Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kesedihan Asyila


__ADS_3

Asyila terus melangkahkan kakinya dan berharap tas ransel miliknya masih berada di dalam Masjid.


“Alhamdulillah, untungnya masih ada,” ucap Asyila dan segera mengambil tas ransel miliknya. Kemudian, kembali masuk ke dalam rumah sakit.


Entah kenapa, Asyila merasa ada seseorang yang sedang mengamatinya dari kejauhan. Seperti orang yang tengah mengintai pergerakannya, Asyila pun mengedarkan pandangannya dan samar-samar ia melihat seorang pria dari kejauhan sedang mengintip ke arahnya.


Siapa orang itu? Sepertinya dia memang sedang mengamati ku.


Asyila tak bisa tinggal diam, ia pun segera bersembunyi dan menunggu langkah selanjutnya dari pria tersebut.


Ternyata, apa yang dipikirkan oleh Asyila benar. Pria itu mencoba mencari Asyila seperti orang kebingungan.


“Anda siapa?” tanya Asyila yang telah berdiri tepat dibelakang pria tersebut.


Pria itu segera berbalik badan dan menoleh ke arah kiri kanan seakan-akan tengah mencari kesempatan untuk membawa kabur Asyila.


Ketika tangan pria itu ingin mendekat, dengan cepat Asyila menangkisnya dan menjatuhkannya dengan gerakan cepat.


“Aaakhhh...” Pria itu terjatuh dan merintih kesakitan ketika merasakan sakit di bagian tangan serta kakinya.


“Siapa kamu?” tanya Asyila dan memutar tangan kanan pria tersebut kebelakang.


“Ternyata kamu sama pintarnya dengan suamimu,” ucapnya.


Asyila menekan tangannya sambil terus memelintir tangan tersebut dengan cukup kuat.


“Aaakkkhh...” Lagi-lagi pria itu menjerit kesakitan dan orang-orang sekitar mulai memperhatikan Asyila.


Asyila berteriak dan mengatakan bahwa pria tersebut berniat jahat kepadanya. Orang-orang yang emosi langsung memukulinya dan Asyila pun berusaha agar mereka tidak main hakim sendiri.


“Tolong bantu saya membawa pria ini ke kantor polisi!” pinta Asyila dan merekapun mengiyakan untuk membantu Asyila membawa pria tersebut ke kantor polisi yang kebetulan jaraknya sekitar 100 meter dari rumah sakit.


Asyila pun pergi ke kantor polisi untuk memastikan bahwa pria tersebut dimasukkan ke dalam penjara.


“Selamat pagi menjelaskan siang, ada yang bisa kami bantu?” tanya pria berseragam polisi.


Mereka yang membantu pria tersebut langsung menyerahkannya kepada polisi dan mereka pun bergegas pergi meninggalkan kantor polisi.


“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila.

__ADS_1


“Wa'alaikumsalam, ada yang bisa kami bantu?” tanya Sang polisi.


Asyila lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan polisi pun mengerti apa yang dikatakan oleh Asyila.


Dan setelah diselidiki, ternyata pria tersebut adalah salah satu narapidana yang beberapa bulan lalu telah dibebaskan.


Karena hal tersebut, pria itu kembali di tangkap karena takutnya akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Asyila maupun yang lainnya.


Yang lebih mengejutkannya lagi, orang yang memasukannya ke dalam penjara adalah Abraham dan rekan-rekannya, siapa lagi kalau bukan Dayat dan Edi.


“Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi,” ucap Asyila.


Ketika Asyila hendak pergi, pria yang sangat dendam dengan Abraham langsung melemparkan sebuah pisau ke arah Asyila. Untungnya, Asyila bisa menghindar kalau tidak sudah pasti tubuhnya bersimbah darah.


“Apa yang kau lakukan? Berani-beraninya kamu melakukan hal itu,” ucap Si Polisi sambil memberikan bogem mentah di wajah penjahat tersebut.


Asyila menghela napasnya dan pamit untuk segera pergi menuju rumah sakit. Tak lupa, sebelum pergi Asyila mengucapkan salam.


Ya Allah, terima kasih karena Engkau masih sayang kepada hamba. Semoga pria seperti itu tidak melakukan hal yang membuat orang-orang disekitar dalam bahaya.


Asyila berlari kecil menuju ruang rawat suaminya dan disaat yang bersamaan, seorang dokter pria keluar dari ruangan suaminya.


“Dok, bagaimana keadaan suami saya? Bolehkah saya masuk kedalam menemani Mas Abraham?” tanya Asyila penuh harap.


Asyila berulang kali mengucapkan terima kasih karena dokter tersebut mengizinkannya untuk masuk ke dalam.


“Kalau begitu, saya permisi dulu karena ada pasien lain yang harus saya tangani,” ucap Sang dokter.


“Baik Dok, sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” balas Asyila.


Asyila pun buru-buru masuk ke dalam dan seketika itu juga air matanya menetes melihat suaminya.


“Assalamu'alaikum, Mas. Mas, ini Asyila,” ucap Asyila dan dengan hati-hati mencium punggung tangan suaminya, “Mas pasti sangat kesepian karena Asyila tidak berada disisi Mas untuk sementara waktu, maafkan Asyila ya Mas,” imbuh Asyila dan menciumi punggung tangan suaminya berulang kali.


Wanita muda itu sangat rindu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, mulai dari memanggil namanya dan hal lainnya yang membuat Asyila bahagia. Adakalanya Asyila sebal dengan keusilan dari suaminya itu.


“Mas, Arsyad dan Ashraf sekarang sudah sembuh. Mereka berdua sedang berada di rumah menunggu kabar baik dari Mas Abraham, Mas kalau mau istirahat tinggal bilang saja kepada Asyila. Asal, Mas cepat sadar dan setiap malam Asyila yang akan memijat Mas. Apakah Mas mau?” tanya Asyila.


Asyila terus saja menangis, ia menumpahkan rasa kesedihannya pada sang suami yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Sebenarnya, ini bukan hal baru bagi Asyila mendapati suaminya yang terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


“Mas, tadi ada orang yang hampir menculik Asyila. Untungnya, ada orang-orang baik sehingga membantu Asyila menangkap pria jahat itu. Mas mau tahu tidak? Ternyata pria jahat tersebut adalah orang yang dulu pernah Mas dan lainnya tangkap,” terang Asyila yang tidak memberitahukan tentang keahliannya dalam menguasai ilmu bela diri.


Asyila mencium pipi suaminya dengan sangat hati-hati sambil menahan air matanya agar tak mengenai pipi suaminya itu.


“Mas tenang saja, Asyila sekarang baik-baik saja. Anak-anak pasti sangat senang mengetahui Ayahnya sudah sadar, bolehkah Asyila egois sedikit Mas? Bolehkah Asyila egois, meminta Mas segera sadar?” tanya Asyila.


Asyila terus berbicara hingga akhirnya ia tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam tangan suaminya.


Beberapa saat kemudian.


Asyila terbangun ketika merasakan tangan suaminya bergerak, akan tetapi ia sadar bahwa hal tersebut hanyalah halusinasinya saja.


“Mas, maafkan Asyila yang terlalu cengeng ini. Mas pun tahu bagaimana Asyila jika tanpa Mas Abraham,” ucap Asyila sambil menundukkan kepalanya dan kembali menangis.


Entah berapa kali Asyila mengeluarkan air matanya, rasanya separuh hidupnya hilang karena sang suami belum juga sadarkan diri.


“Assalamu'alaikum, Asyila...” Ema masuk ke dalam ruangan Abraham dan seketika itu Asyila berlari di pelukan sahabatnya.


“Ema, aku sudah tidak kuat lagi. Aku tidak bisa melihat Mas Abraham dengan kondisi seperti ini. Lihatlah sekarang! Kaki Mas Abraham tengah diperban dan Mas Abraham sampai sekarang belum juga membuka matanya, apakah Mas Abraham masih memerlukan aku?” tanya Asyila sembari terus menangis.


Ema tak bisa berkata-kata lagi, melihat sahabatnya menderita ia pun ikut menderita.


“Aku sangat takut, Ema. Aku sangat takut jika Mas Abraham benar-benar pergi meninggalkan kami disini,” ucap Asyila.


“Asyila, kamu jangan bicara seperti itu. Aku tahu kamu adalah wanita kuat, istri yang kuat sekaligus Ibu yang kuat,” tegas Ema.


“Ini bukan masalah kuat atau tidaknya Ema, ini bukan masalah sepele. Aku sangat takut jika mimpiku menjadi kenyataan, aku sangat takut jika Mas Abraham benar-benar meninggalkan aku.”


Ema menepuk-nepuk punggung sahabatnya agar sahabatnya itu bisa segera tenang. Ema saat itu sudah tak bisa mengatakan apa-apa lagi, ia hanya berharap Asyila segera tenang.


“Saat ini aku sangat rapuh, Ema. Pria yang menjadi penyemangat ku sekarang belum juga sadarkan diri dan meskipun aku sering mengalami hal seperti ini, tetap saja kejadian ini membuatku takut.”


Ema lagi-lagi memilih diam, ia membiarkan Asyila menumpahkan isi hatinya terlebih dahulu. Karena Ema tahu, bahwa setelah Asyila menumpahkan semua kesedihannya perlahan ia akan membaik.


Seperti dugaan Ema, Asyila pun perlahan menghentikan air matanya dan terlihat jauh lebih tenang.


“Sudah jam 11, ayo ke masjid!” ajak Ema.


Asyila mengangguk kecil dan tak lupa menghampiri suaminya.

__ADS_1


“Mas, Asyila mau sholat dulu. Cepat bangun ya Mas, Asyila sangat mencintai Mas Abraham,” ucap Asyila dan memberikan kecupan lembut di pipi suaminya. Kemudian, mencium punggung tangan suaminya sebelum meninggalkan ruang rawat Sang suami tercinta.


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2