
Sebelum memberikan pelajaran kepada Asyila, Bambang lebih dulu tertawa ngakak. Terlihat jelas, bahwa Bambang meremehkan wanita dihadapannya. Bambang serta yang lainnya sama sekali tidak tahu, bahwa wanita dihadapan mereka adalah wanita kuat yang akan membuat mereka menyesal karena telah menculik Ashraf Mahesa.
“Begini saja, kami tidak akan membuatmu mengalami hal menyakitkan. Asalkan kamu menanggalkan pakaianmu itu,” ucap Bambang sambil mengedipkan mata ke arah wanita bercadar dihadapannya.
“Hahaha... Bagus juga ide kamu, Bambang,” ucap Seto yang tubuhnya paling kecil diantara mereka.
“Jangan bermimpi,” tegas Asyila sambil berjalan mendekat buah hatinya yang terus menatap ke arahnya.
Heri mengernyitkan keningnya dan bergegas mendekat ke arah Ashraf yang terus saja meneteskan air matanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
“Kamu ingin anak ini?” tanya Heri sambil mencekik leher Ashraf.
Langkah Asyila seketika itu terhenti, ia tidak mungkin membiarkan buah hatinya dalam bahaya.
“Kenapa berhenti? Sini mendekati lah!” pinta Heri yang terlihat sangat senang melihat reaksi wanita bercadar dihadapannya.
“Kalian semua pengecut, kalian hanya berani melakukan hal hina ini terhadap anak kecil,” ucap Asyila sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Heri tersenyum miring sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Pengecut?” tanya Heri yang tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi menyeramkan.
Heri mendorong kuat tubuh Ashraf, hingga Ashraf terjatuh bersamaan dengan kursi yang menempel padanya.
Ashraf menjerit kesakitan, bagian kepalanya sebelah kanan baru saja terbentur oleh lantai.
“Ashraf!” teriak Asyila dan berlari secepat mungkin menghampiri buah hatinya yang begitu menyedihkan.
Ketika Asyila berlari mendekat ke arah Ashraf, Heri dengan cepat menarik pakaian Asyila dan mendorong tubuh Asyila dengan cukup keras.
“Bunda!” teriak Ashraf ketika melihat Bunda kesayangannya jatuh.
Mendengar teriakkan Ashraf yang memanggil “Bunda” Mereka akhirnya tahu, bahwa wanita tersebut adalah Asyila.
“Kamu!” teriak Heri dengan tatapan terkejut.
Asyila bangkit dari jatuhnya dan segera mendekati Ashraf yang masih dengan posisi tergeletak bersama dengan kursi yang menempel pada tubuh Ashraf.
“Ashraf tidak boleh menangis, Bunda akan memberikan perhitungan kepada mereka,” ucap Asyila sambil membuka tali yang melilit tubuh putra kecilnya.
Tak butuh waktu lama, Ashraf pun akhirnya terbebas dan dengan cepat Asyila meminta Ashraf untuk tetap berada dibelakangnya.
“Ternyata berani juga kamu datang kemari seorang diri, meskipun wajahmu kau tutupi seperti itu. Tetap saja, kami akan melihatnya dan tidak hanya wajahmu saja yang bisa kami lihat serta nikmati. Akan tetapi, yang lainnya.. Hahahaha...” Bambang terlihat begitu senang dengan apa yang baru saja Ia katakan dan ia tertawakan.
Asyila terdiam sejenak sembari menoleh ke arah putra kecilnya yang tengah meringkuk ketakutan.
__ADS_1
Dalam hati Asyila, Asyila ingin sekali membunuh mereka yang telah menyiksa buah hatinya. Akan tetapi, hal tersebut tidak Asyila lakukan karena Asyila tidak ingin jika dirinya berlumuran dosa karena telah membunuh para pria dihadapannya.
“Kalian semua tidak akan aku biarkan lolos begitu saja,” ucap Asyila dan dengan gerakkan cepat, Asyila menarik tangan Bambang dan membantingnya ke lantai.
Apa yang Asyila lakukan, membuat Heri serta yang lainnya terkejut sekaligus terperangah. Terlihat jelas, hal yang baru saja dilakukan oleh Asyila seperti tak memiliki beban.. Dengan mudahnya, Asyila mengangkat dan membanting tubuh Bambang ke lantai.
“Ku...kurang ajar,” ucap Bambang sambil merintih kesakitan.
Asyila melirik ke arah Bambang dan menginjak pergelangan tangan Bambang berkali-kali, hingga Abraham berulang kali menjerit kesakitan sembari meminta tolong kepada yang lainnya untuk segera membantunya dan memberikan perhitungan kepada Asyila.
“Akan aku pastikan, kalian tidak akan bisa kabur dari tempat ini sampai aku benar-benar puas membuat kalian menderita,” ucap Asyila dan kini sasarannya adalah Heri.
“Baru segitu saja kamu sudah sombong!” teriak Heri dan bersiap-siap memberikan bogem mentah ke wajah Asyila.
Bukan namanya Asyila jika tidak dapat menghindar apa yang ingin dilakukan Heri terhadap dirinya.
“Aakkkhhh!” Heri berteriak ketika tulang kering ditendang oleh Asyila dengan sangat kuat.
Tak hanya sampai disitu, Asyila dengan gerakan cepat menampar wajah Heri berkali-kali untuk membalaskan rasa sakit buah hatinya.
Melihat Bundanya yang nampak berbeda, membuat Ashraf ketakutan. Ashraf hanya tidak ingin jika Bundanya tersayang kenapa-kenapa.
“Bunda!” panggil Ashraf dengan posisi yang masih memeluk lututnya sendiri.
Asyila menoleh sekilas dan kembali fokus untuk memberikan Heri pelajaran yang setimpal.
Heri terjatuh dan lagi Asyila menendangnya hingga sebuah darah segar mengalir dari hidungnya.
“Wanita sial*n!” teriak Heri ketika mengetahui bahwa hidungnya telah mengeluarkan darah.
“Apa hanya segini saja keberanian mu untuk membuka cadar ku?” tanya Asyila menantang.
Heri ingin sekali menghajar Asyila habis-habisan. Akan tetapi, baru saja ia bangkit dirinya sudah tumbang dan pingsan.
Seto serta dua yang lainnya terlihat sangat marah dan bersama-sama berlari mendekat ke arah Asyila.
Melihat hal tersebut, Asyila sama sekali tidak takut. Justru, Asyila seperti tertantang dengan apa yang akan Ia hadapi.
Bughh! Suara pukulan keras mengenai punggung Asyila dan dengan cepat Asyila membalas pukulan keras tersebut.
Ternyata, Asyila tidak hanya membalas pukulan tersebut. Akan tetapi, Asyila juga mematahkan pergelangan tangan Seto dan mencoba melakukan hal yang sama kepada dua orang lainnya.
“Akkkkhhh!” Mereka terus berteriak kesakitan merasakan sakitnya pukulan yang terus saja Asyila layangkan ke tubuh mereka bertubi-tubi.
“Aku tidak akan pernah memaafkan kalian!” teriak Asyila dan memberikan tendangan terakhirnya ke arah wajah mereka satu-persatu.
__ADS_1
Ketika Asyila ingin memberikan tendangan terakhirnya ke arah kaki salah satu dari mereka. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar gedung tersebut dan samar-samar Asyila bisa mendengar bahwa itu adalah suara suaminya.
Deg!
Asyila seketika itu nampak sangat panik. Asyila tidak ingin suaminya tahu bahwa dirinyalah yang telah menghajar para penculik buah hati mereka.
Tidak. Mas Abraham tidak boleh tahu siapa aku yang sebenarnya.
Asyila yang panik itu pun berlari menghampiri buah hatinya dan meminta buah hatinya itu untuk tutup mulut. Menjaga rahasia Bundanya yang ternyata bisa mengalahkan para penculik tersebut.
“Ashraf anak pintar, tolong jangan beritahu kepada Ayah masalah Bunda yang telah menghukum mereka. Tolong ya sayang, Bunda harus pergi sekarang.”
Setelah membisikkan kata-kata tersebut, Asyila berlari ke arah lain dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.
“Ashraf!” teriak Abraham.
Untungnya saja, ketika Asyila pergi dari tempat itu. Abraham tidak melihatnya, sehingga Asyila bisa bebas dari kemarahan suaminya.
“Sayang, ini Ayah,” ucap Abraham sembari mendekap erat tubuh buah hatinya yang terasa begitu lemah.
Abraham belum menyadari bahwa Bambang serta yang lainnya sudah babak belur dihajar oleh Asyila. Sampai akhirnya Edi mengatakan bahwa semua penculik sudah tak berdaya.
“Siapa yang telah membantu kita?” tanya Edi terheran-heran sambil memborgol tangan Bambang dan disusul oleh yang lainnya.
Bambang, Heri serta yang lainnya hanya bisa pasrah ketika tubuh mereka diseret dari ruangan tersebut dengan borgol yang sudah melekat kencang di pergelangan tangan mereka.
“Ya Allah, Nak. Maafkan Ayah ya sayang,” ucap Abraham yang terlihat begitu sedih. Bahkan, terlihat seperti memohon kepada buah hatinya agar sang buah hati mau memaafkan dirinya.
Ashraf hanya diam sambil menghapus air matanya Ayahnya yang terlihat begitu menderita.
“Ayah jangan nangis,” ucap bocah kecil tersebut yang wajahnya telah membiru karena tamparan dan pukulan dari Bambang serta yang lainnya.
Abraham menghentikan tangisannya sambil menggendong tubuh buah hatinya dengan tangan yang gemetar.
Abraham tidak habis pikir dengan mereka yang telah membuat buah hatinya babak belur seperti itu. Dari Ashraf kecil sampai sekarang, Abraham sama sekali tidak pernah main tangan. Bahkan, untuk membentak buah hatinya pun Abraham tidak pernah.
“Edi, tolong gendong Ashraf!” pinta Abraham sambil memberikan Ashraf ke dalam gendongan Edi.
“Kau ingin apa, Tuan Abraham?” tanya Edi.
“Aku ingin memberikan perhitungan kepada mereka, bahkan aku yang akan mematahkan semua tangan mereka,” jawab Abraham dengan tatapan penuh amarah.
Edi dan yang lainnya sama sekali tidak menghalangi Abraham untuk membalas perlakuan mereka. Dikarenakan, mereka tahu benar apa yang akan dilakukan oleh Abraham dan tidak sampai membuat nyawa mereka melayang.
Disaat yang bersamaan, Asyila terus saja mengendarai motor yang tengah ia bawa. Sebisa mungkin, Asyila mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Aku harus cepat sampai rumah. Aku tidak ingin yang lainnya mencurigai bahwa akulah yang telah membuat perhitungan kepada orang-orang jahat tersebut.