Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
SENORITA


__ADS_3


perkenalkan..


Seno Riansyah, panggil saja Seno, dia adalah anak laki laki yang selalu menjadi pengacau


"senooo... berapa kali mama harus bilang.. kenapa ini ada lagi tagihan tagihan dikartu kredit mama sih" suara keras memenuhi ruangan seisi rumah..


"apa maa" jawab santai seno turun dari lantai dua rumahnya


"seno.. apa ini" tanya dara, ibu seno


"halah ma, mama kan ada tuh atm yang satunya isinya kan udah gak keitung sama trillyunan, ambil aja dari situ buat bayar yang ini" jawab seno dengan santai sesekali meminum kopi susu nya


"senoo.. kamu ini masih SMA ya.. mama masih harus kuliahin kamu, atau kamu udah gak mau kuliah"


"ah timbang kuliah, mama sama papa kan sering jarang dirumah, semua pada kerja, sibuk, yang tau tentang aku juga bibi, urusin keperluanku juga bibi"


"ya kan mama sibuk, kalau mama gak kerja mana bisa kamu belanja sana sini pakai uang, semua serba mahal dijaman sekarang kamu kerjaan ngabisin mulu"


"ya sekarang aku tanya.. mama sama papa kerja, berangkat sebelum seno bangun, juga pulang setelah seno tidur.."


"seno.. mama..." belum selesai, seno memutus ucapan nya


"ingin membantu papa, buat kamu, buat kita, liat kakak kamu semua mandiri.." ucap seno menirukan ucapan mama nya, dara


"seno"


tiba tiba angga datang.. angga adalah ayah dari seno dan suami dara


"seno seno, liat itu kakak kamu, semua udah mandiri.. gak ngerepoti orang tua kanan kiri" ucap angga


"iya pa.. ngerti pa, bedain dong pa, kak sinta sama kak sarah sama sama sudah menikah, dan menikah sama pengusaha semua, jelas mandiri lah"


"justru itu yang harus kamu contoh, contoh kakak mu, bangga punya suami, mama juga, papa juga, bangga bisa membesarkan anak yang akhirnya bermafaat.. kamu harusnya jadi pengusaha juga, seusia kamu kedua kakak kamu udah usaha sendiri sendiri pantes saja mereka dapat lelaki yang semangatnya juga sama seperti mereka" jelas angga


"terus sekarang intinya, nasib seno gimana pa, ma" tanya seno


"ya nasib mu ya ditanganmu lah" ucap dara


"loh ya emang ditangan seno, tapi kan awal keputusan di mama.. mau aku lanjut kuliah atau gimana"


"kuliah, papa sudah belikan villa didekat kampus, transportasi sudah ada, jarak nya memang lumayan jauh, tapi jika itu resiko kamu, yang penting papa sudah belikan villa" jelas angga


"terus uang bulanan?"


"4,5 juta sebulan" jawab angga


"ha.. 4,5 juta sebulan dibagi 30hari dalam sebulan sehari 150ribu, masak sehari 150ribu"


"itu untuk makan mu saja, kami tidak menyediakan pembantu buat masakin kamu, terserah makan diluar atau gimana 1x makan 50ribu" jelas angga


"terlalu banyak segitu, dia dikasih 1x makan 50 ribu masih terjangkau disana buat makan di restoran.. mama potong seperempat nya 3,4 juta sebulan" jelas dara


"ha.. maaa.. ayolah, papa kasih 4.5 itu kurang masak iya dipotong.." gerutu seno


"yaudah mama potong lagi jadi 2,250,000, setengah dari awal uang yang disebut papa"


"ha.. maaaaa gak ma, dipakai untuk apa uang segitu?"


"seno, kamu makan disana 25 sekali makan sudah dapat kok, makan plus minum itu juga ada kembaliannya" jelas dara


"maaaa..  enggak ma.."


"udah kamu ngelawan mulu, mama turunin lagi ya sampai hati mama gak mau kasih kamu uang biar semua kebutuhan mama yang atur disana?"


"ayolah ma"


"seno, udah besar jangan rengek lagi, mau atau tidak?" tanya dara


"paaa..." ucap seno mencoba merayu


"papa berada dipihak mama" jelas dara


"mama..." ucap seno


"oke jawab mama, disana semua tersedia, tinggal kring minta bahan apa yang habis, mama kirim bahan yang di butuhkan dari sini dan uang bulanan mama kirim 2,250,000? atau mama benar benar angkat tangan sama semua yang kamu butuhkan mulai kelulusan kamu dari sekolah" tanya dara


"iyaa iyaa"


"iya iya, iya apa?" tanya dara tegas


"iya mau kuliah, dan tinggal di villa itu"


"dengan uang segitu?"

__ADS_1


"iya dengan uang segitu"


"pinter.."


dan ketika hari kelulusan itu tiba..


dara dan angga benar benar mengantarkan seno ke villa


turut juga kedua kakak seno, sinta dan sarah..


"wah bagus ma, eh seno, kamu itu bersyukur, kamu kuliah udah sedia semua, mobil, motor, kendaraan lengkap, villa, segala kebutuhan dan dapet bulanan" gerutu sarah


"bersyukur yang kek mana kak, ngeledek ya?" ucap seno


"ih ngeledek, kak sarah itu bukan ngeledek seno, bener nih, aku sama kak sarah kuliah sudah lepas loh dari mama papa" ucap sinta


"kan beda cerita sayang.. kamu kuliah sudah ada suami, masing masing sudah punya suami yang mampu membiayai sekolah kalian" jelas dara merangkul pundak sinta dan sarah


"iya sih ma"


"mama bisa juga bantu kamu kan akhirnya si seno tidak minta uang lagi sama kalian"


"ih kak sinta sama kak sarah cerita ke mama ya?" sambar seno


"apasih, diem udah, sana sama papa"


dan hari dimulai..


dimana hari pertama penduduk sensus mendata seno..


dan kebetulan petugas data sensus adalah dua orang lelaki kembar, handi dan dandi, membawa serta adiknya kebetulan adiknya belum mulai bekerja, karna baru saja lulus dari sekolah...


"rita.. nanti kakak ke villa baru, yang ada dipaling utara.. bangunan baru.. mau ikut gak? cuman jelas jalan kaki" tanya handi


rita adalah adik dari handi dan dandi, bernama lengkap rita triwulan..


"kalau kakak ngebolehin ya rita ikut kak"


"udah jangan deh.. kamu kan dari tadi udah bantuin bawain barang barang kakak, udah sana pulang aja"


"yaudah kak rita pulang ya..."


"iya iya"


dan ketika sampai divilla..


4x lipat dari rumah terbesar didesa itu


handi dan dandi mengetuk pintu villa itu..


kebetulan hari itu seno bersiap akan ke kampusnya, seno membuka pintu villa yang sudah jadi tempat tinggalnya


ketika melihat handi dan dandi, seno memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung kepala keduanya


"eh pak.. dari tadi ya?" tanya seno


"enggak kok barusan..."


"oh saya kira tadi, ada apa pak?"


"saya dari sensus dik"


"maaf pak, sebelumnya benar benar saya ada kepentingan lain dikampus"


"oh yasudah tidak apa sudah dik, bisanya kapan ya?" tanya dandi


"emm nanti sepulang nya saya langsung mampir kerumah bapak aja, bisa saya minta alamatnya?"


"oh nanti kamu tau gang kedua dari pintu pembatas desa, itu cari dah rumah dandi handi pengurus sensus"


"oh iya iya, atau mau saya antar sekarang kan kebetulan saya juga lewat sana"


"oh sudah, gakpapa, masih ada kerjaan lainnya kok"


dan ketika sorenya seno selesai..


seno pun bertamu kerumah handi..


"permisi" sapa nya


"iya, cari siapa nak?" tanya bu surami biasa dipanggil orang kampung dengan nama mak sur


"cari pak handi sama pak dandi, pengurus sensus buk"


"oh itu anak saya nak, masuk masuk, ada urusan apa ya?"

__ADS_1


"ini bu, tadi pagi agak siang pak handi datang kerumah untuk data tapi saya kebetulan ini ada acara di kampus saya.. jadi saya sempatkan pulangnya datang"


"waduh, handi nya di kantor kelurahan, kalau dandi anterin adiknya nyari kerja deh pamitnya tadi"


"oh begitu, yasudah bu kalau begitu saya permisi"


"iya nak, nanti saya salamin ke anaknya"


"iya iya"


dan ketika selesai hari ospek dan seno menunggu tiga hari lagi baru mulai masuk kuliah


sore hari ketika seno sedang tidur, ia terbangun dengan suara teriakan memanggil namanya..


ketika ia membuka pintunya..


"eh pak.. saya kira tadi siapa"


"waduh dik maaf ya, saya sibuk di kantor lurah, ini dandi anterin adik nyari nyari kerja, kasihan kalau harus jalan sendiri"


"iya pak gakapapa"


"eh panggil kang aja"


"iya kang"


dan ketika mereka selesai mendata


beberapa hari kemudian, bu dara dan pak angga datang diam diam tanpa sepengetahuan seno..


ketika baru akan masuk dipintu utama desa sekaligus pembatas.. dara dan angga mendapatkan kendala dimana ban mobilnya pecah, dan harus ganti ban ke lebih tebal supaya bisa melewati jalanan desa yang kasar..


kebetulan waktu yang tepat mereka menanyakan kebeberapa orang disana bagaimana dengan sikap seno


namun di gang pertama ia disapa oleh rita


"permisi pak, bu, saya baru lihat, bukan orang sini?"


"hehe iya nak, ini saya mau jenguk anak saya, tapi saya juga gak bilang mau datang.. eh ban pecah"


"saya anter bu?"


"eh jangan udah gausah"


"udah gakpapa kok bu, kebetulan saya juga mau ke arah utara, mobil ada cuman saya gak bisa kendarainnya, mungkin bapak bisa, cuman mobilnya mobil pick up, milik bapak saya biasa untuk angkut buah"


"oh bisa saya, bisa mobil apa aja kok" jelas angga


"nak, nanti dijalan, berhenti berhenti setiap ada orang ya" ucap dara


"loh kenapa bu?"


"enggak, cuman mau tau sikap anak saya gimana selama disini"


"oh boleh"


rita memilih duduk di belakang pick up


"loh kamu didepan, disamping saya"


"ah jangan bu, baju ibu kotor nanti kena bju saya"


"eh gak masalah udah, jangan bicara begitu lah"


"udah bu gakpapa saya disini"


dan banyak orang yang mengatakan jika tidak kenal dengan seno, sudah dapat disimpulkan seno tidak pernah keluar rumah bersosialisasi dengan warga..


setelah sampai, terlihat rumah cukup sepi..


"nak, sudah sampai.." ucap dara


ketika melihat ke arah rita, sudah tertidur disana


"lah pa, dia tidur"


"waduh ma kasian ni anak, papa bawa masuk aja sudah"


dengan sigap, dara mengetuk pintu villa itu dan seno membukanya..


"mama... mama sama siapa?" tanya seno


"eh minggir dulu, papa mu bawa anak itu kasian, sana sana"


ketika angga sudah meletakkan rita dikasur depan televisi

__ADS_1


"dih papa, mama.. siapa itu pa, ma?" tanya seno


"dia bantuin mama sama papa minjemin pick up nya"


__ADS_2