
Dyah terbangun dari tidurnya dan melihat angka jam didinding yang sudah menunjukkan pukul 09.25 WIB.
Gadis itu sengaja bangun siang karena sebelumnya ia sudah meminta izin untuk tidak bekerja. Dikarenakan, ia ingin menghabiskan waktunya bersama Kevin yang akan pergi ke Bali.
“Dyah, cepat bangun sayang!” Terdengar panggilan dari luar pintu agar Dyah segera bangun.
“Iya, Ma. Dyah sudah bangun!” seru Dyah.
“Cepat! Mama sudah membuatkan sarapan, jangan lupa dihabiskan. Oya sayang, Mama dan Papa harus pergi sekarang. Kalau kamu mau keluar, jangan lupa pintunya dikunci!”
“Siap Mamaku yang paling cantik sedunia!” seru Dyah.
Perlahan Dyah turun dari ranjangnya dan mengikat rambutnya yang ternyata sudah panjang. Dyah memang sangat jarang memajangkan rambutnya.
“Kevin berangkat jam 4 sore, cepat sekali perginya,” ucap Ema bermonolog dan mengambil handuk miliknya untuk segera membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian.
Dyah tersenyum manis ke arah cermin, ia bahkan memuji dirinya sendiri yang terlihat cantik.
“Sekarang tinggal sarapan!” seru Dyah dan membaca do'a sebelum makan.
Disaat yang bersamaan, Kevin telah tiba untuk menjemput Dyah. Kevin terlihat sangat senang ketika turun dari mobil untuk menemui keluarga Dyah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Kevin tanpa memencet bel rumah.
Dyah yang tengah menikmati sarapannya seketika itu tersedak.
“Uhuk... Uhuk...” Dyah cepat-cepat meneguk segelas air minum sampai habis dan dengan langkah kesal, ia berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang pagi-pagi datang.
Ceklek!
“Kevin!” Dyah menatap kesal sambil menghapus mulutnya yang setengah belepotan, “Kamu kenapa datang sepagi ini?” tanya Dyah dengan kesal.
“Pagi? Kamu lihat ini sudah jam berapa!” Kevin memberikan ponselnya dan Dyah pun merasa malu karena waktu menunjukkan pukul 11.18 WIB.
Dyah tersenyum semanis mungkin dan mempersilakan Kevin untuk masuk ke dalam.
“Orang tuamu mana?” tanya Kevin karena rumah terasa sangat sunyi.
“Papa dan Mama kerja,” jawab Dyah dengan posisi berdiri tanpa berniat untuk duduk menemani Kevin, “Vin, aku lanjut sarapan ya. Kamu udah sarapan belum?” tanya Dyah basa-basi.
“Sudah, kamu lanjutkan saja. Oya Dyah, kalau boleh aku minta segelas air dong, haus!”
“Ok, tunggu sebentar!” Dyah berlari kecil menuju ruang makan untuk mengambil segelas air minum.
Gadis itu mengambil segelas air minum dan memberikannya kepada Kevin yang Dyah anggap sebagai sahabatnya yang paling baik.
Atau mungkin hanya Kevin lah sahabat untuk Dyah.
“Kamu tunggu disini, aku mau melanjutkan sarapanku yang sempat tertunda.”
Kevin mengangguk kecil dan mulai meneguk air minum pemberian dari Dyah. Senyum Kevin merekah sempurna ketika melihat gambar diri Dyah yang masih kecil tengah duduk dengan wajah yang dipenuhi oleh bedak.
Ternyata Dyah lucu juga, bahkan lebih lucu lagi ketika dia melakukan hal-hal yang konyol.
Ketika Kevin menoleh ke bawah, Kevin tak sengaja melihat foto album. Dengan hati-hati, Kevin membukanya untuk melihat foto-foto didalamnya.
__ADS_1
Kevin tertawa lepas ketika melihat satu foto Dyah ketika dua gigi susu di ompong.
Dyah yang telah selesai menikmati sarapannya terkejut melihat Kevin memandangi fotonya yang menurut Dyah adalah aib.
“Apa yang sedang kau lihat, Kevin?” tanya Dyah sambil mengambil paksa foto album miliknya. Wajah Dyah saat itu benar-benar memerah, terlihat jelas kalau Dyah sangat malu.
Kevin menahan tawanya dan meminta maaf atas kelancangannya yang tanpa izin dari si empunya.
“La-lain kali jangan lakukan hal itu lagi!” pinta Dyah yang masih malu-malu.
Kevin mengangguk kecil dan segera mengajak Dyah untuk pergi bersamanya ke tempat yang sebelumnya sudah Kevin janjikan.
Dyah pun dengan semangat mengikuti Kevin masuk ke dalam mobil.
“Tunggu sebentar!” pinta Dyah. Kemudian, bergegas turun dari mobil. Gadis itu ternyata lupa untuk mengunci pintu terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan rumah.
“Sudah?” tanya Kevin memastikan bahwa tidak ada hal yang terlupakan oleh Dyah.
“Insya Allah sudah,” jawab Dyah.
Kevin tancap gas menuju tempat yang sebelumnya sudah ia janjikan. Tempat yang belum pernah Dyah lihat selama tinggal dan besar di Ibu kota Bandung.
“Kevin, sebenarnya kita mau kemana? Apakah sangat jauh?” tanya Dyah.
“Tidak. Sekitar 1 jam lagi kita akan sampai dan aku berharap kamu menyukainya,” jelas Kevin penuh harap.
“Tapi sebelum sampai kesana, kita sholat dulu ya di Masjid.”
“Tenang, aku mengerti,” balas Kevin.
****
“Kevin, apa kita tidak salah jalan?” tanya Dyah yang mulai takut.
“Tentu saja tidak, Dyah. Aku memang sengaja membawamu kemari,” jawab Kevin.
Bagaimana bisa Kevin sengaja membawa ku kemari?
Aku benar-benar takut dengan tempat seperti ini.
Dyah melamun ketakutan dan rasanya ia ingin sekali berlari sejauh mungkin untuk keluar dari pepohonan besar tersebut.
“Ayo turun!” ajak Kevin yang lebih dulu keluar dari mobil.
Mau tak mau Dyah pun menuruti ajakan Kevin dan mengikuti langkah kaki Kevin yang entah akan membawanya kemana.
Samar-samar Dyah melihat banyak sekali bunga-bunga plastik yang berterbangan disekitar tempat itu.
“Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan Kevin? Tolong beritahu kepadaku sekali juga!” pinta Dyah yang mulai galak.
Kevin menepuk tangan dan tiba-tiba segerombolan orang keluar dari balik pohon membawa kursi dan juga meja.
Dyah menatap mereka dengan tatapan heran, apa yang sebenarnya Kevin lakukan.
Setelah semuanya siap, Kevin meminta Dyah untuk duduk bersamanya. Dyah pun mengikuti apa yang diinginkan oleh Kevin sembari menunggu tindakan yang akan Kevin lakukan selanjutnya.
“Apakah kita akan berkemah disini? Siapa mereka sebenarnya? Kenapa tiba-tiba banyak orang disini?” Dyah bertanya dengan begitu banyak pertanyaan.
__ADS_1
“Kamu tenang dulu! Lebih baik kita menikmati hidangan ini terlebih dahulu!” ajak Kevin.
Dyah sebenarnya masih kenyang. Akan tetapi, Dyah tak bisa menolak ajak Kevin karena Kevin terlihat sangat antusias.
“Bagaimana? Apakah enak?” tanya Kevin ketika melihat Dyah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Lumayan,” jawab Dyah dan kembali mengunyah makanan di mulutnya.
Ini sangat lah aneh. Kevin kenapa menyiapkan semua ini? Apakah hari ini aku berulang tahun?
Tidak. Ulang tahunku masih beberapa bulan lagi.
Dengan cepat-cepat Dyah menghabiskan makanannya dan beranjak dari duduknya karena tak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Kevin saat itu.
“Kamu mau kemana?” tanya Kevin sambil memegangi tangan Dyah.
“Aku mau ke mobil,” jawab Dyah sambil melepaskan tangan Kevin yang memenangi tangannya.
“Tunggu Dyah! Ada sesuatu hal yang ingin aku beritahukan kepadamu,” ucap Kevin pada Dyah yang saat itu berdiri membelakanginya.
Dyah mengernyitkan keningnya dan segera berbalik menghadap Kevin yang tatapannya begitu aneh. Tatapan yang tak bisa dijelaskan oleh Dyah.
Kevin menjentikkan jarinya dan orang-orang disekitarnya mengeluarkan kertas dengan tulisan “AKU MENCINTAIMU DYAH”
Dyah terkejut ketika membaca tulisan kertas yang menyatakan bahwa Kevin mencintainya.
“Dyah! Entah sejak kapan, rasa cinta ini tumbuh dihatiku. Entah sejak kapan, senyum mu menjadi penyemangat untukku. Entah sejak kapan, suaramu adalah melodi cinta untukku. Entah sejak kapan, hal-hal konyol yang kamu lakukan adalah kekuatan untukku menjalani hidup sekaligus hiburan yang sangat-sangat membuatku bersemangat. Aku bukan pria yang pandai merangkai kata-kata cinta ataupun pria romantis yang selalu melakukan hal yang dianggap manis bagi kebanyakan pria lainnya,” ucap Kevin sambil menyentuh dadanya yang saat itu berdetak tak karuan.
Kevin sangat gugup ketika menyatakan perasaannya kepada Dyah, gadis cantik bermata sipit dihadapannya.
“Dyah, maukah kamu menjadi istriku?” tanya Kevin sambil mengeluarkan cincin cantik dan mengarahkan cincin cantik itu pada Dyah yang berdiri dihadapannya.
Dyah tertegun dengan pria dihadapannya. Tak pernah sekalipun Dyah berpikir akan dilamar oleh seorang Kevin. Pria yang selalu ia anggap sebagai sahabatnya itu ternyata memiliki perasaan yang cukup mendalam kepadanya.
“Terima! Terima!”
“Terima! Terima! Terima!”
Orang-orang yang sudah diatur oleh Kevin bertepuk tangan sambil berteriak agar Dyah segera menerima lamaran dari seorang Kevin.
Dyah masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Kevin. Hari itu benar-benar seperti mimpi bagi Dyah.
“Dyah, tolong berikan jawaban untukku sekarang juga!” pinta Kevin setengah memohon.
Glek! Dyah menelan salivanya dengan sekuat tenaga seakan-akan ia tengah menelan bongkahan batu yang cukup besar.
“Dyah, tolong!” pinta Kevin.
Tubuh Dyah bergetar dan Ia pun segera berbalik membelakangi Kevin yang saat itu masih duduk bersimpuh untuk mendapat jawaban dari Dyah, gadis yang sangat Kevin cintai.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Ini terlalu mendadak dan terlalu terburu-buru untukku.
Kevin masih tetap pada posisinya dan berharap Dyah segera berbalik ke arahannya.
🌠🌠
__ADS_1
Btw, kata kalian Kevin diterima atau tidak?Komen!! keluarkan pikiran kalian untuk hubungan Kevin dan Dyah selanjutnya di kolom komentar!