
Abraham bangun dari tidurnya ketika mendengar suara alarm, ia mematikan alarm ponsel miliknya dan membangunkan istri kecilnya untuk segera mandi wajib dan setelah itu melaksanakan sholat tahajjud.
Usai mandi wajib bersama, sepasang suami istri tersebut melaksanakan sholat tahajjud di kamar berdua saja.
Disaat yang bersamaan, Ema bangun dari tidurnya dan melenggang keluar dari kamar untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya.
Ketika ia memasuki dapur, ternyata ada Arumi yang tengah duduk sembari menikmati secangkir teh.
“Ibu Arumi kenapa duduk disini sendirian?” tanya Ema yang kini duduk di kursi dan perlahan menuangkan air ke dalam gelas.
“Ibu tadi batuk, jadinya minum teh agar tenggorokan Ibu hangat,” jawab Arumi sembari menyentuh lehernya.
“Ibu, Ema ke kamar dulu ya. Ibu Arumi tidak apa-apa, Ema tinggal?” tanya Ema pada Arumi.
Ema berjalan meninggalkan Arumi seorang diri di dapur untuk kembali masuk ke dalam kamar.
Beberapa jam kemudian.
Asyila sudah kembali beraktivitas seperti biasa, ia bahkan sudah sibuk memasak di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga tercinta.
Asyila menghela napasnya yang terasa berat ketika mengingat bahwa kedua orang tuanya serta putra kecilnya, Ashraf. Akan kembali ke Jakarta sekitar pukul 3 sore nanti.
“Ibu, apakah harus pulang hari ini?” tanya Asyila Arumi yang tengah menyusun alat piring di meja makan.
“Kalau ditanya seperti itu, sebenarnya Ibu tidak ingin pulang cepat-cepat. Akan tetapi, Ashraf masih harus sekolah,” terang Arumi pada Asyila.
“Asyila pasti akan sangat merindukan Ayah, Ibu dan juga Ashraf,” ucap Asyila sembari meletakkan masakan yang sudah jadi di atas meja makan.
“Sabar ya Asyila sayang!”
“Iya, Ibu. Asyila paham kok,” sahut Asyila dengan senyum manisnya.
“Sarapan sudah jadi, cepat panggil Nak Abraham! Biar Ibu memanggil yang lain!” perintah Arumi pada putri kesayangannya.
Asyila dan Arumi berpisah terpisah untuk segera mengajak keluarga yang lain sarapan bersama.
“Mas, ayo sarapan!” ajak Asyila pada suaminya yang tengah berkutat dengan laptop.
Abraham menoleh ke arah Asyila dan seketika itu juga meletakkan laptop miliknya begitu saja.
“Syila yang masak?” tanya Abraham memastikan.
“Iya, Mas. Asyila yang masak. Semoga Mas suka dengan masakan yang Asyila buat,” jawab Asyila.
“Bukankah Mas sering kali bilang apapun yang Asyila masak tentu saja akan sangat enak!” seru Abraham.
“Mas ini bisa saja, ayo ke ruang makan. Ibu dan yang lain pasti sudah berkumpul di meja makan,” ucap Asyila mengajak suaminya untuk segera berkumpul di ruang makan.
“Baiklah, ayo!” seru Abraham mengecup lembut kening Asyila sebelum meninggalkan kamar.
Abraham dan Asyila pun tiba di ruang makan.
“Selamat pagi, Ayah!” Dengan senyum manisnya, Ashraf menyapa Ayahnya tercinta.
“Selamat pagi juga kesayangan Ayah dan Bunda!” seru Abraham dan membelai rambut Ashraf.
Abraham duduk diantara istri dan juga buah hatinya tersayang.
“Ashraf, ayo pimpin Do'a sebelum makan!” perintah Abraham pada Ashraf.
Ashraf menarik napas dalam-dalam dan menghela napasnya secara perlahan. Kemudian, ia mulai memimpin Do'a sebelum makan dan diikuti oleh anggota keluarga yang lain.
Mbok Num yang juga berada di meja makan itu, sangat senang karena dirinya benar-benar dianggap seperti anggota keluarga dan bukan orang lain.
“Mbok Num, makan yang cukup ya. Tidak perlu sungkan-sungkan dengan kami, anggap kami ini keluarga Mbok Num,” tutur Arumi dengan sangat ramah pada Mbok Num.
Mbok Num mengiyakan penuturan dari Arumi dengan tersenyum lebar.
Ema yang juga ikut sarapan, sangat senang karena bisa sarapan bersama dengan keluarga dari sahabatnya.
Usai sarapan bersama, Arumi dan Mbok Num bersih-bersih ruang makan sekaligus dapur.
Sementara Asyila, berkumpul dengan yang lain di ruang keluarga.
__ADS_1
Ashraf yang tahu bahwa beberapa jam lagi akan berpisah dengan kedua orangtuanya dan adik bayi, terlihat banyak diam dan hanya duduk sembari memeluk tubuh Bundanya.
“Bunda, Ashraf sayang sekali sama Ayah, Bunda, Kak Arsyad, adik Azzam dan adik Akbar,” ungkap Ashraf yang suaranya terdengar sedih.
“Iya sayang, Bunda dan Ayah juga tahu kalau Ashraf saya semuanya,” balas Asyila dengan terus membelai rambut Ashraf.
Ashraf tak lagi berbicara, ia diam dan malah tertidur dipelukan Bundanya.
“Mas, Ashraf menangis ya?” tanya Asyila dengan isyarat bibir tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Abraham menggelengkan kepalanya dan memberi isyarat bahwa Ashraf telah tertidur pulas dipelukan Asyila.
Asyila tak ingin membangunkan Ashraf yang ternyata telah tertidur. Akan tetapi, Abraham malah menggendong Ashraf dan membawa Ashraf masuk ke dalam kamar.
Asyila beranjak dari duduknya dan mengekori suaminya yang tengah membawa buah hati mereka ke dalam kamar.
Asyila merasa sangat sedih karena harus kembali berpisah dengan Ashraf.
“Ashraf sudah tidur, sebaiknya kita keluar!” ajak Abraham dan menggandeng tangan istri kecilnya agar segera keluar dari kamar putra kecil mereka.
“Mas, Asyila pasti nanti akan sedih ketika Ayah, Ibu dan juga Ashraf kembali ke Jakarta. Rasanya masih kurang waktu bersama mereka,” terang Asyila.
Abraham hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena Abraham yakin Asyila sedang berusaha mempersiapkan hatinya untuk perpisahan yang akan terjadi beberapa jam lagi.
“Mas, Asyila mau duduk-duduk diluar! Temani ya Mas!” pinta Asyila dengan memasang wajah menggemaskan.
Abraham langsung mengiyakan permintaan Asyila yang ingin duduk di teras depan rumah.
“Ya ampun, sejuknya udara pagi ini,” ucap Asyila sembari melihat ke arah tanaman hias miliknya.
Asyila tersenyum dan memejamkan kedua matanya untuk lebih menyatu dengan alam. Sementara Abraham, malah memandangi wajah Asyila dengan begitu serius.
Asyila membuka matanya dan menoleh sekilas ke arah suaminya yang duduk disampingnya.
“Mas Abraham jangan memandangi Asyila terus, Asyila malu,” ucap Asyila yang malah salah tingkah karena tatapan suaminya.
“Terus, Mas harus lihat apa?” tanya Abraham yang malah terus memandangi wajah Asyila.
“Itu di depan ada pohon mangga dan ada tanaman hias Asyila,” jawab Syila sambil mengarahkan pandangan suaminya ke arah depan.
Eko saat itu juga masuk ke dalam pos penjagaan miliknya karena sorot mata sepasang suami istri tersebut melihat ke arahnya.
Asyila mengembungkan pipinya dan memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya begitu saja di depan rumah.
Asyila berjalan dengan langkah lebar untuk segera sampai di ruang keluarga bergabung dengan keluarga yang lain.
“Aunty, boleh minta kue kacang?” tanya Dyah pada Asyila yang baru mendaratkan bokongnya di sofa.
Asyila tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari Dyah.
“Boleh, ambillah beberapa toples dan bawa kesini!” seru Asyila.
Dyah tersenyum lebar dan segera beranjak dari duduknya untuk membawa beberapa toples kue kacang untuk dinikmati beramai-ramai.
“Asyila, aku dan Kahfi pulang sekarang ya. Abang Yogi ternyata sudah dalam perjalanan pulang,” ucap Ema pada Asyila.
“Benarkah? Kalau begitu tunggu sebentar,” sahut Asyila.
Dyah datang dengan senyum lebarnya sembari membawa tiga buah toples kue kacang. Kemudian, Asyila mengambil satu dari tiga toples yang ada dan memberikannya kepada Ema.
“Ini untukmu, lain kali sering-seringlah tidur disini!” pinta Asyila.
“Terima kasih, Asyila. Kalau Abang Yogi sedang lembur, insya Allah aku akan kembali tidur disini,” balas Ema.
Ema pun pamit dan bergegas kembali kerumahnya bersama dengan Kahfi.
Setelah Ema keluar dari rumah itu, Dyah serta yang lain dengan semangat menikmati kue kacang yang sangat enak tersebut.
“Aunty, sepertinya ini akan sangat laris bila dijual di kedai Mas Fahmi,” ucap Dyah dan mengambil gambar kue kacang tersebut untuk dipromosikan di sosial media miliknya. “Aunty, satu toples ini harganya berapa?” tanya Dyah penasaran.
“Harganya 40 ribu,” jawab Asyila.
“Kue kacang seenak ini harganya 40 ribu? Sebaiknya Dyah menjualnya 45 ribu/toples,” terang Dyah yang artinya setiap satu toplesnya Dyah mendapatkan keuntungan 5 ribu.
__ADS_1
Sore hari.
Sudah waktunya bagi Arumi, Herwan dan juga Ashraf kembali ke Jakarta. Pak Udin pun sudah siap untuk membawa kembali mertua serta buah hati dari Tuannya pulang ke Jakarta.
“Pak Udin yakin sudah makan?” tanya Abraham pada Pak Udin yang sekitar 1 jam yang lalu, Pak Udin baru tiba di Bandung. Karena setelah mengantarkan mertua Abraham dan Ashraf ke Bandung beberapa hari yang lalu, Pak Udin langsung tancap gas kembali ke Jakarta.
“Yakin, Tuan Abraham. Saya tadi sudah makan di warung saat perjalanan kemari,” jawab Pak Udin.
Abraham mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Pak Udin.
“Alhamdulillah,” ucap Pak Udin yang menerima uang pemberian Abraham.
“Uangnya dipakai dengan bijak ya Pak Udin,” terang Abraham.
Pak Udin mengiyakan apa yang dikatakan oleh Abraham padanya.
“Ashraf sayang Ayah dan juga Bunda. Kapan-kapan Ashraf kesini lagi ya,” tutur Ashraf yang kini tengah berpelukan dengan Sang Bunda tercinta.
“Iya sayang, kapan-kapan Ashraf kesini. Kita pasti akan bisa berkumpul lagi,” sahut Asyila.
Ashraf tak henti-hentinya mengatakan bahwa dirinya sangat sayang kepada Ayah dan Bundanya, sampai-sampai Dyah geleng-geleng kepala dengan kelakuan adiknya itu.
“Nenek, sini jongkok! Ashraf mau mencium pipi adik bayi,” tutur Ashraf sembari mengerakkan tangannya memberi isyarat agar Neneknya segera berjongkok.
Arumi perlahan berjongkok sesuai dengan keinginan Ashraf.
“Adik bayi, kak Ashraf sayang sekali dengan adik bayi. Adik bayi sayang kak Ashraf juga?” tanya Ashraf.
“Iya, Kak Ashraf. Adik bayi sayang sekali sama Kak Ashraf,” sahut Abraham menirukan suara anak kecil.
Ashraf tersenyum lebar dan perlahan menciumi pipi adik mungilnya itu.
“Asyila sayang, kami pulang dulu. Sehat terus ya sayang,” ucap Arumi pada Asyila.
“Iya, Ibu. Kemarin Asyila kelelahan, makanya jatuh sakit,” balas Asyila yang mengatakan bahwa dirinya kelelahan. Padahal, ia sakit karena hampir saja celaka oleh ulah para penculik.
Mereka saling berpelukan sebelum berpisah. Ashraf dengan mata berkaca-kaca, mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian dan tak butuh waktu lama, mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam mobil.
Asyila terus melambaikan tangannya pada Ashraf.
“Ayah, Bunda! Ashraf sayang Ayah dan Bunda!” teriak Ashraf padahal saat itu mobil belum jalan.
“Iya sayang!” seru Abraham dan Asyila.
Mobil pun perlahan keluar dari halaman rumah dan akhirnya meninggalkan Perumahan Absyil.
Asyila saat itu meneteskan air matanya sembari menggendong bayi Akbar.
“Sudah, jangan menangis. Kapan-kapan kita akan kembali berkumpul,” tutur Abraham sembari menyeka air mata Sang istri.
Abraham menuntun istri kecilnya untuk segera masuk ke dalam rumah, begitu juga dengan Dyah serta yang lain.
Bela ikut sedih melihat Asyila yang menangis, Asyila terlihat sangat menyayangi Ashraf. Itu juga yang membuat Bela iri karena orang tuanya tiba bisa sayang kepadanya, seperti Asyila sayang kepada buah hatinya.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar tiba-tiba menangis seakan-akan meminta Bundaran untuk segera berhenti menangis.
“Sudah, jangan menangis. Bayi kita akhirnya ikut menangis juga,” tutur Abraham dan seketika itu juga Asyila menghentikan tangisannya.
Asyila menyeka air matanya dan berjalan menuju kamar untuk segera menyusui bayi Akbar.
Disaat yang bersamaan, Ashraf akhirnya menangis setelah berusaha menahan air matanya. Ia menangis dipelukan Kakeknya, Herwan.
Berulang kali, Ashraf mengatakan bahwa dirinya begitu menyayangi kedua orangtuanya serta saudara kandungnya yang lain.
Herwan dan Arumi saling tukar pandang mendengar ucapan Ashraf yang berulang-ulang.
“Ashraf kalau menangis terus, pasti Bunda juga ikut sedih. Ashraf tidak mau, 'kan? Kalau Bunda menangis di rumah?”
Ashraf menoleh ke arah Arumi sembari menggelengkan kepalanya.
“Kalau tidak mau Bunda menangis, Ashraf jangan menangis,” tutur Arumi mencoba membuat Ashraf agar berhenti menangis.
Asyila menyeka air matanya dan tersenyum saat itu juga.
__ADS_1
“Ashraf sudah tidak menangis lagi. Berarti, Bunda juga tidak menangis lagi, kan?” tanya Ashraf.
“Tentu saja, Bunda pasti tidak menangis lagi!” seru Arumi.