Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Selalu Mengucap Syukur


__ADS_3

Dyah yang sedang duduk santai sembari menikmati es campur tiba-tiba terkejut ketika gerbang rumah dibuka, ternyata orang yang membukanya adalah Eko.


“Pak Eko? Alhamdulillah, ternyata Paman sudah kembali,” ucap Dyah bermonolog.


Dyah saat itu juga beranjak dari duduknya untuk memberitahukan Aunty-nya bahwa Paman kesayangannya telah kembali.


“Aunty, Paman sudah kembali,” ucap Dyah.


Saat itu juga Asyila beranjak dari duduknya dan berlari kecil untuk segera menyambut kedatangan Sang suami tercinta.


“Mas Abraham!” Asyila berlari sesaat Abraham baru keluar dari mobil.


Abraham tersenyum lebar dan cepat-cepat merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar bisa memeluk Sang istri tercinta.


“Hhhmmm... Paman dan Aunty ini seperti Kajol dan Shah Rukh Khan di film kuch kuch Hota hai,” celetuk Dyah yang melihat keduanya dari pintu.


“Syukurlah Mas pulang dengan selamat, bagaimana hari ini? Apakah Mas sudah mendapatkan orang untuk bekerja dengan Asyila?” tanya Asyila pada suaminya dengan terus berpelukan.


Eko yang melihat keromantisan sepasang suami istri itu, memilih untuk duduk di pos miliknya karena tak ingin mengganggu privasi keduanya.


“Alhamdulillah, mulai besok pagi mereka berdua akan bekerja,” terang Abraham.


“Syukurlah,” balas Asyila dengan sangat lega.


“Ayo kita masuk ke dalam, tidak baik kalau berlama-lama diluar. Kalau ada yang melihat kita seperti ini, takutnya ada yang iri,” tutur Abraham dan mengajak istri kecilnya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Dyah memanyunkan bibirnya ketika sepasang suami istri itu melewati dirinya.


“Mana bayi Akbar?” tanya Abraham yang ingin menciumi pipi gembul bayi mungil mereka.


“Ada, Mas. Di ruang keluarga,” jawab Asyila.


“Kue kacang Asyila sudah selesai?” tanya Abraham sembari merangkul pinggang Sang istri menuju ruang keluarga untuk membawa bayi Akbar ke dalam kamar.


“Alhamdulillah, sudah Mas. Mungkin sebentar lagi kue kacangnya akan diambil oleh Bu Narti,” terang Asyila.


“Syukurlah, jangan lupa untuk teman Mas juga ya,” tutur Abraham mengingatkan istri kecilnya.


“Mas tenang saja, insya Allah kue kacang buatan Asyila jadi tepat waktu,” balas Asyila.


Setibanya di ruang keluarga, Abraham bergegas mendekati bayi mungilnya dan mencium pipi gembul bayi Akbar berulang kali hingga akhirnya bayi Akbar bangun dan menangis karena tidurnya di ganggu oleh Ayahnya.


Asyila memukul bokong suaminya dan mencoba menenangkan bayi mungil mereka yang menangis karena ulah Abraham.


Abraham hanya tertawa sembari menyentuh bokongnya yang baru saja dipukul oleh istri kecilnya.


Untungnya, saat itu tidak ada Bela di ruang keluarga.


“Iya sayang, jangan nangis ya. Ayah nakal ya, tenang saja. Ayah sudah Bunda beri pelajaran,” ucap Asyila sambil menimang-nimang bayi Akbar.


Abraham tak bisa berhenti tertawa ketika melihat ekspresi wajah istri kecilnya yang kesal karena ulahnya.


“Mas jangan tertawa terus,” ucap Asyila.


Ekspresi wajah Asyila membuat Abraham semakin menyukai istri kecilnya.


“Iya, Mas minta maaf. Ayo ke kamar!” ajak Abraham sembari merangkul pinggang Sang istri.


“Jangan seperti tadi lagi, Mas. Anak tidur malah dibangunin,” celetuk Asyila.


“Iya, Maaf,” sahut Abraham dan mencium sekilas pipi kanan istri kecilnya.


Keduanya pun melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga untuk segera masuk ke dalam kamar tidur mereka.


“Mas, kapan kita ke Madiun?” tanya Asyila penasaran.


“Mas tidak janji secepatnya. Akan tetapi, insya Allah kita akan pergi kesana bersama dengan Arsyad, Ashraf serta keluarga yang lain,” terang Abraham.


Asyila melebarkan senyumnya mendengar keterangan suaminya.

__ADS_1


“Terima kasih, suamiku,” tutur Asyila.


“Berterima kasihnya nanti kalau kita sudah sampai Madiun,” balas Abraham.


“Uhh... Mas kalau begini kelihatan semakin tampan dan dewasa,” puji Asyila dengan tatapan penuh kekaguman.


Abraham sedikit tak percaya dengan perkataan istri kecilnya yang memuji dirinya.


“Benarkah? Bukankah Mas sekarang kelihatan lebih tua?” tanya Abraham.


“Mas ini bicara apa? Kata siapa Mas tua?” tanya Asyila kembali sembari meletakkan bayi mereka di ranjang bayi.


Kemudian, berjalan mendekat ke arah suaminya.


Asyila tersenyum manis dan melingkarkan tangannya di leher suaminya dengan sedikit berjinjit.


“Mas itu tidak tua, justru semakin hari Mas semakin cool,” puji Asyila.


Hati Abraham seketika itu meleleh mendengar istri kecilnya memuji dirinya.


“Mas!” teriak Asyila ketika Abraham menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.


Abraham tertawa lepas dan menciumi seluruh wajah istri kecilnya bertubi-tubi.


“Mas mesum,” celetuk Asyila pada suaminya yang tak henti-hentinya menciumi seluruh wajahnya.


“Asyila genit,” balas Abraham.


“Kok jadi Asyila yang Mas katakan genit?” tanya Asyila dan berusaha menutupi seluruh wajahnya dari bibir suaminya.


Abraham tertawa begitu juga dengan Asyila, keduanya terlihat sangat bahagia satu sama lain.


“Tok! Tok! Tok!” Suara ketukan pintu.


Saat itu juga Abraham dan Asyila terkesiap dari tempat tidur.


“Siapa?” tanya Abraham sembari berjalan mendekat ke arah pintu.


Mendengar hal tersebut, Asyila cepat-cepat keluar dari kamar.


“Dyah, apakah Bu Narti?” tanya Asyila.


“Bukan, Aunty. Lebih tepatnya keponakan Bu Narti,” jawab Dyah.


“Kamu tunggu di depan dulu ya, Aunty akan ke dapur untuk mengeluarkan kue kacang,” tutur Asyila.


Abraham pun berlari kecil menuju dapur untuk membantu istri kecilnya membawa kue kacang keluar.


Beberapa saat kemudian.


Kue kacang pesanan Bu Narti sudah masuk ke dalam mobil.


“Ini uangnya, Ibu Narti pesan kue kacang 150 toples dan akan diambil 3 hari lagi,” terang pria yang umurnya sekitar 20 tahunan.


Asyila mengambil uang tersebut dan mengucapkan terima kasih.


Keponakan dari Ibu Narti pun pergi meninggalkan perumahan Absyil dengan mobilnya.


“Alhamdulillah,” ucap Asyila sembari menoleh ke langit.


Abraham tersenyum dan merangkul pinggang istri kecilnya sembari mencium pipi kiri Sang istri tercinta.


“Alhamdulillah,” tutur Abraham atas rezeki yang Allah berikan kepada Sang istri.


Asyila tersenyum dan bersandar di bahu suaminya.


“Terima kasih, Mas. Asyila beruntung memiliki Mas sebagai pasangan asyila.”


“Mas pun beruntung memiliki Asyila, ayo masuk ke dalam. Kasihan Dyah kalau melihat kemesraan kita,” ujar Abraham mengajak istri kecilnya masuk ke dalam sembari melirik ke arah keponakannya yang berdiri tak jauh dari dirinya dan Sang istri.

__ADS_1


Dyah memanyunkan bibirnya dan mengangkat sebelah alisnya.


“Mesra terus, cemilan Dyah tidak dibelikan,” celetuk Dyah.


Abraham seketika itu menghentikan langkahnya sembari menoleh ke arah keponakannya.


“Astagfirullahaladzim, Paman hampir lupa,” tutur Abraham.


“Paman jahat,” celetuk Dyah dengan mode ngambek.


Abraham bukannya tak ingat membelinya, akan tetapi cemilan serta makanan masih ada di dalam mobil.


“Eko!” panggil Abraham pada sopir pribadinya yang tengah bersantai di pos milik Eko.


Eko pun terkesiap dan bergegas menghampiri Abraham yang memanggil dirinya.


“Iya, Tuan Abraham!”


“Keluarkan semua makanan dan cemilan yang saya beli tadi. Oya, kalau kamu mau ambilah!”


Eko mengiyakan dan tak lupa berterima kasih pada Tuannya.


Dyah bertepuk tangan dengan penuh semangat ketika tahu bahwa Pamannya tak lupa membelikannya makanan serta cemilan.


“Terima kasih, Paman kesayangan Dyah,” ucap Dyah dengan senyum manisnya.


“Iya sama-sama, Paman mau ke kamar dulu,” balas Abraham dan merangkul pinggang istri kecilnya untuk segera kembali masuk ke dalam kamar mereka.


Mbok Num tersenyum melihat sepasang suami istri itu, sebelumnya ia tak pernah melihat pasangan yang saling mencintai satu sama lain seperti pasangan Abraham dan Asyila.


Mbok Num berharap hubungan keduanya akan terus Harmonis seperti yang ia lihat sekarang.


“Mas, besok kita kencan ya!” pinta Asyila pada suaminya.


“Kencan? Boleh juga. Syila mau kencan dimana?” tanya Abraham penasaran.


“Dimana saja boleh, yang penting kita keluar. Asyila ingin refreshing pikiran,” jawab Asyila.


“Baiklah, bagaimana kalau besok malam setelah sholat isya? Akbar kita titipkan dulu pada Mbok Num dan kita keluar kencan makan mie ayam,” terang Abraham.


“Wah, itu ide yang bagus, Mas. Sudah lama Asyila tidak makan mie ayam,” tutur Asyila dengan senyum manisnya.


“Mas akan cari informasi mengenai mie ayam yang enak di daerah Bandung ini, semoga Asyila suka.”


“Sebenarnya yang membuat mie ayam itu enak kalau kita makan bersama pasangan kita, apalagi kalau sedang dalam keadaan lapar,” ujar Asyila dan tertawa kecil.


“Asyila tadi habis makan yang manis-manis ya?” tanya Abraham penasaran.


“Iya, Mas. Tadi Asyila membuat es campur dan rasanya memang manis. Memangnya kenapa ya Mas?” tanya Asyila terheran-heran.


Abraham seketika itu juga tertawa lepas melihat ekspresi wajah istri kecilnya yang sangat polos.


“Mas kenapa tertawa? Membuat Asyila bingung saja,” ucap Asyila sambil memukul sekilas dada suaminya.


“Tidak ada apa-apa, sini peluk Mas!” pinta Abraham dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Bentar ya Mas, Asyila menaruh bayi Akbar ke ranjangnya,” balas Asyila sembari berjalan menuju ranjang bayi dan meletakkan bayi mereka dengan sangat hati-hati.


Setelah itu, Asyila tak langsung memeluk suaminya. Ia lebih dulu melepaskan hijab miliknya dan mengurai rambut panjangnya yang sudah sedari pagi Asyila ikat.


“Masya Allah, cantiknya istriku ini,” puji Abraham dengan tatapan terkagum-kagum.


Asyila tersenyum manis dan mendekat ke arah suaminya. Kemudian, memeluk suaminya atas permintaan Sang suami.


“Mas, hari ini Asyila sangat lelah. Untungnya, ada Mbok Num yang membantu Asyila. Kalau besok dua orang itu datang, pekerjaan Asyila pasti tidak akan berat seperti hari-hari sebelumnya,” terang Asyila yang sudah berada di pelukan suaminya sembari memejamkan mata.


“Insya Allah, sebelum jam 8 pagi mereka sudah datang ke rumah,” balas Abraham.


“Terima kasih, Mas Abraham. Terima kasih sudah mau mencarikan Asyila orang untuk membantu Asyila.”

__ADS_1


“Ssuuuttss... Sudah, jangan lagi mengucapkan terima kasih,” sahut Abraham.


__ADS_2