Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Selalu Menemani Sang Istri


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian.


Kondisi Asyila belum sepenuhnya membaik, sampai sekarang pun Asyila belum boleh pulang karena harus ada perawatan yang akan terus dijalani Asyila selama beberapa ke depan.


“Ayo, makanlah!” pinta Abraham sambil mengarahkan makanan ke arah mulut Asyila.


“Asyila sudah kenyang, Mas,” ucap Asyila sambil menutup mulutnya.


“Yakin, sudah kenyang?” tanya Abraham.


“Iya, Mas. Sebaiknya Mas saja yang menghabiskannya, Asyila sekarang mau rebahan sambil menunggu Arsyad dan Ashraf datang,” balas Asyila.


Disaat yang bersamaan, Dyah masuk ke ruangan Asyila bersama dengan Fahmi. Tak lupa mereka mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam ruangan.


“Assalamu'alaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” balas Abraham dan Asyila.


Abraham menoleh dan menghampiri keduanya dengan kursi roda miliknya.


“Paman, ini untuk Aunty!” Dengan senyum manisnya, Dyah memberikan parsel buah-buahan kepada Pamannya untuk Aunty tersayangnya.


“Terima kasih, mari duduk!” Abraham mempersilakan keduanya untuk duduk.


Dyah dan Fahmi kemudian, duduk di kursi dengan saling melempar senyum satu sama lain.


“Dyah!” panggil Asyila.


Dyah mengangguk kecil dan berpindah duduk menghampiri istri kecil Sang Paman.


Asyila menatap Dyah dengan mata berkaca-kaca sambil memegang tangan gadis bermata sipit itu.


“Maaf, sampai saat ini kamu dan Fahmi belum juga menikah,” ucap Asyila.


“Aunty kenapa membahas tentang pernikahan Dyah dan Mas Fahmi yang sengaja ditunda? Tolong jangan membahas masalah ini lagi, Aunty. Bagi kami, kehadiran Aunty juga sangat penting di pernikahan kami, pokoknya ini terakhir kali Aunty membahas soal pernikahan kami yang sengaja ditunda, kalau sudah waktunya kami pasti akan menikah,” tutur Dyah lirih dan hanya mereka berdua yang tahu mengenai pembicaraan itu.


Asyila meneteskan air matanya dan Dyah cepat-cepat menghapusnya agar tak dilihat oleh Paman ataupun calon suaminya.


“Aunty jangan menangis, Paman pasti langsung khawatir,” bisik Dyah.

__ADS_1


Ya Allah, semoga hamba bisa secepatnya pulih dan pulang dari rumah sakit. Hamba tidak ingin menjadi alasan utama serta penyebab dari tertundanya pernikahan Dyah dan juga Fahmi.


Abraham mendekati istri kecilnya dan menawarkan salah satu buah yang dibawa oleh Dyah.


“Syila, mau makan buah yang mana? Biar Mas yang mengupas kulitnya dan menyuapi Syila,” tutur Abraham yang terlihat begitu sayang terhadap istri kecil yang tengah berada di ranjang rumah sakit.


“Syila mau buah manggis, Mas,” balas Asyila.


“Biar Dyah saja yang mengambilnya, Paman,” ucap Dyah menghentikan Pamannya yang ingin mengambil buah.


Dyah mengambil buah manggis tersebut dan memberikannya kepada Abraham. Abraham mengucapkan terima kasih dan mulai membuka kulit tersebut, kemudian memberikannya kepada Sang istri.


“Bagaimana? Rasanya manis?” tanya Abraham.


“Manis, Mas. Terima kasih,” jawab Asyila dan membuka mulutnya lebar-lebar agar sang suami segera menyuapi buah manggis tersebut.


Dyah dan Fahmi saling tukar pandang melihat sepasang suami istri yang selalu saja menunjukkan keromantisan mereka, meskipun itu tidak disengaja.


“Ehemm... Enaknya,” ucap Dyah menggoda sepasang suami istri itu.


“Kenapa? Risih ya?” tanya Abraham sambil memasang wajah sok keren.


“Dyah lucu 'kan!” Dyah tersenyum lebar sampai-sampai kedua matanya menyipit.


Fahmi ikut tertawa sambil memuji kecantikan calon istrinya, Fahmi beruntung bisa berada di keluarga yang sangat tinggi kekeluargaannya.


Malam hari.


Abraham membangunkan Arsyad dan Ashraf yang tidur di ranjang Bunda mereka, sebenarnya Abraham tidak tega membangunkan buah hatinya tersebut. Akan tetapi, Abraham harus membangunkan mereka agar keduanya segera pulang ke rumah.


Abraham tidak ingin kedua buah hatinya tidur di rumah sakit, dikarenakan jika keduanya tidur di rumah sakit, Abraham takut keduanya malah akan sakit dan Abraham tidak mau mereka sakit.


“Arsyad dan Ashraf bangun ya sayang, kalian harus pulang,” ucap Abraham.


Arsyad bangun dengan mata yang masih tertutup, begitu pula dengan Ashraf.


“Kakek gendong ya,” ucap Herwan dan menggendong tubuh Arsyad untuk segera kembali ke rumah.


Arumi pun menggendong tubuh Ashraf dan akhirnya keduanya pulang bersama dengan cucu-cucu mereka.

__ADS_1


Kini di ruangan itu, hanya ada sepasang suami istri yang saling menatap satu sama lain.


“Mas, maafkan Asyila ya,” ucap Asyila dengan mata berkaca-kaca.


“Sssuutt, jangan berkata maaf dan maaf lagi. Mas tidak suka Syila berbicara seperti itu lagi, sekarang waktunya bagi Syila untuk tidur!” pinta Abraham agar istri kecilnya segera tidur.


“Asyila masih belum mengantuk, Mas,” balas Asyila yang memang belum mengantuk.


Abraham mengiyakan dan terus memegangi tangan sang istri sambil bersholawat.


Perasaan Asyila merasa sangat damai mendengar suara merdu suaminya yang tengah bersholawat, sampai akhirnya Asyila tertidur dan terlihat sangat pulas.


“Alhamdulillah,” ucap Abraham dan mencium punggung tangan istri kecilnya dengan penuh cinta.


Cukup lama Abraham berada di samping istri kecilnya, sampai akhirnya Abraham mengantuk dan seperti biasa, Abraham akan tidur di lantai beralaskan kasur bulu yang sebelumnya sudah ia persiapkan untuknya tidur.


Disisi lain.


Rahma menangis di rumah dan ingin sekali menjenguk Asyila yang telah banyak membantu dirinya. Akan tetapi, Rahma merasa bahwa ia tidak pantas datang menjenguk Asyila. Entahlah, hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu dengan alasannya itu.


“Nona Asyila sekarang bagaimana kabarnya? Sudah satu bulan lebih lama nya, aku belum pernah bertemu Nona Asyila. Aku bahkan mengetahui berita itu dari TV,” ucap Rahma bermonolog dengan air mata yang terus mengalir.


Sampai detik itu juga, Rahma tidak pernah melihat kebaikan-kebaikan Asyila serta keluarganya. Jika ada orang yang meragukan kebaikan Asyila dan keluarga, sudah pasti Rahma lah yang maju duluan dan menegaskan bahwa keluarga itu adalah keluarga yang sangat baik serta berhati malaikat.


Abraham terus saja berpikir keras dan akhirnya ia memutuskan untuk menjenguk Asyila besok sore.


“Bismillahirrahmanirrahim, semoga kedatangan ku bisa membuat Nona Asyila senang,” ucap Rahma dengan penuh harap.


Uang pemberian Asyila dan keluarganya, Rahma gunakan untuk membuka usaha catering di rumah. Dan beberapa uang yang lainnya, Rahma berikan kepada anak-anak panti asuhan.


Usaha catering Rahma cukup banyak peminatnya, sehingga Rahma tidak perlu repot-repot bekerja ikut orang.


Rahma terkesiap dan menoleh ke arah jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB.


“Ternyata sudah malam, sebaiknya aku tidur dan sebelum subuh bangun untuk membuat catering pernikahan RT sebelah,” ucap Rahma dan bersiap-siap untuk tidur.


Rahma sekilas menoleh ke arah almari pakaiannya dan melihat pintu almari terbaru lengkap. Ia pun turun dari tempat tidur dan menutupnya kembali.


“Ya Allah, lancarkan lah usaha catering hamba ini ya Allah, semoga dengan usaha ini hamba bisa membantu antar sesama, seperti apa yang Nona Asyila lakukan kepada orang lain,” tutur Rahma dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur untuk segera tidur.

__ADS_1


__ADS_2