Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Hari Pertama Arsyad Sekolah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Arsyad putra pertama Abraham dan Asyila pagi itu akan pergi ke sekolah. Untuk pertama kalinya Arsyad akan mengenyam pendidikan di TK.


Akan banyak hal yang Arsyad pelajari di usianya yang menginjak 5 tahun.


“Bunda, Ashraf mau seperti Kak Arsyad,” ucap Ashraf yang juga ingin memakai atribut sekolah.


“Ashraf juga mau? Tapi, tidak disini sayang,” jawab Asyila.


“Di Bandung ya Bunda?” tanya Ashraf antusias.


“Iya sayang, kalau Ashraf disini siapa nanti yang menemani Ayah dan Bunda?” tanya Asyila sambil menirukan suara anak kecil.


Ashraf cengengesan dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Bundanya.


“Wah, kesayangan Ayah tampan sekali. Arsyad memangnya mau kemana pagi-pagi begini sudah pakai seragam?” tanya Abraham berpura-pura tak tahu alasan mengapa Arsyad memakai seragam sekolah.


“Arsyad mau sekolah, Ayah,” jawab Arsyad.


“Dengarkan apa saja yang dikatakan oleh guru yang sayang. Siapapun guru yang mengajar Arsyad, Arsyad tidak boleh membantah. Anggap saja guru disekolah seperti orang tua di rumah. Arsyad mengerti!”


“Mengerti Ayah!” seru Arsyad.


Asyila tersenyum dan menyisir rambut putra pertamanya dengan lembut.


“Pakai bedak ya sayang biar wangi,” tutur Asyila sambil memberikan bedak bayi ke wajah Arsyad.


“Jangan tebal-tebal ya Bunda!” pinta Arsyad.


“Tidak sayang.”


Kini Arsyad sudah siap untuk pergi ke sekolah. Akan tetapi, tiba-tiba Arsyad sedih ketika menoleh ke arah kamar Nenek buyutnya.


“Kenapa sayang?” tanya Asyila ketika melihat mata Arsyad berkaca-kaca.


“Nek Yut,” ucap Arsyad lirih dan terdengar sangat sedih.


Asyila masuk ke dalam kamar untuk memberitahukan bahwa putra pertama mereka sangat sedih ketika mengingat Sang Nenek tercinta.


Abraham pun memutuskan untuk pergi ke pemakaman umum menemui Nenek Erna.


“Ayo semuanya, kita ketemu Nek Yut dulu. Bagaimana? Mau tidak?” tanya Abraham.


Arsyad dengan cepat mengangguk setuju. Ia ingin memberitahu bahwa dirinya akan bersekolah dan sayangnya, Nenek buyutnya tidak bisa melihatnya secara langsung ataupun mengantarkannya ke sekolah seperti yang dijanjikan oleh Erna sebelumnya.


“Ibu dengar kalian ingin ke pemakaman umum, bolehkah Ibu ikut?” tanya Arumi.


“Tentu saja, Ibu. Ayah juga bisa ikut menemui Nenek,” sahut Abraham.


“Tunggu sebentar, Ibu akan memanggil Ayah kalian,” ucap Arumi cepat-cepat mencari keberadaan suaminya, Herwan.


Beberapa menit kemudian.


Arumi dan Herwan telah berganti pakaian untuk pergi ke pemakaman umum bersama yang lainnya.


Sesampainya di pemakaman umum, Arsyad mengungkapkan perasaannya yang akan berangkat ke sekolah.


Abraham dan Asyila saling bertukar pandang ketika melihat putra pertama mereka sangat serius menatap papan nama nisan milik Sang nenek tercinta.


“Hiks.... hiks...” Arsyad yang awalnya hanya menatap kini menangis tersedu-sedu. Dari hati yang paling dalam ia mengungkapkan bahwa dirinya sangat merindukan Nenek buyutnya itu.


Abraham dan lainnya tak kuasa menangis tangis, mereka tersentuh dengan bocah kecil yang tengah menangis tersedu-sedu sambil terus memeluk papan nama nisa Nenek tercinta.


“Hiks... Hiks... Jangan nangis Kak,” ucap Ashraf dan dengan tangan kecilnya ia menghapus air matanya Kakaknya, Arsyad. Meskipun saat itu juga ia menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


“Adik Ashraf juga jangan nangis,” balas Arsyad yang juga menghapus air mata adiknya, Ashraf.


Abraham dan Asyila saling berpelukan ketika melihat kedua putra kecil mereka saling peduli satu sama lain.


Sesudah melepaskan semua rindu mereka di peristirahatan terakhir Sang Nenek, Abraham pun mengajak yang lainnya untuk segera kembali ke mobil.


Sudah waktunya bagi Arsyad untuk berangkat sekolah dan Abraham tidak ingin putra pertamanya telat dihari yang sangat spesial untuk Arsyad Mahesa.


“Ayo sayang, jangan sedih lagi! Kan, sudah bertemu dengan Nek Yut. Ayo tunjukkan senyumnya!” pinta Asyila.


Arsyad tersenyum manis dan memeluk pinggang Bundanya.


“Nah gitu dong sayang, kesayangan Ayah dan Bunda tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Nek Yut di surga pasti sedang melihat Arsyad yang mau sekolah,” tutur Asyila.


“Yang benar Bunda?” tanya Arsyad penasaran.


“Hhhmmm... Ya jelas benar sayang, ya sudah jangan sedih lagi. Semangat!”


“Semangat!” seru Arsyad.


Ashraf yang mendengar teriakkan semangat dari Sang kakak ikut bersorak gembira. Ia menepuk tangannya dan tertawa lepas.


“Lihat! Adik Ashraf saja semangat, jadinya Arsyad harus lebih semangat lagi,” ucap Asyila agar Arsyad semakin semangat dihari pertama ia masuk sekolah taman kanak-kanak.


****


Arsyad mencium punggung tangan para orang tua satu persatu, dari depan kelas sudah ada seorang guru yang menantikan kedatangan Arsyad Mahesa.


“Bunda, temani!” pinta Arsyad yang tiba-tiba malu untuk berjalan menuju kelas.


Asyila mengiyakan dan Abraham pun ikut mengantarkan Arsyad ke depan kelas.


“Selamat pagi, Arsyad!” sapa wanita dengan nama dada Kartini.


“Wa’alaikumsalam, Masya Allah. Arsyad panggil saja Bunda Kartini ya Nak. Bunda Kartini adalah guru Arsyad sekaligus orang tua Arsyad disekolah,” ucap Bunda Kartini, wanita yang akan mengajari Arsyad di kelas.


Arsyad mendongakkan kepalanya menoleh ke arah Sang Ayah. Perkataan Bunda Kartini sama seperti perkataan Ayahnya tersayang.


“Sayang, Ayah dan Bunda harus pulang ke rumah. Arsyad diam disini bersama Bunda Kartini ya sayang,” ucap Asyila memberi pengertian kepada Arsyad.


“Baik Bunda,” jawab Arsyad sambil memeluk pinggang Bundanya.


“Apa yang dikatakan Bunda Kartini, harus nurut ya Nak. Ayah dan Bunda pulang dulu,” bisik Arsyad.


Arsyad pun melambaikan tangannya ketika Abraham dan Asyila perlahan mulai meninggalkan dirinya.


“Ayo nak Arsyad, ikut Bunda masuk ke kelas!”


Arsyad mengikuti wanita yang mengenakan seragam berwarna coklat muda, rasanya sedikit aneh karena untuk pertama kalinya ia berada dilingkungan yang tidak dikenalinya. Apalagi kedua orangtuanya tak berada disisinya.


“Arsyad duduk disini ya Nak, kita tunggu teman-teman yang lainnya yang belum datang,” ucap Bunda Kartini.


“Baik, Bunda,” jawab Arsyad dan duduk diam sambil memperhatikan ke arah pintu.


Satu persatu anak-anak seusia Arsyad memasuki kelas. Kelas pun yabg tadinya hanya beberapa anak kini sudah mulai ramai.


Bahkan, ada beberapa anak yang harus ditemani oleh orangtuanya.


Hal tersebut dikarenakan beberapa anak yang ditemani oleh orang tua mereka adalah anak-anak yang belum berani berinteraksi dan juga belum berani ditinggalkan sendirian di kelas. Meskipun, di dalam kelas sudah banyak anak-anak yang ingin belajar.


“Assalamu’alaikum anak-anakku tercinta!” sapa Bunda Kartini.


“Wa’alaikumsalam,” balas beberapa anak termasuk Arsyad.


“Yang lainnya kenapa tidak menjawab, ok Bunda Kartini ulangi sekali lagi ya! Kalau Bunda jawab Assalamu’alaikum, kalian harus menjawab Wa’alaikumsalam Bundaku,” ucap Bunda Kartini dengan begitu ramah dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Meskipun sudah terlihat kerutan disekitar mata dan sisi bibir, wanita yang biasa disapa Bunda Kartini masih terlihat semangat.


Usianya pun sudah menginjak kepala 5 akan tetapi, semangatnya untuk bertemu dan mengajar sangatlah besar.


“Oke Bunda Kartini ulangi sekali lagi, Assalamu'alaikum anak-anakku!”


“Wa’alaikumsalam Bundaku!” seru mereka yang hampir semua menjawab salam dari Bunda Kartini.


“Karena ini adalah hari pertama kita bertemu, Bunda ingin Anak-anak maju satu-persatu dan memperkenalkan diri. Ayo siapa disini berani memperkenalkan diri dan maju ke depan dekat Bunda?” tanya Bunda Kartini.


Arsyad mengangkat tangan kanannya dan dengan penuh keberanian ia maju untuk memperkenalkan diri. Hal yang sebelumnya sudah ia lakukan ketika Bundanya tersayang mengajarinya untuk berani memperkenalkan diri.


“Beri tepuk tangan untuk teman kita ini!” pinta Bunda Kartini.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan saling bersahutan membuat Arsyad semakin berani tampil di depan teman-temannya.


“Assalamu'alaikum semuanya!” sapa Arsyad yang sudah diajari oleh Ayah dan Bundanya di rumah.


“Wa’alaikumsalam!” seru Bunda Kartini dan lainnya.


“Hallo, perkenalkan nama Aku Arsyad Mahesa. Aku biasa dipanggil Arsyad. Usia Aku sekarang 5 tahun, Aku memiliki adik bernama Ashraf Mahesa. Ayah Aku bernama Abraham Mahesa dan Bunda Aku bernama Asyila,” jelas Arsyad dengan penuh percaya diri.


Bunda Kartini terpana dengan kelincahan Arsyad pada saat memperkenalkan diri dan juga keluarganya.


Begitu pun orang tua lainnya yang berada di dalam kelas.


Bahkan, ada beberapa orang tua yang mengenal sosok Abraham Mahesa.


“Wah, teman kita yang satu ini sangat berani untuk memperkenalkan diri. Ayo siapa lagi yang mau maju ke depan?” tanya Bunda Kartini dan tak lupa memberikan tepuk tangan untuk keberanian dan kepintaran Arsyad.


Arsyad tersenyum manis dihadapannya semua orang yang melihatnya.


“Silakan duduk sayang,” ucap Bunda Kartini pada Arsyad.


Arsyad mengiyakan dan duduk kembali ke kursi miliknya.


Disaat yang bersamaan, Abraham dan lainnya sudah tiba di rumah.


“Mas perhatikan dari tadi Syila terlihat tak tenang,” ucap Abraham sambil merangkul pinggang Sang istri.


“Arsyad yang sekolah. Tapi, Syila yang gugup Mas. Bagaimana jika Arsyad belum bisa berinteraksi di sekolah barunya?” tanya Asyila khawatir sekaligus gugup ketika memikirkan putra pertama yang baru masuk sekolah.


“Kita percayakan semua kepada Allah. Lagipula putra kita adalah anak yang pemberani. Bukankah Asyila juga bilang begitu?”


“Ya tetap saja Asyila merasa khawatir, Mas.”


“Khawatir itu wajar, sudah jangan dipikirkan. Mas yakin putra kita bisa melakukan hal-hal baru disekolah nya,” ujar Abraham dan mengajak Asyila masuk ke dalam kamar.


Melihat kedua orangtuanya masuk ke dalam kamar, Ashraf cepat-cepat menyusul.


“Ashraf bukannya tadi mau bermain?” tanya Abraham setengah kecewa karena kegiatannya berduaan dengan Istri kecilnya diganggu oleh putra kecil kedua mereka.


Ashraf hanya diam dan naik ke tempat tidur dengan sangat santainya. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur kedua orangtuanya.


Abraham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ashraf.


“Sabar ya Mas,” ucap Asyila sambil menahan tawanya.


Abraham menghela napasnya yang berat dan mengangguk kecil.


Gagal lagi gagal lagi mau berduaan dengan Istri kecilku ini. 🤧


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


__ADS_2