
"Apa dok? Tidak perlu khawatir bagaimana caranya, tya lupa semua tentang apa yang pernah terjadi, dia lupa sama saya, dan asal dokter tau, justru dia hanya ingat kepada Bayu, Bayu itu orang lain, bukan siapa-siapa nya dok" ucap Gilang marah
"Gini pak, waktu pertama kalinya sadar, memang sebelumnya hanya ada bapak Bayu yang menemani, sampai akhirnya sadar jadi bapak Bayu yang pertama kali mengetahui tentang ini, karna saya menjelaskan, dan pak Bayu sudah mengenalkan dirinya, mungkin karna pak Bayu orang yang pertama dikenal oleh pasien tya, jadi yang dicari ya pak Bayu, karna yang dia tau hanya Bayu beberapa saat setelah sadar" jelas dokter
"Loh, ya gak bisa gitu lah dok, mana ada" ucap Gilang
"Gilang, udah, cukup, jangan bikin Lo terlihat bodoh sendiri" ucap Dania menenangkan
"Ya gimana sih dan, lu tau kan gimana tya sama gue dulu, tiba-tiba saja tya lupa, dan yang diingatnya bayu, belum lagi Bayu berkata suaminya"
"Nah, benar pak, pak Bayu juga berkata suami dari pasien tya jadi wajar kan kalo yang diingat juga suaminya sendiri"
Melihat Gilang semakin emosi, Dania menarik tangan Gilang keluar dari ruang pemeriksaan
Dan Anissa menjelaskan tantang tya kepada dokter
"Oh jadi begitu, ya maaf saya tidak tau, saya taunya ya karna pak Bayu bilang beliau suami dari pasien tya"
"Iya dok gakpapa, makasih ya, boleh saya bawa lagi kan tya nya"
"Boleh silahkan"
Dania yang berusaha menenangkan Gilang yang sedari tadi masih saja marah dan memukuli tembok sampai menjadi sorotan orang disana, pun hanya bisa menanggung malu, tak lama satpam pengamanan datang
"Maaf pak, ini rumah sakit, harap tenang, karna banyak pasien yang butuh ketenangan" ucap satpam
"Iya pak maaf pak, maaf" ucap Dania menarik tangan Gilang lagi untuk keluar dari rumah sakit
Sesampainya dirumah tya, suara telfon rumah berbunyi
"Tya ada telfon" ucap Dania
"Oh iya"
Tya pun mengangkat
"Halo?"
"Tya, ini aku, Bayu, kamu dimana? Tadi aku kerumah kamu tapi gak ada orang"
"Bayu, aku dirumah sekarang Bayu, ini baru sampek, tadi dianterin sama Anissa dengan dua temannya ke rumah sakit"
"Lah itu, aku mau ngajak kamu anterin kamu malah gak ada orang"
"Kamu kapan kesini Bayu?"
"Nantik malam ya"
Mendengar jika bayu yang menelfon, Gilang awalnya ingin merampas telfon dan memaki maki nya namun Dania melarangnya
"Lo, ngapain sih, itu kebetulan anaknya telfon"
"Eh lu pikir, kalo Lo bilang sekarang lewat telfon, justru ai Bayu kaga bakal Dateng, biarin biar dia datang nanti malem, kita tungguin" jelas Dania
"Gue gak sabar udah"
"Gue juga gak suka sama cara nya Bayu kok, Lo kan tau, tapi mp gimana. Hargai lah lang si tya"
"Yaudah iya"
Sorenya saat mandi
"Anissa, ini baju ku semua kan?" Tanya tya
"Iya, itu baju kamu semua"
Tya memilih baju yang pas untuk bertemu dengan bayu
"Tya, kok rapi?" Tanya Dania
"Kan suami ku mau pulang, pasti capek, masak harus lihat istrinya belum mandi" jawab tya santai
Gilang mengepalkan tangannya, ingin sekali Gilang menghajar bahkan menghabisi nyawa bayu tak peduli resiko
Malamnya, Bayu pun datang, melihat ada mobil didepan teras tya, ia pun heran, penasaran, karna ia tak tau jika itu mobil milik Dania
"Tya, aku datang" ucapnya sembari mengetuk pintu rumah tya
Tak lama tya pun membukakan pintunya
"Eh hai bay" sapa tya
"Hei, aku gak bawa apa apa kesini, niatnya ngajak makan diluar, eh udah siap aja"
"Iya nih, masuk yuk"
"Em itu mobil siapa?"
__ADS_1
"Ngakunya sih Dania, itu mobil dia"
"Oh, sama Anissa juga?"
"Ah kamu kenal?"
"Iya kenal"
Melihat ada gilang diruang tivi, membuat kaget bayu
"Gilang" ucap bayu
Gilang menarik kera baju Bayu, namun tya melepaskan tangan Gilang
"Kamu apaan sih, bikin ribut dari tadi, jangan disini kalo ribut" ucap tya
"Tya, tya, dengerin gue, dia bukan siapa siapa, pacar lo itu gue, bukan dia"
"Kamu apaan sih, mendingan kamu pulang deh"
"Tya, Lo ngusir gue?"
"Kaga denger ya, telinganya tersumbat Lo?" Ucap Bayu
"Lo ya, dasar kurang ajar"
Dania kembali menarik tangan Gilang keluar dari rumah tya
Anissa pun menarik tangan Bayu
"Em tya, sebentar ya, bentar aja, ada urusan sama bayu" ucap Anissa
"Apa sih nis" ucap Bayu
"Lu ngapain sih memanfaatkan keadaan, gak sepantasnya disaat lemah begini Lo malah memanfaatkan situasi"
"Urusan kita udah beda kan nis, jangan urusin gue"
"Urusan ini jelas berhubungan dengan gue, orang tya itu sahabat gue"
"Tapi sekarang beda kondisinya, udah, jangan ganggu gue, kan Lo yang udah ngiklasin gue asal gue bisa bahagiakan tya"
Bayu meninggalkan Anissa
"Bay" panggil Anissa tapi tak dihiraukan Bayu
Anissa mengejar Bayu, tak lama Dania datang
"Oh iya"
"Yaudah gue juga pamit deh ty" ucap Anissa
"Iya, makasih ya udah nganterin aku cek up"
"Iya"
Mereka pun berlalu namun Anissa memandang Bayu dengan pandangan sinis
Beberapa hari berlalu, yang bisa dilakukan Dania dan Anissa hanya diam dan menerima keputusan tya dekat dengan bayu, tya terlihat sangat bahagia lepas dengan bayu akhir-akhir ini, bercanda, ketawa, jalan, makan, tya hanya bisa lepas dengan bayu
Melihat kebahagiaan tya, begitu mendalam dalam pelukan Bayu, gilang hanya bisa diam dan
sesampainya dirumah memukuli samsak yang sangat keras dan besar
"Sial, siaaaal sial" ucap Gilang
Dania datang dan melihat Gilang dengan emosi tertinggi yang pernah ia lihat, Dania menghentikan gilang terus menghajar samsak yang sudah ada foto Bayu disana
"Gilang, stop, udah udah" ucap Dania
Melihat tangan Gilang cedera, Dania segera mencari obat merah dan perban untuk menutupi luka di jari bekas Gilang memukul samsak
"Sampai begini sih, emosi sih emosi, lihat tanganmu, kenapa bisa? Dasar bodoh" ucap Dania
Gilang hanya terdiam dan menatap jauh kearah dania, ia tersadarkan baru ini lah Dania yang Mampu mengendalikan emosinya saat tya tak lagi mengingatnya
"Makasih dan" ucap Gilang
"Iya, santai, gue gak mau lo bodoh karna kecerobohan, Lo harus sabar, tya perlu kesabaran, bukan emosi seperti ini, hanya akan melukai mu" ucap Dania
"Maaf"
"Untuk apa?"
"Aku sering merepotkan mu yang harus menenangkan aku"
"Iya"
__ADS_1
Sementara tya, yang masih berkutat pada Bayu, semakin hari semakin bahagia, karna memang Gilang susah menerima jika bayu memanfaatkan kelemahan tya, ia pun menemui Bayu dengan bermaksud bicara baik-baik
"Mau apa lo ngajak gue ketemu?" Tanya bayu
"Gue cuman mau bilang, gue capek harus sampai kapan gue Pendem, jujur, gue benar-benar belum rela Lo bisa dekat dengan ya dengan cara kotor mu, kenapa harus tya? Kenapa harus orang-orang di sekitarku yang kau rebut? Mulai dari wati, sampai akhirnya lo meninggalkan Wati demi wanita lain dan wanita itu Anissa, sekarang justru Lo ninggalin Anissa demi sahabat nya, Lo tusuk Anissa dari belakang dengan cara menyukai diam-diam tya, dan sekarang justru seolah Lo tusuk dengan terang-terangan dihadapan Anissa kalau Lo suka sama tya, dan tya adalah pacar gue, dua kaliĀ elu rebut cewek gue" jelas Gilang
"Wajar dong, cowok setampan gue dapetin cewek secantik tya, wajar mah, lagian bukan rebut dari Lo, cuman saja takdir berkata begini, jangan salahkan orang, introspeksi masing-masing aja, gue kira bahas apa, udah gue masih harus jemput tya, kita mau jalan hari ini, ada film baru"
Gilang hanya bisa diam melihat kepergian bayu, entah mengapa hatinya lebih lega, ia bisa melepaskan tya dengan lega kepada siapapun, karna Gilang merasa cocok dengan Dania, dan tak butuh waktu lama, Gilang menyatakan perasaan nya kepada Dania
"Dan, Lo weekend sibuk kaga?"
"Kapan nih?"
"Minggu aja gimana, jalan gitu, pengen refresing, cari udara baru"
"Nah gimana kalo ke kebun binatang"
"Wah boleh, udah lama gak kesana"
"Nah, Minggu ya"
"Iya deh"
Minggunya, Gilang menjemput Dania, dan mereka pun jalan
Setelah berkeliling cukup lama disekitar kebun binatang, mereka pun duduk dan memesan dua es pinggiran jalan
"Ini pertama kalinya setelah cukup lama gue tidak selepas ini" ucap Gilang
"Terlalu banyak problem Lu, makanya begitu"
"Dan"
"Iya"
"Aku suka sama kamu"
"Maksudnya?"
Gilang menyentuh kedua tangan tya
"Gue suka sama lo, sejak Lo rawat gue saat tangan gue terluka karna samsak"
"Tapi tya?"
"Tya juga lupa sama gue, yang ada di hidupnya juga Bayu, percuma gue kekeh disini untuk orang yang tidak lagi melihat ke arah gue"
"Lo ikhlaskan untuk bayu begitu saja?"
"Bagaimana lagi? Hanya itu yang gue bisa lakuin, dan gue rasa cocok sama lu, gue nyaman ketika bersama Lo"
"Hem.." Dania tersenyum malu
"Kamu mau kan menerima aku?"
"Bukan terlalu cepat ya?"
"Iya udah gue nungguin Lo kok, sampai lu siap"
"Makasih ya"
Berjalannya waktu, Dania dan Gilang semakin dekat, mendengar berita itu, Anissa heran, tapi tidak dengan tya apalagi bayu
"Kamu dengar kamar ini gak heran gitu, atau kaget kek" tanya Anissa
"Untuk apa? Justru makin bahagia, Dania kan temen ku, Gilang juga temenku"
"Hem iya iyaa"
Setelah cukup lama dan kasus tentang tya sudah lama tidak diusut, polisi menghubungi Gilang
Gilang yang sedang bersama Dania pun mengangkat telfonnya
"Iya halo"
"Ini saya pak, dari kepolisian, saya sudah dapat informasi soal pelaku yang mencelakai teman bapak bernama tya, apa masih bapak perlu untuk informasi nya?"
"Oh masih pak, baiklah saya akan berangkat"
Setelah menutup telfonnya, Gilang melihat ke arah Dania dan terdiam
"Siapa?" Tanya dania
"Polisi"
"Soal tya ya?"
__ADS_1
"gakpapa kan aku kesana?"
"Yaudah gakpapa, kamu berangkat ini"