
Pagi hari yang cerah ditambah suara ramai di ruang keluarga, membuat Erna geleng-geleng kepala ketika melihat bagaimana Ashraf berlari menjauh dari Asyila yang ingin memakaikan pakaian untuk Ashraf.
“Sayang, berhenti!” pinta Asyila sembari berlari mengejar Ashraf.
“Tidak mau, Bunda,” tolak Ashraf yang sangat senang membuat sang Bunda sibuk mengejar dirinya.
“Kamu tidak boleh begitu, Ashraf!” Arsyad ikut mengejar adiknya dan tak butuh waktu lama, ia berhasil menghentikan sang adik yang sangat sulit dipakaikan baju.
Ashraf mengembangkan pipinya dengan mata melirik tajam ke arah sang kakak, Arsyad. Yang telah berhasil menangkap dirinya.
“Bunda, Ayah mana?” tanya Ashraf yang sudah pasrah dipakaikan baju oleh sang bunda.
“Ayah masih sibuk sayang, kalau sudah tidak sibuk Ayah pasti akan segera pulang,” balas Asyila dengan penuh cinta.
“Assalamu’alaikum!” Tiba-tiba terdengar suara pria dari luar pintu dengan begitu lantang.
Ashraf yang sangat hafal dengan suara pria tersebut, berlari dengan begitu kencang. Bahkan, ia sendiri belum selesai memakai celana karena saking bahagianya mendengar suara yang sangat ia rindukan.
“Ayah!” Ashraf berlari sembari merentangkan kedua tangannya agar segera digendong oleh sang Ayah.
“Mas Abraham!” Asyila berlari kecil dan tak lupa membalas ucapan salam dari suami tercinta.
Erna mencubit sekilas pipi cucu kesayangannya yang baru tiba.
“Kamu kemana saja? Lihat Asyila dari tadi kerepotan karena ulah Ashraf,” ucap Erna setengah mengeluh.
Abraham membalas ucapan dari neneknya dengan senyum manisnya. Kemudian, ia mencium punggung tangan Nenek yang sudah membesarkan dirinya setelah kematian kedua orangtuanya.
“Iya, Ayah. Adik Ashraf dari tadi tidak bisa diam,” imbuh Arsyad yang sedikit kesal dengan kelakuan adiknya.
Abraham tertawa kecil dan menciumi putra bungsunya yang sangat menggemaskan dan semakin berisi.
“Ayah, Ibu!” Abraham mencium punggung tangan mertuanya satu-persatu.
Arumi tidak banyak bertanya soal mengapa Abraham baru saja tiba. Ia yakin, apa yang sedang dikerjakan oleh menantu kesayangannya adalah hal yang sangat penting.
“Mas sudah sarapan?” tanya Asyila yang mencoba memberikan perhatian untuk sang suami yang baru saja tiba.
Abraham menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya belum sarapan dikarenakan ingin menikmati sarapan bersama sang istri serta keluarga yang lainnya.
Namun sayangnya, para orang tua dan kedua kakak beradik itu sudah lebih dulu sarapan.
Yang artinya, Asyila lah yang memang belum sarapan karena menunggu sang suami pulang ke rumah.
Tanpa menunggu lama, Abraham pun mengajak sang istri untuk sarapan bersama.
Arsyad dan Ashraf yang sudah sarapan memilih untuk bermain di taman halaman depan dengan mobil-mobilan milik mereka yang dibelikan oleh sang kakek, Herwan.
“Bagaimana pekerjaan Mas? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?” tanya Asyila berpura-pura tidak mengetahui bahwa sang suami telah berhasil menangkap para anak punk yang begitu meresahkan.
“Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, awalnya Mas sempat kesal karena ada beberapa kendala yang membuat pekerjaan kami tidak tepat waktu. Ya, untungnya mereka semua tertangkap,” terang Abraham.
“Lalu, apakah anak-anak punk itu akan kembali ke jalan?” tanya Asyila yang mulai penasaran dengan nasib anak-anak punk tersebut.
Abraham terkejut mendengar pertanyaan dari sang istri, ia bahkan mengernyit heran karena ia sendiri tidak menceritakan tugas apa yang sedang ia kerjakan bersama rekan lainnya.
__ADS_1
“Syila tahu dari mana?” tanya Abraham yang kini sudah berdiri sambil merangkul pinggang Asyila.
Deg!
Asyila langsung terdiam karena ia tak sengaja keceplosan membahas tentang anak-anak punk tersebut.
“Bunda!” Arsyad berlari mendekati Sang Bunda dan menarik tangan Bundanya agar segera ikut dengannya.
“Ada apa sayang?” tanya Asyila penasaran sekaligus lega karena ada putra pertamanya yang datang membantu dirinya.
Samar-samar Asyila mendengar suara putra keduanya, Ashraf yang tengah menangis.
“Ada apa sayang?” tanya Asyila yang telah berada di hadapan Ashraf.
Ashraf tetap menangis sambil menunjuk ke arah kakinya yang kotor terkena lumpur tanah.
“Ini hanya lumpur sayang, hanya disirami air saja,” ucap Asyila dan bergegas menuju ke arah kran air. Kemudian, menyemprotkan air ke kaki Ashraf.
“Cengeng,” ledek Arsyad setengah kesal karena penyebab adiknya menangis adalah lumpur yang mengenai kaki sang adik.
“Biarin,” balas Ashraf yang tak kalah kesal.
Di ruang makan, Abraham masih penasaran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri.
“Kenapa Syila bisa tahu?” tanya Abraham bermonolog.
“Ehem!” Erna berdehem melihat cucu kesayangannya melamun, “Kamu sedang memikirkan apa?” imbuh Erna penasaran.
Abraham menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis ke arah sang nenek, ”Tidak apa-apa, nek.”
“Yakin?” tanya Erna sekali lagi dan berharap Abraham mau memberi jawaban atas pertanyaannya.
Erna menghela napasnya sembari memanyunkan bibirnya yang sudah tidak kencang lagi karena telah keriput dimakan usia.
“Nenek mau nonton tv saja,” balas Erna dan berlalu meninggalkan Abraham yang masih seorang diri di ruang makan.
Asyila berjalan dengan langkah lebar untuk segera menyusul sang suami di ruang makan. Wanita muda itu berharap, sang suami tidak lagi mempertanyakan masalah anak-anak punk.
“Maaf ya Mas,” ucap Asyila yang kini sudah mendaratkan bokongnya di kursi meja makan tepat di samping sang suami.
“Arsyad tadi kenapa?” tanya Abraham dengan terus menatap wajah sang istri yang terlihat tidak nyaman.
“Itu tadi, Ashraf menangis gara-gara kakinya terkena lumpur,” balas Asyila sambil mengambil nasi serta lauk untuk ia dan sang suami.
“Syila kenapa terlihat aneh?” tanya Abraham dan langsung membuat Asyila salah tingkah.
Asyila bahkan tak sengaja menjatuhkan sebuah gelas kosong dan untungnya tidak sampai pecah karena dengan sigap Abraham menyambutnya.
“A-aneh seperti apa Mas?” tanya Asyila balik dan berusaha terlihat tenang. Meskipun jantungnya saat itu berdegup tak karuan seakan-akan sedang tertangkap basah.
Melihat sang istri yang terlihat gugup, Abraham pun langsung mengangkat tubuh sang istri dan meletakkannya di atas pangkuannya.
“Akhhh... Mas!” Asyila terkejut ketika sang suami mengangkat hijab yang ia kenakan dan langsung menciumi lehernya.
Abraham terdiam sejenak, kemudian tertawa lepas melihat wajah sang istri yang telah tersipu malu.
__ADS_1
Wajah yang akhir-akhir ini tidak pernah ia lihat setelah Ashraf lahir.
“Mas kenapa tiba-tiba menyerang Asyila?” tanya Asyila menunduk malu dan berusaha turun dari pangkuan sang suami.
Tangan kanan Abraham merangkul erat pinggang Asyila, sementara tangan kirinya mengangkat dagu sang istri yang semakin membuat Abraham menggebu-gebu.
“Mas, turunkan Asyila!” pinta Asyila sambil mengawasi sekitar ruang makan tersebut.
Abraham mengangguk dan langsung mengangkat tubuh Asyila dengan tatapan penuh cinta.
Wajah Asyila semakin me-merah karena tatapan sang suami, tatapan yang sangat jelas bahwa sang suami menginginkannya.
“Mas, Asyila belum sarapan,” ucap Asyila setengah merengek karena perutnya belum diisi makanan sedikitpun.
Abraham menghela napasnya dan dengan hati-hati menurunkan tubuh sang istri.
Tanpa berpikir panjang, sepasang suami istri itu sarapan bersama dan tentunya dengan satu piring yang sama.
Asyila bernapas lega karena hampir saja dirinya ketahuan oleh sang suami, Asyila bahkan berharap agar sang suami tak membahas atau bertanya masalah anak-anak punk.
Abraham dengan senang menyuapi makanan ke dalam mulut sang istri dengan tangannya sendiri. Meskipun telah memiliki dua anak, tak mengurangi keromantisan keduanya.
Usai sarapan, Asyila langsung mencuci piring dan Abraham meletakkan piring serta peralatan lainnya ke rak piring.
“Mas,” panggil Asyila.
Abraham mendekat dan memeluk tubuh sang istri dari belakang.
“Iya Syila,” jawab Abraham setengah berbisik.
“Kapan kita ke Bandung?” tanya Asyila terdengar sedih.
Abraham mengernyitkan keningnya dan membalikkan tubuh sang istri agar berhadapan langsung dengannya.
“Kenapa sedih?”
“Jujur saja, Asyila belum siap jauh dari Arsyad,” jawab Asyila.
Abraham mengecup kening Asyila dengan sang lama dan setelah itu, Abraham mengajak sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Abraham langsung mengganti pakaiannya dan setelah itu, Abraham merebahkan tubuhnya di tempat tidur bersama Asyila.
“Kalau begitu Arsyad kita bawa pulang ke Bandung,” ucap Abraham.
Asyila yang tengah duduk segera menggelengkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
“Jangan, Mas. Kalau Arsyad pulang ke Bandung, nenek pasti sedih. Asyila sekarang tidak apa-apa, Asyila hanya sedikit sedih saja,” terang Asyila.
“Yakin?”
“Insya Allah,” balas Asyila dengan senyum manisnya.
💖💖💖💖
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1
Maaf baru update 🙏
Mau crazy up? Like ❤️ komen 👇 dulu ya!