
Asyila pulang dengan wajah lesu, ia benar-benar ingin menikmati cumi-cumi raksasa yang menurutnya sangatlah nikmat.
“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila ketika memasuki rumah sambil mendorong kursi roda.
“Wa'alaikumsalam,” balas Rahma yang baru saja membersihkan kamar mandi yang biasa digunakan oleh Arsyad dan Ashraf.
“Itu baju Mbak Rahma kenapa basah semua?” tanya Asyila.
“Tadi tidak sengaja kecipratan air,” jawab Rahma.
“Cepat ganti baju Mbak, takutnya masuk angin.”
“Iya sebentar lagi, Oya tadi ada orang kemari dan memberikan kartu undangan pernikahan,” tutur Rahma dan berlari kecil untuk mengambil kartu undangan pernikahan kepada Asyila.
Asyila menerimanya dan kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
“Mas, ini siapa? Asyila sepertinya belum pernah melihat orang ini,” tutur Asyila sambil menunjuk ke arah Foto calon pengantin yang beberapa hari ke depan akan mengadakan acara pernikahan.
“Syila memang belum pernah melihat pria ini, karena orang ini bisa dikatakan orang yang sangat sibuk,” jelas Abraham.
Asyila memilih untuk mengangguk dan membantu suaminya pindah dari kursi roda ke ranjang tempat tidur.
“Jadi, kita akan datang ke acara pernikahan itu Mas?” tanya Asyila.
Abraham terdiam sejenak dan dibeberapa detik berikutnya, ia mengiyakan pertanyaan istri kecilnya.
“Mas yakin mau datang dengan keadaan seperti ini?” tanya Asyila memastikan.
“Tenang saja, Mas tidak apa-apa,” jawab Abraham.
Disaat yang bersamaan, ponsel Asyila berbunyi. Asyila langsung mengeluarkan ponselnya dan ternyata Sang Ibu yang tengah menghubungi dirinya. Asyila bergegas menerimanya dan menanyakan alasan mengapa Ibunya menghubungi dirinya.
Rupanya, Arumi dan Herwan sudah bersiap-siap untuk datang kemari. Asyila dengan semangat mengiyakan dan meminta izin kepada suaminya untuk keluar kamar, Asyila berlari kecil dan meminta Pak Udin untuk segera menjemput kedua orangtuanya.
“Terima kasih, Pak Udin,” ucap Asyila.
Pak Udin mengangguk dan bergegas menjemput orang tua dari Asyila.
“Mbak Rahma, boleh minta tolong?” tanya Asyila ketika melihat Rahma tengah berdiri tak jauh dari dirinya.
Rahma mendekat dan dengan senang hati mengiyakan pertanyaan dari Asyila.
“Begini, Mbak Rahma. Ayah dan Ibu sekarang tengah dijemput oleh Pak Udin, saya minta tolong kepada Mbak Rahma ketika Ibu dan Ayah sampai, tolong buatkan mereka teh hangat,” terang Asyila.
__ADS_1
Rahma tertawa kecil mendengar keterangan Asyila yang ternyata memintanya untuk membuatkan teh.
“Nona Asyila tidak perlu berkata minta tolong segala, sebelum Nona Asyila mengatakan seperti itu, saya sudah pasti membuatkannya,” jelas Rahma.
Asyila mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Rahma.
Nona Asyila? Asyila terheran-heran mendengar panggilan Rahma kepadanya yang secara tiba-tiba memanggilnya Nona Asyila.
“Mbak Rahma kenapa jadi seperti ini? Panggil saja dengan Asyila saja, tidak perlu menambah kata Nona!” pinta Asyila.
“Tidak, akan sangat aneh jika saya terus memanggil nama Nona Asyila tanpa menggunakan Nona. Saya disini hanya menumpang dan akan sangat tidak sopan, jika saya memanggil penolong saya dengan nama. Toh, yang lainnya memanggil anda dengan sebutan Nona Asyila,” terang Rahma.
“Mbak Rahma..”
“Tolong, saya harus tahu dan mengerti batasan-batasan tertentu di rumah ini. Saya pun harus menghormati tuan rumah dan tidak boleh sembarang dalam bertindak, tolong biarkan saya terus memanggil anda dengan sebutan Nona Asyila!” pinta Asyila.
Asyila benar-benar bingung dibuatnya, bagaimana bisa Rahma secepat itu menjadi formal terhadap dirinya.
“Tolong!” Rahma menatap Asyila dengan tatapan memelas. Hal tersebut Rahma lakukan agar Asyila mau mengiyakan permintaannya.
Asyila dengan terpaksa mengiyakan permintaan Rahma. Tak pernah terpikirkan oleh Asyila dengan apa yang diinginkan oleh Rahma kepada dirinya. Bagi Asyila, Rahma sudah seperti keluarga sendiri.
“Bunda, Ayah memanggil Bunda dari tadi,” terang Ashraf yang datang menghampiri Asyila sambil menarik-narik tangan Bundanya.
Rahma tersenyum dan meneteskan air matanya.
“Nona Asyila sama sekali tidak merepotkan saya, justru saya sangat berterima kasih kepada keluarga ini yang dengan tangan terbuka mau menerima saya. Insya Allah, saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasa kalian,” ucap Rahma bermonolog dan masuk ke dalam untuk menyiapkan teh untuk kedua orang Asyila.
***
Mobil yang dikendarai oleh Pak Udin akhirnya tiba juga. Ashraf yang saat itu tengah makan disuapi oleh Bundanya di ruang tamu, cepat-cepat keluar rumah karena Kakek serta Neneknya telah tiba.
“Sayang! Jangan lari-lari,” ucap Asyila sambil berjalan ke arah luar rumah.
Arumi dan Herwan turun dari mobil dengan menenteng beberapa cemilan serta buah segar untuk orang rumah. Ashraf yang melihat cemilan serta buah-buahan segar dengan cepat berlari menghampiri Nenek dan Kakeknya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Arumi dan Herwan.
“Wa'alaikunsalam,” balas Ashraf yang terdengar sangat manja.
Dengan tangan kecilnya, Ashraf meraih tangan Kakek dan Neneknya secara bergantian untuk mencium punggung tangan mereka berdua.
“Wa'alaikumsalam,” balas Asyila sambil mendekat serta tak lupa mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Arumi mengedarkan pandangannya dan tak melihat keberadaan Rahma.
“Sayang, Nak Rahma dimana?” tanya Arumi.
“Mbak Rahma sedang ada di dapur, Ibu. Mungkin sebentar lagi Mbak Rahma akan kemari,” jawab Asyila dan baru saja Asyila menjawab, Rahma sudah datang dengan memberikan senyum terbaiknya.
Rahma berjalan menghampiri orang tua Asyila dan tak lupa mencium punggung tangan mereka berdua secara bergantian.
Arumi bernapas lega, ia bisa melihat bahwa keadaan Rahma sudah membaik.
“Arsyad kemana?” tanya Arumi.
“Arsyad hari ini sekolah, Ibu,” balas Asyila.
“Astaghfirullahaladzim, Ibu sampai lupa kalau cucu pertama Ibu sudah sekolah,” tutur Arumi dan menertawakan dirinya sendiri.
Mereka pun masuk ke dalam dan Asyila mempersilakan kedua orangtuanya untuk bersantai-santai di ruang keluarga sambil menikmati teh buatan Rahma dan roti yang Asyila beli ketika perjalanan pulang setelah mengantarkan Arsyad.
“Sayang, kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kamu sedang sakit, Nak?” tanya Arumi sambil menyentuh wajah putri kesayangannya.
“Tidak, Ibu. Asyila baik-baik saja, wajah Asyila seperti kemungkinan kurang tidur,” terang Asyila.
“Kurang tidur? Memangnya kamu begadang?” tanya Arumi penasaran.
“Sebenarnya sudah beberapa hari ini Asyila tidak bisa tidur, Ibu. Bahkan, Mas Abraham sengaja Asyila bangunkan agar menemani Asyila yang susah tidur,” jelas Asyila apa adanya.
“Kamu sepertinya sedang sakit, sayang. Coba kamu periksa ke dokter dan tanyakan alasan kenapa kamu susah tidur, Insya Allah dokter tahu penyebabnya!”
“Iya, Ibu. Nanti Asyila bicarakan hal ini bersama Mas Abraham.”
“Nona Asyila, saya telah membuatkan bubur ayam, semoga Nona Asyila suka,” tutur Rahma yang tiba-tiba datang membawa semangkuk bubur ayam buatannya sendiri.
Arumi dan Herwan seketika itu menoleh ke arah Rahma yang telah memanggil putri mereka dengan sebutan “Nona”
“Nak Rahma, apa Ibu tadi tidak salah dengar?” tanya Arumi dengan tatapan terheran-heran.
“Tidak, Ibu. Ini keinginan saya, tolong hargai keinginan saya yang ingin memanggil putri Ayah dan Ibu dengan sebutan Nona Asyila. Saya seharusnya mengerti batasan-batasan tertentu di rumah ini, bagi saya kalian sekarang adalah keluarga saya. Saya pun ingin menghormati Nona Asyila, Pak Abraham, Bapak, Ibu dan Anak-anak. Tolong dukung saya!” pinta Rahma yang terdengar sangat tulus dengan apa yang ia katakan.
Arumi menghela napasnya dan menarik tubuh Rahma ke dalam pelukannya.
“Apapun itu Ibu akan menurutinya, kamu sudah Ibu anggap seperti anak sendiri. Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
Rahma menangis di pelukan Arumi, tangisan yang penuh haru. Rahma benar-benar merasa terlindungi berada disekitar keluarga tersebut.
__ADS_1
Terima kasih Ya Allah, semoga keluarga ini selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.