
Abraham menyambar jas kerja miliknya untuk segera meninggalkan perusahaan. Yogi yang melihat Abraham ingin pergi, cepat-cepat menghalangi sahabatnya.
“Kau mau kemana? Tidak bisakah kita pulang bersama?” tanya Yogi.
“Aku ada urusan, lain kali saja kita pulang bersama,” balas Abraham.
Yogi belum juga memberikan jalan bagi Abraham untuk keluar dari kantor tersebut.
“Bagaimana, kalau kita makan bersama? Sudah lama kita tidak makan bersama,” ucap Yogi mengajak sahabatnya untuk makan bersama.
“Lain kali saja, aku ada urusan penting dan harus ku selesaikan secepat mungkin. Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” balas Yogi dan segera bergeser memberikan jalan bagi Abraham untuk keluar dari ruangan kerja mereka.
Sesampai di area parkir, Abraham memerintahkan sopir pribadinya untuk mengantarkannya ke tempat remang-remang.
Eko terkejut dan memberikan tatapan tajam ke arah majikannya tanpa rasa takut sedikitpun.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Abraham pada Eko yang terus menatapnya dengan tatapan tidak suka.
“Saya tidak akan mengantarkan Tuan Muda Abraham pergi ke tempat itu,” balas Eko.
“Pikiranmu terlalu sempit, bagaimana bisa kamu berpikiran bahwa aku menggunakan jasa-jasa wanita penghibur seperti ini. Aku ingin menangkap dan membawa mereka masuk ke dalam penjara,” ungkap Abraham.
“Tapi, apakah ini tidak terlalu kejam?” tanya Eko.
“Kejam yang seperti apa menurutmu? Hukuman akan semakin berat jika mereka mengonsumsi obat terlarang. Ayo cepat jalan!” perintah Abraham.
Eko pun mengiyakan dan membawa Tuan mudanya pergi ke tempat hina tersebut.
Perjalanan menuju tempat yang dimaksudkan oleh Abraham cukup memakan banyak waktu. Abraham pun memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu sembari menunggu waktu sholat Dzuhur.
“Selamat siang, mau pesan apa?” tanya seorang pegawai restoran sambil memberikan daftar menu makanan.
“Saya pesan ini dan ini,” tunjuk Abraham dan meminta sopir pribadinya segera memesan makanan.
Eko dengan senang menyebutkan makanan yang ia suka.
“Baik, kalau begitu mohon tunggu sebentar,” ucap pegawai restoran dan melenggang pergi meninggalkan keduanya.
Setelah 10 menit lamanya, pesanan Abraham dan Eko tiba.
“Silakan dinikahi, eh maksud saya dinikmati,” ucap pelayan pria yang sedikit genit.
Abraham mengernyitkan keningnya melihat tingkah laku pria yang gemulai itu. Lain halnya dengan Eko yang malah menganggapnya seperti lelucon siang.
__ADS_1
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Abraham datar.
“Lucu, Tuan Muda. Bagaimana bisa ada lekong seperti itu yang bekerja disini. Sudah modelnya begitu, genit lagi,” balas Eko.
Abraham memandangi sopir pribadinya dengan tatapan terheran-heran.
“Sejak kapan mulutmu baca bicara seperti itu?” tanya Abraham penasaran.
“Baru saja, Tuan Muda,” balas Eko dengan suara yang dibuat-buat seperti suara perempuan.
“Astaghfirullahaladzim, pindah sana kamu!” ucap Abraham mengusir sopir pribadinya agar makan tidak satu meja dengannya.
“Siap, Tuan Muda,” jawab Eko yang lagi berakting seperti perempuan.
Abraham bergidik ngeri melihat kelakuan Eko yang seperti.
“Kalau masih seperti itu, jangan harap bisa pulang,” tutur Abraham.
“Eh, tidak-tidak. Saya masih normal, Tuan Muda Abraham,” balas Eko yang gaya bicara berubah kembali normal.
Setelah selesai menikmati makan siang, kedua melanjutkan perjalanan mereka menuju masjid untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang biasa digunakan oleh orang-orang untuk mencari kesenangan sesaat.
Sebenarnya, sudah dari kemarin-kemarin Abraham ingin pergi ke tempat tersebut. Akan tetapi, keinginan selalu saja tertunda karena ada sesuatu hal yang tentunya kalian sendiri tahu.
“Lewat sebelah kiri dan setelah ada perempatan belok kanan. Kemudian, kita ikuti saja jalan tersebut,” terang Abraham.
“Siap, Laksanakan!” seru Eko.
Ketika Abraham tengah membuka jendela mobil, mata Abraham tak sengaja menangkap sosok wanita yang sekilas mirip dengan istrinya, Asyila.
“Asyila? Eko cepat hentikan mobilnya sekarang!” perintah Abraham.
Ketika mobil itu baru saja berhenti, Abraham cepat-cepat turun dari mobil dan hampir saja tersandung.
Abraham berlari ke arah dimana ia melihat wanita yang mirip istrinya sedang mengendarai motor.
“Tuan, awas!” teriak Eko sambil menarik tubuh Abraham secepat mungkin, “Apa Tuan Muda mau mati begitu saja?” tanya Eko berusaha menyadarkan Abraham yang hampir saja tertabrak mobil.
“Eko, lihat aku sekarang. Apakah aku terlihat seperti orang bodoh yang tak memiliki akal? Sekarang jawab pertanyaan ku, apakah kamu melihat istriku Asyila disana?” tanya Abraham sambil menunjuk ke arah dimana wanita yang mirip dengan istrinya mengendarai motor lewat gang kecil disana.
“Tenanglah, Tuan Muda. Anda mungkin salah lihat, sebaiknya kita masuk ke dalam mobil. Anda kelihatannya sedang kurang sehat,” ucap Eko mengajak majikannya masuk ke dalam mobil.
Abraham tertunduk lemas dan seketika itu ia melamun seperti orang yang tengah kerasukan makhluk halus.
__ADS_1
Melihat kondisi majikannya yang sedang tidak baik-baik saja, Eko pun memutuskan untuk kembali ke rumah tanpa perintah dari majikannya. Ia siap kena marah daripada harus membiarkan majikannya kenapa-kenapa.
Ya Allah, apa mungkin hamba tadi salah lihat?
Ya Allah, ada apa lagi ini? Kenapa Engkau selalu meletakkan hamba di posisi yang sangat rumit? Kenapa?
Abraham menangis berderai air mata. Akan tetapi, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Bahkan, Eko pun tak mengetahuinya bahwa Abraham sedang menangis merindukan istri kecilnya.
Cukup lama Abraham menangis dan ia pun memilih untuk tidur dalam mobil.
Melihat majikannya tengah tertidur, Eko akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya dengan Abraham yang tidur seperti itu, suasana di dalam mobil tidak terlalu canggung.
Eko tahu dan sangat mengerti bagaimana perasaan Abraham yang sangat sedih ditinggal oleh Asyila.
Bisa dikatakan, Eko adalah saksi kisah panjang dari pasangan romantis Abraham dan Asyila.
Beberapa jam kemudian.
“Tuan Muda Abraham, bangunlah. Kita sudah sampai,” ucap Eko membangunkan Abraham yang masih tidur.
Abraham membuka matanya perlahan dan tersadar bahwa ia sudah berada di perumahan Absyil.
Abraham terkesiap dan segera turun dari mobil. Kemudian, masuk ke dalam rumahnya yang sedang ditempati oleh pasangan Dyah dan Fahmi.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham ketika masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam, wajah Paman kenapa terlihat sangat sedih seperti itu?” tanya Dyah khawatir.
“Paman tidak apa-apa,” jawab Abraham datar, “Pamanmu ini seperti sudah gila, bagaimana bisa Paman melihat Aunty di jalan,” ucap Abraham dan menertawakan dirinya sendiri.
“Paman kenapa? Paman sebaiknya beristirahat, Paman kelihatan sangat pucat,” balas Dyah yang sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Pamannya tersayang.
Dyah memilih untuk tak membahas masalah Aunty-nya, bukan apa-apa. Dyah hanya tidak ingin mengorek luka yang masih basah dan malah semakin memperparah luka tersebut.
“Apa kamu juga menganggap Paman mu ini gila?” tanya Abraham yang kesal karena Dyah mengabaikan ucapannya.
“Paman, Dyah sama sekali tidak menganggap Paman gila. Tolong mengertilah, sekarang Paman pergilah ke kamar dan beristirahat. Dyah saat ini sedang kurang sehat karena sering mual-mual,” jawab Dyah.
Abraham mengusap wajahnya secara kasar dan dengan langkah lebar, ia pergi naik ke kamarnya.
Maafkan Dyah ya Paman. Dyah hanya tidak ingin Paman semakin sedih karena terlalu memikirkan tentang Aunty Asyila.
Di dalam kamar, Abraham langsung meringkuk di ranjang dan memeluk erat pakaian yang belum sempat dicuci oleh istrinya.
Abraham sangat merindukan sosok istrinya serta bau tubuh istrinya yang membuat Abraham tidak ingin jauh dari sang istri.
__ADS_1
“Ya Allah, hamba terlalu banyak berpikir dan salah mengira bahwa wanita itu adalah Asyila. Ya Allah, tolong maafkan hamba. Hamba khilaf dengan ucapan hamba sebelumnya,” tutur Abraham.