Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Ashraf Akhirnya Lulus Tes


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Abraham terlihat sedikit tegang karena pagi itu dirinya akan mengantarkan Ashraf ke pondok pesantren untuk melakukan tes masuk pondok pesantren.


“Mas, kenapa wajahnya tegang begitu?” tanya Asyila ketika melihat ekspresi tegang Sang suami.


“Benarkah? Apa begitu terlihat jelas?” tanya Abraham memastikan.


“Mas, tentu saja terlihat jelas. Kalau boleh tahu, Mas memangnya sedang memikirkan apa?” tanya Asyila penasaran.


“Sebenarnya, Mas agak tegang dan juga gugup karena hari ini Ashraf akan tes masuk pondok pesantren,” jawab Abraham.


Asyila tersenyum manis mendengar jawaban dari suaminya.


“Suami Syila ini sedang tidak baik-baik saja, kenapa Asyila malah tersenyum?”


“Ya mau bagaimana lagi? Habisnya, wajah Mas begitu lucu. Mas tenang saja, Ashraf pasti bisa menyelesaikan tesnya dengan baik. Percayalah dengan buah hati kita,” pinta Asyila.


Abraham mengatur napasnya agar perasaannya menjadi lebih tenang.


“Mas, ayo sarapan! Hanya kita berdua yang belum sarapan!” ajak Asyila yang memang sengaja ingin sarapan dengan suaminya.


“Syila kenapa tidak sarapan bersama mereka? Asyila tahu, 'kan? Kalau tadi Mas sedang sibuk,” ujar Abraham.


“Asyila sudah terbiasa sarapan bersama Mas Abraham. Lagipula, Mas senang ya kalau sarapan sendirian?”


“Bukan begitu Maksud Suamimu, hanya saja Mas tidak ingin jika Syila malah sakit gara-gara telat makan,” terang Abraham.


“Ya sudah, tunggu apalagi Mas? Ayo ke ruang makan!” ajak Asyila.


Asyila merangkul lengan Suaminya untuk segera tiba di ruang makan.


Setibanya di ruang makan, Asyila dengan semangat mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk.


“Syila, ini apa?” tanya Abraham.


“Mas tidak tahu ini apa? Coba Mas perhatikan lagi itu apa!”


Abraham menarik mangkuk berisi sambal dan memperhatikan sambal tersebut dengan serius.


“Ternyata ada pete,” ujar Abraham.


“Mas harus makan pete balado ini ya, Asyila yang membuatnya,” terang Asyila.


“Pasti enak, kalau begitu Mas ingin memakannya,” sahut Abraham.


Disaat yang bersamaan, Ashraf tengah berada di dalam kamarnya dan sedang mengulangi pelajaran di buku Sang kakak, Arsyad.


“Ya Allah, semoga Ashraf hari ini bisa lulus tes. Ashraf mau jadi anak pintar sama seperti Kak Arsyad ya Allah,” ucap Ashraf. “Aamiin Allahumma Aamin,” imbuh Ashraf.


Ashraf kembali mengulangi pelajaran yang sebelumnya ia pelajari bersama Ayah dan Bundanya. Ashraf ingin memastikan kembali bahwa ia sudah hafal dengan isi di dalam buku tersebut.


Beberapa saat kemudian.


Sudah waktunya bagi Abraham untuk mengantarkan sekaligus menemani Ashraf pergi ke pondok pesantren untuk melakukan tes. Tentu saja yang ikut dalam tes tersebut tidaklah sedikit, ada ribuan bahkan puluhan anak-anak yang sebaya dengan Ashraf ingin masuk ke dalam pondok pesantren tersebut.


“Bunda, Ashraf berangkat dulu. Do'akan Ashraf ya supaya Ashraf lolos tes!” pinta Ashraf yang mulai gugup.


“Ashraf sayang, kami semua mendo'akan agar Ashraf lulus tes. Ashraf, jangan takut dan tegang. Allah ada bersama Ashraf,” terang Asyila.


Ashraf mengatur napasnya dan mencium pipi Bundanya. Kemudian, mereka berpelukan sebelum berpisah.


Abraham membelai lembut rambut Ashraf dan membawa Ashraf masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka berada di dalam mobil, Ashraf melambaikan tangannya ke arah Asyila serta yang lain sebelum benar-benar pergi meninggalkan Bandung.


Asyila menitikkan air matanya setelah Ashraf benar-benar pergi meninggalkan Perumahan Absyil.


“Aunty kenapa menangis?” tanya Dyah.


“Iya Asyila, kenapa menangis? Ada apa Nak?” tanya Herwan.


“Ashraf sekarang sudah bisa memilih dan mengambil keputusan, Ayah. Padahal dulu, Ashraf adalah anak yang begitu manja dan lengket dengan Asyila,” terang Asyila pada Ayahnya, Herwan.


“Sudah jangan menangis, pilihan Ashraf juga adalah pilihan yang tepat. Ashraf sama seperti Arsyad yang memilih hidup mandiri di pondok pesantren,” sahut Asyila.


“Aunty jangan sedih lagi ya! Arsyad dan Ashraf pasti akan membawa keberkahan serta cahaya untuk keluarga kita dan juga orang disekitarnya,” sahut Dyah.


“Aamiin, iya Dyah aku percaya akan hal itu,” balas Asyila.


****


Malam hari.

__ADS_1


Asyila serta yang lainnya belum juga tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mereka sengaja tidak tidur karena ingin menunggu kedatangan Abraham dan juga Ashraf yang saat ini tengah berada di perjalanan menuju Perumahan Absyil.


Asyila tengah berdzikir kepada Allah menggunakan tasbih miliknya yang dibeli oleh Abraham untuknya.


Asyila memohon kepada Allah agar dirinya serta yang lain mendapatkan berita baik.


“Hiks... Hiks... Hiks...” Asyila kecil tiba-tiba merengek sepertinya ia ingin tidur.


Fahmi sebagai seorang Ayah, bergegas menggendong putri kecilnya sembari menepuk-nepuk punggung buah hatinya agar segera tidur.


“Haduh, kenapa Dyah jadi tegang begini? Paman dan Ashraf kenapa belum sampai juga,” tutur Dyah.


“Tidak hanya Dyah, kita semua juga saat ini tengah tegang, gelisah dan gugup,” sahut Arumi.


“Tin! Tin! Tin!” Suara klakson mobil berbunyi, yang artinya apa yang telah ditunggu-tunggu telah tiba.


Asyila, Arumi serta yang lain saat itu juga bergegas menyambut kedatangan Abraham dan juga Ashraf.


“Mas Abraham, Ashraf!” Asyila berlari kecil menghampiri dua orang yang ia cintai.


Abraham mencium kening istrinya dan kemudian, Ashraf mencium punggung tangan Bunda tercintanya.


“Ayo kita masuk ke dalam!” ajak Herwan agar segera masuk ke dalam rumah.


Kini, mereka akhirnya berkumpul di ruang keluarga termasuk Mbok Num, Eko dan juga Pak Udin.


Untuk menghilangkan ketegangan yang ada, Arumi mengambil gorengan yang sebelumnya ia goreng. Ada tahu bunting, pisau tempe dan juga bakwan.


“Ibu, Asyila ke dapur dulu ya mau membuatkan teh hangat,” tutur Asyila dan bergegas menuju dapur untuk menyeduh teh.


Abraham belum membuka pembicaraan karena menunggu Sang istri yang masih berada di dapur.


Setelah hampir 10 menit, Asyila pun datang dengan membawa teh buatannya.


“Syila, ayo duduk sini!” pinta Abraham.


Ashraf terlihat habis menangis karena kelopak mata serta kantung matanya bengkak.


Dyah serta yang lainnya mulai sedih melihat ekspresi wajah Ashraf.


Mereka mengira bahwa Ashraf telah lulus tes masuk pondok pesantren.


“Mas, boleh kami tahu apa hasilnya? Kami sangat penasaran,” ujar Asyila.


“Ashraf, ayo beritahu hasil tesnya!” perintah Abraham pada Ashraf.


Ashraf kembali menitikkan air matanya dan mengeluarkan selembar kertas yang berada di dalam tas ransel miliknya. Kemudian, memberikannya kepada Sang Bunda.


Asyila menerima kertas tersebut dengan tangan gemetar, ia membuka perlahan isi kertas tersebut yang ternyata isinya adalah BAHWA ASHRAF MAHESA DINYATAKAN LULUS DAN DITERIMA DI PONDOK PESANTREN TERSEBUT.


Asyila menangis terharu dan memeluk serta menciumi wajah Ashraf.


“Aunty, apa hasilnya?” tanya Dyah yang hampir mati penasaran.


“Ashraf lulus tes,” jawab Asyila.


“Alhamdulillah!” Semua orang yang berada di ruang keluarga, mengucapkan syukur atas lulusnya Ashraf dan telah sah menjadi salah satu santri di pondok pesantren yang telah diimpikan oleh Ashraf Mahesa.


Ashraf kembali menangis, ia menangis karena saking terharu atas apa yang telah ia torehkan. Ia mengalahkan lebih dari 15 ribu orang yang ikut dalam tes tersebut.


“Bunda bangga pada Ashraf, Bunda sudah menduga bahwa kesayangan Bunda pasti berhasil dan akhirnya menjadi kenyataan. Semangat ya sayang,” ucap Asyila pada Ashraf.


“Bunda, lusa Ashraf akan pergi ke pondok. Bunda jaga kesehatan dan jangan sakit, Bunda juga harus menjaga adik Akbar biar tidak buang air besar di popok lagi, kasihan Ayah,” terang Ashraf yang malah membuat yang lainnya tertawa.


Dyah tertawa lepas, suasana yang awal haru kini malah menjadi lucu karena Ashraf yang melawak.


“Jangan tertawa, Ashraf serius ini,” ujar Ashraf kembali.


Asyila pun ikut tertawa begitu juga dengan Abraham. Bagaimana bisa Ashraf berkata seperti itu.


“Bunda, Ashraf bicara serius,” ucap Ashraf menatap Bundanya dengan begitu serius.


Asyila berusaha menahan tawanya sembari mengangguk-angguk kepalanya berulang kali.


“Iya sayang, Bunda akan menjaga adik Akbar agar tidak buang air besar di popok,” sahut Asyila.


Ashraf tersenyum lebar, mendengar perkataan Bundanya.


“Bunda, Ashraf lapar,” ujar Ashraf dan mengambil tempe goreng buatan Neneknya.


Ashraf dengan semangat menikmati tempe goreng tersebut dan membuat yang lainnya tersenyum bahagia.


Abraham dan Asyila saling tukar pandang satu sama lain. Mereka bahkan saling merangkul satu sama lain sembari memperhatikan Ashraf yang akan berpisah dengan mereka dalam waktu yang cukup lama.

__ADS_1


“Oya, lusa waktunya Arsyad libur. Yang artinya, lusa hari dimana Ashraf akan masuk ke dalam pondok dan dihari itu juga, Arsyad libur dan akan berlibur di Bandung selama 5 hari,” terang Abraham.


“Itu artinya, Ashraf dan Arsyad tidak akan bertemu, Mas?” tanya Asyila.


“Mereka akan bertemu, setelah Ashraf selesai libur,” jawab Abraham.


“Ashraf sayang, Ashraf tidak apa-apa?” tanya Asyila memastikan.


“Tidak apa-apa, Bunda. Ashraf sudah besar, disana banyak Abi yang baik sama Ashraf,” terang Ashraf.


“Syukurlah kalau Ashraf tidak apa-apa,” sahut Asyila bernapas lega.


Mereka terus berbincang-bincang mengenai Ashraf yang akan melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren. Sampai akhirnya, Ashraf mengantuk dan meminta kedua orangtuanya untuk menemaninya itu.


Perbincangan pun akhirnya berakhir sampai disitu dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Sesampainya di dalam kamar, Ashraf meminta Bundanya untuk menemaninya makan karena perutnya tiba-tiba lapar.


Abraham dan Asyila sedikit terkejut dengan permintaan Ashraf, karena sebelumnya Ashraf telah menghabiskan 5 buah tempe goreng.


“Ayo Bunda, temani Ashraf ke ruang makan!” pinta Ashraf sembari menyentuh perutnya.


“Ashraf sayang, Ashraf ganti baju dulu ya. Atau Ashraf mau mandi?” tanya Asyila.


“Ashraf mandi dulu ya Bunda, soalnya Ashraf bau,” jawab Ashraf.


“Ya sudah, Ashraf mandi air hangat dan Bunda akan menyiapkan makanan untuk Ashraf dan juga Ayah!”


“Baik, Bunda!” seru Ashraf.


Arumi dan Herwan tengah mengobrol di tempat tidur sebelum mereka beristirahat.


“Kalau Arsyad dan Ashraf sekolah di pondok, kita bagaimana? Pasti rumah di Jakarta akan sangat sepi. Kalau kita tinggal disini, Ibu takut merepotkan Putri kita dan juga menantu kita, Mas,” ujar Arumi pada suaminya.


“Kalau soal itu lebih baik kita meminta kebaikan kepada Allah. Insya Allah, apa yang Allah takdirkan untuk kita, itu adalah yang terbaik,” sahut Herwan.


“Mas benar, kenapa tidak kepikiran,” balas Arumi.


Beberapa menit kemudian.


Asyila telah selesai menyiapkan makanan untuk suami serta buah hati mereka. Disaat itu juga, Abraham dan Ashraf tiba di ruang makan.


“Ayo sayang, sini duduk!” panggil Asyila. “Sekali lagi, selamat ya sayang,” imbuh Asyila mengecup pipi Ashraf dengan penuh kasih sayang.


Ketika Asyila menoleh ke arah suaminya, rupanya Abraham memberi isyarat agar Sang istri juga mencium pipinya.


Asyila mendelik tajam dan meminta suaminya untuk segera duduk.


“Mas, ayo duduk. Ini sudah malam, kasihan Ashraf kalau harus tidur sampai larut malam begini,” ujar Asyila pada suaminya.


Abraham pun duduk tepat disamping Ashraf.


“Syila sayang, ayo duduk temani Mas makan malam!” pinta Abraham.


“Baiklah kalau begitu. Akan tetapi, Mas tunggu disini dulu soalnya Asyila ingin membawa makanan ini ke depan untuk Pak Eko dan juga Pak Udin,” terang Asyila.


“Sini, kalau yang ini biarkan Mas saja. Syila tunggulah disini bersama Ashraf!” perintah Abraham.


“Terima kasih, Suamiku sayang,” sahut Asyila dan duduk disamping putra kecil kesayangannya.


Tak butuh waktu lama, Abraham kembali dan langsung mendapatkan bokongnya di kursi.


“Ashraf, semangatnya ya. Bunda akan terus mendo'akan Ashraf agar menjadi anak Sholeh,” ujar Asyila pada Ashraf.


“Terima kasih, Bunda. Ashraf akan berusaha menjadi anak baik untuk Ayah, Bunda, Nenek, Kakek dan untuk semuanya. Terima kasih sudah merawat serta membesarkan Ashraf,” ungkap Ashraf.


Asyila lagi-lagi menangis terharu mendengar perkataan Ashraf.


“Mas, anak kita kenapa cepat sekali besarnya?” tanya Asyila yang kini menangis dipelukan suaminya.


“Suutttsss, sudah jangan menangis. Tidak baik menangis di depan hidangan,” tutur Abraham sembari menyeka air mata Sang istri.


“Bunda jangan menangis,” ujar Ashraf sembari turun dari kursinya untuk memeluk Bundanya tersayang.


Asyila mencium kening Ashraf dan perlahan dirinya mulai tenang. Kemudian, Ashraf kembali duduk di kursinya.


Abraham bangkit dari duduknya dan membiarkan Ashraf duduk diantara kedua orangtuanya.


Makan malam pun berlangsung dengan penuh haru.


Biasanya Abraham dan Asyila saling suap-suapan. Akan tetapi, malam itu mereka malah bergantian menyuapi makanan pada Ashraf.


Ashraf pun senang, melihat bagaimana kedua orangtuanya menyayangi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2