
Keesokan paginya.
Wajah Abraham mendadak berubah menjadi sangat murung ketika baru saja mendapatkan telepon dari Ibu mertuanya.
Ibu mertuanya, yaitu Arumi secara mendadak memberitahukan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju Bandung.
Mau tidak mau, Abraham harus menyambut kedatangan orang tua dari istri kecilnya. Sebenarnya, Abraham sangat senang dengan kedatangan mereka.
Akan tetapi, yang datang tidak hanya Ayah mertua, Ibu mertua dan Ashraf. Salsa yang bukan siapa-siapa pun ikut serta menuju kota Bandung.
“Paman kenapa wajahnya kusut seperti itu?” tanya Dyah penasaran.
“Akan ada yang datang dari Jakarta,” balas Abraham.
“Siapa? Apakah Kakek, Nenek dan juga Ashraf?” tanya Dyah yang sangat antusias.
“Sebenarnya tidak hanya mereka bertiga saja. Ada satu wanita yang juga ikut datang kemari, wajahnya bisa dikatakan sedikit mirip dengan istri Paman,” terang Abraham.
Dyah mengernyitkan keningnya, ia belum bisa memahami perkataan dari Pamannya itu.
“Maksud Paman?” tanya Dyah untuk lebih jelas lagi.
“Lebih enak kita membicarakan hal ini di ruang keluarga!” ajak Abraham.
Paman Abraham membuatku semakin penasaran. Siapa wanita itu?
Merekapun duduk di sofa dan tanpa pikir panjang, Abraham langsung menceritakan wanita yang bernama Salsa.
Setelah mendengar penjelasan dari Abraham, Dyah semakin penasaran dengan sosok wanita itu.
Beberapa jam kemudian.
Ema yang sedang bersantai-santai dengan keluarga kecilnya, di teras depan rumah, tiba-tiba terkesiap ketika melihat wanita yang sangat dibencinya.
“What? Itu ngapain wanita bermuka dua datang ke sini?” tanya Ema dan tanpa pikir panjang segera menghampiri Salsa yang baru turun dari mobil sambil mengibaskan rambutnya yang panjang. Merasa paling cantik seantero jagad raya.
Yogi berlari menyusul istrinya yang saat itu terlihat begitu emosi.
“Papa! Mama!” panggil Kahfi sambil mengejar orang tuanya.
Abraham menyambut kedatangan mertuanya dan Ashraf saat itu tengah menangis karena merindukan sosok Ayahnya.
“Ayah, kemana Bunda?” tanya Ashraf yang juga merindukan sosok Bundanya.
“Hhmmm... Bunda kebetulan lagi mengirim barang di kota lain, Nak. Kalau barangnya sudah sampai ke tangan pembeli, Bunda pasti segera pulang untuk menemui Ashraf. Sekarang Ashraf jangan nangis ya, yuk Ayah antar menemui bayi lucu!” ajak Abraham.
Eko membantu membawa barang-barang yang di bawa oleh Arumi dan juga Herwan dari Jakarta.
__ADS_1
“Nak Ema, apa kalian?” tanya Arumi begitu ramah ketika Ema dan keluarga kecilnya baru saja datang.
“Alhamdulillah, kami baik. Oya, ini kenapa wanita ini Ibu bawa kesini?” tanya Ema sambil menunjuk ke arah Salsa.
“Sebenarnya kami tidak mengajak Nak Salsa. Akan tetapi, Nak Salsa lah yang mau ikut kemari,” jawab Arumi.
Salsa berusaha untuk terlihat tenang. Akan tetapi, dalam hatinya ia begitu kesal dengan apa yang dikatakan oleh Arumi.
“Dasar benalu,” celetuk Ema sambil memberikan tatapan tajam ke arah Salsa.
“Maksud kamu?” tanya Salsa yang mulai terpancing emosi dengan perkataan Ema.
“Iya memang benar. Benalu itu sukanya menempel dan kedatangannya begitu merugikan. Seperti kamu,” tegas Ema.
Melihat suasananya yang semakin memanas, Yogi dengan cepat membawa istrinya pulang ke rumah.
“Dasar benalu!” teriak Ema sambil ditarik pulang oleh suaminya.
Salsa mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil berusaha menahan kejengkelan dihatinya kepada Ema yang mulutnya begitu tajam.
“Nak Salsa jangan terlalu diambil pusing, sebenarnya Nak Ema itu adalah wanita yang sangat baik. Semoga saja dimasa depan kalian bisa sangat dekat seperti perangko,” ucap Arumi.
Haaaaa? Hal itu tentu saja tidak akan pernah terjadi. Bahkan, untuk mendengar suaranya saja aku sudah sangat jijik.
Lihat saja nanti, aku akan menguasai seluruh harta Abraham dan orang yang membuatku sakit hati akan menyesal seumur hidup mereka.
Salsa yang sangat kesal memilih untuk diam dan tersenyum tipis ke arah Arumi.
Dyah yang saat itu baru saja dari dapur, seketika itu juga tersenyum lebar ke arah Arumi dan juga Herwan.
Akan tetapi, senyum Dyah seketika itu luntur ketika melihat wanita yang mirip dengan Aunty kesayangannya.
“Siapa kamu?” tanya Dyah yang terlihat tak senang dengan kehadiran Salsa.
Salsa mendekat dan bersikap sangat manis pada Dyah.
“Hai perkenalkan, aku Salsa,” ucap Salsa memperkenalkan dirinya.
Dyah mengangkat sebelah alisnya dan tak menerima jabat tangan dari Dyah.
Salsa segera menurunkan tangannya.
“Bagaimana keadaan Mbak Dyah sekarang? Adik bayinya mana?” tanya Salsa mencoba untuk akrab dengan wanita dihadapannya.
“Aku baik. Asyila lagi tidur di kamarnya,” jawab Dyah singkat.
“Asyila? Asyila istri Pak Abraham?” tanya Salsa yang terlihat begitu terkejut.
__ADS_1
“Bukan,” jawab Dyah singkat dan memilih mendekati Arumi serta Herwan.
“Kabar Kakek dan Nenek bagaimana?” tanya Dyah dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
Salsa terlihat sangat tak senang dengan sikap Dyah yang sengaja mengabaikan dirinya.
Ternyata sangat sulit untuk mencoba akrab dengan keluarga ini.
Aku sangat lelah bersandiwara seperti ini.
Dyah sesekali melirik ke arah Salsa yang memang terlihat mirip dengan Aunty kesayangannya itu.
Fahmi keluar dari kamarnya dan terkejut melihat orang tua Asyila sudah berada di hadapannya. Dan yang semakin mengejutkan Fahmi adalah wanita yang mirip dengan Asyila.
Meskipun begitu, Fahmi tahu bahwa wanita tersebut bukanlah Aunty dari istrinya.
“Kakek, Nenek,” ucap Fahmi dengan sangat sopan dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
Percakapan tersebut terus saja berlanjut, sampai akhirnya Dyah memilih untuk segera masuk ke dalam kamar dan disusul oleh Fahmi.
“Ayo ke kamar, Mas!” ajak Arumi dan membawa suaminya pergi ke kamar yang lain.
Kini, hanya ada Salsa yang masih berdiri dan bingung harus pergi kemana.
“Apakah mereka tidak ada mata? Jelas-jelas aku disini, seharusnya mereka memperlakukan tamu dengan sangat baik. Menyebalkan,” ucap Salsa bermonolog Dan ketika ia menoleh ke belakang, ternyata ada Abraham yang berdiri tak jauh dari tempat Salsa berdiri.
Abraham mendekat dan mempersilakan Salsa untuk beristirahat di kamar dekat dapur.
“Pak Abraham tidak dengar apa yang saya bicarakan tadi?” tanya Salsa yang terlihat begitu ketakutan.
“Kamu bicara apa?” tanya Abraham datar yang sepertinya tak mendengar perkataan kasar Salsa yang mengkritik keluarganya.
Salsa seketika itu bernapas lega. Ia hampir saja mati di tempat kalau sampai Abraham mendengar celotehannya itu.
“Te-terima kasih, Pak Abraham,” ucap Salsa dan dengan genitnya ia berjalan melenggak-lenggok untuk menarik perhatian dari Abraham.
Meskipun begitu, usaha Salsa untuk menarik perhatian dari seorang Abraham tidak akan pernah berhasil.
Sore hari.
Arumi dan Salsa begitu sibuk di dapur karena sedang mempersiapkan masakan sore mereka.
Terlebih lagi Salsa yang terlihat sedang berusaha untuk membuatkan Abraham makanan.
“Apakah seperti ini, Bu Arumi?” tanya Salsa ketika berusaha untuk memasak sup ayam.
“Bukankah kamu bilang kepada Ibu, kalau kamu pintar memasak?” tanya Arumi.
__ADS_1
“Bukan begitu Ibu, Salsa hanya tidak tahu selera dari Pak Abraham,” jawab Salsa berusaha untuk terlihat manis dihadapan Arumi.
“Kamu tenang saja, apapun yang kamu masak. Nak Abraham pasti suka,” terang Arumi.