
Siang hari.
Asyila sudah siap untuk menemui nenek dari Rahma yang hidup seorang diri. Asyila berharap niatnya baiknya akan membuat Nenek tersebut senang dan tidur dengan sangat nyenyak. Asyila pergi tidak hanya sendirian, ada Herwan yang ikut bersamanya untuk pergi ke rumah Nenek dari Rahma.
Arumi sebenarnya ingin ikut, akan tetapi ia tidak bisa ikut karena harus menjaga kedua cucunya dan juga menantu kesayangannya yang tengah sakit.
Asyila pamit dan meminta restu kepada suaminya agar semuanya berjalan dengan lancar. Do'a suaminya adalah ridho Allah subhanahu wa ta'ala dan Asyila sangat percaya bahwa restu suaminya adalah restu Allah juga.
“Mas baik-baik ya di rumah, Asyila pergi dulu. Kalau Mas membutuhkan Asyila, langsung telepon Asyila dan Insya Allah Asyila akan cepat pulang ke rumah,” ucap Asyila.
“Syila jangan terlalu banyak berpikir, Mas disini akan baik-baik saja. Lagipula ada Arsyad, Ashraf dan juga Ibu yang menjaga Mas disini,” balas Abraham.
Asyila mengangguk kecil dan mencium punggung tangan suaminya. Abraham menyentuh kepala istri kecilnya seakan-akan tengah memberikan restu serta kekuatan untuk sang istri tercinta.
“Mas, Asyila pergi. Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam, hati-hati istriku,” balas Abraham.
Asyila melangkahkan kakinya keluar kamar, entah kenapa ia tiba-tiba memiliki firasat yang tidak enak.
“Ya Allah, firasat apa ini? Semua tidak ada hal buruk yang terjadi,” ucap Asyila sambil menyentuh dadanya dan melanjutkan langkahnya ke teras depan rumah.
Arumi, Arsyad dan Ashraf telah menunggu Asyila di teras depan rumah. Sementara Herwan sedang memanaskan mesin mobil, beberapa Minggu yang lalu Herwan berlatih mengendarai mobil atas keinginan menantu idamannya. Abraham sangat ingin jika Ayah mertuanya bisa mengendarai mobil dan mungkin suatu saat Ayahnya dibutuhkan ketika ada hal yang mendesak.
“Ayah yang bawa mobil?” tanya Asyila memastikan.
Herwan menggelengkan kepalanya, “Tidak. Ayah hanya memanaskan mesin mobil saja, kalau yang ini biar Pak Udin saja. Ayah belum terlalu mahir dalam mengendarai mobil, Ayah takut kalau salah pegang,” terang Herwan.
“Ayah ini ada-ada saja,” celetuk Asyila.
Pak Udin berlari kecil mendekati mobil dan Herwan pun turun dari mobil agar Pak Udin bisa masuk ke dalam mobil untuk mengemudikan mobil.
“Ibu, Arsyad dan Ashraf di rumah ya! Kalian berdua jangan nakal dan dengarkan apa yang Nenek kalian katakan,” ucap Asyila kepada kedua buah hatinya.
“Siap Bunda!” seru keduanya sambil mengangkat tangan mereka memberi hormat kepada Bunda tersayang mereka.
Asyila mengucapkan salam dan mencium punggung tangan Ibunya. Arsyad dan Ashraf bergantian mencium punggung tangan Bundanya dan juga Kakek mereka dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Bunda dan Kakek hanya sebentar sayang, kami pulang sebelum jam 5 sore. Pokoknya sampai rumah kalian harus sudah mandi ya!”
“Iya, Bunda.”
Asyila dan Herwan pun masuk ke dalam mobil untuk segera pergi ke rumah Nenek dari Rahma.
Diperjalanan, Asyila merasa ada sesuatu hal yang sedang terjadi. Ia pikir itu hanyalah firasatnya saja dan berharap semuanya baik-baik saja.
***
Pak Udin berhenti tepat disebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki. Asyila dan Herwan pun turun dari mobil, sementara Pak Udin hanya bisa menunggu di dalam mobil.
“Ayo Ayah, Asyila akan tunjukkan tempatnya!” ajak Asyila dan berjalan selangkah demi selangkah menuju kediaman Nenek dari Rahma.
Asyila terus melangkahkan kakinya dan saat ia ingin sampai di tempat tujuan, ia mendadak berhenti dengan napas yang terasa sesak.
Ia terkejut melihat pemandangan di depannya, rumah yang ia tuju kini telah dipenuhi oleh orang-orang.
“Kenapa berhenti Nak?” tanya Herwan.
Asyila terkesiap dan berlari menuju rumah Nenek dari Rahma. Untuk memastikan bahwa apa yang tengah ia pikirkan tidaklah benar.
“Nek Inem yang meninggal dunia,” jawab wanita berumur 50 tahunan.
Deg!
Asyila kehilangan keseimbangannya dan hampir saja terjatuh, untungnya ada Sang Ayah yang dengan sigap menahan tubuh putri kesayangannya.
“Hiks... hiks...” Asyila saat itu juga menangis, niat baiknya untuk membantu Nenek Inem akhirnya sirna.
Herwan mencoba menenangkan putri kesayangannya agar tak menangis. Akan tetapi, bukannya berhenti Asyila terus saja menangis.
Kini, Rahma benar-benar seorang diri karena keluarga terakhirnya sudah meninggal dunia untuk selama-lamanya.
“Ayah, bagaimana dengan Mbak Rahma? Bagaimana Asyila mengatakan yang sebenarnya kepada Mbak Rahma kalau neneknya telah meninggal?” tanya Asyila.
“Nak, kamu pun tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal. Allah lebih sayang dengan Nek Inem, tolong jangan seperti ini.”
__ADS_1
Asyila berjalan masuk dan Herwan pun menuntun putri kesayangannya masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Asyila langsung mendekati jasad Nek Inem.
Asyila tidak mengeluarkan sepatah katapun dan berbicara dalam hati.
Nek, Nenek yang tenang ya disana. Saya akan membantu menjaga Mbak Rahma disini.
Cukup lama Asyila berada di samping Nek Inem, sampai akhirnya Asyila memutuskan untuk pergi. Asyila tidak pergi begitu saja, ia pun mencari ketua perangkat desa untuk mengurusi semua keperluan untuk pemakaman Nenek Inem dengan memberikan sejumlah uang yang bisa dikatakan cukup banyak.
“Saya percayakan ini kepada Ibu dan yang lainnya. Tolong pakai uang ini untuk pemakaman Nenek Inem dan sisanya berikan kepada orang-orang yang membutuhkannya, saya permisi. Assalamu'alaikum,” ucap Asyila.
“Wa'alaikumsalam,” balas mereka yang hadir di rumah Nenek Inem.
Asyila berjalan dengan tertatih-tatih, kakinya terasa sangat lemas dan berharap bahwa Rahma tidak putus asa karena meninggalnya Sang Nenek.
“Ayah...” panggil Asyila lirih.
“Iya, Nak. Ada apa?” tanya Herwan khawatir.
“Bisakah Ayah nanti malam datang ke rumah Almarhum Nenek Inem? Kemungkinan nanti malam Asyila akan berada di rumah sakit sampai Ayah selesai melaksanakan Do'a bersama,” terang Asyila.
Herwan hanya diam, ia tahu bahwa putri kesayangannya datang ke rumah sakit adalah untuk menghibur sekaligus menemani wanita yang selalu Asyila panggil “Mbak Rahma”
Asyila menoleh ke arah Ayahnya yang belum juga memberikan jawaban untuknya.
“Iya, Nak. Insya Allah nanti malam Ayah akan ikut Do'a bersama untuk Almarhum Nek Inem,” terang Herwan.
Asyila menghentikan langkahnya dan menoleh ke atas langit.
Ya Allah, maafkan hamba dan keluarga hamba. Ampunilah dosa-dosa kami Ya Allah, tolong jangan cabut salah satu nyawa kami dalam waktu dekat. Tolong, biarkan kami lebih lama di dunia ini Ya Allah. Kami masih ingin membantu orang-orang yang membutuhkan kami Ya Allah.
Asyila menghela napasnya dan kembali melanjutkan langkahnya. Asyila memutuskan untuk langsung pulang dan nanti sorenya ia datang ke rumah sakit untuk menemui Rahma.
Disaat yang bersamaan, Rahma tiba-tiba menangis. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang hilang.
“Hiks... hiks...” Rahma menangis di dalam ruangannya, ia merasa bahwa dirinya tinggal seorang diri.
“Nek, Rahma kangen dengan Nenek. Tunggu Rahma pulang ya Nek,” ucap Rahma yang tiba-tiba merindukan sosok Neneknya itu.
__ADS_1
Cukup lama Rahma menangis, sampai akhirnya seorang dokter datang dan meminta Rahma untuk berisitirahat. Rahma pun sedikit memberontak dan dengan terpaksa Sang dokter memberikan obat penenang agar Rahma bisa berisitirahat.
“Kasihan sekali, masih muda tapi hidupnya sudah sangat berat,” ucap Sang dokter dan melenggang pergi keluar dari ruangan Rahma.