
Asyila telah selesai melaksanakan sholat subuh dan ia pun seketika itu tertidur dengan masih menggunakan mukenanya. Abraham tidak bisa apa-apa, ia ingin sekali memindahkan istri kecilnya ke ranjang. Akan tetapi, ia belum bisa karena kakinya untuk sementara waktu lumpuh tak bisa digerakkan.
Arumi masuk ke dalam kamar inap menantu idamannya dan ia melangkah dengan hati-hati agar Asyila tidak terbangun.
“Nak Abraham, karena Asyila sudah disini Ibu langsung pulang saja.”
“Ibu pulang dengan siapa?” tanya Abraham.
“Kamu tenang saja, Ibu akan memakai jasa tukang ojek. Ya sudah jangan mengkhawatirkan Ibu, Ibu pamit dulu. Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam, Ibu hati-hati di jalan,” balas Abraham.
Arumi melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan sangat hati-hati, ia tahu bahwa putri kesayangannya sangat lelah.
Akan tetapi, Arumi sama sekali tidak tahu bahwa sebelumnya Asyila mengalami bahaya yang mungkin saja bisa membahayakan nyawanya.
Abraham dari tempat tidur terus saja memperhatikan istri kecilnya, ia berharap agar kedepannya sang istri baik-baik.
Beberapa saat kemudian.
Asyila terbangun dari tidurnya dan meminta izin kepada suaminya untuk pergi ke ruang rawat Rahma. Asyila ingin mengetahui lebih lanjut tentang keadaan Rahma yang sangat menyedihkan.
“Mas, Asyila keluar sebentar ya! Asyila ingin melihat Mbak Rahma,” ucap Asyila.
Abraham pun mengizinkan istri kecilnya dengan syarat bahwa Sang istri tidak boleh berlama-lama.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila sambil memberikan kecupan singkat di pipi suaminya.
Asyila cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Rahma dan disaat yang bersamaan, seorang dokter wanita keluar dari ruangan tersebut.
“Dok, bagaimana keadaan Mbak Rahma? Apakah Mbak Rahma baik-baik saja?” tanya Asyila dengan sangat khawatir.
“Kondisi pasien saat ini sangat kritis, pendarahannya cukup serius dan ditambah dengan tubuhnya dipenuhi lebam-lebam. Saya tidak bisa mengatakannya secara pasti, akan tetapi pasien saat ini sangat membutuhkan Do'a,” terang Dokter bernama Celine.
Asyila lemas mendengar keterangan dari dokter tersebut. Ia sangat kasihan dengan apa yang tengah dialami oleh Rahma, wanita malang yang kehilangan bayinya dan juga disiksa oleh suaminya yang jahat.
Asyila masuk ke dalam ruang rawat Rahma setelah dokter Celine pergi. Di dalam ruangan tersebut, Asyila merasakan sesak napas bukan karena udara yang sedikit, melainkan ia sangat terluka melihat Rahma tengah berbaring dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
“Mbak, cepatlah sembuh. Mbak Rahma tidak perlu takut lagi, pria keji itu sekarang sudah berada di penjara. Sekarang tidak ada yang yang akan menyiksa Mbak Rahma,” ucap Asyila sambil memegangi tangan kiri Rahma.
__ADS_1
Hampir setengah jam Asyila duduk di samping Rahma, sampai akhirnya Asyila harus meninggalkan Rahma seorang diri karena harus kembali ke ruangan sang suami tercinta.
“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila sambil melangkah masuk ke dalam.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Abraham.
Asyila berjalan dengan langkah besar menghampiri suaminya, “Maaf ya Mas, tadi Asyila berada di kamar Mbak Rahma cukup lama. Asyila sangat kasihan dengan Mbak Rahma, bolehkah Asyila mencari keluarga Mbak Rahma?” tanya Asyila yang ingin mencari tahu keberadaan keluarga besar Rahma, untuk memberitahukan apa yang telah dialami oleh Rahma selama ini.
Abraham tersenyum tipis dan mengerakkan tangannya agar istri kecilnya semakin mendekat. Asyila mengangguk kecil dan mendekatkan wajahnya di wajah suaminya.
“Apa yang menurut Syila baik, maka lakukanlah! Mas percaya bahwa apa yang Asyila lakukan adalah perbuatan yang terpuji,” terang Abraham.
“Mas yakin dengan apa yang Mas katakan? Mas tidak boleh menarik lagi ucapan tersebut,” ucap Asyila seakan-akan mendapat lampu hijau dari suaminya untuk melakukan hal yang menurut Asyila benar.
“Tentu saja, selama Asyila tidak pergi meninggalkan Mas,” balas Abraham.
Asyila tersenyum lebar, ia semakin bersemangat untuk menumpas kejahatan di muka bumi.
“Terima kasih, Mas Abraham,” ucap Asyila dan dengan semangat mencium pipi suaminya berkali-kali.
“Dasar genit,” celetuk Abraham.
Asyila mendaratkan bokongnya di kursi dan menyandarkan kepalanya di ranjang suaminya.
“Mas Abraham untuk beberapa bulan ke depan diam saja di rumah, urusan yang lain biar Asyila saja yang mengurusnya. Bahkan, untuk urusan kantor Asyila juga bisa menanganinya,” ucap Asyila.
“Iya, Mas tahu Asyila bisa melakukan apa saja. 'kan, istri Mas ini adalah lulusan terbaik di kampus,” terang Abraham.
“Mas bisa saja,” balas Asyila dengan tertawa kecil.
Sepasang suami istri itu terus saja mengobrol, sampai akhirnya seorang perawat datang untuk memberikan Abraham sarapan serta mengecek kondisi terbaru dari Abraham.
“Tuan Abraham, sarapannya jangan lupa dihabiskan. Maaf, saya akan memeriksa kondisi Tuan Abraham,” ucap Perawat tersebut yang ingin menyentuh tangan Abraham.
Abraham dengan cepat menolak sentuhan kulit dari perawat tersebut dan meminta si perawat untuk memanggil Dokter yang biasa memeriksa kondisinya.
Si perawat menghela napasnya karena dari awal memang Abraham tidak ingin disentuh oleh lawan jenis.
“Tunggu sebentar,” jawab si perawat yang terlihat sedang menahan kesalnya kepada Abraham.
__ADS_1
Perawat tersebut akhirnya pergi untuk menemui dokter yang biasa menangani Abraham.
“Hhhmmm... Mas kenapa seperti tadi?” tanya Asyila sambil geleng-geleng kepala.
“Syila apa tidak cemburu dengan wanita itu yang ingin menyentuh Mas?” tanya Abraham pada Asyila.
Asyila dengan santainya menggelengkan kepala.
“Yakin?” tanya Abraham memastikan dan terlihat sedikit kecewa karena istri kecilnya tidak cemburu.
“Mas Abraham sekarang sedang sakit, tidak ada seorang istri pun yang ingin suaminya sakit, termasuk Asyila. Soal perawat tadi, Asyila tidak menganggapnya sebagai saingan. Melainkan, Asyila menganggap sebaik seorang wanita yang berhati mulia,” terang Asyila.
Abraham mengangguk kecil dan menganggapnya istri kecilnya sangat polos. Abraham sangat tahu bahwa istri kecilnya adalah wanita yang selalu berpikir positif apapun yang terjadi.
“Sekarang Mas harus makan terlebih dahulu, pokoknya harus makan dak habiskan,” ucap Asyila yang akan bersiap-siap untuk menyuapi makanan ke dalam mulut suaminya.
Abraham sebenarnya belum lapar, akan tetapi melihat istri kecilnya semangat, Abraham pun akhirnya membuka mulutnya lebar-lebar dan segera mengunyah makanan yang diberikan oleh sang istri tercinta.
“Selamat Pagi, bagaimana keadaan Tuan Abraham?” tanya dokter yang biasa menangani Abraham.
“Alhamdulillah semuanya membaik,” balas Asyila sembari melirik ke arah istri kecilnya yang tengah berdiri sambil terus memperhatikan Abraham.
Dokter tersebut lagi-lagi meminta Asyila untuk keluar ruangan, Asyila mengiyakan dan segera meninggalkan suaminya bersama sang dokter.
Diluar ruang rawat, Asyila menyempatkan waktunya untuk membalas satu persatu teman-temannya di masa sekolah menengah atas atau biasa disebut SMA dengan penuh semangat.
Isi dari pesan grup adalah mengenai acara reunian yang akan diselenggarakan bulan depan. Asyila sama sekali tak berniat untuk mengikuti reunian tersebut, yang hanya ia pikirkan sekarang adalah merawat suaminya Hingga benar-benar sembuh.
Beberapa menit kemudian.
Dokter tersebut keluar dan menjelaskan kondisi terbaru Abraham, Asyila dengan serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria berseragam putih dihadapannya.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila bersyukur mengetahui bahwa dalam beberapa hari ke depan suaminya boleh pulang.
Asyila sangat bahagia, suami yang ia cintai tidak perlu berlama-lama di rumah sakit dan akan mendapatkan perhatian secara maksimal dari Asyila.
“Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak,” ucap Asyila bahagia.
“Jangan berterima kepada saya, berterima kasihlah kepada yang diatas,” balas Dokter tersebut dan melenggang pergi untuk menangani pasien lainnya.
__ADS_1