
Sudah hampir jam 3 sore Asyila duduk disampingnya buah hatinya dan sampai saat itu juga Abraham belum memberi kabar kepadanya. Asyila berkali-kali mengelupas dadanya yang terasa sangat sesak, ia merasa seperti akan ada hal buruk terjadi.
“Bunda...” Ashraf memanggil Bundanya dengan mata yang masih terpejam.
“Iya sayang, ini Bunda,” jawab Asyila mendekat.
“Ayah...” Ashraf kemudian memanggil Ayahnya.
Asyila terdiam sejenak dan dengan hati-hati membelai pipi buah hatinya.
“Ayah sedang ada urusan sayang, Ashraf jangan banyak bergerak ya sayang.”
Ashraf mengangguk pelan menuruti perkataan Bundanya, Asyila.
“Anak pintar,” puji Asyila.
Ponsel Asyila tiba-tiba berbunyi dan dengan cepat Asyila menerima panggilan telepon dari suaminya.
“Selamat sore!”
Asyila terkejut dan menoleh ke layar ponselnya. Ia terdiam sejenak dan kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.
“Anda siapa? Dimana suami saya?” tanya Asyila panik.
“Saat ini suami Mbak sedang berada di rumah sakit,” jawabnya dan mulai memberikan penjelasan mengenai Abraham dan Yogi yang mengalami kecelakaan beruntun.
Deg!
Bruk!
Kaki Asyila seketika itu lemas dan ia pun terjatuh bersamaan dengan ponsel ditangannya. Perawat yang melihat Asyila jatuh, langsung menuntun Asyila untuk duduk di kursi.
“Nyonya kenapa?” tanya si perawat.
Asyila terdiam mematung, raganya mungkin diruangan itu. Akan tetapi, pikirannya kemana-mana. Ujian kembali datang dan bertubi-tubi.
Si perawat memungut ponsel Asyila dan meletakkan di nakas. Kemudian, ia memberikan air minum kepada Asyila.
“Nyonya Asyila minumlah dulu!”
Asyila masih terdiam dan ia menangis tanpa ekspresi.
“Nyonya sebaiknya berisitirahat sebentar, wajah Nyonya Asyila begitu cepat.”
Asyila tersadar dan ia pun melangkah kakinya mendekati nakas. Lalu, mengambil ponselnya kembali dan segera menghubungi Herwan.
Wanita muda itu meminta Sang Ayah untuk datang ke rumah sakit tempat di mana Abraham serta Yogi dirawat. Kebetulan, rumah sakit tersebut tidak jauh dari rumah sakit yang saat ini ditempati oleh Arsyad.
Setelah memberitahukan Sang Ayah, kini Asyila menghubungi Ema dan rupanya Ema telah mendapat kabar bahwa Abraham serta Yogi mengalami kecelakaan beruntun. Terdengar dari balik telepon Ema menangis ketakutan.
“Asyila, sekarang aku dan Kahfi sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku sangat takut, Asyila...” Ema berbicara sembari menangis dan samar-samar terdengar Kahfi yang juga ikut menangis.
Asyila tak bisa berkata-kata lagi, ia pun sekarang benar-benar kebingungan sekaligus takut. Suami serta dua buah hati mereka sekarang sedang tidak baik-baik saja dan dirawat di rumah sakit yang berbeda-beda.
__ADS_1
“Asyila, aku tutup dulu. Setelah mengetahui kabar selanjutnya mengenai Pak Abraham, aku akan segera mengabari kamu, Assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Asyila.
Perawat yang berada di ruangan itu pun pergi setelah memeriksa keadaan Ashraf. Kini, hanya ada Asyila dan Ashraf di ruangan tersebut.
Sebelumnya, Abraham sengaja memesan kamar khusus untuk buah hatinya. Sehingga, hanya ada satu kamar saja dan dua tempat tidur untuk Asyila beristirahat.
“Ya Allah, kenapa ujian yang Engkau berikan kali ini benar-benar berat? Sekarang hamba bingung harus melakukan apa disaat genting seperti ini.”
“Hiks... hiks...” Asyila hanya bisa menangis, pikirannya buntu, dadanya sesak, hatinya hancur dan ia bingung harus melakukan apa.
Ponsel Asyila kembali berbunyi, ia pun menerima sambungan telepon dari keponakan Sang suami, Dyah.
“Assalamu’alaikum, Aunty! Aunty sekarang dimana?” tanya Dyah.
Asyila menjawab salam dan memberitahukan kepada Dyah bahwa ia sedang berada di rumah sakit.
“Baik, Aunty. Dyah akan langsung kesana, Assalamu'alaikum.”
Wa’alaikumsalam,” balas Asyila.
Nyut! Nyut! Nyut! Asyila memijat kepalanya yang terasa sangat sakit. Dengan langkah kecil, ia berjalan menuju kamar mandi untuk melaksanakan sholat ashar. Asyila ingin mengadukan semua kesedihannya kepada Sang Pencipta.
Ashraf samar-samar membuka matanya, tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan, untuk membuka suara pun ia tidak sanggup. Ia hanya menangis karena ia merasa sendirian dan Bundanya tidak berada disampingnya.
Asyila yang telah selesai mengambil air wudhu, terkejut ketika melihat air mata Ashraf yang terus mengucur.
“Ada apa sayang? Sakit ya nak? Tahan ya sayang, Bunda disini,” ucap Asyila sambil menghapus air mata Ashraf secara perlahan.
“Bunda sholat sebentar ya sayang, Bunda akan berdo'a kepada Allah agar kita semua diberikan kesehatan. Terutama Ayah, Kak Arsyad dan juga Ashraf,” tutur Asyila sembari menahan tangisannya.
Sebelum melaksanakan sholat ashar, Asyila lebih dulu membelai rambut buah hatinya dan mengecup kedua pipi buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
Asyila melaksanakan sholat ashar dengan begitu serius dan air matanya terus saja menetes.
Ya Allah, Ya Tuhan kami. Tolong sembuhkan Suami dan buah hati kami Ya Allah. Jika ini adalah ujian dari-Mu, hamba mohon segera sembuhkan lah mereka. Mereka adalah sumber kekuatan hamba Ya Allah, mereka adalah penyemangat hamba Ya Allah.
Asyila pun bersujud dengan kurun waktu yang cukup lama. Sampai Dyah dan kedua orangtuanya datang memasuki ruang rawat Ashraf.
“Aunty!” teriak Dyah dan segera memeriksa Asyila yang saat itu sedang dalam posisi bersujud, “Astaga, Dyah kira Aunty pingsan,” imbuh Dyah.
Asyila memeluk Dyah dan menangis di pelukan keponakan dari suaminya.
“Aunty kenapa? Apakah adik Ashraf sakitnya parah?” tanya Dyah panik.
Yeni mendekat dan mencoba menenangkan hati Asyila. Sementara Temmy, memilih untuk melihat kondisi Ashraf secara dekat.
“Mas Abraham, Mbak...” Asyila menyentuh tangan Yeni sembari menangis.
“Ada apa dengan Abraham?” tanya Yeni khawatir.
“Arsyad pagi tadi masuk rumah sakit dan Mas Abraham mengalami kecelakaan beruntun bersama dengan Pak Yogi ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Ashraf dirawat,” jelas Asyila.
__ADS_1
“Innalilahi wa innailaihi ra'jiun,” ucap Yeni dan juga Temmy.
“Lalu bagaimana keadaan Abraham sekarang?” tanya Temmy mendekat ke arah Asyila yang saat itu masih duduk beralas sajadah.
“Asyila juga belum tahu kabar Mas Abraham, Ema saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dan akan memberitahukan kondisi Mas Abraham kepada Asyila segera mungkin, setelah tiba di sana,” terang Asyila.
Dyah dan kedua orangtuanya terlihat sangat terkejut. Mereka sangat kasihan dengan Asyila yang mengalami ujian bertubi-tubi.
Cobaan datang tidak hanya dari Arsyad dan Ashraf. Bahkan, suaminya pun mengalami kecelakaan beruntun bersama dengan Yogi.
“Dyah dan Mama diam disini untuk menemani Asyila dan juga Ashraf. Papa sekarang harus pergi ke Jakarta,” ucap Temmy.
“Papa hati-hati di jalan,” ucap Dyah.
“Kabarkan kepada kami mengenai kondisi Abraham,” tutur Yeni.
Tanpa pikir panjang, Temmy berlari secepat mungkin menuju area parkir untuk segera pergi ke Jakarta.
Kaki Dyah lemas, ia benar-benar sedih karena kedua adiknya serta Paman kesayangannya sedang dalam kondisi yang tidak baik.
“Sabar ya Syila, kamu sekarang harus kuat,” ucap Yeni.
“Asyila sangat takut, Mbak. Asyila sangat takut jika hal-hal buruk terjadi pada....”
“Sssuuuttt.... Jangan bicara ngelantur seperti itu,” ucap Yeni memotong ucapan Asyila.
Dyah beranjak dan menghampiri Ashraf yang masih tertidur.
“Dik, kamu harus cepat sembuh. Kalau kamu cepat sembuh, Kak Dyah janji akan membelikan kamu banyak es krim. Mau rasa apa? Cokelat, vanilla, strawberry dan lain-lain. Pokoknya Kak Dyah akan belikan untuk kamu, asal kamu cepat sembuh,” bisik Dyah.
Yeni memanggil Dyah dan meminta Dyah untuk mencari makanan. Dikarenakan, saat ini Asyila terlihat sangat pucat dan lemas. Yeni yakin dan sangat yakin kalau Asyila belum makan.
“Baik, Mama,” balas Dyah dan bergegas mencari restoran atau rumah makan terdekat untuk Aunty-nya.
Lagi-lagi ponsel Asyila berbunyi dan kali ini yang menerima sambungan telepon adalah Yeni.
“Iya, Assalamu'alaikum,” ucap Yeni.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tanya Arumi karena yang menerima bukanlah putri kesayangannya.
“Saya Yeni, Bu,” jawab Yeni.
Arumi akhirnya paham kenapa Yeni lah yang menerima telepon. Arumi pun menjelaskan kondisi terbaru Arsyad dan memutuskan telepon karena ia harus kembali menjaga Arsyad. Dikarenakan, Herwan saat itu tengah pergi ke rumah sakit tempat Abraham dirawat.
Yeni kembali meletakkan ponsel milik Asyila dan memberitahukan bahwa Arsyad terkena tipes.
“Arsyad Alhamdulillah baik-baik saja, penyakit tipesnya tidak terlalu parah. Dan Ibu Arumi mengatakan kemungkinan 3-4 hari Arsyad boleh pulang,” terang Yeni kepada Asyila.
Asyila sedikit bisa bernapas lega, setidaknya kondisi Arsyad menunjukkan tanda-tanda akan segera sembuh. Kini Asyila tengah menunggu kabar suaminya dari Ema. Entah sampai kapan Asyila harus menunggu kabar terbaru mengenai kondisi Suami tercintanya, Abraham.
Abraham ❤️ Asyila
Bagaimana jika kalian diposisi Asyila?
__ADS_1
Komen dong! Terima kasih!!