
Malam hari.
Asyila dan Mbok Jum sedang sibuk di dapur untuk persiapan besok pagi membuat kue kacang.
“Syila!” panggil Abraham pada istri kecilnya yang tengah menghaluskan kacang tanah bersama dengan Mbok Num.
“Iya, Mas,” jawab Asyila sambil menoleh ke arah suaminya yang tengah memandangi dirinya dengan tatapan penuh cinta.
“Sudah malam, ayo istirahat!” ajak Abraham.
“Iya, Mas. Sebentar lagi,” balas Asyila dengan senyum manisnya.
Abraham duduk di kursi sembari memperhatikan Sang istri yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Sekitar 10 menit kemudian, Asyila dan Mbok Num selesai menggiling kacang tanah.
“Sudah selesai?” tanya Abraham pada istri kecilnya.
“Alhamdulillah, sudah Mas,” jawab Asyila.
“Mbok Num langsung istirahat ya, semoga betah tinggal disini,” ucap Abraham pada Mbok Num.
“Iya, Tuan Abraham. Alhamdulillah saya betah tinggal disini,” jawab Mbok Num.
Mbok Num permisi dan melenggang pergi menuju kamar.
Kini, hanya ada Abraham dan Asyila yang masih di dapur.
“Syila, semangat ya!” Abraham mengangkat kedua tangannya memberi semangat pada istri kecilnya.
“Terima kasih, Mas,” balas Asyila yang sangat senang karena dukungan dari suaminya.
“Ayo ke kamar, waktunya istirahat!” Abraham mengangkat tubuh istri kecilnya dan membawa Sang istri ke kamar.
“Mas, turunkan Asyila. Bagaimana kalau ada yang melihat kita?” tanya Asyila dengan sangat lirih.
“Malam-malam begini siapa yang mau melihat?” tanya Abraham.
Asyila menoleh ke arah sekitar barangkali ada orang yang melihat dirinya sedang digendong oleh suaminya.
“Syila sedang melihat apa?” tanya Abraham sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.
Setibanya di dalam kamar, Abraham langsung merebahkan tubuh Sang istri ke tempat tidur.
“Mas, kalau Asyila terus fokus ke kue kacang, bagaimana dengan pakaian Asyila?” tanya Asyila bingung.
“Menurut Asyila yang mana yang lebih menguntungkan?” tanya Abraham.
“Kalau dia soal keuntungan memang lebih untuk menjual kue kacang, Mas. Akan tetapi, kalau untuk soal pahala lebih banyak di pakaian,” ungkap Asyila.
“Begini saja, karena sudah Mbok Num ya Asyila tinggal fokus saja membuat pakaian. Atau begini saja, apa mau menambah orang untuk membuat kue kacang?” tanya Abraham.
“Boleh juga, 1 untuk kue kacang dan 1 lagi untuk pakaian Asyila. Bagaimana?” tanya Asyila.
“Nah, itu ide yang bagus. Kalau begitu, besok akan mencarikan dua orang untuk dipekerjakan di bagian membuat kue kacang dan menjahit pakaian,” terang Abraham.
“Masya Allah, terima kasih Mas Abraham!”
****
Keesokan paginya.
Dyah pagi-pagi buta sudah datang untuk berkunjung ke rumah keluarga kecil Pamannya. Dyah datang dengan membawa semur jengkol serta opor ayam yang dimasak oleh Fahmi khusus untuk Abraham dan keluarga.
“Assalamu’alaikum,” ucap Dyah dengan menggendong Asyila kecil dan membawa rantang stainless di tangannya.
Mbok Num yang tengah mengepel lantai, buru-buru membukakan pintu untuk Dyah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Mbok Num sembari membuka pintu.
__ADS_1
Dyah mengernyitkan keningnya melihat wanita paruh baya dihadapannya yang sebelumnya belum pernah ia lihat.
“Mau cari siapa ya Mbak?” tanya Mbok Num.
“Aunty Asyila ada? Saya keponakan Paman Abraham,” terang Dyah.
“Oh, Nyonya Asyila ada. Silakan masuk, Mbak. Saya Mbok Num, saya bekerja disini,” balas Mbok Num.
Asyila tiba-tiba datang dan menyambut Dyah dengan senyum hangatnya.
“Tumben datang sepagi ini,” ucap Asyila pada Dyah dan mencium lembut pipi cucunya yang berada di gendongan Dyah.
“Iya, Aunty. Ini ada semur jengkol dan opor ayam buatan Mas Fahmi,” tutur Dyah sambil memberikan rantang stainless pada Asyila.
“Alhamdulillah, terima kasih ya. Pasti semur jengkol dan opor ayam ini sangat enak,” ucap Asyila.
“Pastinya dong!” seru Dyah.
“Ayo duduk dulu di ruang keluarga,” ucap Asyila mengajak Dyah bersantai sejenak.
Mbok Num mendekat ke arah Asyila dan menawarkan diri untuk meletakkan lauk tersebut ke piring.
“Terima kasih, Mbok Num,” ucap Asyila pada Mbok Num.
Asyila berjalan bersama Dyah menuju ruang keluarga.
“Aunty, Mbok Num itu siapa?” tanya Dyah penasaran.
“Mbok Num sekarang bekerja disini dan akan tinggal disini. Mbok Num sendiri hidup sebatang kara dan Pamanmu telah mengizinkan Mbok Num tinggal disini sekaligus membantu Aunty membuat kue kacang dan menjaga adikmu, Akbar,” ungkap Asyila.
“Wah, jadi di rumah ini akan ramai dong,” balas Dyah. “Dyah senang sekali, dari dulu Paman itu orangnya baik dan ditambah pula dengan Aunty yang sangat baik. Ah, pokoknya Paman dan Aunty memang sudah ditakdirkan berjodoh,” imbuh Dyah.
“Kamu ini bisa saja, Oya Dyah insyaallah Aunty mau mencari dua orang lagi untuk bekerja di rumah,” terang Asyila.
“Tinggal disini juga, Aunty?” tanya Dyah penasaran.
“Masya Allah, sukses terus ya Aunty!”
“Aamiin, terima kasih untuk do'anya,” balas Asyila.
Abraham datang menghampiri istri dan keponakannya yang tengah berbincang-bincang di ruang keluarga.
“Kamu kesini sama siapa, Dyah?” tanya Abraham sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
“Ini, sama cucu Paman dan Aunty,” jawabnya dengan senyum lebar hingga kedua matanya menyipit sempurna.
“Fahmi mana? Kenapa tidak kesini?” tanya Abraham.
“Mas Fahmi sebentar lagi akan berangkat ke kedai, soalnya sedang merekrut karyawan baru,” terang Dyah.
“Alhamdulillah, itu artinya kedai makanan suamimu ramai,” ucap Abraham.
“Iya, Paman. Alhamdulillah, mau apa-apa tinggal minta saja sama Mas Fahmi. Alhamdulillah, sampai sekarang Mas Fahmi tidak pernah mengomel mengenai Dyah yang suka jajan,” sahut Dyah dan terkekeh kecil.
“Ya tentu saja tidak akan mengomel, itu tandanya Fahmi sayang sama kamu. Meskipun begitu, kamu semoga seorang istri harus banyak-banyak mendo'akan suamimu agar sehat dalam mencari rezeki!”
“Insya Allah, kalau soal itu tidak pernah ketinggalan,” sahut Dyah dengan senyum manisnya.
Dyah menoleh sekilas ke arah ponselnya dan dengan terpaksa ia harus pamit pulang.
“Paman, Aunty! Dyah pamit pulang dulu ya,as Fahmi pasti sudah menunggu Dyah di rumah,” ucap Dyah sembari beranjak dari duduknya.
“Setelah Fahmi pergi, kamu kesini ya Dyah. Temani Aunty!” pinta Asyila karena suaminya beberapa jam lagi akan pergi untuk mencari orang yang membantu dirinya membuat kue kacang serta menjahit pakaian.
“Aunty tenang saja, Dyah akan langsung kesini setelah Mas Fahmi berangkat ke kedai,” balas Dyah.
Mbok Num berlari kecil dan memberikan rantang stainless yang sebelumnya sudah ia cuci bersih.
“Terima kasih, Mbok Num sudah dicuci,” ucap Dyah pada Mbok Num.
__ADS_1
“Nggeh, Mbak Dyah,” balas Mbok Num.
“Haaaa? Nggeh? Apa itu?” tanya Dyah terheran-heran.
“Nggeh itu artinya iya. Benar, 'kan? Mbok Num?” tanya Asyila.
“Benar sekali,” balas Mbok Num.
Dyah tersenyum bodoh karena baru tahu arti dari kata nggeh.
“Itu bahasa Jawa ya?” tanya Dyah memastikan.
“Iya, Mbak Dyah. Bahasa Jawa,” jawab Mbok Num.
“Maaf ya Mbok, meskipun saya ada keturunan jawanya. Saya tidak bisa Bahasa Jawa,” ungkap Dyah karena sejak kecil bahasa ibu yang ia gunakan adalah bahasa Indonesia.
Dyah pun bergegas kembali ke rumahnya karena suaminya pasti telah meninggal dirinya di rumah.
Setelah Dyah benar-benar pergi, Mbok Num kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai.
Sementara Abraham dan Asyila memilih untuk bersantai-santai di dalam kamar.
Bagi mereka, kamar adalah tepat yang sangat privasi untuk mereka bermesraan.
“Mas, nanti mau berangkat jam berapa?” tanya Asyila.
“Mungkin sekitar jam 9. Oya, Syila mau mencari orang yang seperti apa?” tanya Abraham penasaran.
“Maksud, Mas Abraham?” tanya Asyila yang belum paham.
“Itu, orang untuk membuat kue kacang dan menjahit,” terang Abraham.
“Oh... Ya standar nya saja Mas. Memangnya Mas mau mencari yang lebih muda serta cantik dari Asyila?” tanya Asyila dengan wajah cemberut.
“Kok bicaranya seperti itu? Hayo, Asyila pasti cemburu ya kalau Mas mencari yang lebih muda dan juga lebih cantik dari Syila?”
Asyila melotot tajam dan mengambil bantal miliknya. Lalu, melemparkan tepat diwajah suaminya.
“Mas nyebelin, tidak peka sama sekali,” ucap Asyila yang terlihat sangat cemburu.
Abraham terkejut melihat reaksi istri kecilnya, ia pun berjalan mendekati istri kecilnya untuk menenangkan hati Sang istri yang sedang cemburu.
“Lepaskan, tidak usah peluk Asyila,” ucap Asyila.
“Mas minta maaf ya istriku sayang, Mas tadi hanya bercanda,” tutur Abraham.
Sepertinya yang kita ketahui, jika seorang wanita apalagi istri ngambek. Sebaiknya para pria apalagi suami harus meminta maaf, meskipun wanita atau istri yang memulai duluan.
Paham!! 😅
Asyila perlahan tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
“Mas Abraham jangan berkata seperti itu lagi, Asyila tidak suka,” ucap Asyila.
“Iya Syila sayang, Mas tidak akan lagi bicara seperti tadi,” balas Abraham.
Bela yang baru saja keluar kamar, saat itu terlihat sangat senang karena dirinya baru saja menyelesaikan tugas matematika dari Asyila.
“Pokoknya aku harus belajar supaya menjadi anak pintar. Sehingga, Aunty dan Paman senang karena aku pintar,” ucap Bela bermonolog.
Mbok Num mendekat ke arah Bela yang berbicara sendiri dengan terus tersenyum lebar.
“Selamat pagi, Mbak Bela. Kenapa senyum-senyum sendiri dan berbicara sendiri?” tanya Mbok Num penasaran.
Bela menunjukkan tugas matematika nya kepada Mbok Num.
“Sepertinya benar semua,” ucap Mbok Num.
Bela dengan malu-malu berlari kecil menuju ruang keluarga dan tak sabar ingin melihat reaksi Asyila.
__ADS_1