
Abraham menoleh sekilas ke arah sopir pribadinya yang terus saja diam. Tidak biasanya Eko diam seperti itu, seperti ada beban hidup yang tengah ia pikirkan.
“Eko, kamu kenapa?” tanya Abraham.
Asyila yang tengah membelai lembut rambut putra kecilnya langsung menoleh ke arah suami dan Eko secara bergantian.
“Tidak kenapa-kenapa, Tuan Muda,” balas Eko.
“Tidak. Aku tahu bahwa kamu sedang memikirkan sesuatu hal yang cukup berat. Tidak perlu malu untuk mengatakannya, sekarang tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi!”
“Se-sebenarnya saya sedang terlilit hutang. Tuan Muda,” jawab Eko ragu-ragu.
“Hutang? Hutang apa? Tolong jelaskan!”
“Sebenarnya tanpa diketahui oleh saya, istri saya berhutang dengan rentenir karena pada saat itu tidak memiliki uang. Uang dari hasil hutang tersebut digunakan untuk mengobati mertua saya yang sekarang masih di rawat di rumah sakit,” jelas Eko yang terlihat sedih.
“Memangnya mertuamu sakit apa dan berapa banyak uang yang istrimu pinjam kepada rentenir?”
“Ibu mertua saya memiliki penyakit jantung koroner dan uang yang dipinjam istri saya sebanyak 20 juta belum termasuk bunganya,” jawab Eko jujur.
Abraham terdiam sejenak dan mengambil ponsel miliknya.
Sementara itu, Asyila sangat terkejut karena Eko sekarang tengah terlilit hutang.
“Mas...” Asyila menyentuh lengan suaminya sembari memberikan isyarat kedipan mata.
Abraham mengangguk kecil mengerti dengan isyarat kedipan mata istri kecilnya.
Tak butuh waktu lama, ponsel milik Eko berbunyi.
“Berhenti!” perintah Abraham.
Eko langsung menepikan mobil ke sisi kiri mengikuti perintah dari Tuan Mudanya.
“Sekarang lihat isi pesanmu!” perintah Abraham tanpa melirik ke arah Eko.
Eko mengambil ponselnya dan betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa Tuan mudanya telah mentransfer kan sebanyak 50 juta ke rekening Eko.
“Ma... maaf Tuan Muda, ini maksudnya apa?” tanya Eko kebingungan.
“Segera bayar hutang keluarga pada rentenir itu. Ini terakhir kalinya keluargamu meminjam hutang kepada rekening! Kalau ada apa-apa tinggal katakan saja kepadaku dan jangan sekalipun berpikiran untuk kembali meminjam kepada rentenir!” tegas Abraham.
“Terima kasih, Tuan Muda. Saya pasti akan menggantikannya,” balas Eko.
“Sebagai gantinya, aku akan memotong gaji kamu tiap bulannya. Apakah kamu keberatan?” tanya Abraham.
Eko dengan cepat menggelengkan kepalanya, justru ia sangat senang karena bantuan dari Tuan mudanya, ia dan keluarganya tidak terlalu pusing membayar hutang sekaligus bunga kepada rentenir.
“Jalan!” perintah Abraham.
Eko mengiyakan dan kembali mengemudikan mobil menuju Ibu kota Bandung.
Abraham sebenarnya memberikan uang tersebut secara cuma-cuma. Akan tetapi, ia tidak ingin sampai sopir pribadinya merasa tidak enak jika Abraham langsung mengatakan ya sebenarnya.
Sehingga, setiap Eko gajian, Abraham tidak memotong gaji Eko. Hitung-hitung uang tersebut hadiah untuk pengabdian Eko selama bekerja dengannya.
“Terima kasih, Mas,” tutur Asyila yang hanya menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Abraham mengangguk kecil dan mengedipkan sebelah matanya.
“Genit,” celetuk Asyila dan didengar pula oleh Eko.
Beberapa jam kemudian.
Akhirnya mereka pun tiba juga di perumahan Absyil. Sesampainya di rumah, Abraham langsung memerintahkan Eko untuk kembali ke rumahnya agar segera melunasi hutang Eko kepada rentenir.
__ADS_1
“Sekali lagi kasih atas bantuan, Tuan Abraham dan juga Nona Asyila. Saya permisi, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Perjalanan yang cukup melelahkan membuat Asyila ingin cepat-cepat tidur. Akan tetapi, ia tidak bisa merebahkan tubuhnya di kasur dikarenakan putra kecil mereka tiba-tiba mereka mencari Arsyad yang jelas-jelas tidak ikut bersama mereka.
“Mau sama Kak Arsyad...” Ashraf terduduk dilantai dengan terus menggerakkan kakinya sambil menangis.
Asyila mencoba menenangkan Ashraf akan tetapi, Asyila sangat sulit untuk ditenangkan.
Abraham pun menenangkan Ashraf dengan menyodorkan mainan baru yang sudah cukup lama disimpan oleh Abraham.
“Tidak mau,” tolak Ashraf.
“Ashraf tidak boleh menangis seperti ini. Kalau Ashraf masih ingin menangis, Ayah tidak mau lagi berteman dengan Ashraf,” ucap Abraham berpura-pura ngambek dan berharap perkataannya itu bisa membuat Ashraf berhenti menangis.
Ternyata apa yang baru saja dilontarkan oleh Abraham berhasil. Ashraf tak lagi menangis, ia tidak bisa kehilangan sosok Ayah sekaligus teman.
“Ayah, maaf....” Ashraf terbangun dan menyentuh tangan Ayahnya, Abraham.
“Masih mau menangis seperti tadi?” tanya Abraham yang masih berpura-pura ngambek.
“Tidak Ayah,” jawab Ashraf sambil mengarahkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan Ayahnya.
Abraham tersenyum dan jari kelingking mereka saling bertautan.
“Terima kasih, Mas. Berkat Mas, Ashraf tidak lagi menangis,” ucap Asyila sambil menyentuh pipi kiri suaminya.
Abraham tersenyum lebar dan membawa istri serta putra kecil mereka masuk ke dalam kamar.
“Ya ampun, ternyata waktu hampir mendekati ashar,” tutur Asyila ketika melihat jam yang berada di dinding.
“Sepertinya Mas harus bersiap-siap sekarang, sudah lama tidak mengumandangkan adzan,” ucap Abraham sambil menyambar handuk miliknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Bunda, Ashraf juga mau mandi!” pinta Ashraf yang juga ingin melaksanakan sholat bersama Ayahnya di Masjid.
“Baiklah, Ashraf mandi dikamar bawah ya!”
Sebelum mengantarkan Ashraf mandi, Asyila lebih dulu menyiapkan pakaian suaminya yang akan digunakan untuk melaksanakan sholat di Masjid.
“Ayo Bunda!” ajak Ashraf yang ingin cepat-cepat membersihkan diri.
“Iya sayang...”
Ashraf sangat semangat, ia menggandeng tangan Bundanya ketika menuruni anak tangga.
“Jangan terburu-buru sayang,” ucap Asyila.
Abraham telah selesai membersihkan diri dan tak melihat istri kecilnya di dalam kamar.
“Dimana Syila dan Ashraf?” tanya Abraham bermonolog dan cepat-cepat mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Asyila.
Asyila dan Ashraf masuk ke dalam kamar setelah mengantarkan Ashraf mandi di kamar bawah.
“Darimana saja?” tanya Abraham.
Abraham melirik ke putra kecil mereka yang saat itu tengah mengenakan handuk.
“Dingin Ayah,” ucap Ashraf setengah menggigil.
Abraham tertawa dan menarik pelan hidung kecil Ashraf.
“Sini biar Ayah yang memakaikan Ashraf baju!”
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Abraham dan Ashraf berjalan beriringan menuju Masjid depan rumah mereka.
Asyila dengan senyum manisnya melambaikan tangan ke arah suami dan putra kecil mereka.
“Terima kasih, Ya Allah,” ucap Asyila yang sangat bersyukur memiliki suami serta dua buah hati yang sangat menggemaskan.
Asyila menutup pintu rumah rapat-rapat dan bergegas untuk membersihkan diri.
Kedepannya, ia akan lebih sibuk lagi untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga.
Asyila yakin sekaligus percaya, bahwa ia bisa diandalkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan darinya.
Ketika Asyila sedang menaiki anak tangga, Asyila tiba-tiba teringat dengan motor matic suaminya. Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil menuju motor yang berada di garasi.
Ia mengambil kunci motor dan mulai memanaskan mesin.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila bernapas lega karena motor tersebut berfungsi dengan baik.
Karena motor tidak mengalami masalah, Asyila pun kembali menuju kamar. Ia harus segera mandi untuk melaksanakan sholat ashar.
Disaat yang bersamaan, suara Abraham yang sedang mengumandangkan adzan terdengar sangat merdu. Hingga jantung Asyila berdebar-debar dengan begitu bahagia.
Asyila sangat mencintaimu, Mas Abraham.
Terima kasih telah mewarnai kehidupan Asyila dengan begitu indah.
Ketika Sang suami telah selesai mengumandangkan adzan, barulah Asyila membersihkan diri.
****
Malam hari.
Senyum Asyila merekah sempurna ketika melihat suaminya sedang sibuk menggoreng ikan. Awalnya Asyila yang menggoreng ikan tersebut. Akan tetapi, Abraham cepat-cepat menggantikan tugas tersebut dikarenakan Abraham tak ingin istri kecilnya terciprat minyak panas.
“Mas tampan ya?” tanya Abraham dengan penuh percaya diri.
“Hhmm.. Tentu saja,” jawab Asyila dan memberanikan diri mendekap tubuh suaminya dari belakang.
“Kalau seperti ini, Syila harus bertanggung jawab. Pokoknya nanti malam kita harus...”
“Harus apa Ayah?” tanya Ashraf yang tiba-tiba datang menghampiri kedua orangtuanya.
Asyila cepat-cepat melepaskan dekapannya dan memilih untuk meninggalkan Ayah dan Anak itu di dapur.
Abraham menoleh ke arah istri kecilnya yang kabur begitu saja.
“Harus apa Ayah? Ayah mau pergi?” tanya Ashraf.
Abraham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir mencari alasan yang tepat sehingga ketika Abraham menjawab, Ashraf tak lagi bertanya.
“Harus tidur lebih awal sayang,” jawab Abraham dan berharap Ashraf tidak lagi bertanya.
“Kenapa Ayah?” tanya Ashraf yang semakin penasaran.
“Hhhm.... Karena Ayah dan Bunda sangat lelah. Jadinya, harus tidur lebih awal,” jawab Abraham.
“Tapi, Ashraf tidak lelah,” sahut Ashraf.
Ini anak kenapa pintar sekali membuat orangtuanya kebingungan. 😥
Abraham memilih untuk berpura-pura mengabaikan Ashraf. Ia memfokuskan perhatiannya pada ikan yang sedang ia goreng.
Asyila yang kini berada di ruang keluarga sangat penasaran dengan perbincangan Suami dan putra kecil mereka. Akan tetapi, Asyila tidak bisa kesana. Dikarenakan, jika dirinya kesana sudah pasti Ashraf akan bertanya banyak hal yang akan membuat dirinya maupun sang suami kebingungan.
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1