Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
AK #2


__ADS_3

setelah makanan datang mereka pun melahap, dan dengan mengerjakan tugas


"mil, aku ke toilet dulu ya" ucap Steffi


"iya iya"


setelah dari toilet


"mil, tadi aku kan ketoilet, diujung dekat pintu belakang itu ada pintu lain itu kayak kamar, emang itu kamar?"


"kamu masuk?"


"enggak sih, cuman mirip kamar aja"


"siapa tau gudang"


"nah gudang ada aku liat tadi"


"lu ngapa urusin tempat ini sih" ucap Nugro


"hem betul tuh nugro" ucapku


"iya sih ya"


esoknya, saat didalam kamarnya direstoran itu, ia melihat ke langit langit kamarnya, dan berfikir membuka jual beli sosis mentah maupun matang


Saat aku membicarakan ini pada Deni, Deni sebenernya tidak menyetujui tapi ia kembalikan lagi padaku


"kamu yakin? konsentrasi mu akan terpecah-pecah Kamil, belum kuliah, soal restoran masih jualan sosis mentahan nya?" ucap Deni


"ya kan Resto ada pak Widi, aku cukup kuliah, nanti aku jajakan aja sama teman dikampus"


"ya itu terserah kamu sih, terserah deh"


saat Kamila memarkirkan sepedanya, beberapa orang mahasiswa disana mengatainya, mereka berkata mengapa mau seorang Yopi dengan aku yang begini, ada juga berkata, kalo aku nya yang kegatelan menyukai Yopi, dan tepat disana juga ada Yopi, membuatnya melirik sadis ke arahku


setelah aku menjajakkan sosis ke kantin kampus, karna aku tak ada jam, aku kembali ke tempat aku parkir sepeda ku


terkejutnya aku, melihat sepeda dengan barang bawaan ku terbakar habis


"ya ampun...." ucapku teriak


"Kamil, kamu kenapa?" tanya Deni


aku terus menangis, Deni memelukku


"siapa yang lakuin ini" teriak Deni


"em tadi gue liat si Yopi den" ucap seorang mahasiswa


"Yopi..."


"em udah jangan, gausah, biarin" ucapku


akhirnya aku harus merelakan semua barang ku hangus dilalap jago merah


Deni terus menenang kan aku, dan saat sampai di restoran, aku istirahat, melihat pembukuan dan pesat sekali peningkatan, aku memutuskan membeli rumah, yaa sepeda dan beberapa barang ku hangus, dan sekarang diganti dengan rumah, begitu lah sang pencipta memutarkan rezeki untukku


tak tanggung-tanggung aku membeli rumah dengan harga lebih mahal dari yang lalu, 5,5 miliar


harga fantastis bukan, tapi kembali lagi ini masih bukan milikku, ada sebagian titipan untuk anak yatim, pengemis, fakir miskin dan lainnya


karna semua sudah terpenuhi dari rumah, mobil, apartemen, perusahaan yang bergerak di industri dan pengolahan sosis, dan hartaku kembali ku genggam bahkan 3x lipat dari sebelumnya


Saatnya aku memberitahukan pada kedua sahabatku


aku menemui mereka dan menceritakan dari awal


"jadi? jadi kamu pemilik rumah sosis itu? ya ampun, dan sekarang kamu beli rumah, apartemen, vila, perusahaan, dan rumah mewah hasil dari kuliner itu?" ucap Nugra


"iya, dan aku mau kalian main ke rumahku, aku ajak kalian untuk menginap" ajakku


"jadi beneran orang tua ku bilang" ucap Steffi


"bilang apa" tanyaku


"aku sempat tanya, pada kedua orang tuaku, tentang kamu yang sering dan tak luput memberikan makan ke setiap orang yang ada di jalanan, ke semua orang miskin kamu bantu kehidupan nya maka dengan doa mereka kamu terangkat lagi martabat nya, aku malu, malu karna berfikiran kamu boros, dan selalu memberikan apa yang kamu punya pada orang lain. Ternyata balasannya lebih besar dari yang kamu berikan" ucap Steffi


"kan aku sudah bilang, dengar aku ya. stef, Nugra, kita hidup saling membantu, aku gak peduli harus miskin dan jatuh ke ke kemiskinan hanya karna sering memberi orang orang yang membutuhkan, kita lebih baik dari mereka mengapa kita tidak bisa memberi mereka. pesanku, ikuti jejak ku ya" jawabku

__ADS_1


yaa aku mengajak mereka mengikuti jejak ku, jejak kebaikan


saat kabar sampai pada telinga Yopi dan tepat disaat itu pula aku sudah mantap dengan kesendirian dan melupakan tentang nya, ia kembali lagi


setelah menanyakan aku tentang perasaan yang lama sudah ku kubur karna ku bunuh


"Kamil, sebenernya aku sayang sama kamu, aku gak tau gimana ngungkapin nya, aku cuman berani sekarang, plis maafin aku ya" ucap Yopi


Steffi dan Nugra menghalangi


"eh apa apaan lu, enak aja, udah tau Kamil tajir lagi lu bilang sayang, mau ngajak balik, hmm kau pikir Kamil sebodoh itu?" ucap Steffi


"jangan karna kau tampan dan cool di kampus kau bisa seenaknya pada sahabat ku" ucap Nugra


tapi aku punya rencana lain, untuk menghancurkan Yopi sama seperti ia menghancurkan ku tapi tidak ku beritahukan niatku pada siapapun


"udah udah jangan, gakpapa, ada apa Yopi?" tanya ku


"mil? kamu inget dong dia udah apain kamu" ucap Steffi


"dia jahat mil, jangan ah, masuk yuk" ajak Nugra


"kalian dulu"


dan saat aku memberikan waktu ia menebus kesalahannya akupun mengiyakan, aku dan Yopi kembali sering bersama, saat Yopi mengajak makan aku dan aku tau maksudnya memilih resto yang sangat mahal dan akhirnya aku yang akan membayar dengan modus lupa taruh dompet, itu sudah sering ku dapati


"kamu pesan apa?" tanya nya


"apa aja deh"


benar saja, Yopi memesan makanan yang paling mahal di restoran itu, kamipun melahap nya termasuk aku, dan dengan santai nya aku meminta untuk bungkuskan dua untuk orang di sebrang jalan sedang mengemis


saat membayar, benar saja, Yopi berkata lupa taruh dompet


"lah dompetku kemana ya?" tanyanya


"kenapa?" tanyaku


"dompet, ketinggalan, waduh"


"ketinggalan? kok bisa"


"kamu bayarin dulu ya"


"halo, iya stef? ha apa? bentar lagi, dadakan ya? oh iya, iya deh aku otw" ucapku


padahal tak ada jam kuliah dan Steffi tak menelfon sama sekali


"em Yopi aku duluan ya, ini Steffi ada kuliah dadakan, bye, thanks ya semua ini" ucapku


aku pun dengan cepat meninggalkan tempat itu dan terlihat terpaksanya Yopi harus membayar makanan itu


dan kejadian terjadi lagi, saat itu Yopi mengajakku untuk jalan memilih pakaian untuk ke kampus, baju yang ia pilih harga nya cukup mahal, setara dengan harga membeli dua kulkas


Yopi memilih 3 atasan, 2 celana, sepasang sepatu, saat akan membayar ke kasir, ia meminta aku yang membayarkan


"em, mil, bayarin ya" ucapnya


"lah itu baju siapa?" tanyaku


"ya aku gak bawa uang"


"ngapain gak bawa kalo mau belanja"


"pakai lah uangmu"


"em mbak, itu kan yang beli dia ya, yang harus bayar masak saya? enggak kan? nah karna sudah dikemas suruh dia bayar, dan saya pamit boleh kan? ini urusan sama dia" ucapku


aku pun berlalu, berlari kecil meninggalkan dia, betapa puas nya aku mengerjai lelaki bajingan seperti Yopi, jangan kau kira aku sepolos dulu yang mau bayarin ini itu


dan dimana ulahku yang terakhir ketika aku dan Yopi jalan ke rumah makan mewah paling mahal, setelah memesan banyak makanan disana untuk dimakan disana


setelah bil datang, Yopi berpura pura main hape, tak lama pelayan memberikan bilnya untuk dibayarkan, aku menoleh kearah Yopi


tapi Yopi masih belagak tidak tau dan hanya diam, sibuk dengan hapenya terus


"yaudah kamu tunggu sini, aku yang bayar ke kasir saja" jawab ku


"okeh"

__ADS_1


setelah dikasir..


"kak ini billnya ya" kata ku


"oh biar kami cek, iya kak bener"


"jadi tagihannya semua 7 juta kan, kamu tarik lagi ke meja ditempat ku duduk tadi, dia mau bayar"


"oh siap kak"


aku balik ke meja ku dan pura pura untuk bersikap biasa saja


"sudah bayar?" tanyanya


"sudah, sudah lunas, eh ya, aku pergi duluan ya Yopi, aku ada urusan"


"oh tapi sudah dibayarkan kan"


"iya lah, tenang ya"


"iyaa"


saat Yopi akan pergi malah pelayan manahannya dan meminta dibayarkan


"bukannya sudah dibayar teman saya tadi?" tanya Yopi


"belum, tadi kakak tadi disini bilang kamu yang bayari semuanya"


"sialaaaan"


akhirnya mau tidak mau Yopi membayarnya


hari berlalu, saat melihat keanehan padaku, Deni mendekati ku


"Kamil" panggilnya saat aku akan masuk kelas prodi


"eh Deni"


"kamu ada jam kuliah?"


"iya nih"


akhirnya Deni memilih menunggu aku, sampai selesai, sekitar dua jam


saat aku pulang, ia mencegah ku


"Kamil" sapanya


"loh, Deni, kamu nungguin aku?"


"iya, aku sendiri gak ada kuliah hari ini, aku cuman mau ngomong"


"apa?"


"banyak anak liat kamu sering jalan lagi sama Yopi"


"Yopi?"


"Iya, bahkan Steffi juga mengadu padaku, kenapa? kan kamu tau dia hanya menginginkan uangmu"


"aku cuman berusaha baik kan boleh"


"boleh, tapi dia memanfaatkan mu, ingat dulu bagaimana pada mu, ia bahkan membakar barang ku habis, hanya karna malu diledek mahasiswa lain"


"aah"


"aku udah rela kehilangan semua demi kamu, aku udah berubah, ninggalin kebiasaan playboyku, selama denganku apa kamu lihat aku mainin cewek, banyak cewek? sejak aku dekat dengan mu, aku memutuskan untuk tidak lagi playboy, demi kamu, aku serius, aku sayang sama kamu, aku bantuin kamu demi kamu bangkit lagi, dan sekarang bahkan kamu lebih tajir jauh dariku, sekarang malah kamu mau balik Sama cowok bangsat seperti Yopi" ucap Deni


aku memegang tangan Deni, dan mengelus pipi kanannya


"Deni, kamu tenang aja, aku dekat dengan dia, aku ingin balaskan rasa sakitnya, biar dia tau bagaimana aku terjatuh dicampakkan ketika aku miskin, dan aku hanya mengerjainya, aku juga sayang sama kamu seiring jalan nya waktu, aku cinta bahkan, kamu tenang aja ya, hati aku untuk kamu kok sejak awal kita dekat dan kamu membantu aku"


"kamu serius?"


"iya, jadi percaya, aku hanya akan membalaskan dendam saja pada Yopi"


tiba-tiba Yopi mendekatiku dengan Deni


"jadi ini maksudnya kamu memilih dekati ku?" Ucap Yopi

__ADS_1


"Yopi" ucapku kaget


"gak nyangka aku, padahal aku udah baik sama kamu, aku rela lakuin itu demi kamu" ucapnya


__ADS_2