepasin" ucap Arin melepaskan tangannya paksa
terlihat wajah Gino yang sudah mulai memerah dan sedikit lagi larva itu akan meledak..
"Gino, cukup ya, sama permainan ini, aku gak pernah mengatakan apapun waktu itu, kamu memaksakan aku tentang itu, dan ini, cincin mu, aku kembalikan, aku tidak perna merasa menerima mu, kamu terlalu over protektif, hidupku sudah ribet kamu menambahkan lagi keribetan itu"
"maksud kamu apa kembalikan cincin ini? kamu mau kita selesai atau gimana?"
"kita tidak pernah mengawali apapun jadi saya tidak pernah mengakhiri apapun juga jadi ingat itu, saya tidak menerima apapun, jadi saya kembalikan bukan menyelesaikan apapun"
__ADS_1