Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
DI #4


__ADS_3

tapi dondi senang, asalkan bisa memiliki Dindri..


Dindri pun berhasil membuat dondi sibuk dengannya sampai lupa akan tanggung jawabnya sebagai kakak dari hevi


sampai suatu ketika, dimana ivan sudah bisa membuka hati untuk wanita lain, dondi tak sungkan membawa Dindri kerumahnya..


"rumah kamu sepi ya" tanya Dindri


"sepi lah, ayah sibuk banget"


"em, sabar, kan udah ada aku nemenin"


"iya makasih sayang"


melihat abangnya berduaan pun ia ada rasa cemburu sekaligus sesak karna pacar abang nya yang kedua adalah Dindri


"oh jadi pacaran sama abang aku yang kedua, piala bergilir" ledek hevi


"kamu apa sih, dari awal ya selalu bikin gara gara, pas lagi pacaran sama ivan, kamu nyalahi aku, sekarang aku pacaran sama dondi juga bersikap begitu" ucap Dindri


Dindri kembali beraksi


"kamu ngapain sih, bukannya ngerjain tugas mu" ucap dondi


"bang, sadar bang, dia manfaatin abang, udah pacaran sama bang ivan sekarang manfaatin abang.. ada maksud lain itu bang"ucap hevi


"maaf ya, kita atas dasar cinta" jelas Dindri


"he, abang aku yang atas cinta iya.. tapi kalo kamu aku yakin atas balas dendam"


"hevi, pergi, kurang ajar jadi anak, gila kamu ya, pikiran itu dipake kalo lagi ngomong" ucap dondi


"bang..."


"udah udah ya"


dondi membawa pergi Dindri


dari kejauhan, Dindri melambaikan tangannya..


saat sepulang sekolah Dindri, hevi yang sudah menunggu sedari tadi keluarnya Dindri pun mendekati arah Dindri


"he" teriak hevi


"hai adik ipar?"


"adik ipar pala lu"


"apa sih marah marah"


"ah busuk lu, gue gak suka ya cara lo"


"lalu dengan cara bagaimana? itu cara terbaik menusuk dari belakang, masak iya sih gue tusuk dari depan.."


"dengar ya Dindri, cukup sampai bang dondi yang kau hancurin buat balas dendam aku.. jangan lagi lainnya.."


"lainnya? emmm tergantung target gue nyakitin lo masih banyak.."


"stop Dindri.."


"stop? oh NO... "


"bunuh aku saja Dindri"


"ngotorin tangan, nambahin dosa"


Dindri pun pergi


esoknya karna belum puas melabrak Dindri, hevi kembali kesekolah Dindri, berharap ingin membuat Dindri malu, justru ia banyak dipandang sinis oleh beberapa orang disana


"hai hevi.. rajin amat sih follow me? ada apa?" ucap Dindri


"gue masih penasaran sama misi lo"


"misi? visi? tujuan dan maksud"


"siapa lagi bentar lagi nel, siapa? aku capek, sumpah"


"sayang nya aku belum capek ini"


"Dindri.. aku mohon"


"jijik banget, apasih"


ia mendekatkan diri kearah Dindri dan mencoba menarik kasar tangan Dindri, tapi karna melihat kedatangan abangnya, ia pun berlari dan bersembunyi


tak terima dengan perlakuan hevi baru saja yang menarik tangan Dindri, serli mengadu kepada dondi


"bang, hevi adik lo?" ucap serli


"kenapa ya ser?"


"dia barusan kesini tuh bang, dari kemaren dia kesini, masak dia kasar sama Dindri, liat tuh tangan Dindri, bekas merah gegara tangan dia kasar bang" ucap serli


hevi yang mengintip dibalik pilar sekolah pun kaget dengan pengaduan teman Dindri


"dimana dia?"


"itu bang dibalik pilar"


ketika tau arah tunjukkan teman Dindri, hevi mencoba berlari namun dondi menangkap tangannya dan menyeretnya mendekati Dindri


"bang, sakit bang" ucap hevi

__ADS_1


"sakit, iya, liat itu tangan Dindri, merah begitu, menurutmu bagus begitu, kurang ajar memang mau"


"bang, sakit bang lepasin"


"dari kemaren nih bang, dia kesini marah marah gak jelas bilang kalo si Dindri kegatelan sama kamu" ucap salah satu teman Dindri, cindy


"enggak gitu bang, bang sakit abang"


"urusan kita lanjutin dirumah, sekarang kamu pulang" bentak dondi


setelah hevi pulang, Dindri memeluk erat dondi seolah mencari muka


"sakit tangan aku yang" ucap Dindri


"emang seperti anak gak di didik dia, nanti aku kasih dia balasan"


sesampainya dirumah..


"hevi...." teriak dondi


"don, ada apa ini?" tanya ivan


"ini bang, si hevi, masak iya dia datengin Dindri disekolah marah marah gak jelas sampek tangan Dindri merah karna dia kasarin"


tak lama hevi datang


"apa bang"


"apa apa, duduk" ucap dondi kasar


"iya bang"


"liat tangan Dindri, kesakitan, kasar banget kamu, liat mana tangan kamu, apa Dindri membalas perbuatan mu? tidak ada apa apa kan dengan tangan mu"


"bang, dia itu over bang, lebay"


"lebay jelas jelas tangan merah, dan kamu bisa ngelak gak kalo bukan kamu yang ngelakuin itu?"


"dia emang gitu sih don kerjaannya, liat abangnya bahagia itu sesek kayaknya. takut kesaingi" ucap ivan


hevi membungkuk didepan ivan meminta maaf, dan bukan maksudnya membuat ivan membencinya


"eh hevi, urusan kamu sama abang selesai, semua selesai, sekarang sama dondi, mau tanggung jawab yang seperti apa kamu?" ucap ivan


hevi benar benar disituasi dimana ia benar benar tersisih


hari pun berlalu, dengan cara mudah mengendalikan seorang dondi membuat Dindri bangga bisa menyakiti hevi..


sampai akhirnya ketika dondi ikut bersikap dingin kepada hevi, hevi pun meminta dondi memilih antara dirinya dan Dindri..


mengejutkan, jawaban dondi


"bang, aku capek ya, liat abang berduaan sama dia, aku gak sanggup lagi bang hanya karna dia aku kehilangan dua abang aku, mending pilih bang, hevi atau dia?" ucap hevi


"pilih aja don" ucap Dindri


"ya mana bisa aku pilih, kamu pacar aku, dia adik aku"


"yaudah, kamu pilih aja adikmu, aku mengalah, aku tak masalah kehilangan kamu asal kamu tak kehilangan satu bagian dari keluargamu"


Dindri mulai beranjak pergi


"drama apa lagi ini hevi" ucap dondi dengan nada kasar


"bang"


"udah ya cukup, mulai sekarang aku gak mau tau lagi tentang kamu"


"bang dondi" teriak hevi


dondi terus berlalu, ia mengejar Dindri bahkan sampai ia menyetop taksi yang ditumpangi Dindri


supir taksi pun terpaksa berhenti, lalu dondi meminta untuk Dindri keluar lalu dan taksi pergi meninggalkan keduanya


"Dindri, aku bisa jelasin sayang" ucap dondi


"semua udah jelas kok, adik kamu emang benci sama aku.." ucap Dindri pelan


"gak gitu, aku mohon ya sama kamu"


"udah mas dondi, gakpapa, percuma kita lanjutin kalo emang adik kamu gak suka.. percuma"


"aku udah kasih tau dia, emang dia begitu, usil urusan orang, dulu kita emang deket, namanya anak remaja tapi sekarang ada privasi masing masing gak harus semua nya dia tau"


"mas, udah, lepasin, dengan cara adikmu memintamu memilih antara aku, secara tidak langsung dia meminta mu memutuskan ku, dan aku sebagai cewek, dan dalam sejarah ku, tidak ada kata diputusin" ucap Dindri


"iya aku tau, aku gak akan mutusin kamu, kalo perlu kita selama lamanya aja begini"


"selamanya? sebentar aja adikmu begitu, udah udah ya. dengar baik baik, diluar sana masih banyak cewek yang bisa adikmu terima kecuali aku, dan aku hanya cari yang benar benar bisa terima aku apa adanya.." jelas Dindri


"aku udah gak peduli sama dia. sayang.."


"mas... cukup"


saat terus berjalan dan dondi mengikuti nya


tak lama seseorang bermobil mewah menyapa Dindri


"Dindri" sapa seseorang dari dalam mobil yang ternyata adalah dean


"dean?" ucap Dindri sembari berjalan dan masuk dalam mobil dean


kesal dengan lelaki siapa didalam mobil, dondi mengejar laju mobil namun mobil semakin cepat..

__ADS_1


saat melihat dondi sudah tak terlihat.. barulah dean melambatkan laju mobilnya..


"untunglah" ucap Dindri


"kamu kenapa sama dia"


"ada sedikitsih masalah tapi over all santai aja"


"aku denger kamu jadi pelakor ya"


"pelakor? denger dari mana"


"banyak sih yang bilang, jujur aja, kamu jadi perusak hubungan kan?"


"hemmm berita hoax"


dean menyentuh tangan Dindri


"berhenti ya, serius sama aku, jangan bikin banyak orang sakit" ucap dean


"apa sih, dean, ada nanti saatnya aku menerima keseriusan kamu, tapi gak sekarang, nanti, setelah segala urusan persekolahan rampung"


"iya aku nungguin kamu kok masih"


"nah sekalian pengen tau aja kamu itu benar benar nungguin aku apa enggak"


"iya neli" ucap dean mengelus kepada Dindri


sesampainya dirumah, beberapa temen Dindri sudah stand by


"loh kalian udah tadi?"ucap Dindri


"dari tadi Dindri, siah pantes, sama abang dean.." ledek serli


"apasih"


beberapa hari berlalu, tak butuh waktu lama memang, ia mendekati adik hevi..


bernama raden


ia mengertahui hevi memiliki satu adik laki laki sejak ia berpacaran dengan ivan..


raden adalah seorang pelajar sama dengan Dindri, masih duduk dibangku kelas 10


saat Dindri berniat menemui raden..


Dindri memesan makanan diwarung samping sekolah raden


tak lama saat setelah Dindri makan, raden dan beberapa temannya datang..


beberapa teman raden menggodai Dindri..


"wadah, ada cewek sekolah lain" ucap salah satu teman raden


"hei kak, bukan sekolah sini kan, anak mana nih" salah satu teman raden lainnya


Dindri hanya tersenyum sembari meminum es yang dipesannya


"cadaaaas jir, cantik kamu mbak, wah anjir, mulus pula.." ucap salah satu teman raden yang lainnya lagi


Dindri hanya tersenyum, dan saat melihat kearah raden, raden pun hanya ikut tertawa melihat teman temannya menggodai cewek


"kak sekolah dimana?" tanya salah salah satunya lagi


"di SMA PANCA LIMA" jawab Dindri


"oh panca lima punya anak didik secantik kamu ya mbak, anjir"


"makasih"


"kelas berapa mbak?"


"kelas 10"


"anjir, sama ma kita bro" ucap salah satu orang keteman temannya


"mbak, boleh minta nomornya?"


"untuk apa?"


"kenalan mbak, ah gak peka"


"oh, boleh"


setelah bertukar nomor dan sosmed.. dia berpura pura menjadi orang yang terkesan pada raden


"em... raden kan kamu" sapa Dindri


"iya mbak, saya raden"


"emmm, saya terkesan sama kamu, kamu lucu ya"


"anjiiiiirrrr" teriak beberapa teman raden


"kok bisa mbak? aku loh gendut" ucap raden


"justru itu, kamu gendut tapi bersih kulitnya, lucu, mirip cina, kamu cina?"


"aku asli indonesia"


"ohh.. eh jangan panggil kak ya, Dindri aja"


"cadassss raden beruntung, gue jadi dia, gue hajar" ledek beberapa temannya

__ADS_1


__ADS_2