
"paling juga ada maunya, kalo gak pengen beliin ini itu juga paling ada maksud lain"
Emil mencoba diam dan sabar, saat teman Emil datang kerumah, Kia selalu bertanya apa pekerjaan orang tuanya, jika baik menurut nya, ia akan memberikan layanan baik, tapi jika tidak, maka ia akan tak merespon sendikitpun
2🚫
"loh, temen Emil ya?" tanya Kia
"iya tante, saya Randy"
"Randy kerja atau gimana"
"sekolah tante"
"oh, kalo ayah ibu nya?"
"ayah saya cuman manager perusahaan kosmetik, kebetulan ibu saya model nya"
"oh, bagus dong"
"iya tante"
"mau makan apa?"
"gausah tante"
"gakpapa, tante tadi bikin tahu tek, kamu cobain ya"
"oh iya tante"
namun berbeda kepada teman Emil jika kedua orang tuanya adalah seorang yang miskin
semisal, tukang ojek, atau, tukang penjual jamu keliling, supir angkot, pasti selalu mendapat respon jelek
jangankan diberi makan, untuk minum aja saat Emil mengambil kan temannya minum justru tak diizinin dengan alasan mengirit air minum
Emil pun masih diam, ia masih mencoba berfikir positif dan masih berbuat baik, sampai akhirnya, kedua temannya, Rashel dan Afika
Yang kebetulan datang bersamaan, Kia bertanya kepada keduanya hal yang sama tentang kesibukan mereka atau kesibukan ayah ibu mereka
"kalo ibu saya hanya penjahit biasa tante tapi alhamdulillah udah bisa bisnis garmen, sekarang yang digeluti ya garmen nya itu" jawab Afika
"wah, garmen ya, garmen apa?"
"ya pakaian kulit gitu tante"
"oh, kalo kamu" tanya Kia melirik kearah Rashel
"kalo ibu saya udah lama gak ada" jawab Rashel
"gak ada gimana?"
"ya udah pergi sama lelaki lain"
"loh, kenapa?"
"ya karna memang ayah kan udah gak bisa kerja, jadi mau gak mau ayah harus diam dirumah"
"loh terus untuk makan sehari-hari?"
"ya saya jualan ini itu yang bisa dapat untung tante"
"oh, em yaudah bentar tante buatin minum dulu ya Afika"
tak lama Kia datang dengan satu gelas kopi susu
"ma, kenapa satu? kan tamunya dua" tanya Emil
"itu hanya untuk Afika, soalnya tinggal satu, kalo kamu mau ke dapur aja mama buatin"
membuat miris dan tersayat hati Emil betapa teganya mama menyajikan segelas kopi hanya untuk Afika, dan Rashel? hanya hanya pekerjaan saja
"kita berdua aja" ajak Afika kepada Rashel
"enggak, gausah, aku gak ngopi" jawab Rashel
"oh yaudah"
benar-benar keterlaluan, sikap yang tak seharusnya di tolerin, karna Emil tau Rashel mulai tidak enak, jadilah ia berbohong
"jadi kopi tinggal satu bungkus jadi bikin satu, itu buat berdua ya, gitu maksud mama ku" kata Emil
"nah tuh kan, kita berdua" jawab Afika
"ahh yaudah gakpapa aku cicip dikit saja"
tapi tak hanya disini, dan terulang lagi, saat kekasih Emil datang kerumah nya untuk silahturahmi
"temannya Emil ya?" tanya Kia
"iya tante, saya Refan, temannya" jawab Refan
"oh iya ayah kamu kerja apa?"
"ayah tante? kenapa ya?"
"iya cuman pengen tau"
"ayah cuman tukang bangunan tante"
mendengar pernyataan Refan membuatnya membelalakkan matanya
"oh kuli? oh iya, tadi Emil bilang, katanya gak mau diganggu, lagi gaenak badan, kamu pulang aja gih" ucap Kia
"tapi tante"
__ADS_1
"oh iya, kamu berapa lama pacaran?"
"enam bulan tante"
"yaudah kalian putus aja deh, jangan ganggu anak saya lagi, karna anak saya cari pria yang mapan, bukan anak kuli"
"tapi tante"
"kamu gak tuli kan?"
"ya tante, saya permisi"
ketika Emil kembali dengan segelas teh untuk Refan tapi malah tidak mendapati Refan disana lagi
"loh, ma, Refan kemana?" tanya Emil
"pulang kali"
"kok pulang?"
"ya nyadar kali kalo dia itu gak pantes, apa-apaan anak kuli bangunan berani nya sama kamu"
"mama ngusir ya?"
"iya emang, kenapa?"
"mama kok ngusir sih?"
"udah mama tadi juga bilang kalo kalian putus"
"mama, kok jahat sih mama"
ketika Emil akan menjelaskan tapi nomornya sudah di blok, akun nya pun sama, setiap datang kerumahnya selalu tak bertemu dengannya
membuat Emil harus melupakan dan merelakan tentang hubungannya dengan Refan
sampai akhirnya Emil mulai bisa melupakan dan berkenalan dengan lelaki lain, yaitu Erik
Erik juga tak jauh beda dengan Refan, yang setelah enam bulan berpacaran, Emil membawa nya untuk diperkenalkan dengan orang tuanya
"siapa ya?" tanya Kia
"teman Emil, tante" jawab Erik
"teman apa teman?"
"teman kok tante"
"masuk sini, oh iya kamu sibuk apa?"
"kuliah, tante"
"kuliah? wah dimana?"
"di univ terbuka"
"uangnya gak sampek tante"
"memang orang tua kamu kerja apa?"
"ibu saya cuman penjual sayur keliling"
"kok nekad kuliah?"
"ya biar nanti dapat kerja lebih enak"
"hem mimpi kok tinggi kamu"
"maksud tante apa ya?"
"udah udah, kamu pulang aja, perlu kamu ingat, Emil, anak saya cari lelaki yang mapan. biar biar hidup mewah"
"tapi"
"keluar dari rumah saya"
Ketika Emil kembali, ia melihat Erik yang sudah didepan pintu yang akan pulang
"loh sayang.. mau kemana?" sapa Emil
"udah mau pulang dia" jawab Kia
"mama lagi ya? mama apain?"
"mama bilang kamu cari yang mapan"
"ma, hargai dong pilihan Emil ma"
"kamu itu cari pacar yang bagus dikit kek, minim mandor gitu"
"mama jahat ya mikirin uang sajaaa"
Emil masuk kedalam kamarnya dan menceritakan pada Zaki, semua memang diceritakan Emil kepada Zaki
"apa? lagi-lagi?" tanya Zaki
"iya, alamat bakal Erik ninggalin gue kan Zaki"
"yaudah sih memang takdir lu sama gue"
"sama lu pala lu peyang, yang ada dibunuh gue ama Dino"
"mati dong lo"
"hem malah canda"
__ADS_1
"lu juga canda, mana ada Dino bunuh gue, berani dia?"
hingga akhirnya ia memutuskan untuk tak berpacaran lama, karna memang mencari kriteria yang diinginkan mamanya
dan saat ia sudah dapatkan lelaki yang kini menjadi pacarnya, yaitu Dimas
seorang manager di perusahaan alat fitnes cukup terkenal, kia berusaha terus mendekati Dimas, terus merayu untuk cepat mengawini anaknya setelah lulus sekolah
"permisi tante, saya cari Emil" kata Dimas
"siapa ya?" tanya Kia
"saya Dimas"
"yaudah masuk dulu"
mereka berkenalan seperti sebelum sebelumnya juga, dan masih sama, jurus Kia bertanya
"kesibukannya apa nih nak Dimas?" tanya Kia
"saya kerja di perusahaan alat fitnes" kata Dimas
"oh, jadi apa?"
"karna saya pemiliknya ya hanya pengawasan saja"
"waaah iya kah?"
dan Kia merasa ini adalah lelaki yang pas, yang ia harapkan, karna memang sudah terlihat, dari segi cover saja Dimas membawa mobil, memakai baju kemeja dengan rapi, baik, sopan
"tumbenan sih Emil, dapat laki yang pas" gerutu Kia
saat Emil datang
"ini kak minumannya" sapa Emil
"iyaa makasih"
Emil merasa baru ini tamu nya yang ia katakan pacar tapi ibunya tidak mengusir lagi
hari berlalu, karna selalu didesak untuk mengawini anaknya sesegara mungkin justru membuat Dimas memilih mundur, karna menurut nya ia belum mampu untuk melangkah lebih serius
"maaf Emil, ibumu meminta ku cepat menikahi kamu lepas sekolahmu tapi aku belum bisa" kata Dimas
"loh, mama bilang gitu? sayang udah jangan didengarkan mama gitu memang"
"iya tapi aku tidak bisa lanjut sama kamu"
memutuskan putus saja, membuat Emil kembali harus berkutat dengan kesendirian nya, hingga sampai ia lulus dari sekolah nya
dan keputusan Emil dengan Dimas membuat Kia begitu marah dan kecewa tapi Emil kembali marah karna semua kelakuan Kia
hari berlalu, Emil pun hanya bisa membantu orang tuanya yang membuka toko makanan dan snack snack didepan rumahnya
"kamu itu udah lulus sekolah lebih setahun belum aja kerja, paling enggak ya nikah kek, liat temen kamu banyak yang nikah" kata Kia
"ya jangan salahkan aku, ma, ini juga kan karna siapa? mama terlalu pilih-pilih"
"ya salah kamu, gak cari yang mapan, ada yang mapan di sia siakan"
"buat apa mapan kalo akhirnya ditinggal juga ma"
"yaudah sana cari kerja"
saat sudah mulai mencari kerja, dan diterima di perusahaan bakau justru Kia selalu membuat masalah, ada saja alasan agar Emil tidak masuk kerja
bahkan untuk lembur pun Emil tak diperbolehkannya
yang berasalan sakit dan ingin ditemani lah, yang beralasan dia harus pergi dan Emil datang tinggal kan rumah, belum lagi alasan karna Emil harus bersihkan rumah seharian, sampai lembur dihari libur pun tak diizinkan karna alasan Dino dan Dion pulang kerumah
maklum, Dino dan Dion kan sudah memiliki rumah masing-masing meskipun belum menikah, makanya mama membanggakan keduanya
"liat tuh kedua kakak kamu, gak berlebihan, gak harus ambil lembur, tapi bisa kan beli rumah, kerja itu ma santai aja... jangan diforsir" ucap Kia
"ya jelas lah, mereka kan cowok, ngumpuli duit juga pasti cepet lah gak perlu beli sabun, bedak, sisir, parfum, baju bagus. dll"
"makanya, jangan boros, irit tuh duit, punya duit sedikit yang beli pizza lah, beli bakso lah"
"iya ma"
dan saat Emil mulai irit justru Kia kembali protes
"kamu ini, kerja tapi gak ada sedekah, sedekah sana, buat saku di akhirat"
"kan kata mama ngirit, jangan boros"
"ya ngirit bukan berarti pelit dan gak mau berbagi kan"
"ya ma"
dan saat Emil mulai banyak bersedekah justru kembali protes karna ia terlalu memberikan banyak sedekah yang gak penting kepada orang yang gak penting menurutnya
"terus mama mau aku gimana?" tanya Emil kesal
"kamu ini, ya nurut sama mama, bisa nya ngelawan"
"kapan sih ma aku pernah ngelawan mama?"
"hala udah deh, sana jijik aku liat mukamu itu"
seorang ibu berucap begitu pantaskah?
untunglah Emil masih berusaha sabar
esoknya saat Emil duduk santai, tak lama kia mendekati nya dengan segelas teh hangat
__ADS_1
"Emil, sini dulu" teriak Kia
"ya ma kenapa sih ma? teriak teriak?"