Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Memperkerjakan Mbok Num


__ADS_3

Siang hari.


Asyila tengah sibuk memasukkan kue kacang ke dalam toples, ia melakukannya seorang diri karena Dyah dan Ema sedang ada urusan yang tidak bisa mereka tinggal.


Asyila sama sekali tak keberatan, bagaimanapun ia melakukan semua pekerjaannya dengan hati yang bahagia.


Siang itu, Abraham tidak berada di rumah. Karena sedang pergi mengunjungi Mbah Tedjo serta yang lain sekaligus mengawasi para pekerja bangunan yang tengah membangun masjid dan beberapa toko.


“Aunty, adik Akbar menangis,” ucap Bela yang sedari tadi ditugaskan oleh Asyila menjaga bayi mungilnya.


“Iya Bela sayang, terima kasih ya! Aunty mau cuci tangan dulu biar bersih,” balas Asyila.


Bela berlari kecil untuk kembali ke ruang keluarga sekaligus menjaga Bayi mungil dari pasangan Abraham dan Asyila.


Wanita muda itu mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh bayi mungilnya.


Setelah mencuci tangannya sampai bersih, ia langsung berlari untuk menyusui bayi mungilnya.


“Oek... Oek... Oek ...” Suara tangisan Akbar semakin menjadi-jadi.


“Iya sayang, ini Bunda. Jangan nangis ya sayang,” tutur Asyila sembari menggendong bayi Akbar dengan sangat hati-hati.


Asyila menggendong bayinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Melihat Asyila yang tengah sibuk dengan bayi Akbar, Bela memutuskan untuk membantu Asyila memasukkan kue kacang ke dalam toples.


Apa yang Bela lakukan semata-mata untuk berterima kasih atas kebaikan Asyila maupun Abraham yang telah mengangkat derajatnya.


“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar terus saja menangis karena belum diberikan ASI oleh Bundanya.


“Iya sayang, sebentar ya. Kita ke kamar dulu,” tutur Asyila.


Merekapun masuk ke dalam kamar dan dengan hati-hati Asyila meletakkan bayi mungilnya di tempat tidur. Kemudian, menyusui bayi mungilnya agar segera berhenti menangis.


“Haus ya sayang? Maafkan Bunda ya sayang, bukan maksud Bunda mengabaikan Akbar. Minum yang banyak ya Akbar sayang dan jangan menangis lagi!” pinta Asyila pada bayi mungilnya.


Asyila perlahan merasakan kantuk, terlebih lagi ketika dirinya berbaring di tempat tidur sembari menyusui bayi mungilnya itu.


Tak butuh waktu lama, Asyila akhirnya ketiduran dengan masih menyusui bayi mungilnya.


1 jam kemudian.


Asyila terperanjat dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya telah ketiduran. Ia menoleh ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 siang.


“Ya Allah, astagfirullahaladzim.” Asyila melirik sekilas ke arah bayi mungilnya yang sudah terlelap dan saat itu juga Asyila turun dari tempat tidur karena harus melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Asyila meninggalkan bayi mungilnya begitu saja dan berharap bayi Akbar terlelap tidur sampai akhirnya Asyila selesai dengan pekerjaannya.


“Bela sayang, ini semua Bela yang melanjutkan?” tanya Asyila ketika melihat tumpukan toples kue kacang yang sudah tertata rapi di atas meja makan.


“Iya Aunty,” jawab Bela dengan tersenyum malu-malu.


Asyila merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh Bela. Asyila tersenyum serta memeluk tubuh Bela.


“Terima kasih Bela sayang, seharusnya Aunty yang melakukan ini dan bukan Bela,” tutur Asyila.


“Bela suka membantu Aunty, tolong jangan larang Bela untuk membantu Aunty Asyila lagi!” pinta Bela karena selama tinggal di rumah itu ataupun di Jakarta, Asyila sama sekali tak pernah memerintahkan dirinya untuk melakukan ini itu alias pekerjaan rumah.


“Masya Allah, Aunty sangat senang sekaligus tersentuh dengan permintaan Bela. Karena itu keinginan Bela, baiklah Aunty kabulkan,” balas Asyila dengan senyum manisnya.


“Horeeee! Alhamdulillah!” Bela terlihat sangat senang hingga ia melompat kegirangan.


Respon Bela mengingatkan Asyila akan kedua buah hatinya yang lain, yaitu Arsyad dan juga Ashraf.


Sore hari.


Asyila dan Bela baru saja melaksanakan sholat ashar di kamar.


“Bela sudah mandi?” tanya Asyila pada Bela.


“Sudah, Aunty,” jawab Bela malu-malu.


“Bela sekarang temani adik bayi ya, Aunty mau mempersiapkan air hangat untuk adik bayi mandi.”


“Baik, Aunty,” jawab Bela.


Asyila merapikan mukena miliknya dan meletakkannya kembali ke tempat mukena. Kemudian, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mempersiapkan air hangat bayi mungilnya.

__ADS_1


Mas Abraham kenapa jam segini belum pulang? Asyila merasa khawatir dengan Mas Abraham.


Sambil mempersiapkan air hangat, Asyila memikirkan suaminya yang belum juga pulang. Padahal sebelumnya, Abraham mengatakan bahwa akan pulang sebelum jam 3 sore.


Air hangat untuk mandi bayi Akbar pun siap. Asyila keluar dari kamar mandi dan perlahan menanggalkan pakaian bayi mungilnya.


“Kita mandi ya sayang,” ucap Asyila pada bayi mungilnya yang saat itu tengah terjaga.


Karena bayi Akbar ingin mandi, Bela pun pamit untuk keluar dari kamar tersebut dan memutuskan untuk belajar seorang diri di ruang keluarga. Saat ini, Bela sudah bisa membaca dengan lancar. Dirinya bisa membaca atas bantuan dari Asyila dan juga Arsyad yang dengan sabar membantunya. Bela sangat senang, karena akhirnya ia bisa lancar membaca seperti yang lainnya.


Saat Bela baru saja keluar dari kamar, samar-samar ia mendengar suara mobil yang baru saja tiba. Bela pun berlari kecil untuk memastikan bahwa suami dari Asyila telah tiba.


Senyum Bela merekah dan saat itu juga ia berlari untuk memberitahukan kepada Asyila bahwa Abraham telah kembali.


“Aunty, Paman baru saja sampai,” ucap Bela.


“Benarkah?” tanya Asyila yang terlihat sangat gembira karena suaminya telah kembali.


“Iya, Aunty,” jawab Bela.


Hati Asyila seketika itu berbunga-bunga seperti tak bertemu kekasihnya dengan kurun waktu yang cukup lama.


Asyila telah selesai memandikan Akbar dan disaat yang bersamaan Abraham masuk ke dalam kamar.


Melihat Abraham yang sudah berada di dalam kamar, Bela cepat-cepat keluar karena tak ingin mengganggu privasi sepasang suami istri itu.


“Mas Abraham kemana saja?” tanya Asyila dengan tatapan malu-malu.


“Alhamdulillah, ternyata ada yang kangen,” balas Abraham dan terkekeh kecil.


“Oh, begitu. Memangnya Mas Abraham tidak kangen dengan Asyila?” tanya Asyila sambil memakaikan bayi mungilnya pakaian.


Abraham tersenyum lebar dan mengecup pipi istri kecilnya berulang kali.


“Mas, Asyila sedang fokus memakaikan bayi Akbar pakaian,” tutur Asyila.


“Kalau begitu, setelah memakaikan pakaian bayi kita. Asyila langsung fokus ke Mas ya!” pinta Abraham.


“Haaa?” Asyila terkejut mendengar permintaan suaminya. “Haha.. haha..” Kali ini Asyila tertawa lepas karena perkataan suaminya yang benar-benar membuat suaminya itu terlihat menggemaskan.


“Mas senang melihat Asyila bisa tertawa seperti ini,” ucap antagonis serius.


“Asyila juga senang kalau Mas pulang dengan keadaan baik-baik saja,” balas Asyila.


“Asyila sekarang siap-siap, di depan ada seseorang yang ingin bertemu dengan Syila,” ujar Abraham.


“Seseorang? Apakah Asyila mengenalinya?” tanya Asyila penasaran.


“Tidak,” jawab Abraham. “Pokoknya Asyila harus menemui beliau,” balas Abraham.


Saking penasarannya, Asyila pun cepat-cepat mengganti pakaiannya dan tak lupa mengenakan hijab miliknya. Setelah itu, ia menggendong bayi mungilnya untuk segera bertemu dengan orang yang dimaksud oleh suaminya.


Abraham merangkul pinggang Sang istri sembari menuntun istri kecilnya menuju ruang tamu.


“Mbok Num! Perkenalkan ini istri saya, Asyila,” ucap Asyila memperkenalkan istri kecilnya kepada wanita paruh baya yang ia bawa untuk membantu istri kecilnya membuat kue kacang.


“Assalamu’alaikum, saya Asyila, istri Mas Abraham,” ujar Asyila sambil bersalaman dengan wanita paruh baya dihadapannya.


“Wa’alaikumsalam, saya mbok Num. Kedatangan saya kemarin karena ingin bekerja dengan Nona Asyila,” terangnya.


Asyila dengan senang hati menerima Mbok Num, bagaimanapun suaminya telah berusaha mencarikannya orang untuk dipekerjakan.


Abraham menjelaskan kepada istri kecilnya bahwa Mbok Num tidak memiliki tempat tinggal dan akan tinggal di rumah itu sekaligus menemani Asyila merawat bayi mungil mereka.


Mendengar penjelasan dari suaminya, Asyila dengan senang hati menerima kehadiran Mbok Num.


“Karena Mbok Num sudah disini, ayo kita Asyila!” ajak Asyila.


Asyila membawa Mbok Num ke sebuah kamar yang kedepannya akan ditempati oleh Mbok Num.


“Mbok Num, mulai sekarang ini kamar tidur Mbok Num. Semoga Mbok Num betah ya tinggal di rumah ini sama saya dan keluarga,” ucap Asyila dengan sangat ramah sekaligus sopan.


Awal pertama bertemu dengan Asyila, Mbok Num terkesan sekaligus kagum dengan sosok Asyila yang begitu pandai berbicara dan juga menghormati wanita yang lebih tua darinya.


“Terima kasih, Nona Asyila,” balas Mbok Num.


“Mbok Num jangan panggil saya seperti itu, panggil saya Asyila saja. Saya akan lebih senang kalau Mbok Num memanggil saya Asyila tanpa ada embel-embel Nona,” terang Asyila.

__ADS_1


Mbok Num menolak permintaan Asyila, bagaimanapun Asyila kini sudah menjadi majikannya.


Asyila tak bisa memaksa keinginan Mbok Num tersebut, meskipun ia sendiri risih dengan panggilan tersebut.


“Ya sudah, Mbok Num istirahat dulu ya. Pasti Mbok Num lelah, saya permisi dulu.”


“Terima kasih, Nona Asyila,” balas Mbok Num.


Asyila menyusul suaminya di ruang tamu. Akan tetapi, suaminya tak ada dan Asyila pun melenggang pergi menuju kamar tidur barangkali suaminya ada di dalam kamar.


“Sayang, terlihat Ayah sedang mandi,” ucap Asyila lirih dan meletakkan bayi Akbar ke ranjang bayi dengan sangat hati-hati agar bayinya tidak bangun.


Setelah bayi Akbar benar-benar nyaman di ranjang bayi miliknya, Asyila kemudian berjalan mendekati almari pakaian untuk menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh suaminya.


Tak butuh waktu lama, Abraham akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang membuatnya nampak menggoda.


Asyila menelan salivanya dengan susah payah dan cepat-cepat memalingkan wajahnya karena tersipu malu dengan sosok suaminya.


Abraham terkekeh geli dan dengan tubuh yang belum sepenuhnya kering, ia memeluk Sang istri dari belakang.


“Dingin, Mas,” ucap Asyila.


“Dingin-dingin begini Asyila ya tetap suka,” balas Abraham.


“Mas ini ya pintar sekali kalau membalas perkataan Asyila,” ucap Asyila yang kini berbalik badan menghadap pada suaminya. “Muacchhh!” Asyila dengan semangat mencium bibir suaminya.


Abraham tertegun sejenak karena istri kecilnya menciumnya secara tiba-tiba.


Asyila yang awalnya malu-malu, mendadak tertawa melihat ekspresi terkejut suaminya yang membuat suaminya jadi aneh.


Abraham tersadar dan membalas ciuman istri kecilnya bertubi-tubi.


“Mas mesum,” celetuk Asyila dan menutup bibirnya dengan kedua tangannya.


Alis Abraham terangkat sebelah mendengar celetukan istri kecilnya yang selalu saja menyebut dirinya pria mesum.


“Syila genit,” balas Abraham.


Mereka saling melempar ejek satu sama lain.


“Sssuutt!” Abraham memberi isyarat agar istri kecilnya diam karena bayi mungil mereka bergerak-gerak di ranjang bayi.


Asyila menoleh dengan sangat serius ke arah bayi mungil mereka dan berharap bayi Akbar tak menangis.


“Alhamdulillah,” ucap Asyila ketika melihat bayi Akbar kembali melanjutkan tidurnya.


Abraham yang belum mengenakan pakaian, cepat-cepat mengenakan pakaiannya agar tidak masuk angin.


Melihat suaminya yang tengah sibuk mengenakan pakaian, Asyila memutuskan untuk menyiapkan makanan untuk suaminya serta Mbok Num.


“Mas, Syila ke dapur dulu ya,” ucap Asyila dan melenggang pergi menuju dapur.


Asyila berjalan menuju dapur dan melihat Mbok Num yang tengah mencuci alat piring yang kotor.


“Mbok Num, yang ini biar Asyila saja,” ucap Asyila yang ingin mengambil alih mencuci piring.


“Tidak usah, Nona Asyila. Biar Mbok Num saja, lagipula ini pekerjaan Mbok Num,” balas Mbok Num.


“Tugas Mbok Num hanya membantu saya membuat kue kacang serta menjaga bayi Akbar. Kalau yang ini adalah tugas saya,” terang Asyila.


Mbok Num seketika itu menyentuh kedua tangan Asyila.


“Nona Asyila, saya mohon sekali biarkan saya tinggal disini. Tak digaji pun tak masalah, yang penting saya bisa tinggal disini. Saya hidup sebatang kara, suami saya telah meninggal dunia dan dari pernikahan kami, kami tidak diberikan keturunan oleh Allah,” ungkapnya.


Asyila terkejut mendengar keterangan dari Mbok Num. Untuk tinggal dirumahnya, Mbok Num rela tidak digaji asal memiliki tempat tinggal.


“Mbok Num ini bicara apa? Kalau Mbok Num ingin bekerja disini ya tidak apa-apa, tapi kalau soal tidak digaji menurut saya itu adalah suatu kejahatan. Bagaimanapun, saya akan tetap memberikan Mbok Num uang,” ungkap Asyila.


“Alhamdulillah,” tutur Mbok Num dengan mata berkaca-kaca.


“Mbok Num tidak boleh sedih, sekarang Mbok Num bantu saya menata piring saja di meja makan untuk kita makan bersama-sama. Soal piring kotor ini biar Asyila saja yang mencucinya,” ujar Asyila.


“Baik, Nona Asyila,” jawab Mbok Num.


Bela tiba-tiba datang dan ikut membantu Asyila menyiapkan makanan untuk makan sore mereka.


“Terima kasih, Bela sayang,” ucap Asyila pada Bela.

__ADS_1


__ADS_2