
Abraham terlihat tak tenang ketika mengetahui bahwa istri kecilnya tak nafsu makan. Hal itu, membuat Abraham berpikir keras untuk menemukan cara agar sang istri mau makan.
Untungnya, dirumah hanya ada mereka saja. Dikarenakan, Ashraf tengah menginap di tempat sahabatnya, Yogi.
“Syila mau beli apa? Apa mau bakso beranak dalam sumur?” tanya Abraham yang justru mengajak istri kecilnya bercanda.
Asyila menggelengkan kepalanya, ia sedang tidak bersemangat diajak bercanda. Lagi-lagi Abraham bingung, ia harus segera membuat istri kecilnya bersemangat agar bisa segera masuk ke kamar untuk berduaan.
Entah kenapa tiba-tiba Asyila menginginkan sate ayam yang dulu pernah ia singgahi bersama suaminya ketika masih menjadi pengantin baru. Asyila pun mengatakan keinginan dan tanpa pikir panjang Abraham mengiyakan meskipun jarak dari perumahan Absyil menuju tempat yang dimaksud Asyila cukup jauh.
“Mas, Syila pakai baju yang mana?” tanya Asyila yang bingung harus memakai pakaian apa.
Abraham mendekat dan mengambil gamis berwarna hitam yang menurut Abraham sangat cocok dipakai oleh istri kecilnya.
Asyila mengucapkan terima kasih karena suami telah memilihkan pakaian yang cocok untuknya.
Beberapa menit kemudian.
Abraham dan Asyila bergegas pergi menuju penjual sate yang dulu sering menjadi langganan mereka ketika masih menjadi pengantin baru. Mereka pergi tanpa mengajak Ashraf, hitung-hitung mereka sedang kencan.
Asyila mendekap tubuh suaminya dengan sangat erat, ia sangat senang menghirup udara segar dimalam hari. Apalagi kota Bandung sangat sejuk dan memang paling nyaman keluar dengan suami tercinta.
“Mas, sepertinya kita salah jalan,” ucap Asyila.
Abraham menghentikan laju motornya dan menyadari bahwa memang mereka telah salah jalan.
“Mas kenapa sampai lupa?” tanya Asyila.
“Mungkin karena terlalu senang sampai-sampai lupa jalan,” jawab Abraham dengan tersenyum lebar.
Abraham akhirnya putar balik dan sembari mengingat-ingat jalan yang dulu pernah ia lewati bersama istri kecilnya.
Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir 1 jam, Abraham dan Asyila pun sampai di tempat yang diinginkan oleh Asyila.
Abraham dengan penuh perhatian melepaskan helm yang dipakai istri kecilnya dan tak lupa memberikan sentuhan cinta dikedua pipi sang istri.
“Sekarang jangan sedih lagi, ayo senyum!” pinta Abraham.
Asyila tersenyum dan memeluk tubuh suaminya sekilas. Kebetulan disekitar mereka tidak ada orang, kemudian mereka bersama-sama menuju tenda biru penjual sate ayam.
__ADS_1
“Dyah?” Asyila terkejut melihat Dyah duduk bersama Fahmi. Abraham pun tak kalah terkejutnya, ternyata Fahmi perlahan sudah bisa mendekati keponakannya itu.
Dyah dan Fahmi seketika itu beranjak dari duduk mereka. Mereka terlihat kebingungan karena terkejut melihat Abraham dan juga Asyila ada disana.
“Kalian sedang berkencan?” tanya Asyila penasaran.
“Aunty jangan salah paham, kebetulan Mama meminta Dyah untuk mampir kemari dan membelikan Mama sate ayam,” terang Dyah yang sebenarnya tidak ingin pergi bersama Fahmi.
Asyila melirik ke arah Fahmi dan Fahmi pun mengangguk kecil mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dyah.
Abraham tak banyak bertanya, ia justru meminta agar Dyah dan Fahmi memesan sate ayam dan makan bersama.
Soal makanan, Dyah begitu semangat tanpa rasa malu Dyah memesan sate ayam lengkap dengan lontong.
Abraham memberikan tatapan ramah kepada Fahmi, Fahmi benar-benar bersyukur karena adanya Abraham dan Asyila membuat suasana yang awal tegang akhirnya menjadi cair.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Abraham pada Dyah.
“Cukup merepotkan, Paman. Syukurnya, Dyah sudah tidak perlu lembur lagi,” jawab Dyah.
Abraham terus bertanya kepada Dyah seputar pekerjaan. Hal itu sengaja Abraham lakukan dengan maksud agar Kahfi bisa mendengar jawaban dari Dyah. Dikarenakan, sebelumnya Kahfi pernah bercerita kalau ia sangat sulit mendekati Dyah.
Disela-sela perbincangan, ponsel Fahmi berbunyi dan dengan sengaja Dyah melirik ke arah layar ponsel Fahmi tapi tidak sampai membuat kepala menoleh ke samping.
“Maaf semuanya, ada telepon,” ucap Fahmi dan beranjak dari duduknya untuk menerima telepon tersebut.
Dyah kesal dan tak sengaja menjatuhkan piring yang berada disampingnya hingga piring itu pun terjatuh dan pecah.
Abraham dan lainnya panik termasuk Fahmi yang sedang menerima sambungan telepon.
“Awww!” Karena kurang hati-hati ketika memunguti pecahan piring, salah satu jari telunjuk Dyah terkena pecahan.
Fahmi yang melihat tangan Dyah berdarah langsung dengan sigap menyuruh Dyah untuk menjauh dari pecahan piring tersebut. Kemudian, Fahmi yang sibuk mengumpulkan pecahan piring yang berserakan.
Abraham dan Asyila bukannya tidak ingin membantu, tapi mereka memberikan kesempatan bagi Fahmi untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti yang sekarang dilakukan oleh Fahmi.
Istri penjual sate ayam buru-buru mendekati Fahmi dan mengatakan agar Fahmi jangan memunguti pecahan piring tersebut. Karena pembeli adalah raja, meskipun orang yang memecahkan piring tersebut adalah pembelinya.
Fahmi beranjak dan berlari begitu saja. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Fahmi dan Dyah pun berpikir bahwa Fahmi ingin melanjutkan perbincangannya yang tertunda karena ulah dari Dyah.
__ADS_1
Dyah meminta maaf kepada penjual sate ayam karena kurangnya hati-hati sehingga ia memecahkan piring. Respon dari penjual sate ayam tidak marah dan malah meminta maaf balik karena kesalahan dari mereka yang lupa meletakkan piring tersebut ketempat yang seharusnya.
Beberapa menit kemudian.
Fahmi datang dengan membawa bungkusan putih dan tanpa pikir panjang, Fahmi mengobati luka Dyah didepan Abraham dan Asyila.
Dyah sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Fahmi secara tiba-tiba, tapi di lubuk hati yang paling dalam Dyah sangat senang mendapatkan perlakuan lembut dari Fahmi.
Ketika Fahmi telah selesai mengobati luka Dyah, ketika itu pula sate pesanan mereka datang.
“Silakan dinikmati,” ucap si penjual.
Abraham dan lainnya mengiyakan dengan senyum memberikan senyum ramah.
“Terima masih,” ucap Dyah canggung dan bergeser menjauh dari Fahmi.
Karena waktu sudah semakin malam, Abraham meminta mereka segera menikmati sate ayam.
Fahmi sangat senang melihat Dyah yang lahap makan. Apalagi Dyah ketika sedang makan nampak sangat alami dan tidak dibuat-buat seperti kebanyakan wanita yang menjaga image ketika makan dengan lawan jenis.
Akhirnya makan sate bersama pun berakhir, Abraham dan Asyila pulang dengan motor mereka. Sementara Dyah dan Fahmi masih belum pulang karena harus menunggu beberapa menit lagi sate yang sebelumnya dipesan oleh Yeni, Mama dari Dyah.
Fahmi membayar sate ayam tersebut dan Dyah pun meminta agar Fahmi tidak melakukan hal itu.
“Sudah tidak apa-apa, aku ada rezeki dan tidak ada salahnya membelikan satu untuk Mama Yeni,” ucap Fahmi dengan santainya.
Semakin kesini ternyata Fahmi semakin aneh. Dia memanggil Mama dengan sebutan Mama. Ah sudahlah, tak usah dipikirkan. Malam ini suasana hatiku sedikit membaik.
Dyah naik ke atas motor dan motor pun melaju dengan kecepatan sedang.
Senyum Dyah merekah sempurna ketika merasakan angin malam yang terdengar seperti sedang menyemangati dirinya.
“Terima kasih karena sudah mengantar jemput aku. Oya, terima kasih juga karena kamu telah mengobati luka ku,” ucap Dyah malu-malu.
“Sama-sama,” balas Fahmi dengan sangat bahagia.
Fahmi senang karena Allah telah membuatnya perlahan menjadi dekat dengan calon istri kecilnya. Fahmi berharap kedepannya Dyah semakin dekat dengannya sehingga ia bisa cepat memberitahukan semuanya, yaitu bahwa ia telah melamar Dyah untuk menjadi istrinya.
Dan sebenarnya, hari pernikahan Dyah dan Fahmi sudah ditentukan sesuai kesempatan.
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya?
Ikuti terus teman-teman 💖🙏😂