Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kesedihan Ema Dan Keluarga Kecilnya


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Kondisi Abraham sudah mulai membaik dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Meskipun begitu, sebenarnya Abraham tidak ingin kembali ke rumah sampai ia benar-benar bisa bertemu dengan sang istri.


Namun, ia memiliki tanggung jawab yang lain. Yaitu, kedua buah hatinya bersama istri yang sangat membutuhkan sosok seorang Ayah sekaligus pelindung untuk mereka.


Tidak hanya istri kecilnya yang koma, bahwa Pak Udin pun ikut menderita. Sungguh, malam mengerikan itu selamanya tidak akan pernah Abraham lupakan.


Eko tiba dengan tatapan kesedihan, ia terkejut mendengar kabar bahwa keluarga dari Tuan mudanya mengalami hal yang menakutkan.


“Tuan Muda Abraham!” Sapa Eko sambil setengah membungkuk.


“Bagaimana kabarmu, Eko?” tanya Abraham yang berusaha menampilkan senyumnya meskipun dibalik senyumnya adalah sebuah hal yang begitu menyedihkan.


“Alhamdulillah,” balas Eko yang bingung harus menjawab apa.


Sopir pribadi Abraham dengan hati-hati mendorong kursi roda Tuan mudanya ke arah area parkir.


“Tuan Muda Abraham sudah makan?” tanya Eko.


Abraham tak mendengar pertanyaan dari Sopir pribadinya, ia terlalu fokus melamun memikirkan kondisi istri kecilnya yang tengah sampai kapan terbangun dari komanya.


Eko mengernyitkan keningnya dan kembali bertanya mengira bahwa pertanyaannya kurang jelas.


“Tuan Muda Abraham, apakah Tuan sudah makan?” tanya Eko sekali lagi.


Abraham akhirnya tersadar dan meminta Eko untuk mengulangi pertanyaannya.


“Tuan Muda Abraham, apakah sudah makan?” tanya Eko.


Abraham menghela napasnya dan mengatakan apa adanya, bahwa ia tidak nafsu makan.


“kenapa Tuan Muda sekarang terlihat lemah? Dimana majikan saya yang dulu, yang selalu terlihat gagah dan tak pernah menyerah? Saya pun sangat terkejut melihat Tuan yang seperti ini,” ungkap Eko.


Ucapan Eko seketika itu membuat Abraham tersadar, ia adalah kepala keluarga sekaligus panutan bagi keluarganya. Betapa lemahnya ia, kalau sampai dirinya terus merenungi apa yang tengah dialami oleh keluarganya.


“Terima kasih, telah menyadarkan aku!” Abraham merentangkan tangan dan seketika itu juga Eko memeluk tubuh majikannya.


Kemudian, Eko membantu Abraham naik ke dalam mobil dan tak butuh waktu lama, Eko langsung tancap gas menuju kediaman majikannya.


Disatu sisi, Ema dan Yogi terkejut mengetahui bahwa sesuatu yang buruk terjadi kepada keluarga sahabat mereka.


Kedua mata Ema masih terlihat sembab karena semalaman ia menangisi sahabatnya yang tengah koma di rumah sakit. Melihat istrinya yang terus saja menangis, membuat Yogi sedih dan memutuskan untuk pergi ke Jakarta.


Mobil yang mereka gunakan adalah mobil baru yang diberikan oleh Abraham. Abraham memberikan mobil itu secara cuma-cuma sebagai ganti atas mobil yang rusak akibat kecelakaan beruntun yang menyebabkan Abraham lumpuh sementara waktu.


Kahfi tidak banyak bicara selama perjalanan menuju Jakarta, bocah kecil itu justru memilih untuk tidur.


“Abang, adik kasihan dengan Asyila. Kenapa orang baik seperti Asyila dan Pak Abraham selalu saja mendapatkan musibah yang tak terduga?” tanya Ema dan kembali menangis.


“Sudah jangan menangis, kalau adik menangis seperti ini, apakah langsung membuat Nona Asyila bangun dari koma? Adik sebaiknya banyak berdo'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, agar Nona Asyila bisa segera sadarkan diri.”


Ema langsung mengangkat kedua tangannya dan berdo'a untuk kesembuhan sahabatnya itu.

__ADS_1


****


Abraham baru saja menerima telepon dari sahabatnya dan sebentar lagi Yogi bersama keluarga kecil akan sampai dikediaman Abraham.


Arsyad dan Ashraf masih terlihat lesu, mereka sampai detik itu belum juga melihat senyum ceria dari Bunda mereka.


Tidak hanya sekali, dua kali saja mereka menanyakan keberadaan Asyila, tetapi hampir setiap saat dan membuat Abraham semakin sedih. Untuk menutupi kesedihannya yang sangat mendalam, Abraham memilih untuk tetap tersenyum.


“Ayah, kapan Bunda pulang?” tanya Ashraf.


“Insya Allah secepatnya sayang, pokoknya kalau Arsyad dan Ashraf ingin segera bertemu Bunda, kalian harus jadi anak yang penurut. Mengerti!”


“Mengerti, Ayah!”


Sebuah mobil berwarna hitam datang memasuki halaman rumah Abraham, Abraham sempat berpikir bahwa itu adalah sahabatnya. Dan ternyata yang datang adalah sahabatnya yang lain. Yaitu, Dayat dan Edi.


Kedua polisi itu langsung menghampiri Abraham dan memberikan Abraham pelukan semangat.


“Assamu'alaikum,” ucap keduanya yang lupa bahwa sebelumnya tidak mengucapkan salam.


“Wa'alaikusalam, kenapa kemari tidak memberi kabar?” tanya Abraham.


Dayat dan Edi mengucapkan maaf sebesar-besarnya kepada Abraham. Mereka merasa sangat bersalah karena baru mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sebenarnya Abraham pun belum sepenuhnya mengetahui mengenai kondisi istri kecilnya yang telah keguguran.


Hanya yang Abraham ketahui, bahwa istri kecilnya tengah koma.


“Boleh kami masuk?” tanya Dayat.


Abraham seketika itu mempersilakan mereka untuk masuk, Edi dengan sigap mendorong kursi roda Abraham dan membawa Abraham masuk ke ruang tamu.


Abraham mulai memperhatikan isi dari lembaran kertas tersebut dan akhirnya ia mengetahui identitas dari pelaku peneror tersebut.


“Astaghfirullahaladzim, ternyata mereka adalah orang-orang yang aku masukkan ke dalam penjara. Kenapa mereka tidak bertobat dan malah melakukan hal yang lebih gila dari 10 tahun yang lalu?”


Wajah Abraham benar-benar sangat terkejut, ia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa orang-orang itu adalah musuhnya 10 tahun yang lalu. Butuh waktu 3 bulan bagi Abraham memasukkan ketiganya ke dalam jeruji besi, karena perbuatan mereka sepuluh tahun benar-benar tidak bisa termaafkan.


Kasus 10 tahun yang lalu adalah kasus yang cukup menegangkan, karena melibatkan puluhan polisi untuk mengungkapkan kasus penculikan, penipuan dan juga penyelundupan narkoba.


“Aku sangat berharap, semoga mereka selamanya mendekam di dalam penjara. Entah yang Asyila lakukan malam itu, Asyila benar-benar membuatku berpikir keras. Istriku yang lembut dan polos, dalam waktu semalam berubah menjadi singa betina yang sangat ganas,” terang Abraham.


“Bukankah takdir alam selalu seperti itu? Ketika keluarganya diganggu, seorang istri lah yang kebanyakan turun tangan. Dan hal ini kebanyakan terjadi disekitar kita, contoh saja kasus-kasus yang sebelum pernah kita tangani. Belum lagi, wanita-wanita yang pada akhirnya masuk penjara hanya karena membela keluarga mereka,” terang Edi.


Abraham pun tak bisa memungkiri apa yang dikatakan oleh Edi, karena ia sendiri menyaksikan peristiwa itu secara langsung.


Arumi datang dengan membawa dua cangkir berisi kopi dan satu cangkir lainnya berisi air minum untuk Abraham.


“Silakan diminum!”


Abraham dan yang lainnya mengucapkan terima kasih. Kemudian, Arumi bergegas kembali ke dapur dan tak lupa mengajak Arsyad serta Ashraf masuk ke dalam. Arumi tidak ingin pembicaraan tersebut sampai ke telinga salah satu cucu-cucu kesayangannya.


“Kenapa kalian berdua melihat Nenek dengan tatapan seperti itu?” tanya Arumi.


Arsyad pun mengarahkan tangannya ke arah kulkas dan Arumi pun membuka kulkas bagian atas.

__ADS_1


“Arsyad mau susu?” tanya Arumi dan dengan cepat Arsyad mengiyakan.


“Ashraf juga mau?" tanya Arumi yang kini menoleh ke arah Ashraf.


Ashraf mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya berulang kali. Arumi pun menampilkan senyumnya yang palsu karena sejujurnya ia sangat sedih, kemudian memberikan susu yang sebelumnya dibeli oleh putri kesayangannya untuk kedua cucunya.


“Kalau minum susu harus apa, hayooo?”


“Duduk!” seru mereka.


“Kalau begitu, Arsyad dan Ashraf duduk di ruang keluarga ya!”


Keduanya mengiyakan dan berjalan dengan bergandengan tangan menuju ruang keluarga.


Beberapa saat kemudian.


Dayat dan Edi terpaksa pamit karena ada urusan yang sangat penting. Selain itu, mereka juga ingin tahu kondisi terkini dari si peneror yang berhasil dilumpuhkan oleh istri sahabatnya, Abraham.


Ketika Dayat dan Edi sudah keluar dari halaman rumah, Yogi pun datang memasuki halaman rumah Abraham.


“Arsyad! Ashraf! Sini Nak, ada Kahfi!” panggil Abraham.


Tak butuh waktu lama, Arsyad dan Ashraf datang dengan tatapan antusias mengetahui bahwa Kahfi datang.


Arumi dan Herwan pun ikut keluar untuk menyambut masing-masing sahabat Asyila dan juga Abraham.


“Assamu'alaikum,” ucap Ema dan Yogi.


“Wa'alaikumsalam,” balas Abraham serta yang lainnya.


Ema tak bisa menahan kesedihannya, ia seketika itu memeluk tubuh Ibu dari sahabatnya dan menangis histeris.


Karena tak ingin membuat anak-anak kebingungan, Arumi pun membawa masuk Ema. Tangisan Ema kembali membuat Arumi sedih, Arumi kemudian membawa Ema masuk ke dalam kamar.


“Hiks... hiks...” Ema terus saja menangis dan semakin mempererat pelukannya.


“Nak Ema tidak usah menangis,” tutur Arumi yang kembali teringat akan kejadian malam menegangkan tersebut.


“Bagaimana Ema tidak menangis, Tante? Asyila sudah Ema anggap seperti saudari kandung sendiri, mendengar bahwa Asyila koma langsung membuat tubuh Ema terasa mati sebelah. Dada Ema sesak sekali, Tante. Kenapa orang sebaik Asyila harus mengalami hal seperti ini? Kenapa bukan orang-orang jahat saya yang mengalami hal mengerikan ini?” tanya Ema.


“Ini sudah takdir, Nak Ema. Mau bagaimana lagi sekarang? Toh, ini sudah terjadi dan hal yang terpenting adalah memperbanyak ibadah serta berdo'a semoga Allah memberikan keajaiban untuk Asyila, putri ibu.”


Ema belum bisa menerima kenyataan yang ada, wanita muda itu kembali menangis dan tangisannya semakin histeris.


“Saat ini, Asyila tengah mengandung,” ungkap Arumi.


Ema yang menundukkan kepalanya sembari menangis, seketika itu mendongakkan kepalanya dan menatap Arumi dengan tatapan terkejut.


“Benarkah? Alhamdulillah. Lalu, apakah kondisi calon bayinya sehat-sehat Tante?”


“Insya Allah, karena kami hanya mendapat kabar bahwa Asyila koma dan itu artinya calon bayi yang sedang dikandungnya baik-baik saja. Tante mohon, supaya nak Ema banyak-banyak berdo'a demi kesembuhan Asyila. Kasihan, anak-anak setiap hari mencari Bunda mereka dan kami para orang tua terpaksa bohong karena tak ingin melihat mereka semakin sedih,” terang Arumi.


Arumi terus saja bercerita mengenai apa yang terjadi pada saat tengah malam yang sangat menegangkan. Dan seketika itu membuat Ema merinding ketakutan.

__ADS_1


“Ya Allah, demi menjaga keluarganya Asyila benar-benar nekad melakukan hal seperti itu. Ema bahkan tak berani untuk membayangkan hal itu, Tante. Asyila benar-benar pahlawan di dunia nyata, Ema bangga karena menjadi sahabat Asyila,” terang Ema dari hati yang paling dalam.


__ADS_2