
Terima kasih karena telah mencintaiku, Mas Abraham.
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka pun sampai disalah satu pantai yang berada di Jawa barat. Ashraf yang tengah tertidur seketika itu bangun kita mendengar bahwa mereka telah sampai.
Abraham seketika itu juga meminta Eko mencari penginapan untuk mereka, termasuk penginapan untuk keluarga kecil Yogi.
“Baik, Tuan Muda,” jawab Eko dan tanpa pikir panjang Eko keluar dari mobil untuk segera memesan penginapan Tuan Mudanya.
Sembari menunggu Eko, Abraham mengajak Asyila serta Ashraf untuk melihat-lihat sekitar pantai. Ashraf begitu antusias ketika melihat pemandangan dihadapannya, pantai yang sangat luas serta pasir putihnya yang membuat Ashraf ingin cepat-cepat membangun rumah serta istana dari pasir pantai tersebut.
Yogi, Ema dan juga Kahfi keluar dari mobil mereka untuk segera menghirup udara segar.
Kahfi pun tak kalah gembira, ia begitu bersemangat hingga melompat-lompat kegirangan.
Beberapa saat kemudian.
Eko datang menghampiri Tuan Mudanya dan memberikan kunci kamar.
“Ini, Tuan Muda,” ucap Eko sembari menyerahkan kunci kamar.
“Bagaimana menurutmu kamar yang baru saja kamu pesan?” tanya Abraham sambil menerima kunci kamar.
“Cukup bagus, Tuan Muda,” jawab Eko.
“Baiklah, kalau begitu tolong bawa barang-barang kami ke dalam!”
Eko mengiyakan dan mulai mengambil barang-barang Abraham termasuk barang Asyila masuk ke dalam kamar.
Abraham berbalik dan segera mendekati sahabatnya, Yogi. Kemudian, Abraham menyerahkan kunci kamar untuk sahabatnya itu.
“Terima kasih,” ucap Yogi sambil menerima kunci kamar pemberian sahabatnya.
Abraham mengangguk kecil dan merekapun bersama-sama menuju penginapan yang sebelumnya telah dipesan oleh Abraham melalui Eko.
Sesampainya di kamar, Asyila langsung merebahkan tubuhnya. Asyila terlihat sangat senang karena akhirnya ia bisa menikmati waktu bersama keluarga kecilnya di pantai.
“Ayah, ayo kesana!” ajak Ashraf sambil menunjuk ke arah pantai dari jendela kamar.
“Sayang, kita baru sampai. Kita istirahat dulu ya, baru setelah itu kita main air laut,” ucap Abraham secara pelan-pelan agar Ashraf mau mengerti dan menuruti ucapan dari Ayahnya.
Ashraf memanyunkan bibirnya dan mengangguk kecil. Kemudian, ia naik ke tempat tidur menyusul Sang Bunda.
“Bunda, nanti ke pantai ya!” pinta Ashraf.
“Iya sayang, sini tidur didekat Bunda!”
Asyila membelai lembut rambut buah hatinya sembari bersenandung kecil agar Ashraf segera tidur. Dan benar saja, akhirnya Ashraf tertidur dengan sangat nyenyak.
Abraham menghampiri istri kecilnya dan mengajak Sang istri untuk pindah ditempat tidur lainnya. Kebetulan, didalam ada dua kamar yaitu kamar yang tengah ditiduri oleh Ashraf dan yang satunya ada disisi kiri dekat kamar mandi.
“Mas...” Asyila langsung menutup mulutnya rapat-rapat karena ulah suaminya yang tiba-tiba menggendongnya dan membawa ke kamar yang lain.
“Anggap saja disini kita sedang honeymoon,” bisik Abraham.
Wajah Asyila merah merona dan dengan cepat menyembunyikan wajah di dada sang suami.
“Mas ingin Ashraf cepat-cepat punya adik,” bisik Abraham mengutarakan keinginannya untuk memiliki baby lagi.
Asyila mengangguk kecil, bagaimanapun juga Sang suami memiliki hak untuk kembali memiliki baby.
Abraham cepat-cepat menutup pintu dan bergegas mengambil air wudhu. Sementara itu, Asyila mengambil alat sholat yang berada di koper.
Setelah keduanya mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunah dua raka'at. Merekapun langsung...
Ah, kalian tentu sudah tahu apa yang setelah itu terjadi. 😳😅
__ADS_1
****
Malam hari.
Abraham mengajak istri dan buah hati mereka untuk menikmati makan malam didekat pantai. Bersama Yogi, Ema dan juga Kahfi yang juga ingin menikmati makan malam didekat pantai.
Ashraf dan Kahfi langsung berdekatan ketika sudah bertemu. Mereka bahkan mengabaikan orang tua mereka masing-masing jika sudah berdekatan layaknya anak kembar.
“Abraham, apa tidak apa-apa jika aku libur untuk beberapa hari ke depan?” tanya Yogi.
“Tidak apa-apa, lagipula pekerjaan kantor sementara waktu bisa kita kerjakan disini tanpa harus ke kantor. Apakah kamu mau meninggalkan istri dan anakmu disini?”
Yogi dengan cepat menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ia bekerja sementara istri dan buah hati mereka liburan tanpanya.
“Hitung-hitung honeymoon alias bulan madu,” celetuk Yogi.
Ternyata pikiran Mas Abraham dan Pak Yogi sama. Mereka menganggap liburan ini seperti bulan madu. 😅
Mereka berjalan bersama menuju lokasi makan malam, mereka bercengkrama sembari menikmati keindahan malam dipinggir pantai yang deru ombaknya benar-benar menenangkan, ditambah angin sepoi-sepoi yang menyapa tubuh anak-anak manusia.
Tempat duduk merekapun hanya dikhususkan untuk dua orang yang saling berhadapan. Benar-benar seperti pengantin baru yang sedang honeymoon atau bulan madu.
“Selamat datang, silakan duduk!” Seorang wanita menuntun Abraham dan Asyila kearah tempat duduk mereka. Begitu pula Yogi dan Ema yang duduk tak jauh dari Abraham dan Asyila.
“Wah ada anak-anak juga ya, adik-adik sini ikut kakak duduk disana!” ajak seorang wanita dengan seragam pelayan dan menuntun Ashraf serta Kahfi duduk ditempat makan khusus anak-anak.
Ashraf dan Kahfi sama sekali tak protes karena meja makan mereka yang tak berdekatan dengan kedua orang tua mereka. Justru, keduanya sangat senang karena bisa makan malam bersama di pinggir pantai.
Makan pun dimulai setelah para pelayan menyajikan menu makan malam yang begitu menggoda.
Seperti biasa, Abraham dan Asyila akan menikmati makanan di piring yang sama dan saling suap menyuapi makanan.
Ema dan Yogi tak mau kalah, merekapun melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Abraham dan Asyila. Mereka berdua ingin terlihat romantis seperti yang biasa dilakukan oleh Abraham dan Asyila.
“Siapa Mas?” tanya Asyila.
Abraham meminta istri kecilnya untuk tidak bicara dengan bahasa bibir. Kemudian, Abraham membuka isi pesan singkat dari Dyah yang berisikan :
💌 Dyah :
“Paman curang!” 😭
Abraham tersenyum tipis dan kembali meletakkan ponselnya.
Ketika ingin memasukkan makanan ke mulutnya, ponsel Abraham kembali berbunyi.
💌 Dyah :
“Beritahu Dyah, Paman pergi ke pantai mana!”
Abraham menghela napasnya dan lagi-lagi ia tidak membalas pesan singkat dari keponakannya, Dyah.
Makan malam pun kembali berlanjut, sesekali Abraham mengajak istri kecilnya bergurau ketika sedang menyuapi istri kecilnya.
Beberapa saat kemudian.
Usai menikmati makan malam, kegiatan mereka dilanjutkan dengan berkeliling sekitar pinggir pantai.
Ashraf dan Kahfi pun senang bahkan, bermain kejar-kejaran karena terlalu senang.
“Kahfi, kejar aku!”
Kahfi tertawa lepas dan mencoba menangkap Ashraf yang terus berlari.
“Hati-hati sayang!” teriak Asyila pada kedua bocah yang sangat bahagia itu.
__ADS_1
Abraham dan Asyila berjalan menikmati pasir pantai dengan bertelanjang kaki, sesekali Abraham menggoda istri kecilnya sehingga keduanya bermain kejar-kejaran layaknya anak kecil.
Ema memanyunkan bibirnya dan memberi isyarat agar suaminya melakukan hak yang sama seperti yang dilakukan oleh Abraham.
Akan tetapi, Yogi tidak mengerti isyarat lirikan mata istrinya itu.
“Abangku sayang, adik mau seperti Pak Abraham dan Asyila,” jelas Ema sembari menunjuk ke arah Abraham dan Asyila.
Yogi tertawa kecil melihat kecemburuan istrinya yang selalu ingin bersikap romantis seperti Abraham dan Asyila.
“Abang!” Ema berteriak keras saking terkejutnya ketika suaminya tiba-tiba menggendongnya dan berlari kecil.
Asyila menoleh sekilas dan tanpa diduga Abraham pun menggendongnya seperti yang Yogi lakukan kepada Ema.
“Mas tidak akan pernah membuat Syila cemburu dengan pasangan lain,” ucap Abraham.
Asyila tersenyum bahagia dan tangannya menyentuh dada suaminya yang begitu kekar.
“Mas malam ini sangat tampan,” puji Asyila yang berada di gendongan Abraham sembari tangannya membelai lembut dada Abraham.
“Malam ini Mas tidak akan melepaskan Syila,” ucap Abraham dengan senyum genitnya.
“Ok!” seru Asyila menantang suaminya.
Asyila tersenyum lebar, keinginan dari suaminya mungkin tidak bisa langsung terealisasikan. Dikarenakan, putra kecil mereka pasti rewel dan akan membuat Abraham kembali frustasi.
“Jangan meremehkan suamimu ini, kita lihat saja nanti malam siapa yang akan menang,” tutur Abraham dengan penuh percaya diri.
Asyila tertawa kecil dan tangannya kita beralih menyentuh bibir suaminya.
“Selain tampan, Mas juga....” Asyila menggantungkan perkataannya dan segera menyembunyikan wajah di dada Abraham.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, sudah waktunya bagi Abraham maupun yang lainnya kembali ke penginapan.
Mereka harus segera berisitirahat untuk mengumpulkan tenaga mereka di esok hari.
“Ayah, Ashraf tidur sama Kahfi ya!” pinta Ashraf sambil memegangi tangan Ayahnya dengan erat dan dengan tatapan berbinar-binar.
Abraham mana bisa menolak buah hatinya jika sudah begitu. Akan tetapi, ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada sahabatnya, Yogi.
Pria itu pun keluar dari kamarnya dan mendatangi Yogi, sebenarnya Abraham bisa mengatakannya lewat telepon. Akan tetapi, Abraham merasa kurang sopan dan akan sangat baik jika berhadapan langsung dengan sahabatnya, Yogi.
Disaat Abraham ingin mengetuk pintu kamar, disaat itu pula Yogi keluar bersama Kahfi.
“Aku baru saja ingin menemui mu,” ucap Yogi.
“Begini...” Abraham dan Yogi sama-sama mengatakan kata “Begini”
“Kamu dulu yang bicara,” tutur Abraham, pada Yogi.
“Tidak, kamu saja,” balas Yogi.
Ashraf yang tak sabaran langsung meminta izin pada Yogi agar bisa tidur bersama Kahfi.
“Papa Yogi, Ashraf boleh tidur sama Kahfi?” tanya Ashraf dengan tatapan berbinar-binar.
Tentu saja Yogi langsung mengiyakan, tujuannya keluar kamar bersalin Kahfi karena ingin meminta izin kepada Abraham agar mengizinkan Ashraf tidur bersama Kahfi.
“Karena kamu sudah setuju, kalau begitu aku langsung membawa Ashraf masuk ke kamar. Aku ingin mereka cepat-cepat tidur,” bisik Yogi dan dengan gerakan cepat ia membawa masuk Ashraf.
Abraham menggaruk-garuk kepalanya melihat tingkah sahabatnya, itu. Kemudian, ia ingat bahwa malam itu akan terjadi perang kasur bersama istri kecilnya.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham dan cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya untuk menemui istri kecilnya.
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1