Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
RFPR #9


__ADS_3

"ha... ah iya"


"kalo bunda nya haikal sama ayah tiwi bareng jadi gak sendiri sendiri kan om?" ucap tiwi


"hehe rasain tuh pertanyaan dari tiwi" bisik faye meledek doni


"iya." ucap doni canggung


"iya apa? iya iya..." ledek faye lagi


"kamu nih ya"


doni mengelus kepala faye


"kalo aku panggil nya mami sama papi ke tante faye sama temennya" ucap haikal


"yeee kita punya mami sama papi ya haikal" sapa tiwi


haikal dan tiwi kembali bermain dengan dunianya


"dasar anak kecil" ucap faye


doni hanya tersenyum memerah sesekali melirik faye


tak lama terlihat seorang ibu ibu menyapa tiwi dan haikal


"eh kok main sendiri, orang tuanya kemana dik" tanya seseorang


"itu, disana" ucap haikal menunjuk faye dan doni yang sedang mengobrol


ibu itu menghampiri keduanya..


dengan membawa haikal dan tiwi


"aduh ibuk sama bapaknya adik ngobrol, anaknya main sendiri, anak jaman sekarang kalo udah nikah begini jadinya kalo punya anak" gerutu ibu tua sedikit rentah


"eh bu..  ya ampun maaf bu, tadi main deket kami kok, maaf ya buk" ucap faye


"iya, lain kali awasi lagi.. jangan teledor nak, musim penculikan anak" ucap ibu itu


"iya bukk.. oh iya.. ibu kok disini sendirian?" tanya faye


"tadi anak ibu sama cucu ibu bilang mau dateng lagi kesini jemput ibu"


"oh ya, kemana mereka?"


"mereka sibuk kerja pasti nak"


"lah harusnya kan jangan ditinggal, ini udah sore bu"


"iya nak, tapi udah lama ibu disini, haus nak, ada minuman"


"oh ini bu, belum saya minum.. saya bukain ya"


melihat kebaikan faye.. doni semakin yakin jika ia menyukai faye.. tak hanya bisa momong anak, tapi juga bisa menuntun orang tua juga


"ibu laper?" tanya faye


"tadi dibekelin ini, blum ibu makan"


melihat isi tas nya dengan beberapa potong pakaian dan sekotak bekal nasi, faye mengajak ngobrol doni


"kamu sama gak pikiran sama aku, kalo ibu ini emang sengaja ditinggal?"


"iya"


"tega loh mereka"


"iya fay"


"apa kita bawa pulang?"


"mana mungkin"


"ya itu, ditanya rumah lupa.."


saat faye kembali bertanya siapa nama anak dan cucu yang meninggalkannya


"nama anak saya safira, sudah datang ya? ciri cirinya tinggi, putih, cantik, seperti bapaknya pokoknya, pas mirip sampaike tai lalat pipi samping hidung" ucap ibu itu


mengenali ciri ciri itu, doni bertanya


"weni kenal ibu?" tanya doni


"nah itu cucu saya weni, udah dateng ya.."


doni melihat kearah faye...


dan mengantarkan ibu tua itu


"haikal, tiwi, ayo ikut om doni" ajak faye


sampai dirumah weni..


"tunggu sini dulu ya fay, tunggu aku kasih kode kamu turun bawa ibu ini, aku mau ke sana dulu" ucap doni


"papi mau kemana mi?" tanya tiwi


"bentar ya sayang?" ucap faye


doni mengetuk pintu rumah weni


"doni?" ucap weni


"sama siapa dirumah?"


"aku sama mama?"


"gak kerja?"


"kan minggu, tanggal merah, libur dong, kenapa ya?"


"nenek dimana?"


"nenek?"


"nenek kamu, mama nya mama mu"


"oh nenek ada tidur, dikamar"


"dikamar kok tiba tiba ada di mobilku?"


"ha.. mobil?"

__ADS_1


doni memberikan kode kepada faye dan faye turun bersama nenek itu dan haikal tiwi


"kamu niat buang dia? oh jahat ya ternyata aslimu, aku kira kamu baik.. kalo masih mau kamu buang dia, aku yang akan anter dia ke panti jompo, kan lebih terurus disana, aku yang akan keluarin uang kebutuhanmu"


mengambil sikap itu membuat faye seketika membalikkan nama odi dihatinya menjadi doni


"ta... tapi"


"yaudah, bawa aja, kalo mau dibawa" sambar mama weni


"hmmm" ucap doni


"jadi kalian maksudnya membuang nenek di taman itu?" tanya ibu tua itu


"yaudah kalo gitu nenek ke panti jompo aja, yaaa" ajak doni


"iyaa gakpapa aku kepanti jompo aja, mereka gak mengharapkan aku lagi ternyata" ucap nenek menangis


nenek itu duduk lemas dilantai dan dipeluk oleh haikal dan tiwi


"nenek sabar ya" ucap haikal


"kamu siapa?" tanya weni


"saya faye"


"kamu bukannya pacarnya odi, kenapa sama pacar saya"


"hei.. jaga mulutmu, kita tidak pernah pacaran" bentak doni


"hei jaga tanganmu, jangan kasar pada anakku" ucap mama weni


"saya sama kak doni cuman sebagai adik kakak jadi gak perlu cemburu" jawab faye


weni membawa nenek itu kemobil dan sampai di panti jompo, nenek itu sudah tenang tanpa mikir terlalu banyak hal..


setelah itu doni mengantarkan tiwi kerumah tiwi, karna ayahnya sudah pulang dari kerjanya


"mami fe sama papi do masuk ya.. papi do kenal sama ayah tapi mami fe kan belum" ucap tiwi


"ha.. ehh"


"iya deh gakpapa, ayo turun bareng"


saat didalam...


"ayaaaah" teriak tiwi


"sayang, gimana sama om doni"


"bukan om doni, tapi papi do sama mami fe" celetuk tiwi


"wah don, siapa, kamu nikah punya anak sebesar ini kok aku gak tau?"


"emm.. temen ku ini, faye"


"faye kak" ucap faye


"oh faye, terus anak ini?"


"anaknya temen saya kak" jawab faye


"makasih ya papi do sama mami fe"


"waduh, anakku panggil papi mami?"


"hmm... faye ya, hati hati sama dia, kalo marah diem bae dia" sembari tertawa ia meledek


sejak itu faye dan doni memanggil dengan julukan dari tiwi


beberapa hari berlalu..


faye berusaha membujuk doni untuk memaafkan bu kustin..


dengan segala caranya


"bingung aku fe.. kamu tau aku dibesarkan sama orang yang sebenernya menghancurkan aku"


"ya aku tau, tapi apa dia membandingkan dengan odi, enggak kan. aku orang luar bisa merasakan itu loh do"


"lalu?"


"kamu boleh pindah kesini, tapi dengan cara baik baik"


"hmm... kamu temenin aku ya" ucap doni


"ngapain harus nemenin?"


"aku butuh kamu fe"


"gilaaa gila gila, baru ini seorang doni membutuhkan seorang faye.. arrrgh angin apa yang lewat ini?" ucap faye dalam hati


dan doni pun menunggu waktu setengah hari faye kerja..


dan saat hari itu tiba, faye pun bersama dengan doni menuju rumah bu kustin


"siang buk?" sapa faye


"fay.. iya masuk fay"


"emm... saya nganterin kak doni ma"


"doni?"


donipun masuk


"don, maafin saya" ucap bu kustin


"aku yang minta maaf ma, bagaimana pun tanpa mama mau membesarkan aku, pasti aku gak akan sebesar ini" ucap doni memeluk kustin


keduanya saling memeluk dan kustin tak kuat menahan tangisannya sementara doni yang memang dasar nya cuek, dia takkan bisa menjadi cengeng


"ma.. tapi doni harus pulang kerumah doni sendiri, doni kesini untuk meminta maaf sekalian ambil beberapa barang doni"


"yaudah gakpapa kok, ambil aja, kamu udah besar bisa nentuin pilihan sendiri"


tak lama doni masuk ke kamarnya


kustin pun keluar mencari faye


"fay"


"buk"

__ADS_1


"makasih ya kamu kan yang udah membujuk nya"


"ah faye cuman mengantar"


"ah kamu berbohong ya.. aku tau faye itu kamu, kamu ada didepan rumah doni waktu itu saat ibuk ngatakan yang sebenernya kan?"


"emmm"


"entah apa hubungan kalian dibelakang ibuk, tapi saya berterima kasih atas usahamu"


"iya bu..."


"tapi bagaimana dengan hubunganmu bersama odi?"


"maaf tante, odi belum pernah katakan perasaannya pada faye, faye gak tau kalo odi benar suka atau enggak, sama sekali ia tidak membahasnya.."


"okeh... gakpapa gakpapa"


"kalo sama doni?"


faye terdiam dan menunduk


"kamu suka ya sama doni?"


"gak mungkin ma, dia suka sama odi, bukan doni" sambar doni


"eh udah beresin?"


"udah ma"


mereka pun pulang..


"bicara apa aja sama mama?" tanya doni


"soal odi aja"


"iya aku denger, kamu ditanya suka sama odi kok bilang gak suka"


"bukan gitu, maksudnya aku itu, kan odi gak pernah nyatain perasaannya jadi mana tau kalo dia sebenernya suka sama aku?" jelas faye


"tapi kamu suka kan sama odi" tanya doni


"suka sih, pernah tapi percuma suka aku gak pernah tau dia serius atau enggak sama aku, justru ninggalin aku ke german..."


"kalo enggak suka kenapa gak bilang dari awal sama odi?"


"dari awal kapan? aku berhenti suka sejak doni pergi ke german"


"emm... terus kamu punya pacar lain gitu makanya lupain odi?"


"enggak, aku gak suka sama siapa pun, karna aku belum temu yang pas"


"emm.. terus maksudnya gimana, masih cari yang pas?"


"iya.."


"dapat?"


"udah"


"siapa?"


"kepo"


doni pun terdiam...


setelah pulang..


selang beberapa hari odi datang..


yaa setelah kepergiannya, odi janji enam bulan disana ia akan pulang menemui faye...


enam bulan entah waktu yang cepat atau lambat tapi semua serasa mendadak


"kak jane" sapa odi


"eh odi..."


jane kaget odi tiba tiba datang..


"emmm faye masih kost disini kan?" tanya odi


"faye masih kok, betah dia disini, kerja di RUs bioskop"


"oh ya bagus deh, kemana anaknya?"


karna faye keluar dengan doni, jane dan teman kost lainnya mengetahui


jane pun hanya bisa beralasan faye pulang ke rumahnya


"yahh pulang ya kak"


"iya, nanti malem aja kesini"


"yaudah deh, salamin ya kak kalo dateng.."


"iyaaa"


odi pun pulang kerumahnya


saat sampai dirumahnya, ia disambut oleh mama nya, bu kustin


"alhamdullilah sampai dengan selamat akhirnya" jawab kustin


"kak doni kerja ma?"


"kak doni sebenernya udah pulang kerumahnya sendiri, dia udah punya rumah sendiri" ucap kustin


"oh ya ma? mana alamatnya?"


kustin memberikan alamat rumah doni namun tak mengizinkan odi datang hari itu juga, odi butuh istirahat


saat akan makan malam...


"ma.. emang udah lama kak doni pindah?"


"udah dua bulanan, tiga bulan, bulan ini"


"wah tapi sering pulang kan ya?"


"sering, kadang pulang kesini anter makanan, kadang kasih uang, ya sering kok, cuman emang gak pernah lama"


"terus kenapa mutusin pindah ma?"

__ADS_1


"kak doni tau siapa dirinya"


"kak doni tau ma?"


__ADS_2