
terlihat keduanya sedang asik berdua, restu yang melihatnya geram namun hanya diam...
suatu ketika, wangi yang sengaja memberi kejutan untuk kedua sahabat nya merayakan hari pertemuan pertama setelah lama berpisah, ia mendapatkan kejutan besar dimana kedua sahabatnya yang mengobrol berdua yang saling menceritakan tentang ketidaksukaannya kepada ayna dan enggar
wangi meletakkan kue tart nya dimeja tempat duduk restu dan irza
"wangi" sapa irza
"wangi.. kamu" ucap restu
"hemm.. aku kira kalian sahabat yang baik, memang cukup mudah merubah status teman menjadi lawan, yang hebat itu lawan berubah status karna berteman" ucap wangi
"maksudnya?"
"enggak ada maksud kok, ini aku bawain kue tart untuk pertemuan pertama kita ditanggal yang sama dua tahun lalu, dan sekalian kue untuk tanda terimakasih saya atas semua yang kalian sudah berikan pada saya dan korbankan untuk saya..."
"wangi.. kamu salah paham wangi"
"kemaren saya salah paham, sekarang saya masih salah paham, kalian selalu mengucapkan itu ketika kedok kalian terbuka..."
"tapi..."
"irza.. aku percaya ya sama kamu, kamu orang pertama yang membuatku bertemu dengan restu, tapi kamu juga orang pertama yang selalu merusak kami" ucap wangi
"kok kamu bilang gitu sih wangi? aku gak gitu kok maksudnya" jelas irza
"asal kalian tau.. saya baru dekat sengan ayna dan enggar, tapi saya kenal betul mereka, kalau yang kamu bilang enggar dan ayna itu orang yang sombong.. kamu benar.. mereka memang memiliki karakter sombong dan angkuh, tapi kalian salah jika itu sifat mereka, itu hanya karakter mereka" jelas wangi
ayna yang memang sejak tadi ikut dengan wangi, ia memang sidikit terlambat turun karna telfon dari dosennya membuatnya masih duduk didalam mobilnya, namun ketika ia turun, hal itu terlihat oleh mata telanjangnya
"wangi.. kamu itu beda, kamu sadar gak? kamu itu gak sama dengan yang aku kenal, kamu berubah" jelas irza
"justru aku yang gak kenal siapa kalian sekarang.."
"gara gara mereka persahabatan kita rusak, kamu sadar itu gak wangi?" jelas restu
"bukan mereka, tapi kalian... kalian membuat persahabatan kita yang menjadi seperti ini" bentak wangi
wangi pun pergi meninggalkan keduanya dan ketika tau ayna dibalik pintu, wangi hanya kaget karna ayna pasti mendengar dan wangi merasa bersalah..
namun wangi terus berjalan meninggalkan tempat itu dan juga ayna..
beberapa hari kemudian.. ketika hari demi hari wangi lalui dengan suka cita... enggar yang sering menemani ia bekerja..
wangi merasa hidupnya benar benar berwarna..
namun suatu ketika, ia melirik kearah ponselnya, dan ia Membuka beberapa foto kenangan nya bersama restu...
ia tiba tiba mengingat kebersamaan mereka, ia merasa hari itu cukup sepi, karna beberapa hari terakhir memang restu maupun irza tak ada menghubungi nya apalagi menemui nya..
akhirnya ia memutuskan untuk besok pulang ke kampung halaman sekaligus mengenang masa remaja dan masa kecilnya ketika itu yang masih polos tak mengenal cinta..
ternyata diwaktu bersamaan wangi, irza, dan restu pun berpapasan namun ketiga nya sama sekali tak tegur sapa.. begitupun dengan irza dan restu mereka terlihat juga sedang sama cuek..
setelah 3 hari, wangi pun bosan karna tidak ada hal lain yang dilakukannya kecuali tidur, makan, nonton tv, tidur lagi, makan lagi dan seterus nya
ia pun memutuskan untuk pulang memberikan kado kepada enggar, ia membelikan beberapa bara g selama perjalanan untuk enggar..
dan ketika sampai pada tempat tongkrongan enggar malam itu..
"woy mana dah cewek lu?" tanya salah satu temannya
"cewek? adik gue kah?"
"yaelah itu kan si ayna.. bukan bukan.. itu tuh yang rambutnya panjang lurus emmm... si itu, wangi"
"oh wangi.. dia mah bukan pacar"
"ha.. bukan pacar lu?"
"bukan.. cuman kita emang deket"
"yaelah gue kira kalian pacaran mana pikiran gue kalian cocok sih"
"cocok dari manenye?"
"cocok beneran, tapi kalo lo kaga mau, boleh kali gue minta nomor dia, gue deketin dia"
"deketin aja.. palingan lu didampar ma dia, dia aja udah takluk ma gue"
"ah lu bro.. ayolah bantu gue"
temannya terus memohon untuk dapat dekat dengan wangi.. sampai akhirnya enggar menantang balap dengan bayaran akan bisa dekat dengan wangi..
enggar tak sadar wangi mendengar
"emm.. job kaga ada nih, nantang balap kaga ada juga, kalo gue tantang lu gimana, Hadiahnya special for you.. kamu bisa deket sama wangi" jelas enggar
wangi kaget ternyata enggar pun tak sama dengan yang ia pikir, dan pilihannya lagi lagi salah untuk kesekian kalinya..
"ah serius lu bro?"
"sumpah serius, sebenernya gue sih mau ya sama wangi, cantik ia, keren ia, tajir ia, tapi gak menghasilkan... yaudah gue kasih aja buat lo. kita sama sama berada dititik keuntungan"
"ah lu bro..."
"serius gue.. mau kaga? sekalian kita adu aja siapa yang pantas sama wangi"
__ADS_1
sebelum enggar dan temannya itu mulai balap..
wangi meminta bendera start balap dan menggantikan sementara
"kak... sebentar lagi enggar sama dwi itu balapan boleh aku yang pakai ini" ucap wangi
"oh boleh kok, kamu kan yang sering bareng enggar kan?"
"iya kak.."
"memang enggar adu apa sama dwi? duit?"
"nanti aja kakak tau sendiri"
dan wangi pun berjalan di belakang beberapa orang disana..
sampai saat dwi dan enggar pun bersiap dengan mobil masing masing..
wangi turun ke jalan dan memegang benderanya..
ketika keduanya sadar... dwi dan enggar pun turun dari mobil masing masing..
"wangi" sapa enggar
"kenapa kalian turun? bukannya kalian mau beradu siapa yang dianggap pantas sama gue?" ucap wangi..
dan semua orang disana pun kaget..
enggar menarik bungkus rokok disakunya, lalu menyalakan dengan korek nya..
enggar menarik tangan wangi lembut dan mencoba jelaskan jika ia sebenernya dipaksa..
"sebenernya sih dia yang maksa tadi" ucap enggar
"woy" ucap dwi menunjuk tepat kewajah enggar
"ya ya ya dia yang maksa, gue kira lu baik, gue kira lu bisa ganti posisi restu nggar.. tapi?"
"tapi apa sih, udah lah sini duduk, baik baik aja"
wangi menarik tangannya yang digenggan enggar
dan ia pulang kerumah nya yang ada di tebet itu
seketika ia tidur memandangi langit kamarnya
tak lama seseorang datanga mengetuk pintu kamarnya
"non"
"diluar ada enggar"
"bilang aja bi.. udah tidur"
"ya non"
tak lama ART nya kembali mengetuk kamarnya
"non.. masih belum mau pulang"
"yaudah bik biarin aja, gausah didengerin, pintu kunci aja"
"ya non"
esoknya ketika ia benar benar mager diatas kasurnya.. ia bangun dan menghubungi salah satu karyawan nya untuk mengabari jika ia tak datang bekerja hari itu
"non.. kok belunlm bangun?"
"udah bik.. masuk aja gak dikunci"
"non saya mau kepasar nitip apa? "
"emm.. gak nitip bi.. uangnya masih ada gak bik?"
"ada non"
dan ketika art sudah pergi sejam kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya..
"si bibi bukan ya? kenapa gak tinggal masuk aja ya kalo bibi. tapi kalo bukan kok lama bibi?" gerutunya turun dari kamarnya dilantai 2
ketika ia membuka yang ternyata restu
"restu"
"aku cukup tau.. kau tidak akan menemukan yang akan menjadi sepertiku.. sekalipun kamu sadar beraoa kali kamu disakiti"
"ngomong apa kamu?"
tak lama bi siti art nya datang
"bi..kok lama?"
"rame pasarnya non tumbenan, tanggal merah tanggal muda juga non"
"emm.. yaudah bi.. masakin agak banyakan.."
setelah bi siti pergi
__ADS_1
"kamu mau pergi? kenapa masak banyak?"
"kamu belum sarapan kan? makan disini sekalian"
restu melirik dengan sedikit menggoda wangi
"emm kamu masih inget hal kecil"
"hal kecil apa?" tnaya wangi
"kamu masih inget kalo aku selalu gak sarapan kalo gak ada yang ngajak"
"hadeh... udah masuk"
ketika bi siti menyiapkan makanan untuk mereka, bi siti menggoda restu yang tersenyum sendiri melirik kearah wangi yang sibuk dengan ponselnya
"den.. ketawa sendiri kesambet dimana?" ledek bi siti
"eh bi siti.. enggak"
setelah mereka siap makan..
"kamu gak jadi masuk kerja hari ini?"
"tadinya mager.. tapi yaudah lah gimana lagi kamu ketuk ya turun takut takut tamu atau tetangga penting"
"emm.. terus sekarang?"
"dateng lah"
"yaudah aku anterin ya.."
"ah... pas dah, mobil gak ada bensin.. yaudah deh"
setelah sampai ditempat kerja...
"siang mbak" sapa satpam
"siang.."
"tumben mbaknya dateng telat?"
"tadinya gamau dateng pak tapi ya mo ngapain dirunahkan?"
"itu den restu ya?" tanya satpam satunya
"iya pak, mobil saya habis bensin"
"emm.. iya mbak"
ketika masuk..
"mbak, katanya gak masuk?"
"tadinya.. pikir lagi ngapain juga disana?"
"oh... iya sih mbaknya kan biasa sibuk ya disini, dirumah ada bibi"
"iya itu dah, ehmm gini deh, karna sata dateng telat, saya bagian pesan antar aja"
"ha.. serius mbak?"
"iya mbak, mbak kan bossnya, mo telat apa gak masuk juga gak pengaruh"
"ya salah lah prinsip begitu" jawab wangi
"tapi serius?"
"serius, udah kasih saya alamat lengkapnya, atas nama siapa, dan kemana aja, saya ganti baju dulu"
setelah itu wangi mengambil beberapa pesanan antar yang cukup banyak untuk hari ini ada 12 pelanggan..
ketika di pelanggan terakhir..
ia bingung mencari kamar yang dituju...
ia sempat beberapa kali menelfon pekerjanya dinomor kamar berapa pesanan terakhir
sampai saat nya iya mendapatkan orangnya
"kak.. pesan apakah kau memesan tart ini?" tanya wangi
"iya saya... masuklah"
"okay"
"hei, kenapa waktumu mepet?" tanya lelaki yang suda didalam kamar itu
"ah... iya maaf, sempat kebingungan tadi cari nomor kamarnya"
"karna mepet dan buat pelanggan kuatir takut gak nyampek, minumlah itu"
"ha.. tapi saya gaj telat kan, kenapa harus minum?"
"ya turuti saya, saya pelanggan, dan saya raja, karna pelanggan raja, mau kamu saya kasih reting jelek pada toko roti ini?"
"oh baik saya minum"
__ADS_1