
"maaf Bagas.. tapi dia sudah resmi pacar aku" kata Fikih
"apa apaan? bukannya kamu..."
"aku? kenapa aku?"
"sama Tirta"
"siapa? Tirta? apa kau masih ingat dengannya?"
dan seketika itu, ketika Bagas hanya bisa melihat kepergian Tri bersama Fikih, ia teringat pada Tirta..
dan esoknya ia mencoba menemui Tirta
"selamat siang pak" sapa Bagas pada Syafi', ayah Tirta
"siang.. oh ini nak itu, siapa lupa saya"
"Bagas pak"
"nah Bagas, iya, ada apa nak?"
"Tirta ada pak?"
"Tirta berangkat kerja nak"
"bukannya jadwalnya Tirta masuk sore pak?"
"oh iya. tapi dia izin kerumah salma, sambil jalan cari baju untuk PKCS katanya, acara kantor dia"
" oh pertemuan lusa sih. iya sih, yaudah pak makasih"
"mari mari"
dan ketika esoknya berusaha menemui Tirta lagi, Bagas pun dibantu oleh Kemal yang sedang mengobrol dengan satpam utama
"Tirta udah ada gak sih, coba liat aja di lapaknya" tanya Kemal
"sudah pak,yang belum Salma tadi" jawab satpam
"oh iya, ia udah kok, sana dah"
"makasih pak"
dan ketika masuk..
"Tirta"
"Bagas?"
"lagi sibuk?"
"enggak kok, ada apa gas?"
"aku mau minta maaf sama kamu"
dan Bagas mengakui kesalahannya yang sudah merendahkan Tirta
"santai aja gas.. aku mah gak dendaman"
"salma benci banget sama aku gara gara itu"
"iya Salma mah, nanti gampang aku bantu ngomong, kamu kerja dimana?"
"di konter hape, jadi sales"
"oh syukurlah, daripada nganggur"
dan sejak itu Tirta membantu dan menemani Bagas untuk kembali bangkit
setelah setahun dan Bagas mulai menampaki karir nya menjadi CS utama di konter hape itu..
keuangannya membaik
"makasih Tirta sudah membantuku.." ucap Bagas
"seorang sahabat memang harus membantu kan, coba temui saja Tri.. siapa tau mau lagi sama kamu kalau sudah tau kamu dapat kerjaan baru yang menyakinkan"
"untuk apa wanita matre itu, tidak ada manfaatnya"
dan mendapatkan kabar jika Fikih mulai turun dan leoparta juga mulai redup, Bagas mengumpulkan seluruh gajinya yang dia simpan di bank
dan membuka usaha yang menyaingi leoparta dengan nama BAGASKARA CENTER
dan leoparta semakin meredup karna persaingan nya kalah dengan pasaran bagaskara center..
ketika Bagas sedang duduk disalah satu meja direstoran leoparta
"kamu sengaja buat aku bangkrut kan?"
"Salma pernah bilang, jika roda itu berputar dengan sangat cepat.. dan itu benar"
ya ketika itu Salma berada disamping kanan Fikih, sementara Tri berapa disamping kiri Fikih.
"aku akan mengambil apa yang sudah kamu ambil dari saya, kamu ambil Tri, ambillah, saya sudah mengiklaskannya, dan kmu Tri, terimakasih pernah memberikan warna merah pada hidup saya dimana merah adalah warna darah. dan darah akan keluar ketika seseorang terluka, dan saya terluka" jelas Bagas
"Bagas maafin aku, aku waktu itu hanya terpaksa, aku butuh uang, dan aku tak berniat menghianatimu, aku sesungguhnya masih sayang sama kamu" jelas Tri
Bagas menyentuh pundak Tri..
"ketika itu, siapa yang mengatakan, jika kamu tidak mau, dengan orang yang tidak bisa membiayaimu untuk berfoya foya dan bergelimang harta?" tanya Bagas
__ADS_1
Tri menunduk..
"dan sekarang.. dia orang yang ada ketika dua tahun aku menampaki mulai dari nol dan mengulang untuk sampai kembali dititik ini" jelas Bagas menyentuh pundak Tirta
dan seketika itu, Bagas meninggalkan keduanya dan pergi bersama Tirta..
malamnya, ketika Bagas bersama Tirta sedang mencari makan malam..
Tirta yang sedang digandeng tangan nya oleh Bagas pun menghentikan langkahnya..
"kenapa?" tanya Bagas..
Bagas mengikuti arah pandangan Tirta..
dan ketika mengetahui yang dilihat adalah Fikih.. otak jahat dan nakal seorang Bagas pun tercipta..
Bagas menarik tangan Tirta mendekati arah Fikih..
"hai bapak Fikih yang terhormat" sapa Bagas
"Bagas.."
"pak Fikih" sapa Tirta
"ucch bapak makan dibawa ya? kasian... masih inget saya dulu pertama pertemuan kita bapak bilang sama Tirta makan dilantai itu gak bagus"
dengan sadisnya, Bagas terus menghujat keadaan Fikih kalah itu yang hanya berpakaian kaos hitam polos oblong dengan celana panjang kain sedang duduk makan di pinggiran trotoar
"gas" ucap Tirta melirik nya
"tunggu. aku belum selesai" kata Bagas
dan ketika puas dengan segudang nyinyiran, Bagas menggandeng tangan Tirta dan meninggalkan Fikih..
seketika Fikih pun hanya bisa terdiam menatapi kepergian Tirta, dalam hati Fikih berkata...
"apa setega ini pembalasan dari Tirta.. mengapa Tirta tidak sadar siapa orang yang merendahkan nya dan meremehkannya ketika itu siapa pula yang peduli padanya" gerutu Fikih dalam hati
ia tak henti hentinya berfikir keras atas perlakuan Tirta..
dan Tirta yang baru saja sampai, diantarkan oleh Bagas, langsung masuk dan rebahan diatas ranjangnya..
"nak.. makan dulu lah Tirta" sapa pak Syafi'
"Tirta gak makan pak"
"loh loh loh, ada apa ini, kamu tumben tidur pakai baju rapi, biasanya anti, kalau nyentuh ranjang harus ganti baju piyama kan"
Tirta duduk dan menatap bapaknya lalu menceritakan kepada bapaknya..
"oh.. soal cinta.. kenapa bapak yang cemburu ya? anak bapak jadi rebutan dua lelaki, ah bapak cemburu" ucap Syafi'
"serius bapak cemburu anak gadis bapak udah besar dan tau apa itu cinta"
Tirta kembali menjatuhkan tubuhnya diranjang
"bangun" ucap Syafi' menarik tangan anaknya itu
"males ih bapak bercandaan mulu"
"yaudah iya iya serius deh"
dan malam itu pun semalaman Tirta dan Syafi', ayahnya itu, saling curhat dan berbagi pengalaman..
akhirnya esoknya iya tau siapa yang akan dia perjuangkan..
ketika akan berangkat kerja..
Tirta yang sudah tidak lagi bekerja di leoparta, menemui Fikih
ketika Tirta berdiri tepat didepan Fikih duduk dan makan..
"Tirta" sapa Fikih
"pak Fikih"
"jangan panggil pak, panggil saja Fikih, usia kita kan tidak jauh berbeda, hanya pangkat yang membedakan dan kini pangkatnya lebih tinggi kamu"
Tirta pun menjelaskan tentang perasaannya
"kamu serius? lalu Bagas?"
"Bagas bukan orang yang ada disaat aku jatuh.. dia tinggalkan dia, aku ingin mengatakan semua nya ketika waktunya tepat"
dan Tirta pun membawa Fikih memperkenalkan usaha barunya...
"ini tempat apa?" tanya Fikih
"ini tempat usahaku, aku membesarkan hobbiku, aku ingin kamu lihat saja dan beri aku saran, karna kamu lebih tau dariku"
"lalu?"
"lalu kamu ikut aku"
"kemana?"
dan sesampainya di salah satu usaha..
sosis bakar yang pernah ia bekerja
"usaha kamu?"
__ADS_1
"bukan, aku berdua dengan Salma, dipercaya sama bu Sana pemilik sosis bakar di leoparta, jadi uang dari bu Sana, dan aku yang mengelolah"
"emm.. bu Sana, aku pernah bertemu dia.. "
"iya, bu Sana bercerita jika ketika banyak orang meragukan usahanya, kamu adalah orang pertama setelah berkali kali beliau ditolak untuk membuka usaha.."
"ehmm begitulah, aku tidak pernah memandang orang dari penampilan, fisik, apalagi hanya dari rupa"
dan seketika itu Tirta memeluk Fikih..
"dan aku tau.. kamu menyukaiku kala itu.. mungkin hingga saat ini" ucap Tirta
"kamu"
"aku tau"
"dari siapa?"
"pak Kemal adalah pengisi suara yang kamu dengar saat ini"
"Kemal?"
dan memang Kemal sering menceritakan kepada Tirta setiap Fikih selesai cerita kepadanya tentang Tirta..
melirik kearah salah satu pintu kaca hitam, Fikih tau dibalik sana ada Kemal
"Kemaaal, keluar" teriak Fikih
"siap pak" teriak Kemal
Kemal memeluk Fikih dan Fikih pun memukul pelan perut Kemal
"apa yang sudah kau katakan padanya?"
"maaf pak, saya hanya ingin Tirta tau, dan saya lega bisa liat bapak sama Tirta dekat begini, kalian itu cocok, saya sangat setuju ketika tau bapak suka sama Tirta, Tirta pantas mendapat orang baik seperti bapak, bukan Bagas"
dan Fikih pun memeluk Tirta..
ketika duduk bertiga dan mengobrol...
"Tirta" teriak Bagas, yang ternyata sedari tadi mengetahui kejadian itu..
Tirta hanya diam dan menunduk..
"hei.. apa yang kamu lakukan disini sama dia?" bentak Bagas
"eh gembel" bentak Bagas dengan nada keras kearah Fikih
"udah.." bentak Tirta
"Tirta" ucap Bagas kaget
"Tirta, aku..."
"aku diam selama ini, dan aku ada untukmu bukan karna aku suka kamu, tapi karna aku manusia, yang harus membantu orang yang membutuhkan bantuanku, dan kurasa saat ini kamu sudah tidak butuh aku, kamu bisa kan berdiri sendiri.. aku pilih orang yang ada untukku ketika ia tau apa kekuranganku apa hobbi ku ia tak pernah meninggalkanku, dan ketika tau kelebihanku, dia tidak memanfaatkanku.." jelas Tirta
"Tirta, beb"
"dih.. beb, siapa lu, manggil temen gue beb" ucap Salma tiba tiba masuk bersama bu Sana
dan ketika Salma masuk,
"ini buk, pak Fikih"sapa Salma
"Fikih, direktur leoparta ya?"
"iya bu, bu Sana ya?"
"iya saya bu Sana"
"apa kabar bu?"
"baik, nak, makasih ya udah dipercayakan saya buka disana, padahal saya coba coba eh taunya sampai bisa buka sendiri diluar dan dibawah naungan dua gadis cantik yang tangan dingin ini" jawab bu Sana menunjuk Salma dan Tirta
"dan ada lagi satu hal penting.. aku mau bicarakan, sama kamu Tirta, kamu pak Fikih, dan ibu Sana tercinta.." jelas Salma
"apa ma?" tanya Tirta
"aku sama Salma resmi jadian" jawab Kemal
"haa.. serius?"
"iya serius lah ta" jawab Salma
"yeeh kamu kira aku baik ke kamu, deketin kamu karna apa Tirta, karna deketin ini cewek judes, bawel ini Tirta" canda Kemal
"eh ngeselin" jawab Salma
dan Tirta tak henti hentinya tertawa senang dengan kabar itu begitupun Fikih dan bu Sana
"tinggal pasangan disamping kiri ku ya" ucap bu Sana
yang dimaksud ya Tirta dan Fikih..
ketika ucapan dari bu Sana itu terdengar, Bagas pergi
Bagas seolah sadar, dirinya sedang diposisi tak dibutuhkan..
dan sejak itu.. Bagas meminta maaf kepada Kemal, Fikih, Salma, terutama Tirta..
"mungkin Kemal sama Fikih maafin kamu sih, aku tau itu, dan Salma juga maafin walaupun masih berat ya, termasuk aku, maafin, tapi aku masih kecewa"
__ADS_1