Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
JTATH #2


__ADS_3

"kamu ya, istri mu itu jahat, cerai kan saja dia, kamu pilih siapa? ayahmu atau istrimu?" bentak Suherman


"paaak" ucap Agustyo


"paak, emm kalau begitu saya tidak jadi pulang, ayo pak masuk saja lihat ibu didalam" sapa Afril


Afril membawa Suherman masuk dan mereka duduk bersama disana, tak lama Septinu datang, Septinu melihat semua nya apa yang sudah terjadi


"lihat kamu Sep, lihat kan, dia belum jadi istrimu, dia ambil semua tentang keluargamu" kata Dita


Septinu hanya diam dan masuk begitu saja


hari berlalu, saat Afril pun mulai melangkah pergi namun Am memanggilnya


"Afril..." panggilnya


"iya bu" sapa Afril


"saya minta kamu temenin saya pulang ya, saya akan balik kerumah" kata Am


"tapi bu.."


Am memegang tangan Afril disana membuat Afril tidak bisa menolaknya


tak lama dokter memanggil Suhermanuntuk urusan administrasi, dan Agustyo pun ikut dipanggil penjelasan untuk makanan yang harus dihindari oleh Am


"kamu menikah sama Anakku ya" ucap Am


"tapi bu"


"ibu hanya nunggu Septinu selesai menikah dan ibu dengan lega meninggalkan dunia ini"


"ibu ini, jangan bicara seperti itu bu"


"soal Septinu, dia akan mau apapun yang diminta sama ibu kok"


Afril hanya terdiam, dan saat Septinu bersama kakak kakaknya datang, Afril berpamitan pulang..


saat itu juga, Afril melirik kearah Septinu


sejak itu, Afril tak lagi mau bertemu dengan Am dan Suherman, bukan karna apa, tapi karna memang ia malas berurusan lagi dengan keluarga Septian, karna ayah ibunya meminta agar Afril mau menikah dengan anaknya tapi ia tidak dapat respon apa apa dari Septinu nya


suatu saat Afril berjalan sembari memikirkan awal perkenalan dengan Septinu, dimana sebenarnya ia mulai yakin sempat yakin akan mengikuti agama Septinu jika ada niat baik dari hubungan mereka


yaa karna Afril dan Septian berbeda agama.. tapi malah urungkan lagi niatnya, murtad dari agamanya, untuk orang yang tak menghargainya hanya karna fisiknya


suatu hari, Afril move on, ia melupakan sedikit banyak hal kebersamaan dengan Septinu, ia berkenalan dengan salah satu teman di sosmed nya lagi


Afril tak ingin ini kembali terulang seperti kisah lamanya dengan Septinu, dan akhirnya Afril memalsukan alamat dan nomor di isentitas pengenal nya


namun ketika saat mengecat bersama teman barunya itu, mulai mengobrol dekat dengannya juga


seseorang mengetuk rumahnya


"em.. rumahnya pak Johar kan?" tanya orang itu


"iya.. saya anaknya.. ada urusan apa ya?" tanya Afril


"saya anak dari teman nya om Johar, kebetulan kemaren om Johar ke kantor papa berkas ketinggalan. takut penting saya antarkan saja"


"oh gitu.. iya iya makasih"


"ini"


"emm.. masuk dulu?"


"waduh makasih"


"gak bisa, harus masuk dulu dong.. masak iya sudah antar ini pulang saja, ayo aku buatkan minum"


"em.. jangan repot beneran"


"duh santai saja lah" jawab Afril


lelaki bernama Hans itu adalah anak dari sahabat Johar, ayah dari Afril, disini mereka pun berkenalan


ia adalah anak yang cukup pendiam, tapi balance lah sama plesetan plesetan kecil menjadi bahan bicara kami.. sejak itu Afril dan dia kenal bahkan bertukar pengalaman


"Afril, terimakasih ya kamu mau berteman denganku" kata Hans


"iya, santai lah, kan papa kita berteman. kita juga lah"


namun ketika rusli sudah harus pergi, dan Afril baru sadar aku tak minta nomornya ataupun nama sosmed akun nya


"arrrgh bodoh dasar bodoh, cerita panjang lebar eh kaga tukeran pin kek apa kek, nomor, atau apalah" gerutu Afril


dan saat minggu tiba, seperti biasa, mama dan papa nya berkumpul, karna sama sama libur, namun tetap sibuk dengan urusan masing masing, Afril males sih menegur sapa tapi hati ingin sekali bertanya soal Hans tadi


ia pun mendekati Johar, papanya...


"pa.." sapanya


"emm." jawab Johar


"ada Hans kesini kemaren, bawain berkas papa ketinggalan"


"oh ya? dia datang kesini sama siapa?"

__ADS_1


"sendirian, cuma disuruh sama papa nya saja katanya"


"emm, mana sekarang berkasnya?"


"di laci meja kerja papa" kata Afril


"okeh"


mereka diam kembali untuk beberapa menit lalu akhirnya


"pa"


"em. kenapa Fril?"


"soal Hans tadi gimana sih pa, anaknya?"


"baik, oh ya, kamu menikah sama dia saja, kalau menikah dengan dia, papa setuju, dia keturunan sama dengan mu, dan dia terbilang cukup banyak harta"


"kenapa membahas itu?"


"ya cuma bilang Fril, gak papa kalau gak mau, tapi beneran, dapat dia beruntung kamu, gak perlu susah nya nyari duit, tinggal duduk dan nunggu dia"


tak lama setelah membahas soal Hans, Johar pun pergi..


"kemana pa?" tanya Afril


"cari flashdisk"


dan aku liat hape tergeletak, dalam hatinya berkata maaf karna sudah lancang hari ini melihat hapenya Johar disana


namun ketika Afril sudah mengangkat ponsel Johar


justru ponselnya berdering


"halo, dengan Afril, ini dengan siapa?" sapanya


nomor baru tak dia kenal, dia mengangkat berharap jika ada sesuatu yang penting kan siapa tau juga, jadi ia mengangkatnya dan itu adalah Hans


"hai, ini Afril kan? aku Hans" sapa Hans


"iya.. ini, wah kamu tau nomor aku?"


"iya, aku tanya sama papa aku ternyata papa punya nomor kamu, kemarin aku lupa tentang kita gak tukar nomor hape atau akun sosmed kek haha"


"oh iya juga" jawabnya


ya tuhan, apa ini jodoh, yaa seperti pucuk dicinta ulam tiba


"gimana kabarmu?" tanya Hans


"em.. bagus deh, kalo papa sama mama?"


"sama baik juga"


"kamu besok sabtu malam ada acara?"


tak jelas dengan ucapan Hans karna Afril kaget papa tiba tiba muncul, mengambil hapenya dan kembali pergi kekamarnya


Afril pun langsung berlari kedalam kamar juga


"kamu ngomong sama siapa?" tanya Hans


"oh itu tadi papa" jawab Afril


"oh papa, astaga aku mengganggu kah?"


"tidaak kok . gimana tadi ngomong apa?"


"sabtu malem ada acara gak? jalan sama aku yuk"


dengan semangat Afril mengiyakan...


tiba di sabtu malam itu


Afril semaksimal mungkin berdandan rapi dan berhias wajah, namun masih minder liat cewek lain yang lebih rapi dan lebih cantik lagi..


tak lama Hans datang kerumahnya bertemu dengan Johar


"Hans?" sapa Johar kaget


"om Johar, apa kabarmu?"


"ahh baik, ada apa kamu datang?"


"saya, emm"


belum sempat menjawab tiba tiba Afril datang dan menyapa mereka disana


"hai" sapa Afril


"emm hai" jawab Hans


mereka berpamitan kepada Johar, tapi disana malah Johar memberikan keyakinan tentang hubungan mereka akan membuat anaknya sangat terpenuhi apapun yang dibutuhkannya


"pa, aku pergi dulu" kata Afril


"yaa nak"

__ADS_1


mereka pun pergi, saat dimobil, Afril bingung karna Hans hanya diam tidak juga menyalakan mobilnya


"ayok" ajak Afril


"kamu gak malu jalan sama aku?"


"hah? ngapain? enggak lah, memang kenapa?"


"tidak, aku merasa malam ini kamu sangat cantik"


mereka pun jalan malam itu


hingga dibeberapa hari berikutnya mereka terlihat dekat dan sering jalan bersama, makan, nonton, dan ngobrol berdua, terasa quality time sangat long time terasa..


dan sejak kedekatan itu, mungkin Afril bosan dengan kata kata "dimana aku selalu berkata merendahkan diriku sendiri"


seperti


"aku jelek, kamu gak malu?"


"aku gak pantes sama kamu"


"kamu gak malu jalan sama orang jelek"


"aku gendut jelek lagi, kamu ganteng, putih wangi"


dan banyak lagi terlintas karna sering mendengar ucapan itu, tapi sejak Hans membuktikan jika dirinya serius pada nya dengan cara melamar...


dan ketika itu, dengan cara teromantis selama berabad abad hidup dan bernafas seorang Afril


ia mengundang ke acara makan bersama teman temannya, sesampai nya Afril disana memang ada teman teman semua dari Hans


"Afril" sapanya


"Hans, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Afril


"selama kita dekat, aku nyaman, aku tidak peduli bagaimana fisik kamu dan apapun kondisi tubuhmu, karna aku mencintai dirimu" kata Hans


"Hans.." ucap Afril terharu


"Afril, mau kah kamu menikah denganku?" tanya Hans


namun bukan makan makan biasa yang ia tunjukan pada Afril malam itu tapi justru hari lamaran yang terjadi ditengah malam itu, mata ngantuk, tubuh lelah yang tiba tiba segar bugar melihat acara itu


tanpa pikir panjang, Afril menerimanya...


skip~


pernikahan pun dimulai, permberkatan telah dilaksanakan, ketika ketua gereja dan para saksi mengatakan telah resmi menjadi pasangan suami istri..


semua terasa cepat, kilat, berlalu secepat mungkin..


baru saja terasa kemaren baru kenal, sekarang sudah resmi menikah..


tapi meskipun begitu, perjalanan mereka tidak selalu mulus, dalam hubungan pendekatan pasti ada saja orang yang akan menjatuhkannya, tapi mereka fighting


thanks god...


dan dihari pertama setelah mereka menjadi pasangan suami istri, Hans yang pagi buta sudah bangun sibuk di meja kerjanya dirumah


"kamu udah pagi garap kerjaan... emang gak ada cuti?"


"ada sih.. tapi ini deh, liat, aku buat serangkaian beberapa kegiatan mengisi libur cutiku sebulan menemani kamu olahraga biar bisa menjadi wanita yang lebih kuat, kamu kan jarang tuh olah raga.. gak ngurus badan" jelas Hans


"apa maksudnya? kamu malu karna aku gendut?" tanya Afril


"loh. kok mikir gitu? bukaaan. aku hanya ingin kamu sehat, bukan ingin kamu kurus"


betapa kuatnya lelaki ini.. menemani Afril disaat Afril benar benar membutuhkan nya..


saat sebelum satu saja berat badannya turun, Tuhan mempertemukan kembali Afril dengan Septinu


ketika itu sedang disalah satu apotik, kebetulan disana juga sedang membeli vitamin untuk suaminya


saat mengantri, tiba tiba Afril melihat ada Septinu disana, waktu bersamaan itulah akhirnya Septinu menyapanya


"Afril" sapa Septinu


"hai, Septinu" sapa Afril


dalam hati Septinu berpikir, sudah hilang panggilan Tinyu dari Afril untuk nya, panggilan dekat dan terbilang panggilan sayang


"kamu sedang apa?" tanya Afril


"aku baru mebeli obat, kamu?"


"ohh sama. tapi aku membeli vitamin saja"


"ahh, emmm Afril, apa kabar?"


"baik"


"aku ada kabar" kata Septinu


"oh, soal?"


"ibuku meninggal"

__ADS_1


__ADS_2