
Beberapa hari kemudian.
Abraham dan yang lainnya telah kembali ke perumahan Absyil setelah seminggu lebih liburan di salah satu pantai di daerah Jawa barat.
“Mas Abraham!” panggil Asyila sembari menuruni anak tangga.
Asyila menoleh ke arah sekitar dan tak melihat keberadaan suaminya.
“Mas Abraham kemana lagi? Ini ponselnya malah tertinggal,” ucap Asyila.
“Aaakkhh!” Asyila menjerit karena tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seorang pria yang tak lain adalah suaminya sendiri.
“Mas jahat,” ucap Asyila sambil memukul-mukul dada suaminya berulang kali.
Abraham terlihat sangat senang menggoda istri kecilnya, entah kapan Abraham akan berhenti untuk tidak mengganggu istri kecilnya itu.
“Mas kemana saja?” tanya Asyila dengan memasang wajah cemberut dan terlihat sangat manja dengan memeluk suaminya. Lalu, jemari tangan menyentuh dada bidang Abraham.
“Mas tidak kemana-mana, bukankah Mas selalu ada di hati Syila?” tanya Abraham.
“Iya tentu saja. Apakah Syila juga selalu ada di hati Mas?” tanya Asyila balik.
Abraham menyentuh kedua pipi istri kecilnya dan memberikan tatapan penuh cinta.
“Mau diapakan tetap saja hati Mas sepenuhnya milik Asyila seorang, apakah bukti cinta Mas belum bisa menyakinkan Syila?”
Asyila meneteskan air matanya dan kembali memeluk suaminya dengan begitu erat.
“Mas, jangan pernah tinggalkan Asyila. Meskipun nanti rambut Asyila sudah memutih dan kulit Asyila sudah kendur serta keriput,” tutur Asyila.
“Yang seharusnya mengatakan hal itu adalah Mas. Karena Mas yang akan lebih dulu memiliki rambut putih (uban) serta tanda-tanda lainnya,” sahut Abraham.
Mata Asyila berkaca-kaca mendengar perkataan suaminya. Kemudian, ia menyerahkan ponsel suaminya.
“Sepertinya Mas tidak bisa pulang cepat, kalau Syila sudah mengantuk tidurlah,” ucap Abraham.
“Baik, Mas,” jawab Asyila.
Abraham memasukkan ponselnya ke dalam saku jas kerjanya dan mencium kening Asyila sebelum berangkat kerja.
“Mas berangkat dulu, Wassalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, hati-hati Mas!”
Abraham pergi ke kantor diantar oleh sopir pribadinya, Eko.
Asyila melambaikan tangan ke arah suaminya yang perlahan hilang dari pandangannya.
Deg! Tiba-tiba Asyila memiliki firasat yang kurang enak.
“Ya Allah, tolong lindungilah Mas Abraham!” pinta Asyila menoleh ke langit sembari menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Asyila kembali masuk ke dalam untuk memeriksa apakah Ashraf sudah bangun atau belum.
Perjalanan menuju perusahaan Abraham cukup jauh, Abraham pun meminta Eko untuk memutar sholawat. Eko mengiyakan dan menyetel sholawat nabi.
__ADS_1
Kini, seisi mobil dipenuhi dengan sholawat nabi. Bahkan, Abraham ikut bersholawat.
***
Suara gemuruh membuat Asyila cepat-cepat naik ke balkon. Dikarenakan, cuciannya sangat banyak dan takut jika hujan tiba-tiba turun membahasi pakaian yang sudah ia cuci sedari Subuh.
“Sayang, kenapa naik ke atas?” tanya Asyila pada Ashraf.
“Mau bantuin Bunda,” jawab Ashraf.
Asyila merasa tersentuh dan memberikan dua pakaian agar Ashraf bisa membawanya.
“Kok cuma dua Bunda?” tanya Ashraf.
“Iya sayang, ya sudah ayo turun ke bawah. Hati-hati ya sayang!”
Ashraf turun lebih dulu dengan sangat hati-hati, sementara Asyila dari belakang membuntuti Ashraf dengan membawa sebuah keranjang pakaian yang ukurannya cukup besar.
Setelah sampai dibawah, Asyila mulai memilih pakaian dan menyetrikanya. Asyila ingin pekerjaan cepat selesai sehingga saat suaminya pulang rumah sudah beres. Meskipun, Abraham akan sedikit mengoceh karena tidak melibatkannya dalam urusan beres-beres rumah.
Ashraf duduk dekat Bundanya yang sedang menyetrika, ia bahkan tak bosan jika harus menunggu Bundanya sampai selesai menyetrika.
Cukup lama Asyila menyetrika sampai akhirnya Asyila menyadari bahwa Ashraf sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Asyila pun menoleh dan ternyata Ashraf sudah tertidur di kursi dengan posisi duduk.
“Ternyata sudah tidur,” ucap Asyila lirih sembari mencabut setrika.
Dengan langkah pelan, Asyila mendekati Ashraf dan menggendong Ashraf secara hati-hati. Berharap, Ashraf tidak terbangun dari tidurnya.
Karena menaiki tangga cukup memakan waktu dan tenaga, Asyila pun membawa Ashraf ke kamar lainnya, kamar yang biasa digunakan oleh Dyah.
Setelah itu, Asyila menutup pintu rapat-rapat untuk kembali melanjutkan menyetrika pakaian.
***
Abraham dan Yogi tengah membahas tentang perencanaan pembangunan ruko yang kedepannya akan mereka jual serta sewakan.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham karena pekerjaannya hampir selesai dan ia pun bisa kembali ke rumah lebih awal.
“Kamu ini seperti pengantin baru saja, tiap pekerjaan yang hampir selesai pasti wajahmu berseri-seri,” ucap Yogi menggoda sahabatnya.
“Ya mau bagaimana lagi? Cintaku untuk Asyila sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, mendapatkan cintanya bisa dikatakan sangat sulit,” terang Abraham.
Yogi menganggukkan kepalanya, “Iya, Aku percaya,” balas Yogi.
“Ya sudah, ayo lanjutkan lagi!”
Beberapa saat kemudian.
Abraham dan Yogi Yogi baru saja melaksanakan sholat Maghrib di masjid. Setelah itu, mereka bergegas kembali ke perumahan Absyil.
Diperjalanan menuju perumahan Absyil, Abraham meminta Eko menghentikan laju mobil karena ingin membeli aneka buah-buahan segar untuk keluarga kecilnya.
“Kamu apa?” tanya Abraham ketika Eko memegang gagang pintu mobil.
“Mau keluar, membeli buah-buahan,” jawab Eko.
__ADS_1
“Kamu diam disini saja, biar aku yang pergi!” Abraham tanpa menunggu lama, langsung turun dari mobil dan berjalan menuju gerai buah-buahan.
Yogi yang membawa mobil tepat dibelakang Abraham, ikut turun dan memutuskan untuk membeli buah-buahan.
“Akkhh!” Seorang wanita berambut panjang dengan mengenakan dress berwarna hitam selutut tiba-tiba jatuh tepat didepan Abraham dan menyenggol kaki Abraham.
Abraham sedikit terkejut tanpa membantu wanita yang tengah jatuh tersebut.
“Mbak tidak apa-apa?” tanya Yogi yang justru membantu wanita itu.
Wanita itu bangkit dan terlihat jelas wajah cantiknya.
“Terima kasih,” ucap si wanita cantik itu kepada Yogi dan menoleh ke arah Abraham, “Masnya tidak apa-apa?” tanya si wanita kepada Abraham.
“Ya,” jawab Abraham singkat tanpa sedikitpun menoleh ke arah wanita itu.
Sementara itu, Yogi sedikit terkejut karena wanita dihadapannya sedikit mirip dengan istri Abraham, yaitu Asyila.
“Maaf, saya sedang terburu-buru,” ucap si wanita dan tak sengaja ia tersandung mengenai punggung Abraham.
Abraham sangat terkejut dan dengan cepat menjauh dari si wanita itu.
“Maafkan saya, maafkan saya,” ucapnya berkali-kali dan bergegas meninggalkan Abraham serta Yogi.
Yogi masih memperhatikan kepergian wanita itu dengan penasaran.
“Apakah kau tidak melihat wajahnya?” tanya Yogi pada Abraham.
Abraham sama sekali tak menjawab, justru ia melepaskan jas kerja dan memberi isyarat kepada Eko agar segera turun.
“Iya, Tuan Muda,” ucap Eko.
“Bawa ini ke dalam mobil!” perintah Abraham.
“Siap, Tuan Muda!” seru Eko dan membawa jas kerja Abraham masuk ke dalam mobil.
Kemudian, Abraham membeli aneka buah-buahan untuk keluarga kecilnya.
“Sepertinya kharisma mu itu berterbangan dimana-mana,” ucap Yogi pada Abraham.
Abraham hanya memberikan tatapan tajam pada sahabatnya agar berhenti berbicara. Saat itu Abraham sedang kesal karena wanita itu menempel pada punggungnya.
Yogi menelan salivanya dengan susah payah dan memutuskan untuk tidak menggangu ataupun menggoda sahabatnya itu.
Usai membeli buah-buahan segar, Abraham pun kembali ke mobil untuk segera sampai ke perumahan Absyil.
“Ini untukmu,” ucap Abraham memberikan bungkusan ukuran cukup besar pada Eko.
“Terima kasih, Tuan Muda,” balas Eko dengan senyum bahagia.
“Ayo jalan!” perintah Abraham.
Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang dan Abraham berharap istri kecilnya bahagia dengan kepulangannya yang lebih awal.
Abraham ❤️ Asyila
__ADS_1